Ali, seorang pemuda berusia 23 tahun, terjebak dalam kebuntuan hidup—menganggur dan bermimpi membangun bisnis, tetapi tak memiliki modal. Namun, segalanya berubah ketika tanpa sengaja ia membangkitkan kekuatan untuk menjelajahi dunia paralel. Di sana, ia menemukan teknologi canggih, harta tanpa batas, serta buku-buku seni bela diri yang dapat ia bawa kembali ke dunia nyata. Dengan kecerdasan dan tekadnya, Ali memanfaatkan semua yang ia peroleh untuk menaklukkan dunia. Uang, teknologi, dan keterampilan bertarung kini ada di tangannya. Inilah kisah seorang pemuda yang melangkah dari nol menuju kejayaan—mengubah takdir dan menapaki jalan menuju puncak dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyligh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 SAMARA SUITES
Pagi yang Cerah di Kota Jakarta
Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai, menyinari kamar hotel yang elegan. Di balkon, Ali duduk santai di kursi rotan, menyeruput kopi hitam yang masih mengepul. Aroma pahitnya menguar, bercampur dengan udara pagi yang segar.
Ia meletakkan cangkirnya di meja kecil di sampingnya, menatap ke kejauhan.
"Apa yang harus saya lakukan?" gumamnya pelan.
Tidak mungkin ia terus tinggal di hotel. Ia butuh tempat yang lebih permanen.
Ali menghela napas dan melirik ponselnya. Mungkin Alana bisa membantu mencarikan apartemen yang bagus. Setelah berpikir sejenak, ia pun menekan nomor Alana.
Panggilan Tak Terduga
Di tempat lain, Alana masih terlelap di tempat tidurnya yang empuk. Ia menggeliat pelan ketika suara dering ponselnya membangunkannya.
"Huahhh..." ia menguap lebar, meraba-raba ponselnya di meja samping tempat tidur. Matanya yang masih setengah tertutup melirik layar.
"Hah? Ali?" gumamnya. "Kenapa pagi-pagi begini menelepon?"
Dengan cepat, ia mengangkat panggilan itu.
"Halo, Kak. Ada apa?" tanyanya dengan suara sedikit serak karena baru bangun.
"Kamu di mana?" suara Ali terdengar dari seberang.
"Di rumah, Kak. Memangnya kenapa?"
Ali langsung menjelaskan kebutuhannya. Ia butuh bantuan untuk mencari apartemen yang cocok.
Alana yang masih setengah sadar langsung duduk tegak, semangatnya tiba-tiba muncul.
"Oh, Kakak mau cari apartemen? Oke! Aku bantuin!" katanya bersemangat. "Aku siap-siap dulu ya, nanti aku ke hotel!"
Ali tersenyum tipis. "Oke, aku tunggu."
Begitu panggilan berakhir, Alana menatap layar ponselnya, lalu tiba-tiba tersenyum lebar. Jantungnya berdegup lebih cepat.
"Yeeeee! Ali ngajak aku jalan!" serunya sambil melompat-lompat di kasur. "Aku harus tampil cantik di depan dia!"
Dengan penuh semangat, ia segera bangkit dan berlari ke kamar mandi.
Pertemuan di Hotel
Jarum jam menunjukkan pukul delapan pagi ketika Alana tiba di lobi Hotel The Westin Jakarta. Ali belum memberitahunya nomor kamar, tetapi itu bukan masalah. Dengan percaya diri, ia melangkah ke meja resepsionis.
"Maaf, bisa saya tahu kamar atas nama Alinasr?" tanyanya dengan senyum manis.
Resepsionis mengecek sebentar, lalu memberikan informasi kamar Ali. Tanpa pikir panjang, Alana naik ke lantai tempat kamar Ali berada dan mengetuk pintunya.
"Tok… tok… tok…"
Ali yang sedang memakai jaket mendengar suara itu. Ia berjalan ke pintu dan membukanya.
Saat matanya menangkap sosok yang berdiri di hadapannya, ia terdiam sejenak.
Di bawah cahaya pagi, Alana terlihat begitu memukau. Rambut panjangnya tergerai sempurna, wajahnya segar dengan riasan tipis yang menonjolkan kecantikannya. Ia mengenakan blouse putih dengan celana jeans biru yang pas di tubuhnya.
Ali menelan ludah. "A… Alana? Kenapa kamu tidak meneleponku dulu? Aku bisa turun ke bawah."
Alana tersenyum jahil. "Yah, aku pengen kasih kejutan!" katanya ceria.
Ali baru menyadari betapa cantiknya Alana. Saat di bandara, ia memakai masker, dan semalam, di dalam mobil yang gelap, wajahnya tidak terlalu jelas terlihat.
Alana menarik tangan Ali. "Ayo, kita berangkat!"
Ali terkekeh. "Tunggu sebentar, aku ambil barang dulu."
Ia masuk kembali ke kamar, mengambil tas ranselnya, lalu keluar lagi.
"Cuma bawa tas ini? Mana kopernya?" tanya Alana heran.
"Aku cuma bawa yang penting saja. Lagipula, aku mau check out dulu sebelum kita pergi."
Ali turun ke lobi, menyelesaikan proses check-out, dan setelah semua urusan beres, mereka berjalan menuju mobil Alana yang terparkir di depan hotel.
Berburu Apartemen di Jakarta
Begitu masuk ke mobil, Alana menyalakan mesin dan menatap Ali.
"Kakak bisa nyetir nggak?" tanyanya.
Ali mengangguk. "Bisa. Aku sudah punya SIM, tapi aku nggak terlalu kenal jalanan Jakarta."
Alana tersenyum. "Ya udah, aku aja yang nyetir. Nanti aku tunjukin tempat-tempat bagus di Jakarta."
Mereka mulai berkeliling Jakarta, mencari apartemen yang sesuai dengan keinginan Ali. Butuh waktu hampir satu jam sebelum akhirnya mereka menemukan satu tempat yang menarik perhatian.
Alana menunjuk ke sebuah gedung megah di depan mereka.
"Ini dia, Kak! Apartemen yang bagus!" katanya antusias.
Ali menatap gedung tinggi itu. Sebuah apartemen modern dengan desain mewah. Sebuah plang di depannya bertuliskan Samara Suites.
"Oh, ini namanya Samara Suites? Lokasinya di mana?" tanya Ali.
"Di Jalan Gatot Subroto. Lokasi strategis, Kak! Dekat ke mana-mana!" jawab Alana dengan semangat.
Ali mengangguk, terlihat puas dengan pilihan itu. Namun, sebelum mereka melanjutkan ke apartemen, Alana tiba-tiba berkata,
"Tapi… kita makan dulu, yuk! Aku lapar, belum sarapan nih."
Ali terkekeh. "Oke, ayo cari tempat makan dulu."
Mereka pun melanjutkan perjalanan, meninggalkan gedung apartemen itu untuk mencari tempat makan yang enak di Jakarta.
Nantikan kelanjutannya jangan lupa like, komen dan berikan dukungan yah gaisss
BELEUNG BELENG....