NovelToon NovelToon
Who Are You?

Who Are You?

Status: tamat
Genre:Mafia / Tamat
Popularitas:99.8k
Nilai: 4.7
Nama Author: Sisca Nasty

Sebuah kerajaan di negara Inggris sedang dilanda kegelisahan yang besar. Di mana Pangeran pertama dari kerajaan besar itu mengalami musibah. Bahkan, tahta lnya sebagai Putra Mahkota harus digeser. Pangeran Arthur Sebastian Earl yang dulunya menjadi Putra Mahkota harus merelakan tahta tersebut untuk adiknya–Pangeran Phillips Gilbert Earl, setelah kecelakaan.

Yang mana semakin membuat Pangeran Arthur menjadi tak terkendali. Semua meninggalkannya, bahkan kekasihnya. Sejak saat itu, Pangeran Arthur menjadi sosok yang arogan. Sampai pada akhirnya semua anggota kerajaan sepakat mencarikan calon istri untuk Pangeran Arthur.

Namun, siapa yang menyangka bila karakter Maise Rosaline berbanding terbalik. Pangeran Arthur menyadari ada satu hal besar yang sedang disembunyikan oleh Maise saat ini. Apa yang sedang disembunyikan oleh Maise? Mengapa Pangeran Arthur begitu terkejut? Simak kisahnya hanya di Who Are You?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Pantas Mengenalinya

"Seharusnya Ratu tidak perlu melakukan ini," kata Alice.

Hari ini Ratu Maidena memberikan banyak gaun yang indah sesuai selera Alice sendiri. Gadis itu sangat senang dengan perhatian yang diberikan oleh ratu. Terlebih sikap ratu yang lembut itu membuat Alice merasa nyaman.

"Kamu menyukainya, Putri?" tanya Ratu Maidena.

Alice dengan cepat menganggukkan kepalanya. "Iya, Ratu. Terima kasih."

"Syukurlah kalau kamu menyukainya. Kamu tadi terlihat cantik sekali. Meskipun desain gaun pilihan Putri sangat sederhana, tapi desainer tadi memuji bahwa selera Putri cukup bagus. Ternyata Putri sangat paham dengan kualitas bahannya," puji ratu.

"Tapi, apa ini tidak kebanyakan? Hampir 10 gaun. Belum lagi perhiasan yang Anda pilih, Ratu. Ini membuatku tidak nyaman," ungkap Alice.

"Aih, didikan orang tuamu bagus sekali. Jangan merendah, Putri. Padahal ada satu menantu yang sangat suka sekali ketika dimanjakan seperti ini. Tapi, Putri berbeda. Pantas saja, Pangeran Arthur langsung jatuh hati!" Ratu Maidena mencubit pipi Alice dengan gemas.

"Apa? Kenapa Ibu menyindirku?" protes Callista.

"Menyindir? Ibu tidak menyindir. Tapi, kalau kamu merasa ya baguslah. Apa Putri hari ini lelah?" Ratu Maidena beralih pada Alice. 

Ratu mengabaikan Callista yang menahan kekesalannya. Alice bisa melihatnya dari kaca spion yang ada di dalam mobil. Sangat jelas di sana ekspresi wajah Callista yang tidak ramah.

"Sepertinya hubungan mereka tidak baik," batin Alice dalam hati.

"Lelah? Mungkin sedikit. Tapi, saya senang karena hari ini bisa pergi bersama dengan Ratu," ungkap Alice.

"Bagus! Raja meminta agar bisa makan siang bersama Putri. Apa Putri bersedia ikut? Ah, aku tidak memaksa Putri. Jika Putri memiliki rencana lain." Ratu masih mengulum senyuman. 

Sehingga membuat Alice tidak tega untuk menolaknya. Mobil pun memutar arah. Tujuan mereka berubah karena secara mendadak raja meminta agar Alice ikut makan siang bersama. Lagi-lagi Alice tersenyum simpul ketika ia tak sengaja melihat ekspresi Callista yang bertambah kesal.

"Akhirnya kita sudah sampai. Putri, lihat. Pangeran Arthur akhirnya bisa berjalan-jalan keluar istana. Dan itu hanya untuk menyambut Putri. Memang hanya Putri yang bisa membuat hati Pangeran Arthur tergerak. Turun hati-hati, Putri." Ratu Maidena turun dari mobil lebih dulu. 

Setelahnya ia berjalan terus dan masuk ke dalam istana. Sedangkan Alice berjalan mendekati Pangeran Arthur. Gadis itu yakin bila ia akan mendapatkan banyak pertanyaan.

"Kenapa Pangeran Arthur bisa menunggu di sini?" tanya Alice.

"Aku khawatir. Setelah aku tahu kamu pergi bersama dia juga." Pangeran Arthur menyebut dia. Tidak mungkin jika itu ratu. Alice menganggukkan kepalanya. Ia tahu siapa yang dimaksud dia oleh Pangeran Arthur.

"Tidak perlu khawatir lagi sekarang. Saya sudah pulang. Tadi ratu mengajak saya berbelanja. Saya tidak meminta apapun. Jadi, bisakah Anda tidak berpikir buruk?" Alice segera menodong Pangeran Arthur. Tentunya Alice takut apabila ia disebut sangat menyukai uang oleh Pangeran Arthur.

"Ya, memangnya aku terlihat akan berpikiran buruk? Aku hanya khawatir seseorang menyerangmu." Pangeran Arthur mengisyaratkan dengan tangannya. Membuat Alpha mendorong kursi roda Pangeran Arthur. 

Sedangkan Alice mengekor di belakangnya. Sejenak, Alice merasakan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Seketika Alice menoleh. Tampak Callista menatap Alice penuh dengan kebencian. Gadis itu mengeratkan leher. Matanya melotot ke arah Alice.

"Sebenarnya kenapa dia begitu memusuhiku?" tanya Alice dalam hati.

"Putri Maise?" Alpha memanggil Alice. Membuat Alice menoleh dan melanjutkan langkah kaki kembali.

"Bagaimana tadi? Apakah kamu senang?" Pangeran Arthur bertanya tiba-tiba.

"Waktu ke butik? Ratu menyukai rancangan desainer itu. Kebetulan aku juga." Alice menjawab dengan nada malas. Ia tidak tertarik dengan pertanyaan dari Pangeran Arthur.

Tidak ada lagi sahutan dari Pangeran Arthur. Mereka semua terus berjalan sampai menginjakkan kaki di ruang makan. Tampak Raja Charles menyambut hangat Alice. Di samping Alice, Pangeran Arthur sudah duduk di sana. Sedangkan Alpha berada di belakangnya.

"Pangeran Arthur sangat tidak sabar menanti kedatangan Putri. Kami ikut senang karena Pangeran tampak bersemangat." Raja Charles mengulum senyuman.

"Jangan berbicara omong kosong," sungut Pangeran Arthur.

Senyuman di bibir Raja Charles pun lenyap. Digantikan oleh suasana yang canggung tapi mengerikan. Sebab aura Pangeran Arthur sangat berbeda. Alice cukup tahu seperti apa karakter dari calon suaminya itu. Ia hanya meringis dan merutuk dalam hati.

"Maaf, saya permisi ke kamar mandi sebentar." Alice memilih untuk mundur. Ia tidak ingin berada di sana dengan suasana yang canggung. 

Gadis itu perlahan berdiri dan berjalan melangkah pergi. Lagipula semua orang masih menunggu kedatangan Pangeran Philips. Alice menghembuskan napas lega setelah ia keluar dari ruang makan. Ia melirik ke arah pintu yang baru saja ia lalui.

"Putri Maise? Kenapa Anda masih berada di luar?" Seseorang yang ditunggu orang-orang pun kini muncul di depan Alice.

"Maaf, saya mau ke toilet. Permisi." Alice tidak ingin membuang waktu lagi. 

Alice juga tidak ingin berhadapan dengan kebencian dari Callista. Gadis itu terus berjalan menuju ke toilet. Ada banyak pikiran yang bergentayangan di kepalanya.

"Putri Maise, bisa kita bicara sebentar?" Suara Pangeran Philips cukup mengejutkan Alice. Gadis itu menoleh dan menemukan pria itu ada di depannya.

"Alasan apa yang membuat Anda menyusul saya ke sini, Pangeran?" tanya Alice.

Pangeran Philips terkekeh. Tatapan mata Alice yang tajam tidak membuatnya canggung. Pria itu justru berjalan mendekat. Ia semakin mendekat pada Alice.

"Apa Putri Maise benar ingin menikah dengan pangeran Arthur? Saya rasa Anda masih memiliki waktu untuk membatalkannya," kata Pangeran Philips. 

Alice mengerutkan dahi.  Alisnya pun menukik tajam. Ia tidak mengerti mengapa Pangeran Philips membahas hal itu. "Untuk apa Anda berbicara seperti itu? Saya rasa itu bukan urusan Anda apabila saya akan menikah dengan Pangeran Arthur atau tidak. Apa Anda tidak sadar bahwa Anda terlalu ikut campur?" 

Pangeran Philips terkekeh pelan. "Saya pikir Putri Maise terlalu naif. Saya hanya menyayangkan masa depan Anda. Apabila menikah dengan laki-laki yang lumpuh dan buta. Bukankah Anda masih bisa mencari laki-laki yang tepat dan bisa andalkan untuk kedepannya?" 

Alice tersenyum sinis. Padahal jelas-jelas Pangeran cilik juga bukan laki-laki yang tepat apabila dijadikan suami. Sepertinya laki-laki itu sama sekali tidak berkaca pada cermin.

"Sikap Anda yang seperti ini mengingatkan saya kepada teman saya. Pada akhirnya dia pun mengkhianati saya." Alice yang sebelumnya tersenyum, kini malah berekspresi datar. Ia teringat sesuatu.

"Hugo! Dia memiliki tato yang sama dengan milik Pangeran Philips!" Alice membatin seraya melebarkan kedua matanya. Pantas saja gambar itu sangat familiar di ingatannya.

"Putri Maise? Mengapa Anda tiba-tiba diam?" tanya Pangeran Philips.

"Maaf, saya permisi dulu." Alice segera berlari menuju ke toilet. Setelah sampai ia buru-buru menutup pintu dengan rapat. Napasnya pun memburu.

"Bagaimana bisa Pangeran Philips memiliki tato yang sama dengan milik Hugo? Mungkinkah Pangeran Philips berkomplot dengan Hugo? Atau geng mafia lainnya?"

1
💟노르 아스마💟
keren ...gk bertele²
Vina Vina
Kurang greget di bagian ini. Maaf ya, kak author...
Angelica Alvira
Luar biasa
Kustri
bilang aja, nunggu alice sadar baru ters terang
Kustri
hati" & waspada, blm tentu kate di pihakmu
Kustri
hugo
Kustri
pura" msh buta klu sdh smp kerajaan ya, blm waktu'a mrk tau,
Kustri
lanjut yaa
Kustri
bulan madu x an oprasi nih
Kustri
oooo.... kamu hrs senang alice
Kustri
lanjutkan!
Kustri
crita sedikit dong ttg alice sblm kecelakaan thor
Kustri
bs jadi artur g buta & cacat, itu dilakukan u/mengetahui siapa kawan & lawan
Kustri
itu td urusan perusahaan yg diretas apa sdh selesai, tau" koq acara pernikahan
Kustri
makin kuat untuk balas dendam
Kustri
wah, luka di dahi apa pertanda baik?
Kustri
kehidupan alice sebelum'a msh misteri,
Kustri
semangat alice, sekali dayung 3 pulau terlampoi🛶💪
Kustri
pasti bener dugaan alice,
balaskan dendam gengmu!
Kustri
wkwkwkkkk... kamu cemburu calista?!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!