Sebelum membaca bantu follow akun Ig: @siutayi
Segala pengorbanan dan penantian daniah terhadap yoga setelah bertahun - tahun lamanya menunggu janji terhadap lelaki yang ia cintai.
Nyatanya itu hanya janji palsu, yang ada yoga melamar delima adik kandung daniah kepada kedua orang tua nya dan itu semua membuat Daniah marah besar dan membencinya. Apakah Daniah akan menemukan belahan jiwa yang tepat?? ataukah akan kembali kepelukan yoga??
Bagaimana kisah Daniah selanjutnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon utayi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Dalam beberapa jam kemudian.
Daniah terburu - buru menuju Bandara Soekarno Hatta karena saat ia masih bertengkar dengan pria baginya sungguh munafik itu mendapatkan telpon bahwa Nana sudah menuju bandara dan sedang menunggu nya.
Sesampainya.
Daniah segera berlari masuk kedalam bandara, terlihat dari ruang tunggu seseorang menundukkan kepalanya duduk di kursi sembari memegang kopernya.
"Nana!!!" seru Daniah. Ia berlari kearah temannya dan Nana berdiri dari tempat nya.
Mereka saling berpelukan, "Kamu terlambat." Ucap Nana sedih.
Daniah melihat itu, hanya memengang dagu Nana dan mengangkat nya menatap kearah nya.
"Ada apa?? kamu tidak mau pisah denganku ya...?" goda Daniah.
Nana hanya menggelengkan kepalanya, "tidak, aku hanya sedih bahwa kamu tidak mau ikut denganku." Ucap Nana lesu.
"Maaf na, aku tidak bisa. Apa kamu tidak tahu, papa akan melarangku dia terlalu sayang padaku." Ucap Daniah dengan menarik lengan Nana dan mengadahkan nya menaruh kotak rantang makanan itu pada Nana.
"Ini apa??"
"Nana!!! Apakah kamu buta? lihatlah baik - baik!!!" kesal Daniah.
"sudahlah ini bekal untuk mu disana nanti. Ingat jangan kamu sampai lupa membawa rantang itu pulang lagi, okey." Daniah menepuk pundak Nana yang kian kini menangis.
"Hey - hey temanku kenapa tiba - tiba menangis???" Daniah begitu panik saat tahu Nana menangis semakin begitu keras mampu membuat orang disekitar nya menoleh kearah nya.
"Ustttt na, sudah apa ngak malu dilihat orang banyak. nanti aku dikira membully mu." bisik Daniah dengan ia menghapus air mata nana dengan tangannya.
"Ak,,u a,,ku akan rindu padamu disana,,, ak,, u tidak bisa pergi tanpamu hiks.hiks.hiks."
Daniah pun memeluk temannya itu dengan rasa sayang, ia sudah mengganggap bahwa Nana adalah adiknya karena umur Daniah lebih dewasa ketimbang Nana.
"Sudah, ini demi mamamu dan papamu. lagian kita masih bisa saling bertukar telepon dari ponsel." Ucap Daniah menenangkan Nana.
Nana hanya menganggukkan kepalanya.
^
^
Setelah kepergian Nana, Daniah buru - buru mencari taksi menuju kantor tempat nya bekerja. Jam menunjukkan pukul hampir 12.30 siang. Ia sudah sangat telat.
"Waduh, manager bisa gamuk kalau kayak gini!!! ini pertama kalinya aku telat." Ucap Daniah dengan menepuk jidatnya.
Setelah ia sampai di kantor dengan cepat ia menggunakan jurus seribu langkah nya masuk kedalam kantor.
"Hallo mbak Daniah selamat siang." Sapa salah satu karyawan disana.
Daniah hanya menyapa dengan senyumannya dan lambaian tangan nya ia sibuk berlafi masuk ke dalam lift yang akan tertutup.
"stop!!" Daniah menaruh telapak tangannya ditengah - tengah antara pintu lift, hampir saja pintu lift itu dibuka lagi oleh seseorang didalamnya.
Dengan nafas memburu Daniah mencari sesuatu didalam tas nya tetapi ia lupa membawanya rasanya sesak pada dadanya semakin tidak bisa bernafas. pria yang tadinya tidak tahu itu bahwa Daniah si perempuan yang diajak bertengkar dijalan tadi itu begitu Daniah sebaliknya kini membuat jae Hwa menyadari nya.
Tetapi jae Hwa tidak menegur sapa nya karena itu tidak penting baginya ia memilih Memalingkan wajahnya tetapi ia sedikit diam - diam menatap kearah Daniah.
Sementara Daniah yang sudah tidak bisa menahannya, ia memegang dadanya semakin sesak. "Aku harus tahan,, bagaimana aku bisa lupa dengan obat pereda sesak itu." ucapnya nya dengan nafas tertahan.
"Andai ada seseorang bisa menolong ku." Suaranya semakin kecil tetapi mampu membuat jae hwa menyadari itu langsung saja menarik leher belakang Daniah dan mencium nya memberikan nya nafas buatan.
****
Bersambung