NovelToon NovelToon
Takluknya Boss Kecil Mafia

Takluknya Boss Kecil Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Action
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: NoorBee

Aruna (25tahun) adalah wanita karir sukses, cantik, dan mandiri yang hidupnya terusik oleh teror "kapan nikah" dari orang tuanya. Lelah dengan tekanan tersebut, Aruna memutuskan melepas penat di sebuah kelab malam bersama sepupu-sepupunya. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol, ia terlibat cinta satu malam (one night stand) dengan seorang pria tampan nan karismatik. Betapa terkejutnya Aruna saat terbangun di apartemen dan mendapati pria tersebut adalah teman akrab sepupunya sendiri. Syoknya bertambah berkali-kali lipat saat mengetahui fakta baru: pria itu ternyata seorang berondong yang usianya jauh di bawah Aruna. Hubungan tak terduga ini mendadak rumit ketika si pria enggan menjauh dan justru menawarkan solusi gila untuk menghadapi orang tua Aruna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NoorBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. simulasi

"Saat ini, Max dan adik bungsuku sudah memasuki zona mati di basement dua. Max memimpin dari sayap kanan, dan Alex... dia yang memegang kendali eksekusi. Kamu aman di lantai dua puluh empat. Anggap ini hanya simulasi untukmu, karena kejadian seperti ini pasti akan ada di depanmu kelak."

Sementara suara bariton Dominic masih bergema dengan sangat tenang di telinga Aruna melalui ponsel pintarnya, suasana di basement dua gedung pencakar langit Mahesa Group justru berada di titik paling mematikan. Lampu-lampu neon yang menyala redup menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menyeramkan di antara tiang beton raksasa.

Dua mobil SUV perak milik sisa-sisa kelompok Barat terparkir dalam posisi siap serang dengan mesin yang masih berdesing halus. Di dalam mobil, enam orang pria bersenjata tajam dan memegang pistol rakitan sedang bersiaga penuh. Mereka fokus menatap ke arah pintu lift khusus, bersiap melakukan penyergapan kasar jika target mereka turun.

Mereka mengira rencana mereka sudah sempurna. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa dari balik bayang-bayang tempat bongkar muat barang yang gelap, dua sosok predator malam telah bergerak mengunci pergerakan mereka tanpa suara.

Gavin Alexander Sterling melangkah dengan sangat senyap. Sepatu santai yang dikenakannya tidak menimbulkan bunyi gesekan sedikit pun di atas lantai semen basement. Kemeja hitam legamnya yang pas badan menyembunyikan rompi pelindung antipeluru di dalamnya. Bahu kirinya yang dua minggu lalu robek kini sudah sembuh total tanpa balutan perban sedikit pun, membuat gerakan tubuhnya terasa sangat lincah dan bebas. Tangan kanannya yang kokoh mencengkeram sebuah pistol berperedam suara dengan akurasi yang mengerikan.

Di sisi seberang, Max bergerak seperti hantu malam, mengunci pergerakan musuh dari arah belakang SUV pertama.

"Dua di depan mobil, empat di dalam kabin," bisik Max sangat lirih melalui mikrofon alat pendengar khusus yang terhubung langsung ke telinga Gavin.

"Habisi tanpa suara. Jangan biarkan sirine atau alarm keamanan gedung ini sampai berbunyi," perintah Gavin datar. Sepasang matanya yang tajam mengunci target tanpa emosi.

Pfft! Pfft!

Dua suara desisan pelan merobek keheningan. Dua orang penjaga kelompok Barat yang berdiri di luar SUV seketika ambruk bersamaan ke atas lantai beton. Mereka lumpuh total sebelum sempat menarik pelatuk senjata mereka sendiri untuk memberi tanda bahaya.

Melihat dua rekan mereka tumbang secara misterius, empat orang yang berada di dalam mobil langsung didera kepanikan. Mereka mencoba membuka pintu paksa dan bersiap melepaskan tembakan acak ke segala arah. Namun, Gavin bergerak jauh lebih cepat dari perkiraan mereka.

Memanfaatkan momen kejutan yang sempurna, Gavin berlari cepat lalu melompat ke atas kap depan SUV perak tersebut. Dengan satu gerakan tangan kanan yang kokoh dan bertenaga penuh, ia menghantam kaca jendela samping kemudi hingga hancur berantakan.

Prang!

Serpihan kaca tajam berhamburan. Sebelum sang pengemudi sempat mengangkat senjatanya, Gavin sudah lebih dulu menodongkan pistol berperedamnya tepat di pelipis pria itu melalui celah jendela yang hancur.

Tatapan mata Gavin begitu dingin, hampa dari segala perasaan, memancarkan aura kegelapan murni dari klan Sterling yang sanggup membuat nyali musuhnya menciut dalam satu kedipan mata.

"Satu gerakan bodoh lagi dari tanganmu, dan ini akan resmi menjadi tempat parkir terakhir dalam hidupmu," desis Gavin dingin, suaranya berisik namun sarat akan ancaman mati.

Di belakangnya, Max bergerak cepat. Pria bertubuh kekar itu dengan mudah melumpuhkan tiga orang yang tersisa di kabin belakang menggunakan kuncian fisik ala militer yang senyap dan mematikan.

Dalam waktu kurang dari tiga menit, sisa-sisa kelompok Barat yang berniat menjadikan Aruna sebagai sandera berhasil diringkus dan dibersihkan sepenuhnya. Semuanya berjalan rapi, bersih, tanpa menimbulkan kegaduhan atau kepanikan sedikit pun di area perkantoran atas Mahesa Group.

***

Di lantai dua puluh empat, sisa-sisa ketegangan masih merayap di udara. Di dalam ruang kerja yang kedap suara itu, Aruna masih mencengkeram ponsel satelitnya dengan erat. Telapak tangannya dingin, berkeringat, sementara telinganya terpaku pada keheningan yang mencekam di seberang saluran.

"Sudah selesai, Aruna," ucap Dominic tiba-tiba. Suara bariton yang tenang namun penuh penekanan itu memecah sunyi, membawa laporan kilat yang baru saja diterimanya dari Max melalui tablet kerja.

"Semua pengganggu di bawah sudah dibersihkan dari jalur logistik. Alex sedang naik menggunakan lift pribadi menuju ruanganmu."

Mendengar itu, Aruna mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dada. Pertahanan dirinya runtuh seketika; air matanya luruh tanpa bisa dicegah, mengalirkan rasa lega yang luar biasa yang sempat mengimpit warasnya.

"Terima kasih... Tuan Dom."

"Sama-sama, Aruna. Dan sampaikan pada adikku," lanjut Dominic, nadanya berubah menyindir dengan sinisme khas keluarga Sterling, "jika dia membiarkan tubuhnya terluka lagi karena aksi sok pahlawannya, aku sendiri yang akan menyeretnya kembali ke ruang medis keluarga."

Sambungan telepon diputus sepihak. Aruna menurunkan ponselnya perlahan, tepat saat suara ketukan halus berbunyi dari sudut ruangan Menandakan bahwa sang berondong mafia, pria yang beberapa jam terakhir membuat dunianya jungkir balik, telah kembali ke tempat paling aman di sisinya.

Aruna langsung berbalik dan membuka pintu akses tersebut.

Di ambang pintu, Gavin berdiri dengan napas yang memburu tak beraturan. Rambutnya yang sedikit berantakan menempel di dahi yang dipenuhi keringat dingin. Kemeja hitam pas badan yang biasa membungkus tubuh tegapnya kini tampak kusut dan terkoyak di beberapa bagian. Ada goresan luka baru di tubuhnya, efek dari aksi nekat melompat ke atas kap mobil demi membuka jalur pertarungan.

Namun, sepasang manik mata Gavin sama sekali tidak melirik luka-lukanya sendiri. Netra yang beberapa menit lalu sedingin es saat menghabisi musuh di bawah sana, kini menatap Aruna dengan kilat kepanikan dan rasa lega yang teramat sangat.

"Kak..." suara Gavin terdengar parau, habis oleh sisa adrenalin.

Melihat sosok Gavin yang kembali dalam keadaan bernyawa, seluruh benteng ketakutan yang sejak siang tadi mencengkeram dada Aruna mendadak runtuh. Pertahanan mentalnya sebagai manajer tangguh yang terbiasa memegang kendali penuh atas hidupnya seolah menguap tanpa sisa. Pandangan Aruna seketika buram. Kepalanya berputar hebat, dan kedua kakinya mendadak lemas kehilangan tumpuan.

Sebelum tubuh Aruna sempat menyentuh lantai marmer yang dingin, Gavin bergerak dengan kecepatan kilat. Mengabaikan rasa sakitnya sendiri, tangan kanannya yang kokoh langsung menyambar pinggang Aruna, merengkuh wanita itu ke dalam pelukan erat.Aruna sempat merasakan kehangatan dada Gavin yang naik-turun, menghirup aroma maskulin perpaduan kayu cendana dan mint yang familier, sebelum akhirnya kesadarannya runtuh seutuhnya. Ia pingsan di dalam dekapan Gavin.

Badai emosi dan ketakutan ekstrem akan kehilangan pria itu dalam penyergapan berdarah tadi benar-benar telah menguras habis sisa tenaganya.Gavin tertegun. Detak jantungnya seolah berhenti sesaat ketika merasakan tubuh Aruna melunglai total di pelukannya.

"Kak? Kak Aruna!" panggil Gavin panik, suaranya naik satu oktav, sarat akan kekhawatiran yang mencekik.

Dengan hati-hati, Gavin mengangkat tubuh Aruna bridal style. Ia mengabaikan denyut nyeri yang menusuk di tangan kirinya yang cedera. Dibawanya wanita itu menuju sofa kulit besar di tengah ruang kerja, lalu membaringkannya dengan gerakan yang luar biasa lembut, seolah Aruna adalah porselen rapuh yang bisa pecah kapan saja.

Tepat pada saat itu, pintu lift pribadi kembali berdenting terbuka. Max dan dokter pribadi keluarga Sterling melangkah masuk dengan tergesa. Sang dokter masih menjinjing tas medis peraknya, sisa dari penanganan darurat para pengawal di lantai bawah.

"Lex, luka di badanmu harus segera....."Kalimat sang dokter terputus. Alih-alih mendapati Gavin yang duduk siap diobati, ia justru melihat sang pewaris Sterling sedang berlutut panik di samping sofa, menatap wajah pucat Aruna yang tak sadarkan diri.

"Luka gue bisa nunggu, Dok! Periksa Kak Aruna sekarang!" perintah Gavin. Suaranya bergetar hebat sebuah nada ketakutan yang belum pernah Max atau sang dokter dengar keluar dari mulut seorang Alex Sterling.

"Dia tiba-tiba lemas dan pingsan begitu gue peluk tadi."

Dokter paruh baya itu tidak membuang waktu. Ia meletakkan tas medisnya dan berlutut di sisi lain sofa. Dengan gerakan profesional, ia mulai memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Aruna, lalu menggunakan stetoskop untuk mendengarkan detak jantungnya. Selama proses itu, Gavin tidak melepaskan genggaman tangannya pada jemari Aruna. Matanya menatap cemas setiap pergerakan sang dokter, seolah siap menginterogasi takdir.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti berabad-abad bagi Gavin, dokter itu perlahan melepaskan stetoskopnya. Kerutan tegang di dahinya mengendur, digantikan oleh ekspresi wajah yang mendadak tenang. Bahkan, ada segaris senyum tipis yang terselip di sudut bibirnya.

"Bagaimana, Dok? Kelompok Barat nggak sempat menyusupkan gas beracun atau sesuatu ke lantai ini, kan?" cecar Gavin. Otaknya yang terbiasa berpikir dalam skenario dunia hitam langsung berspekulasi liar.

"Tenang, Lex. Ini bukan karena serangan musuh atau gas beracun," ucap dokter itu sambil terkekeh rendah.Gavin dan Max yang berjaga di dekat pintu serentak mengernyitkan dahi bingung. Respons santai sang dokter terasa janggal di tengah sisa atmosfer pertempuran ini.

"Nona Aruna mengalami sinkop, pingsan akibat tekanan psikologis yang sangat berat dalam waktu singkat. Tubuhnya syok karena lonjakan hormon."

"Hormon...?"Suara parau dan lemah itu memotong penjelasan dokter. Aruna perlahan membuka matanya, menangkap kata terakhir yang menggantung di udara.

"Kak? Kakak udah sadar?" Gavin langsung memajukan tubuhnya. Telapak tangan kanannya yang hangat mengusap dahi Aruna dengan kelembutan yang sangat berbeda dengan citra kejamnya di luar.

"Ada yang sakit? Mana yang gak enak?"Aruna menggeleng lemah. Dibantu oleh tangan Gavin, ia mencoba mendudukkan dirinya bersandar pada bantalan sofa. Matanya yang masih sayu menatap dokter paruh baya di hadapannya.

"Maksud Dokter... lonjakan hormon apa?"Dokter itu tersenyum hangat, memandang Gavin dan Aruna bergantian sebelum mengeluarkan sebuah alat sensor ultrasonik portabel kecil dari dalam tas medisnya.

"Denyut nadi Nona Aruna sangat cepat, tapi ritmenya sangat khas. Suhu tubuh Anda juga sedikit meningkat, yang merupakan gejala umum di awal masa gestasi. Untuk lebih pastinya, saya menyarankan Anda melakukan tes urin setelah ini. Namun, dari pemeriksaan fisik dan denyut rahim yang samar..." Dokter itu jeda sejenak, memberikan senyum penuh arti.

"Nona Aruna, Anda sedang hamil."

Jedarrr!

Kata terakhir itu jatuh bak hantaman petir di siang bolong, membekukan seluruh ruangan dalam keheningan

***

1
Jingga
Menarik, fresh, menghibur
Alam2719
Thor, sehari up tiga kali yah????
QueenBee: di usahkan tiga kali yah, pagi, siang sama malam🙏🙏
total 1 replies
Alam2719
gw juga kecewa kalau jadi papa fiki
Alam2719
Thor, ganteng amat si gavin!!
QueenBee: iyah aku juga merasa dia ganteng banget🤣
total 1 replies
Musafa87
Thor thor, visul yang lain dong, 🤣🤣🤣
QueenBee: hahahaha.... oke aku usahakan yah kaaaa 😍
total 2 replies
Musafa87
Gavin lo ganteng amat!!!! sesuai ekspektasi gw 😍😍😍😍😍
QueenBee: terimakasih kaaa
total 1 replies
HD1
aruna run 🤣
hayroco
berondong obses🤣
hayroco
berondong meresahkan
Anonymous333
ih seru thor!!!
Anonymous333
vin, tokcer amat lo 🤣
Jingga
sumpah, seru 🤣🤣🤣
Jingga
anjrit, hamil 🤣🤣🤣🤣
Jingga
cantik banget cewenya 😍
Bocil323
thor kapan up lagi, rame dong 🤣🤣🤣
Bocil323
ighhh ko gemes 😍😍😍
Bocil323
wkwkwkwkwkkw malah di restuin sama om fiki 🤣🤣🤣
Bocil323
please banget, mau satu berondong yang kaya gini!!!
Bocil323
evan rey, usil banget loh 🤣🤣🤣
Bocil323
aaaahhhhh!!! asli bagus banget, suka banget!!!!! karakter cowonya kuat, dan cewenya cantik banget!!! dom juga kepala mafia tapi secy banget kata gw mah!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!