Seorang ibu yang mengandung, melahirkan, menyusui, mendidik dan membesarkan anak-anaknya adalah wanita yang hebat.
tapi tahukah kalian bahwa ada wanita yang jauh lebih hebat, yaitu wanita yang terus berjuang untuk menjadi seorang ibu, dia yng melakukan segala hal demi memperjuangkan garis dua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rahma khusnul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjatuh...
Happy Reading ⚘⚘⚘
Sepeninggal Fauzi, Afifa masih menenangkan Nadia, karena lelah setelah menangis dan menumpahkan keluh kesahnya kepada Paman dan Bibinya, serta kakinya yang terasa lemas karena berjalan sejauh 2 km lebih dari terminal menuju rumah Pamannya, diapun tertidur diatas sofa, Afifa segera menyelimutinya.
Rasa kantuk Afifa sudah hilang seiring kedatangan Nadia kerumahnya serta beban fikiran Afifa yang tidak bisa lepas dari kekhawatirannya terhadap Nadia, kondisi Kak Dewi juga suaminya yang tengah diperjalanan.
Akhirnya Afifa menghabiskan malam dengan bermunajat kepada sang kholik, melakukan beberapa rakaat sholat tahajud, hajat dan witir, serta diakhiri dengan bacaan Al-qur'an dikamarnya, sampai adzan subuh berkumandang.
Pukul 5 pagi ponsel Afifa berdering, dia langsung melihatnya, ternyata suaminya yang memanggil, diapun segera mengangkatnya.
Afifa terkulai lemas saat Fauzi memberitahunya kalau Kak Dewi sudah tiada, dia terisak dibalik mukena putih yang masih setia membalut seluruh tubuhnya.
Afifa tersentak, teringat dengan Nadia yang masih terbaring diatas sofa, dia pun segera keluar, masih dengan balutan mukenanya, langkahnya terburu-buru menuju ruang keluarga, tak sadar kaki Afifa menginjak sesuatu yang terasa licin di kaki telanjangnya, dan...
"Aaaaaw....", Afifa menjerit kesakitan, tubuhnya terpelanting jatuh dilantai, dengan posisi duduk bertumpu pada bokongnya yang terasa ngilu sampai terasa ke ulu hatinya, kaki kanannya selonjor kedepan dan kaki kirinya terlipat dibelakang.
"Anti...!" Teriak Nadia yang terbangun karena teriakan Afifa, "Anti kenapa?" tanyanya lagi, dia segera bangun dan berlari kearah Afifa, membantunya berdiri sekuat tenaga.
Afifa tertunduk menahan sakit dibagian bokong dan keram diperutnya, lalu dia menengadah dan tersenyum menyembunyikan rasa sakitnya, "Gapapa, Anti hanya kepeleset, tadi gak lihat ada air tergenang disini" Ucapnya berusaha menenangkan Nadia.
Afifa kembali berfikir, kenapa dia sampai lupa membersihkan sisa air yang bercucuran dari pakaian basah yang dikenakan Nadia semalam, Ya Alloh...kenapa aku sampai lupa membersihkannya, mungkin karena kepanikanku semalam, sehingga melupakan hal sekecil itu" gumam Afifa.
Afifa berusaha bangkit dibantu Nadia, senyuman masih terus tersungging dari bibirnya, bukan apa-apa, Afifa tidak mau menambah kepanikan bagi keponakannya, ditambah lagi Afifa belum mengatakan kondisi ibunya saat ini.
Afifa menyandarkan tubuhnya disofa yang tadi ditempati tidur Nadia, beberapa tarikan nafas panjang terdengar dari mulutnya.
Fikiran Afifa kembali teringat dengan ucapan suaminya, rasanya tak tega memberitahukan berita buruk ini kepada gadis malang itu.
Fauzi meminta Afifa membawa Nadia kerumah mertuanya pagi ini, dia akan segera membawa jenazah Dewi dengan ambulans ke Bandung, tepatnya kerumah orang tuanya.
Ya Alloh...apa yang harus ku katakan padanya? fikir Afifa, matanya tak lepas memandang gadis dihadapannya yang justru khawatir dengan kondisi dirinya.
"Anti yakin gapapa? kita ke dokter aja ya?", Ajak Nadia, "atau kita kasih tau Paman?" bersimpuh dihadapan Afifa dengan tangan mengusap-ngusap perutnya yang mulai membuncit.
"Jangan Nad, Anti baik-baik saja, kasian Pamanmu, nanti malah nambah beban fikirannya, nanti kalau terasa sakit lagi, Anti pasti periksa ke dokter".
"Tapi kandungan Anti?"
Afifa tersenyum sambil memegang punggung tangan Nadia, "tenang saja, gak papa, kamu sholat subuh dulu sana!"
Nadia mengangguk, lalu berdiri dan berjalan menuju kamar mandi sambil membetulkan ikatan rambutnya yang berantakan.
Afifa kembali menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, rasa sakit dan keram diperut bagian bawahnya pun berangsur hilang.
Akhirnya, setelah Nadia sholat subuh Afifa mengajaknya kerumah neneknya, tanpa memberitahu kejadian yang sesungguhnya tentang Dewi, dia menelphon Mang Ujang agar mengantarkan mereka menggunakan mobil Pick Up toko kerumah mertuanya.
Awalnya Nadia menolak karena ada rasa takut dalam fikirannya, takut kakek atau neneknya akan menginterogasinya tentang kejadian kemarin yang akan kembali mengingatkan dirinya dengan kejadian menjijikan itu, tapi dengan bujukan Afifa dan berjanji tidak akan mengungkit masalah itu, diapun bersedia ikut dengannya.
"Nad, kita kerumah Ma Eyang dulu yuk", ajak Afifa.
"Enggak ah, Nadia dirumah Anti saja, nanti Ma Eyang nanya-nanya lagi, Nadia belum sanggup menjawabnya".
"Kalau mereka tau kamu ada disini dan tidak menemuinya, bukankah itu lebih mencurigakan?", Afifa berhenti sejenak, membiarkan Nadia sedikit berfikir, "tenang saja, nanti Anti yang bicara sebab kedatangan kamu secara tiba-tiba ke Bandung", ucapnya sambil tersenyum.
"Tapi Nadia gak bawa baju satupun An", ucap Nadia memelas.
"Kamu pakai baju Anti saja, badan kita kan hampir sama, lagi pula badan Anti sudah melebar sekarang, jadi banyak baju yang sudah tidak muat dibadan, kamu pasti terlihat anggun pake baju kayak Anti", Afifa tersenyum.
"Maksudnya pake gamis kayak Anti gitu?" Nadia mengernyitkan dahinya, lalu menggeleng tak percaya.
"Iya, apa salahnya dicoba, nyaman kok" Tersenyum meyakinkan.
"Memangnya Anti gak punya celana jins gitu?"
Afifa menggeleng, mengangkat alisnya lalu tersenyum, "Coba ya?" membalikan badan menuju kamarnya untuk mengambil beberapa pakaian gamisnya tanpa menunggu persetujuan Nadia yang masih berfikir.
"Ini, kayaknya cocok buat kamu, coba gih!" Memberikan 3 potong pakaian kedada Nadia dan mendorong tubuhnya ke kamar untuk mencobanya.
Tak butuh waktu lama, Nadia sudah keluar dengan pakaian gamis berwarna moca dan berpolet coklat tua dibagian tangan dan setrip disaku pinggangnya, dia berjalan mendekati Afifa sambil memegangi gaunnya lalu menunduk melihat apa yang ia kenakan, "apa ini tidak aneh dibadanku An?"
"Hmmm...cantik sekali, apalagi kalau dipakai dengan kerudungnya", Afifa segera memasukan kerudung syar'i model babydoll berwarna coklat tua ke kepala Nadia.
Nadia hanya diam saja saat didandani Antinya.
"Ayo lihat bayanganmu di cermin!"
Nadia kembali ke kamar dan memandang cermin yang menampakan seluruh badannya, dia tidak percaya kalau yang ia lihat adalah bayangan dirinya sendiri, dia menepuk-nepuk pipinya dan meraba seluruh bagian tubuhnya yang terbalut kain hijab, nampak anggun dan dewasa, jauh sekali dengan kepribadian aslinya yang selengean, tomboy dan terkesan cuek dengan penampilan.
Tiba-tiba senyuman mulai tersungging dari bibirnya, senyum itupun merekah saat dia yakin dengan bayangan dirinya sendiri dibalik cermin, diapun kembali keluar menghampiri Afifa, masih dengan senyumnya.
Afifa mengacungkan kedua jempolnya ke arah Nadia, keduanya tersenyum.
Setelah semuanya siap, merekapun berangkat, Mang Ujang sudah membunyikan klakson menunggu diluar gerbang rumah Afifa.
"Nadia keluar duluan temui mang ujang, Anti bawa tas dulu", pinta Afifa.
"Iya" Nadia berjalan menuju pintu pagar.
Afifa yang masih berada di dalam kamarnya, kembali merasakan sakit dan keram di perut bagian bawahnya, dia mencoba menarik nafas lagi, Ya Alloh, ada apa dengan perutku? semoga tidak terjadi apa-apa, lagi pula aku hanya jatuh pelan dan terduduk, perutku tidak terbentur sama sekali, mudah-mudahan kamu baik-baik saja ya Nak. Gumam Afifa, Tangan kanannya terus saja mengelus-elus perutnya, sementara tangan kirinya memegang tas, sampai rasa sakit itu berangsur hilang.
******************
Bersambung...❤⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mohon maaf readers tidak bisa Up setiap hari, karna kesibukan author didunia nyata.
tapi tetap like dan komentar ya...
jujur saja, komentar kalianlah yang selalu bikin author semangat menulis 😊
LOVE YOU ALL...❤❤❤⚘⚘⚘
By : @Rahma Husnul.
Secara dia sudah berbuat salah ...ngasih obat perangsang
Sampai di sini kok dramanya datar2 aja ?
sukses
semangat
mksh
Laki macam apa sich, bejek² aja kak Owner 🤧🤧🤧
🤔🤔🤔
#ngarep