Popoy atau Tiara adalah gadis kampung yang sangat baik, cantik dan juga pintar. Dia lulus dengan meraih predikat terbaik di sekolahnya.
Tapi, modal itu saja tidaklah cukup untuk menjamin dirinya bisa mendapatkan pekerjaan yang mapan. Apalagi, Tiara hanya lulusan SMA.
Ekonomi keluarga yang pas-pasan dan incaran rentenir yang ingin memperistri Popoy, membuatnya nekad pergi ke kota. Popoy tidak mau terikat pernikahan dengan bandot tua yang selalu menjerat petani dengan hutang, hingga para orangtua terpaksa harus merelakan anak gadisnya untuk dipersunting demi melunasi hutang mereka.
Namun, Popoy tidak pernah menyangka jika di kota, dirinya malah terlibat banyak masalah. Bekalnya dirampok dan dia hampir saja diperkosa oleh para preman.
Popoy berhasil keluar dari mulut harimau tapi akhirnya masuk ke mulut buaya. Dia bersembunyi di bagasi mobil seorang Miliarder yang terkenal suka bergonti-ganti wanita.
Bagaimanakah nasib Popoy selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9. BERTEMU KANIA
"Gadis bodoh! Kamu pikir bisa lari dariku! Tidak ada satu wanita pun yang berani menolakku, cuma kamu dan kamu wanita pertama yang berani menendang juniorku meski kamu tidak sadar," monolog Alex.
"Kamu pasti akan kembali ke pelukanku tanpa aku minta. Sekarang, saatnya permainan kita mulai," monolog Alex lagi sambil mengenakan pakaian yang baru di antar oleh pelayan hotel.
Setelah menyisir rambutnya, Alex pun bergegas pergi, dia akan langsung ke kantor karena ada meeting pagi ini.
Popoy yang meninggalkan hotel dengan dandanan acak-acakan, terus saja berjalan menyusuri jalan raya. Dia tidak peduli banyak mata memandang aneh kepadanya.
Melihat pedagang bubur keliling, Popoy pun memegangi perutnya. Sejak tadi perutnya berbunyi minta di isi.
"Pak, bubur Candil dan kacang hijau masing-masing satu porsi ya!"
"Baik Neng. Makan di sini 'kan Neng?"
"Iya Pak."
Penjual bubur pun menyiapkan pesanan Popoy, lalu mengantarnya ke bangku taman di mana Popoy menunggu.
"Silakan Neng!"
"Terimakasih Pak."
Popoy memakan bubur dengan lahap, satu piring habis, lanjut piring satunya lagi. Dia sangat lapar, jadi dua piring habis tanpa sisa.
Setelah kenyang, pikirannya kembali kepada kejadian tadi malam. Popoy memukul-mukul kepalanya sendiri sambil berkata, "Kenapa aku sama sekali tidak ingat! Apa sebenarnya yang terjadi, jangan-jangan...ah tidak! Aku nggak mau hamil! Bagaimana nasib anakku nanti, lahir tanpa ayah!" monolog Popoy.
Pedagang bubur pun menatap Popoy dengan heran, lalu sang Bapak menghampiri, "Neng sakit ya? kok saya perhatikan sejak tadi kepala Neng di pukul terus."
"Enggak Pak, sedang banyak masalah. Terimakasih ya Pak, ini piring dan uangnya."
"Terimakasih Neng, hati-hati ya Neng.
Popoy berjalan mencari toko pakaian, dia bermaksud membeli beberapa pasang baju untuk ganti.
Saat ini Popoy tidak memiliki apapun lagi selain uang yang tersisa di kantong. Bahkan ijazahnya pun ikutan hilang bersama tas pakaiannya.
Sambil mengelap peluh, Popoy pun bertanya, "Mbak ada menjual kaos, kemeja dan Rok seukuran saya?"
"Oh ada Mbak, sebentar ya. Silakan duduk Mbak," ucap pelayan toko.
Sambil menunggu, Popoy berpikir akan kemana setelah ini. Semua jadi kacau, saat ini saja dia tidak tahu sedang berada di mana.
Popoy sedih, dia teringat Bapak dan Ibu. Popoy belum menghubungi mereka sejak tiba di kota.
Saat ini, ingin rasanya dia menangis sekencang-kencangnya, meratapi nasib diri yang selalu sial. Nggak di kampung, nggak di kota ternyata sama.
Popoy menghapus air mata, dia tidak boleh menyerah. Popoy harus kuat demi Ibu dan Bapak yang mengharap keberhasilannya di kota.
"Mbak, ini bajunya!"
Panggilan pelayan toko mengejutkan Popoy dan dia kembali menghapus air mata sambil bertanya, "Berapa harga satu stelnya Mbak. Kaos dan rok?"
"Harganya bervariasi Mbak, tergantung kualitas. Paling murah yang ini, sepasang Rp.250.000,- dan ada yang sampai jutaan."
Popoy diam, dia berpikir jika beli dua pasang, uangnya makin menipis, sementara dirinya tidak punya tempat tinggal dan makanan juga harus beli.
Jika beli satu pasang, bagaimana dia harus berganti pakaian apabila kotor.
Lama Popoy menimbang-nimbang dan akhirnya dia membeli dua pasang yang paling murah.
"Yang ini saja Mbak, dua pasang ya. Oh ya Mbak, boleh numpang toiletnya, saya ingin berganti pakaian."
"Silakan, di belakang sebelah kanan ya Mbak?"
Popoy pun bergegas menuju toilet, dia mandi sambil memeriksa tubuhnya. Banyak tanda merah di bagian atas, hingga membuatnya kembali menangis.
Dengan kasar, Popoy membersihkan tanda-tanda tersebut, berharap bisa hilang, tapi semuanya sia-sia.
Kemudian Popoy memeriksa area intinya dan dia tidak merasakan apapun di sana.
Menurut orang-orang yang sudah menikah, apabila kehilangan perawan pasti merasakan sakit, sedangkan Popoy tidak merasakan hal itu.
Popoy merasa lega, berharap dirinya masih perawan, tapi saat melihat tanda-tanda merah di tubuhnya, dia kembali tidak yakin, jika Alex tidak melakukan apapun saat dirinya tidak sadar.
Kembali tangisnya pecah, hingga terdengar sampai ke depan.
Pelayan toko pun mengetuk pintu toilet sambil bertanya, "Mbak, Mbak nggak apa-apa 'kan?"
Sambil terisak, Popoy menjawab, "Aku nggak apa-apa Mbak, hanya teringat orangtua."
"Oh, aku pikir kenapa."
Pelayan toko pun kembali ke depan, sambil menunggu Popoy selesai berganti pakaian.
Setelah selesai, Popoy pun membayar pakaian yang dia beli dan sebelum pergi, Popoy menanyakan alamat jalan kuini.
Pelayan pun mengatakan, jika jalan kuini masih jauh dari tempat tersebut. Popoy harus naik angkot dua kali sambung dengan total biaya Rp.25.000,- dan jika naik taksi ongkosnya sekitar Rp.50.000,-
Popoy pun akhirnya memutuskan naik angkot, dia harus berhemat demi bisa bertahan hidup di kota sampai mendapatkan pekerjaan.
Popoy sudah tiba kembali di jalan kuini, dia melewati tempat di mana dirinya malam tadi dikejar oleh para preman.
Berhubung hari sudah menjelang siang, Popoy tidak merasa takut, dia turun dari angkot setelah melewati perumahan mewah tempat dirinya malam tadi bersembunyi.
Popoy menutup wajah dengan masker, dia tidak ingin ada yang mengenal dirinya, terutama Alex yang barangkali pulang dan sedang melintas di sekitar sana.
Popoy terus berjalan sambil bertanya kepada penduduk sekitar tentang rumah Kania.
Akhirnya, Popoy bisa tersenyum, saat seorang ibu mengatakan mengenal Kania yang bekerja di sebuah perusahaan ekspor impor mainan anak-anak.
Popoy di antar ke rumah Kania dan untungnya hari ini Kania tidak masuk kerja karena ingin mencarinya.
Saat Kania membuka pintu, Popoy pun menghambur ke pelukannya sambil menangis. Dia sangat bersyukur, akhirnya bisa bertemu Kania dan ibunya.
Setidaknya, Popoy merasa aman, memiliki tempat tinggal meski hanya sementara.
"Masuk ayo Nak!" ajak Bu Mini, ibu Kania.
"Kamu kemana saja Poy, hari gini baru sampai. Kami sangat khawatir dan aku sampai minta izin tidak masuk kerja karena ingin mencarimu."
"Tadi malam, aku mencarimu keliling terminal tapi kata penjual nasi goreng yang buka sampai pagi, kamu sudah menuju ke jalan kuini."
"Ceritanya panjang Nia."
"Kania, ajak Popoy ke kamar, dia pasti lelah. Nanti, ngobrolnya bisa di sambung, setelah dia istirahat."
"Iya Bu. Ayo Poy! Lho kamu tidak bawa tas?"
"Nah itu bagian ceritanya, Nia."
"Oh, ya sudah nanti saja ceritanya. Ayo ke kamar, kita ngobrol di sana."
Kania pun mengajak Popoy masuk ke kamar, sedangkan ibu menyiapkan makan siang untuk keduanya.
"Ayo Poy sambil kita tiduran, kamu ceritakan kenapa baru sekarang sampai di sini."
Popoy pun menceritakan saat tas dan ponselnya di rampas hingga dia di kejar preman dan sembunyi di bagasi mobil Alex.
Tapi tentang kejadian dirinya di kamar bersama Alex, masih Popoy rahasiakan. Dia malu, itu aib terbesar dalam hidupnya.
Sebisa mungkin, Popoy akan menutup aib tersebut dari siapapun termasuk orangtuanya.
Bersambung...
smg sukses kedepannya ya author........ 🙏🙏
baru kali ini baca novel ngak di skip2
keren tetap berkarya semogga sukses selalu