NovelToon NovelToon
Crazy Deal

Crazy Deal

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:96.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: BumbleBee

Isabella dan Darren terjebak dalam situasi menggelikan yang tidak sengaja mereka ciptakan. Kesalahfahaman yang membawa mereka pada hubungan rumit. Bagaimana tidak rumit, Darren adalah kakak dari pria yang sudah menjadi tunangannya selama lima tahun!

***

"Aku akan membantumu agar bisa hidup normal kembali."

"Maksudmu?" Darren mengernyit bingung.

"Aku akan menjadi dokter untukmu."

"Seingatku, aku tidak sakit dan kau juga bukan seorang dokter."

"Dan kau akan menjadi Stylist-ku."

"Excuse me?"

"Kau akan sembuh dan normal kembali. Akan kubuat kau mampu menghamili wanita!!"

Darren tidak terkejut sama sekali dengan pemikiran ajaib wanita itu. Kemudian dengan tenang ia berkata, "Lalu kubuat Austin bersedia menidurimu?"

"Frontal sekali ucapanmu! Kau hanya perlu mengubah penampilanku agar adik tampanmu melirik ke arahku! Bagaimana, deal?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pikirkanlah

...Kebahagiaan tidak akan pernah kau dapatkan di dalam cinta yang bertepuk sebelah tangan. Sebab untuk ke depan, menjalani hal paling dasar dengannya pasti selalu butuh perjuangan berat....

...****************...

Btw, terima kasih kepada Bintang Kejora yang selalu memberikan tips berupa koin setiap bab. Semoga rezekinya selalu berkah dan berlimpah.Sesekali boleh dong meninggalkan komen🙏

🌱

Ponsel retak itu kini diletakkan di atas meja. Tiga pasang mata memperhatikannya dengan ekspresi berbeda. Darren dan Austin memiliki ekspresi yang hampir sama. Flat. Sementara Isabell meringis, mantap iba ponsel kesayangannya itu. Ponsel pemberian ayahnya saat ia memutuskan keluar dari Istana dan pindah ke New York, negara tunangannya.

"Jadi siapa diantara kalian berdua yang akan mengganti ponselku?"

Pasalnya, Isabell harus pintar menggunakan uangnya. Ia harus mandiri, tidak ingin merepotkan keluarga angkatnya lagi. Gajinya cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, termasuk membayar uang sewa apartemen. Tapi, tahun ini ia berencana untuk membeli mobil, jadi ia tidak akan mengganggu tabungannya untuk hal yang tidak mendesak. Lagi pula, ponselnya rusak karena ulah kedua pria itu. Sudah sewajarnya ia menuntut kedua pria itu.

"Kurasa tidak adil jika kau harus menuntutku atas perbuatan yang tidak ada hubungannya sama sekali denganku," Austin membuka suara sambil jemarinya mengetuk permukaan meja. Ia lepas tangan, bersikukuh bahwa ia tidak memiliki andil atas insiden ponsel retak.

Isabell jelas setuju dengan apa pun yang dikatakan Austin. Tunangannya, cinta setengah hidupnya. Pun Isabell mengalihkan tatapannya kepada Darren.

Darren mengusap hidungnya, kemudian berkata, "Kau bisa saja menuntutku, tidak masalah."

Sumpah, lagak dan kata-kata Darren selalu mampu membuat Isabell kesal. Ia kira Darren pria yang menyenangkan, ternyata justru sebaliknya. Sangat amat menyebalkan.

Untung ganteng. Jika tidak, mungkin aku tidak akan sungkan menyiram wajahnya dengan sereal ini. Sempat-sempatnya Isabell memuji ketampanan Darren.

"Aku akan bertanggungjawab jika memang aku bersalah."

"Jelas-jelas kau memang sudah bersalah!"

"Dimana letak kesalahanku?"

"Ada pada kaki gorila-mu! Kakimu menghancurkan ponselku!"

"Apakah aku sengaja melakukannya?"

"Siapa yang tahu niat busuk seseorang."

Darren menukik sebelah alisnya, "Sepertinya memfitnah adalah keahlianmu, Miss Geo."

"Miss Geo?"

"Geonandes."

"Kau harus menggantinya."

"Bagaimana jika aku juga menuntutmu."

"Apa maksudmu? Aku tidak memiliki kesalahan apa pun."

"Sendalku tergores karena ponselmu." Darren membuka sendalnya dan dengan konyolnya meletakkannya di atas meja. "Harganya setara dengan ponselmu." Ucapnya dengan gaya meremehkan.

"Sendal busuk ini..."

"Tapi aku tidak akan melakukan tindakan memalukan dengan menuntut seorang keluarga hanya karena perkara remeh seperti ini."

"Keluarga?"

"Ya, bukankah kau tunangan adikku. Beli lah ponsel baru untuknya, mulailah menyenangkan tunanganmu." Darren memberi nasehat berupa saran kepada Austin kemudian ia berdiri meninggalkan dapur.

"Hari ini kau bekerja?" Austin bertanya setelah Darren sudah tidak terlihat.

"Ya."

"Ini akhir pekan."

"Toko selalu buka setiap hari."

"Oh."

"Ya, aku harus bersiap sekarang jika tidak ingin terlambat." Isabell memungut ponselnya dan menatapnya dengan wajah memelas. Tidak ada kejelasan tentang ponselnya. Tidak ada yang bisa benar-benar ia tuntut karena sebenarnya ia mengakui bahwa ini murni kesalahannya. Bagaimana bisa ia tidak menyadari ponselnya jatuh ke lantai.

Ini salah Austin! Ia membuatku lupa segalanya!

Bukan salah Austin. Ini teguran karena aku sudah bersikap tidak sopan kepada orang tua.

"Isabell."

Panggilan Austin mengurungkan niat Isabell yang hendak melangkahkan kaki.

"Ya." Isabell tersenyum, memamerkan giginya yang berpagar. Austin menahan diri agar tidak mendesah saat tatapannya jatuh pada kawat gigi tersebut.

Austin merenung sesaat. Tadi malam ia diberitahu oleh ibunya bahwa Isabell akan tinggal di rumah mereka mulai sekarang. Artinya, keluarganya memang serius agar ia dan Isabell menikah. Ya, memangnya kapan keluarganya melucu?

Austin mencoba menggali memorinya bagaimana bisa pertunangan antara dirinya dan Isabell terjadi. Ck! Ia hanya menjawab asal saat Ibunya bertanya tentang persetujuannya jika ditunangkan dengan seorang gadis yang sangat manis. Ya, ia ingat ibunya mengatakan Isabell gadis yang manis, cantik dan menarik tanpa menunjukkan fotonya sama sekali. Saat itu Austin genap berusia 20 tahun. Hormon testosteronnya lagi berkibar-kibarnya. Mengira dengan bertunangan, ia bisa melakukan banyak hal gila tanpa bergonta ganti pasangan. Apalagi ibunya menyebut calon tunangannya manis dan cantik.

Mendapat persetujuan darinya, Ibunya langsung menghubungi keluarga Isabell dan mengabarkan bahwa esok mereka akan terbang ke sana dan acara pertunangan akan langsung digelar. Mendengar bahwa Isabell tinggal di Istana membuat Austin membayangkan bahwa Isabell seperti putri di dalam dongeng. Anggun, mungkin ibunya lupa mengatakan hal itu.

Terkejut, ingin menghilang ditelan bumi, itulah reaksi Austin saat wanita yang menjadi tunangannya dihadapkan kepadanya. Jauh dari kata manis, cantik dan anggun. Marah, Austin ingat betapa marah dan kecewanya ia pada hari itu. Tapi, ia tidak mempunyai pilihan selain mengikuti acara dengan baik sampai selesai. Tidak mungkin baginya untuk mempermalukan keluarganya di hadapan orang banyak.

"Kau ingin mengatakan sesuatu?" Suara Isabell mengembalikan Austin ke masa kini.

"Kau yakin ingin menikah denganku?"

Isabell tertegun mendengar pertanyaan Austin yang tidak terduga. Pertanyaan yang sebenarnya ingin Isabell tanyakan kepada pria itu.

"Ba-bagaimana denganmu?"

"Entahlah. Aku tidak yakin ini akan berhasil."

"Kenapa kau berkata seperti itu?" Isabell menekan rasa sakit hatinya. Austin terdengar seperti sedang mendorong dan menolaknya.

"Aku tidak terlalu mengenalmu dan aku bukan tipe pria yang akan membuang-buang waktu untuk mencari tahu apa yang kau sukai dan tidak kau sukai. Dan yang paling penting, kau juga tidak mengenalku."

"Kau terdengar seperti sedang menolakku." Isabell menyuarakan apa yang ada di dalam pikirannya.

"Aku hanya ingin kita berpikir dengan akal sehat."

"Ya, aku tahu wanita sepertiku bukanlah tipe wanita yang kau inginkan."

"Tahu apa kau tentang wanita yang kuinginkan?"

"Tentu saja aku tahu. Aku selalu mengikuti media yang memberikan berita terbaru tentangmu. Dalam satu minggu ini, kau bahkan sudah berkencan dengan empat wanita yang berbeda. Semuanya tampak sama, berpenampilan terbuka dengan pakaian yang kurang bahan. Bukankah wanita-wanita seperti itu yang menarik minatmu?"

Austin terkekeh, "Ternyata kau sangat pakar. Tadinya kukira kau sangat irit berbicara."

"Hanya karena aku terlihat cupu?"

Austin mengangkat kedua bahunya tidak acuh.

"Cinta, sekss, gairah, hasrat, rindu, semua komponen itu harus ada di dalam suatu hubungan." Austin berdiri dari kursinya kemudian berdiri tepat di hadapan Isabell, menatap Isabell dengan satu lirikan cepat dari atas ke bawah. "Dan tidak satu pun dari komponen itu ada diantara kita. Lantas, untuk apa kita menikah? Tidak mungkin hanya bermain rumah-rumahan, bukan? Pikirkanlah."

1
Rosy Apriyadi
Thor sekarang bikin karya di apk apa thor aku rindu kariamu
Arum Sinta
suka sangat dengan cerita dr author rizky, semua ceritanya keren abiz, ya walau ada beberapa cerita yg tak selesai, tapi aku suka dg penyusunan ceritanya, ga muter2 jadi ga bosan bacanya...smoga bang iky tetap semangat menulis, aku tunggu selalu karya2mu yg lain...
Nana Colen
kemana ya kok gak up lagi👍👍👍👍padahal aku suka banget cerita nya
Nana Colen
lama gak uo
Conny Ngantung
ceritamu bagus Thor aku suka👍👍👍
Ghaza Syifa Alita
keren
Reksa Nanta
Kalau niatnya memang begitu, kenapa kunci mobilnya digantung bebas ?
Reksa Nanta
Perbendaharaan kata.
Reksa Nanta
aku baru tau viagra dijual bebas di supermarket. hahaha.
Jeck Barman
lanjut cerita menarik
Hayati
msh nunggu thor
Diii
Darren sama siapa ya...apa sama Austin adiknya...
𝕴𝖇𝖚𝖓𝖞𝖆 𝖆𝖓𝖆𝖐-𝖆𝖓𝖆𝖐
kangen, kapan up
Ummu Mufris
marna baru
ceava
nggk ljut y
@ jjeyva
bang ini lanjut apa gmn bang, KSH info dong bang
sizih
Daren aku 😢
Baiq Saleha
laaaa libur panjang
dwi apriyani
yakin ini udahan gak lanjut lgi😞
Yuni
ini cerita yg menarik... cepet up lagi dong bang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!