Setelah keluarganya bangkrut dan ayahnya meninggal, Olivia terpaksa bekerja di sebuah club malam demi membayar hutang mendiang ayahnya. Tidak disangka, di club itu dia bertemu kembali dengan pria bernama Vincent. Pria yang beberapa kali menolongnya, bahkan pernah menyelamatkan nyawanya tanpa sepengetahuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jiriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hutang
Nesya berjalan menuju pintu apartemennya ketika mendengar suara bel berbunyi. Dia sempat melirik sekilas pada jam dinding yang menunjukkan pukul 1 dini hari. Sambil menguap lebar, Nesya membuka pintu dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya.
“Kau baru pulang?” tanya Nesya setelah membuka pintu.
“Iya. Maaf sudah mengganggu tidurmu.” Ada perasaan bersalah karena sudah mengganggu tidur sahabatnya, apalagi di jam yang seharusnya digunakan untuk tidur.
Nesya melambaikan tangan ke arah Olivia sebagai tanda kalau dia tidak apa-apa. “Bagaiamana pekerjaanmu?” Nesya duduk di tepi ranjang setelah mereka berdua masuk ke dalam kamar.
“Tidak buruk.” Olivia meletakkan tasnya lalu mulai duduk di depan meja rias untuk membersihkan wajahnya, “hanya sedikit terkejut, aku bertemu kembali dengan orang yang sudah menolongku berkali-kali."
“Benarkah? Bagaimana bisa?” tanya Nesya setelah dia kembali berbaring miring di tempat tidur menghadap ke arah Olivia.
“Dia salah satu tamu di sana.” Gerakan menghapus make di wajah Olivia berhenti sejenak, kemudian menoleh ke kanan, ke arah sahabatnya, “besok aku ingin menemui paman Fery. Tadi dia menghubungiku, ada hal penting yang ingin dia bicarakan denganku.”
“Masalah apa?”
“Tidak tahu,” jawab Olivia sambil mengendikkan bahunya lalu memutar kembali tubuhnya menghadap cermin dan melanjutkan menempelkan kapas di wajah putihnya, “mungin dia ingin berbicara mengenai papaku.”
“Maaf karena tidak bisa menemanimu.”
“Tidak masalah. Aku bisa pergi sendiri.”
Olivia bisa mengerti kalau sahabatnya tidak bisa menemaninya karena harus bekerja, lagi pula, Olivia tidak mau merepotkan Nesya terus menerus jadi dia harus terbiasa mengurus dirinya sendiri.
“Lanjutkan saja tidurmu, Nes. Aku akan tidur setelah membersihkan wajahku,” ucap Olivia saat melihat Nesya kembali menguap. Sedari tadi Nesya memang terlihat beberapa kali menguap dan menahan kantuknya.
"Baiklah."
Sebelum berbaring di tempat tidur, Olivia mengecek ponselnya. Sejak dia mulai bekerja tadi, dia tidak pernah sekalipun mengecek ponselnya. Dia sengaja membiarkan ponselnya dalam keadaan silent agar tidak mengganggunya. Terlihat 10 panggilan tak terjawab dari bibinya terpampang nyata di layar ponselnya, juga ada banyak sekali pesan dari bibinya yang belum sempat dia buka.
Olivia terlihat menghela napas sebelum membuka pesan tersebut. Tangannya bergerak lincah membuka satu persatu pesan yang ada di ponselnya yang berasal dari orang lain. Selesai membaca semua pesan masuk, Olivia meletakkan kembali ponselnya di atas nakas kemudian berbaring di sebelah Nesya. Olivia tidak langsung tidur, meskipun mengantuk, matanya tidak bisa terpejam. Kata-kata bibinya terus terngiang di kepalanya hingga akhirnya dia terlelap dengan sendirinya.
********
Olivia melangkah turun dengan hati-hati dari bus setelah tiba di halte pemberhentian. Dia harus berjalan beberapa meter untuk tiba di tempat yang dia tuju. Memorynya kembali teringat ketika dulu keluarganya masih berjaya. Dia tidak harus bersusah payah untuk berjalan hanya demi ke suatu tempat. Jangankan naik bus, naik taksi saja dia pernah karena sudah ada supir yang selalu mengantarnya ke manapun dia pergi.
Sepanjang perjalanan ke tempat tujuannya, Olivia terlihat menatap ke bawah hingga tidak sengaja menabrak seseorang. “Maaf.”
Setelah meminta maaf dan sedikit membungkuk, Olivia kembali berjalan. Di belakangnya, pria yang ditabraknya itu terlihat menatap sejenak ke arahnya lalu berbalik dan berjalan ke arah yang berbeda dengan Olivia.
Sebuah bagunan besar berwarna putih dan didominasi dengan kaca-kaca besar menyapa indra penglihatannya yang sudah tidak terasa asing lagi bagi Olivia. Gedung tersebut adalah milik pengacara keluarga ayahnya. Sebelum masuk ke dalam, Olivia merapihkan sejenak penampilannya.
“Kau sudah datang?” Seorang pria berumur sekitar 60 tahun menyapa Olivia dengan ramah saat melihatnya membuka pintu, “duduklah.” Pria paruh baya itu terlihat mengarahkan Olivia pada sofa kosong yang ada di depannya
“Terima kasih, Paman.”
“Bagaimana kabarmu?”
“Baik, Paman,” jawab Olivia dengan sopan.
Setelah berbasa-basi dan menanyakan mengenai keadaannya, pria berumur itu kemudian berbicara dengan wajah serius. “Maksud dari paman memintamu datang adalah karena ingin membicarakan mengenai hutang ayahmu.”
Olvia terlihat menghela napas halusnya. Bukan karena merasa terbebani dengan hutang ayahnya, melainkan karena dia belum tahu bagaimana cara membayar hutang ayahnya, sementara dirinya baru bekerja satu hari.
“Sebelum membahas hutang ayahmu, aku ingin memberitamu mengenai rumah peninggalan orang tuamu yang sudah disita oleh Bank.”
Pria bernama Fery itu menatap lamat-lamat Olivai sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya. “Batas waktu tenggat pembayaran hutang di Bank sudah habis, dan rumah itu akan segera dilelang. Maaf karena paman tidak bisa menyelamatkan harta terakhir ayahmu.”
Ada raut penyesalan dalam wajah Fery. Dia merasa bersalah karena tidak bisa memenuhi permintaan Olivia yang sebelumnya memintanya untuk mencari cara agar Bank memberikan waktu lebih panjang lagi padanya agar dia bisa menebus kembali rumah itu.
Sebelumya, Olivia sangat yakin akan medapatakan pinjaman dari keluarganya yang lain juga teman-teman kayanya, nyatanya setelah ayahnya terkandung kasus dan perusahaannya bangrut serta meningalkan banyak hutang, semua orang menjauhinya dan tidak ingin membantunya.
“Satu-satunya cara untuk menyelamatkan rumah itu hanya dengan ikut lelang,” lanjut Fery lagi setelah terdiam selama beberapa detik.
“Tapi aku belum memiliki uang, Paman,” ucap Olivia dengan suara rendah.
Sebenarnya Fery ingin membantunya, hanya saja dia juga tidak bisa membeli rumah Olivia karena rumah itu sangat mahal. Memerluan uang sangat banyak jika ingin membelinya. Belum tentu juga istrinya setuju jika dia ingin mebantu Olivia.
“Begini saja, paman akan ikut lelang rumah itu dan mencari tahu siapa yang mendapatkan rumah tersebut. Kalau kau memliki uang nanti, kau bisa langsung menemui orang tersebut.”
Fery tentu saja tahu bagaiaman berharganya rumah itu bagi Olivia jadi dia mengerti kalau Olivia sangat sedih kehilangan rumah itu.
“Terima kasih, Paman.”
Setelah membahas rumah, Fery lanjut membahas mengenai hutang ayahnya yang berjumlah banyak, sangat banyak bahkan diluar dugaan Olivia. Dia kira setelah perusaahaannya dinyatakan pailit dan semua asset keluarganya disita, hutang ayahnya tidak sebesar seperti yang dikatakan oleh oleh pengacara keluarganya.
“Apakah masih ada hutang ayahku pada orang lain selain 4 Miliar itu?”
“Jika di total ada 4.3 Miliar. Untuk yang 4 Miliar, ayahmu berhutang pada 4 orang, sementara yang 300 juta adalah denda yang harus dibayarkan oleh ayahku kepada rekan bisnisnya yang sudah merasa ditipu.”
Sebenarnya bukan ayah Olivia yang memakai uangnya. Uang itu dibawa kabur oleh rekan bisnis ayahnya dan yang menjadi kambing hitamnya adalah ayahnya
Hembusan napas panjang terdengar dari hidung Olivia. “Berapa lama mereka memberikan waktu untuk melunasi hutang ayahku?”
Olivia sebenarnya tidak tahu bagaimana caranya dia membayar hutang ayahnya yang sebesar itu. Bahkan jika dia ingin menjual ginjalnya pun belum tentu uang itu cukup untuk membayar semuanya, kecuali menjual tubuhnya, tapi itu tidak mungkin dia lakukan. Dia tidak mau menjual diri hanya demi membayar hutang ayahnya. Saat itu, ini satu-satu harta yang dia miliki jadi dia tidak harus mempertahankannya.
“Mereka memberikan waktu setengah tahun.” Melihat wajah murung Olivia, Fery berkata lagi, “paman akan meminta perpanjangan waktu kepada mereka supaya kau bisa memiliki waktu yang cukup untuk mengumpulkan uang.”
Selesai berbicara mengenai hutang ayahnya, Olivia pamit pulang, sebelum itu dia meminta tolong pada Fery terlebih dahulu. “Aku sedang mencari pekerjaan, bisakah paman memberitahuku kalau ada pekerjaan yang cocok untukku?”
“Bukankah muda bagimu untuk mendapatkan pekerjaan dengan latar belakang pendidikanmu?”
“Untuk saat ini aku hanya bisa melamar sebagai penerjemah dan juga guru bahasa asing. Aku tidak bisa melamar pekerjaan mengunakan indentitasku, Paman.” Olivia kemudian menjelaksan alasannya pada Fery.
“Paman mengerti. Paman akan menhubungimu nanti kalau mendapatkan informasi pekerjaan untukmu.”
Saat baru saja keluar dari gedung tersebut, Olivia tidak sengaja menangkap sosok pria tampan yang baru saja turun dari mobil. Olivia tertegun selama beberapa detik saat melihat wajah tampannya yang terlihat jelas ketika cahaya matahari menerpa wajahnya yang memliki bentuk begitu sempurna di semua bagian wajahnya.
Saat kesadarannya kembali, Olivia bergegas berbelok dan berniat meninggalkan tempat itu, sebelum pria itu menyadari kehadirannya di sana. Bukan apa-apa, dia hanya malu bertemu dengan pria itu, apalagi setelah pria itu tahu dia bekerja di club malam. Entah mengapa dia takut kalau pria itu menilai buruk dirinya.
Baru saja melangkah 5 langkah, terdengar seseorang memanggil namanya. Awalnya dia mengabaikan saat panggilan pertama, tapi karena pria itu sudah memanggilnya 3 kali, mau tidak mau dia menghentikan langkah kakinya saat sebuah langkah kaki terdengar menghampirinya.
“Nona Olivia, apa sedang kau lakukan di sini?”
Bersambung...
kapan atuh bikin karya lagi di sini kangeeen lho ku tunggu-tunggu😘
itu lwbih baik buat mu
jika olive pergi sja dari vcent nggak apa.. tapi cemuhan dan kta2 pedasnya siapa yg tidak sakit hti
hnya kerna tekanan org lain sanggup hncurkan ht org yg sngt cinta sama.kamu.
ya kmu pantas solo aja deh
sda tua... masih jahil dgn anak2
vicent bukan org bodoh wlau tidak punya apap dgn kelebihan diri dia mampu untuk bermula semula
tidak mampu bertegas dan mempertahankan pilihannya
pantas saja hubungan nya dengn siapa pun pilihan nya tidak berkesudahan...
lemmmaaahhh la /Smug/
U CAN FEEL IT. LOVE THIS STORY