Ayah meninggal ketika aku berusia 20 tahun, semua aset habis tak tersisa satu pun. Aku mulai menjalan kan usaha ku, Cafe yang aku bangun sejak aku masih SMA itu mulai ku rintis kembali. Sempat putus asa karena kehabisan modal, tapi semua bisa aku lewati.
Namun, semua itu belum lah berakhir. Cafe beserta bangunan lainnya akan di robohkan. Ada perusahaan ternama yang membeli kawasan itu, mereka akan membangun sebuah Hotel mewah. Aku berada di ambang kebimbangan, harus bagaimana menyelesaikan permasalahan ini? Di tengah kebimbangan ku itu, aku mengalami kecelakaan. Bukan kecelakaan hebat yang mengharuskan aku untuk di rawat lebih lama, di pantau oleh para dokter, hanya cedera ringan yang aku alami. Tapi, orang tua yang menabrak ku justru malah memberiku sebuah penawaran. Anak nya di paksa untuk menikah dengan ku, dengan dalih pertanggung jawaban!!!
Bagaimana kisah ku selengkap nya, yuk tetap pantengin novel ini agar tidak ketinggalan ceritanya..
By. Mrs Ribet -,-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Ribet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Pernikahan dengan rasa terpaksa masih saja di rasakan oleh keduanya, meskipun mereka sudah terbiasa satu sama lainnya namun rasa cinta itu belum jelas ada
Tidur berbagi rajang dan saling memunggungi sering kali mereka lakukan, dan berakhir di pagi hari saling memeluk satu sama lain tapi entah siapa yang mulai
Meski sudah terbiasa tapi rasa malu sering kaling menghampiri, dan berakhir saling meminta maaf serta saling menghindar karena canggung
Seperti hal nya pagi ini, di meja makan terasa begitu mencekam karena Ayang maupun Davin tidak saling menegur sapa bahkan kedua nya hanya saling menunduk menyembunyikan rona malu
Dan tentu saja Febi yang berperan besar dalam hubungan kedua nya merasa aneh dengan sikap mereka
"Ayang, nak hari ini kamu mau kemana" Tanya Febi mencoba mencairkan suasana
"Em aku mau ke Cafe Mom, terus sekalian ke rumah udah lama gak aku tengok" Jawab Ayang yang enggan melihat ke arah Davin padahal Davin duduk bersebalahan dengan Febi
"Oh gitu" Jawab Febi melirik sekilas pada putranya "Mommy pikir kamu gak akan kemana-mana tadinya Mommy mau ajak ke salon" Lanjutnya
"Maaf Mom lain kali aja" Jawab Ayang kemudian kembali menunduk
"Davin kalo kamu pulang jam berapa nanti" Tanya Febi
"Nanti yah" Jawab Davin mencoba tidak melihat ke arah Ayang "Aku belum tahu" Sambungnya
Febi tampak mengernyitkan alisnya, menatap heran pada pasangan baru tersebut
"Aku udah selesai, aku berangkat dulu" Pamit Davin kemudian meraih tangan Febi
"Iya hati-hati" Jawab Febi "Ayang antar Davin sampai pintu, ayok cepetan" Perintah-Nya
"Eng gak usah Mom, aku bisa sendiri" Jawab Davin dengan cepat
"Enggak bisa gitu dong, Mom aja antar Daddy sampai keluar pintu. Terus nyium punggung tangannya" Jawab Febi melirik pada Ayang "Udah gitu Daddy cium kening Mommy, itu udah jadi tugas Dav" Sambungnya
Davin melirik sekilas pada Ayang, berharap Ayang ada gangguan atau tidak mau mengantar Davin sampai depan
"Ayang ayok cepat, nanti suami kamu telat" Ucap Febi
Ayang tampak ragu, tapi membantah perintah mertuanya tidak mungkin Ayang lakukan
"Ayo cepat" perintahnya lagi
Dengan ragu Ayang berdiri, kemudian berjalan lebih dulu di ikuti oleh Davin
Ketika sudah berada di depan pintu mereka berdua hanya saling pandang, merasa aneh dengan apa yang akan mereka lakukan
"Em aku berangkat" Pamit Davin kemudian melangkah
"Hei kamu belum cium istri kamu" Teriak Febi yang ternyata mengikuti keduanya
Davin tersentak kaget, kemudian menoleh pada sang Mommy yang sudah berdiri di samping Ayang
"Ayok kamu juga cium tangan Davin" Perintahnya mendorong sedikit bahu Ayang
Ayang menoleh pada ibu mertua yang begitu pemaksa, kemudian menatap pada Davin. Setengah ragu dan juga canggung Ayang meraih tangan Davin untuk dia cium punggung tangannya
"Ahh manis sekali" Ucap Febi menangkup pipinya sendiri "Ayok Dav sekarang cium" Lanjutnya membuat pasangan yang terlihat kaku itu tampak bersemu
Davin meneguk ludahnya dengan sedikit terpaksa kemudian menatap Ayang yang masih menunduk
Perlahan namun pasti Davin mulai menunduk, dan akan mencium ujung kepala Ayang tapi karena pergerakan cepat Ayang justru malah membuat mereka saling terbentur
Dugh
"AW" Ucap Ayang mengusap kepalanya
Sedangkan Davin dia menutupi dagunya yang sudah kembali di tumbuhi oleh bulu-bulu halus
Febi meringis melihat kejadian tersebut, bukannya melihat hal romantis justru malah dia melihat insiden
"Ma maaf aku gak sengaja" Ucap Ayang kemudian mengelus dagu Davin "Maaf pasti ini sakit" Sambungnya dengan wajah penuh penyesalan
Davin terpaku melihat wajah Ayang, jika dilihat dengan jarak dekat wajah Ayang begitu cantik dan juga mulus tidak ada cacat sedikit pun di wajah nya
Tanpa sadar Ayang terus mengusap dagu Davin dengan lembut, dan Davin entah dorongan dari mana justru malah mencium pipi mulus Ayang membuat Ayang tersentak kaget karena ulah Davin
Sedangkan Febi dia tampak mengerjap tidak percaya, melihat putranya begitu berani. Padahal dia hanya menyuruh Davin untuk mencium kening bukan pipi
Davin yang baru sadar pun merasa malu, memegang tengkuk nya kemudian menggaruk
"Ah a aku pamit dulu, Mom aku berangkat" Pamitnya kemudian benar-benar melangkah meninggalkan Ayang yang masih mematung
"Ahh manisnya anak laki-laki Mommy" Ucap Febi di samping Ayang
Ayang tersentak kaget kemudian memegang pipi yang baru saja di cium oleh Davin
Apa ini, kenapa dengan jantung ini gumam Ayang meremas baju yang ia pakai kemudian memandangi mobil Davin yang mulai keluar dari pekarangan rumah
Sedangkan Davin dia terlihat senyum-senyum tidak jelas, mengingat kelakuan bodohnya
Rasanya seperti menghangat pada tubuhnya, dan hatinya seperti berbunga karena dia mencium pipi Ayang
Padahal sudah sering Davin melakukannya bahkan lebih dari sekedar cium pipi, tapi rasanya tidak sebahagia seperti sekarang
kalau sempat mampir baliklah ke karyaku "love miracle" dan "berani baca" tinggalkan like dan komen ya makasih
Maaf baru mampir hehe
Salam novel Fur Therese, yuk!