Elzia manofa, seorang anak SMA yang di jodohkan dengan duda anak satu, bagaimana kelanjutan cerita mereka, ikuti yuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUASANA PESTA
Suasana pesta yang megah seketika berubah menjadi kekacauan total. Para tamu berhamburan menghindari asap korosif yang menguap di atas karpet. Arkan menerjang maju, menarik Zia dan ibunya ke belakang tubuhnya, sementara tim Black-Shield langsung meringkus pria bertopi itu.
Arkan menatap tajam ke arah Ibu Zia— Widya . Napas wanita itu tersengal, namun sorot matanya yang biasanya redup kini berkilat penuh rahasia yang tersimpan selama belasan tahun.
"Mama... Mama tahu siapa Hendra?" tanya Zia dengan suara bergetar, masih syok karena hampir saja menjadi korban serangan udara keras.
Arkan tidak menunggu jawaban di sana. "Rio! Amankan area! Bawa mereka ke ruang VVIP sekarang!"
Di dalam ruangan yang kedap suara, Arkan mengunci pintu. Ia melepaskan jas tuksedonya, menyisakan kemeja hitam yang lengannya ia gulung hingga siku. Ia menatap Widya yang duduk gemetar sambil memegang tangan Zia.
“Tante, jelaskan padaku,” tutut Arkan. "Bagaimana Tante bisa tahu nama Hendra Mahendra? Dia adalah orang yang menutup semua akses komunikasinya sejak lima tahun lalu."
Widya menghela napas panjang, air mata jatuh di pipinya. "Hendra bukan hanya mentormu, Arkan. Dia adalah kakak tiri dari suamiku, Hadi. Dan dia adalah orang yang menghancurkan keluarga kami sejak awal."
Zia terbelalak. "Apa? Jadi Om Hendra itu... paman aku?"
“Dia tidak pernah menganggap kami keluarga, Zia,” lanjut Widya. "Hendra terobsesi pada silsilah dan warisan. Ketika ayahmu kalah judi, itu bukan karena kebetulan. Hendra yang membujuknya, memberikan pinjaman dengan bunga yang mustahil, lalu memaksa Hadi untuk 'menjual' Zia kepadamu melalui itu."
Arkan mengerutkan kening. "Tunggu. Kalau dia ingin menghancurkanku, kenapa dia mengirim Zia ke sana?"
“Karena dia tahu kamu punya satu kelemahan, Arkan,” Widya menatap Arkan dalam-dalam. "Kamu tidak pernah bisa membiarkan orang yang tidak bersalah menderita. Dia ingin kamu terikat secara emosional dengan Zia, sehingga saat dia menghancurkan Zia, kamu juga akan hancur berkeping-keping. Kamu adalah target utamanya, dan Zia adalah umpan yang dia pasang bertahun-tahun yang lalu."
Tiba-tiba, ponsel Arkan berbunyi. Bukan pesan teks, melainkan sebuah panggilan video dari nomor yang terenkripsi. Arkan menyalakan loudspeaker dan menghadapkan layar ke arah mereka.
Wajah seorang pria tua dengan rambut putih yang tertata rapi muncul. Ia sedang duduk di sebuah balkon mewah yang menghadap ke arah pelabuhan. Itu adalah Hendra Mahendra .
“Permainan yang luar biasa, Arkan,” ucap Hendra dengan suara berat yang berwibawa. "Aku tidak mengira Widya akan membuka mulut pendek ini. Aku meremehkan seorang ibu."
“Permainanmu sudah berakhir, Hendra,” desis Arkan. "Hadi sudah ditangkap, dan bukti pencucian uangmu sudah di tangan pihak berwajib."
Hendra tertawa kecil, suara yang membuat bulu kuduk Zia berdiri. "Pihak berwajib? Arkan, kamu lupa siapa yang membiayai kampanye orang-orang yang kamu sebut 'pihak berwajib' itu? Dalam satu jam, Hadi akan bebas. Dan dalam dua jam, seluruh saham Holding milikmu akan dihentikan karena dugaan keterlibatan dalam sindikat judi internasional yang dilakukan oleh... mertuamu sendiri."
Arkan terdiam, Ia menyadari jebakannya. Dengan melunasi hutang Hadi dan menikahi Zia, Arkan secara tidak langsung telah menghubungkan aliran dananya ke jaringan gelap yang sudah dipasang Hendra.
“Pilihannya mudah, Arkan,” lanjut Hendra. "Serahkan Zia kembali padaku untuk 'dididik' di luar negeri, dan aku akan membersihkan namamu. Atau, tetaplah menjadi pahlawan dan Saksikan kerajaan bisnis yang kamu bangun selama sepuluh tahun runtuh dalam semalam."
Layar menjadi hitam. Panggilan terputus.
Zia menatap Arkan dengan kosong. "Om... serahkan saja aku. Aku tidak mau Om kehilangan segalanya karena aku."
Arkan menoleh ke arah Zia. Ia berjalan mendekat, lalu menggenggam bahu gadis itu dengan lembut namun kuat.
“Dengarkan aku, Bocil,” ucap Arkan, suaranya kini kembali dingin namun penuh keyakinan. "Aku sudah pernah menjadi orang miskin. Aku tahu rasanya tidur di jalanan sebelum Hendra menemukanku. Aku tidak takut kehilangan uang."
Arkan mengambil ponselnya dan menghubungi Rio. "Rio, aktifkan Protokol 'Scorched Earth' . Jual seluruh saham pribadi di pasar terbuka sekarang juga. Jatuhkan harga pasarnya sampai titik terendah."
Rio di seberang telepon berteriak kaget. "Tapi Bos! Itu akan menghancurkan nilai perusahaan Anda sendiri! Anda akan kehilangan miliaran dolar!"
“Lakukan saja,” perintah Arkan. "Kalau aku tidak bisa memilikinya, Hendra juga tidak boleh mendapatkannya. Kita akan membakar semuanya dan membangunnya lagi dari abu. Tapi kali ini, tanpa satu pun sidik jari Hendra di dalamnya."
Arkan menatap Zia, sebuah senyum tipis yang mematikan muncul di bibir.
"Dia pikir dia bisa mengancamku dengan hartaku?" Arkan mendekatkan wajahnya ke Zia. "Dia lupa bahwa hal paling berbahaya di dunia ini bukanlah pengusaha kaya, melainkan orang yang tidak takut kehilangan apa pun."
"Zia, ikut aku. Kita tidak akan lari. Kita akan mendatangi Hendra malam ini juga."
zia duda itu tidak selalu tua juga ada yg usia 20jadi duda 🤣🤣🤣
Belum juga ketemu udah bayangin om duda tua muka jelek jangan gitu dong,nanti kalau kamu terkejut gimana 🤔