NovelToon NovelToon
Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan

Status: tamat
Genre:Hamil di luar nikah / Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:406.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: Wiji

"Shaka! Nimas sedang hamil anakku. Tolong nikahi dia, jaga dia seperti kau jaga orang yang kau cintai. Ada darahku yang mengalir di janin yang sedang di kandung. Terima kasih."

Itu adalah amanah terakhir dari Bryan, Kakak dari Shaka. Sejak saat itu Shaka benar-benar menjalankan amanah dari sang Kakak meskipun ia sendiri sudah memiliki kekasih yang ia pacari selama dua tahun.

Tidak mudah bagi Shaka saat sedang menjalani apa yang sudah di amanahkan oleh Bryan. Berbagai tentangan dari sang kekasih dan juga kedua orang tuanya tak bisa ia hindari.

Mampukah Shaka menjalani bahtera rumah tangga dengan wanita yang bahkan belum ia kenal? Sampai kapan Shaka kuat menjalankan amanah yang di limpahkan padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Dalam Bahaya

Shaka tak nafsu makan, jam makan siang yang harusnya ia pergunakan untuk mengisi energi ia gunakan untuk melamun. Nasi yang berada di meja ruangannya hanya ia lihat tanpa berniat menyentuhnya.

"Ya halo." Shaka menempelkan ponsel ke dekat telinga saat benda pipih itu berdering dengan nyaring.

"Apa? Nggak ada orang? Ya sudah tinggalkan makanan itu di teras. Mungkin yang punya rumah sedang di kamar mandi."

Percakapan itu usai. Shaka bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ruangan. Sebelum ia pergi, ia meminta pada sekretarisnya untuk membatalkan semua meeting jika dirinya belum kembali saat jam makak siang sudah usai.

Dengan langkah lebar, Shaka perlahan meninggalkan kantor dan kembali pulang menuju rumah yang ditempati Nimas.

Berkendara di jam makan siang memang sial. Jalanan yang macet membuat Shaka kehilangan waktu banyak. Ia menggerutu dalam hati berharap apa yang ia takutkan tidak terjadi.

"Seharusnya aku minta nomornya juga tadi. Nimas, aku berharap kamu masih di rumah itu. Aku tidak mau seluruh keluargaku menanggung dosa besar ini. Ya Tuhan, iki terlalu lama." Shaka turun dari mobil dan menghubungi seseorang untuk mengambil mobilnya di jalanan.

Ia terus berjalan cepat di pinggir jalan seraya mengedarkan pandangan ke segala arah, barangkali ada tukang ojek yang sedang mangkal. Entah kenapa ia tak terpikirkan untuk memesan ojek online saja.

Dari kejauhan, ia melihat ada banyak motor yang berjejer. Posisinya yang dekat dengan rumah sakit membuat Shaka berpikir bahwa itu adalah tukang ojek.

"Pak, tukang ojek bukan?"

"Iya, Pak. Mau di antar ke mana?"

"Nanti saya kasih tahu. Ayo Pak, saya buru-buru."

***

"Makasih, ya kamu mau di kasih makanan. Aku kenyang sekarang," gumam Nimas mengelus perutnya yang masih rata. Entah berapa minggu usia janin yang sedang ia kandung. Rasanya ia belum punya waktu untuk memeriksakan diri ke dokter. Yang terpenting sekarang adalah kembali berjalan mencari penginapan.

"Mbak tambah lagi, ya satu dibungkus. Berapa semuanya?"

"Dua puluh ribu, Mbak."

"Mbak, apa ada penginapan atau kos di sekitar sini?" tanya Nimas menyodorkan sejumlah uang yang sudah disebutkan tadi.

"Agak jauh, Mbak. Satu kiloan kalau dari sini. Tinggal lurus aja, nanti ada kantor polisi, nah di dekat kantor polisi itu ada gang. Mbak masuk aja ke gang. Nanti ada tulisannya."

"Baiklah, terima kasih Mbak."

Nimas kembali melanjutkan perjalanan dengan membawa sebungkus sup buah di tangannya. Meskipun tidak tahu bagaimana nasibnya nanti, setidaknya ia tahu akan tidur di mana malam ini. Mudah-mudahan saja masih ada tempat yang kosong di kos yang akan ia datangi.

"kamu harus kuat, ya. Bunda sendirian di sini, Ayah kamu sudah ada di surga. Jadi kamu harus kuat untuk Bunda dan jagain Bunda. Nggak apa-apa kita sendirian di dunia ini, yang penting kita selalu bersama." Sekali lagi Nimas mengelus perutnya. Hatinya sangat sakit saat mengingat bahwa Bryan meninggalkan dirinya sendirian.

Gadis itu bertekad akan menanggung ini sendirian. Ia tak punya cukup nyali untuk pulang ke kampung halaman.

Setelah berjalan lebih jauh dan tidak peduli dengan panas matahari, akhirnya Nimas sampai di kos yang ia cari. Nampak sepi, mungkin karena hari ini masih hari bekerja jadi tidak ada penghuni kos yang berada di kosnya. Ia melihat sekeliling, tidak ada orang yang ada di luar rumah untuk ia tanyai.

Beberapa menit berdiri di luar pagar berwarna hitam itu, Nimas melihat ada dua orang pria yang berjalan ke arahnya. Penampilannya sedikit mengerikan, badan gemuk, gondrong, brewokan, dan memiliki wajah seperti preman. Nimas tidak punya pikiran apapun saat itu. Ia masih berdiri dengan tenang di tempatnya seraya menunggu dua pria itu melewatinya. Ia ingin menanyakan perihal pemilik kos.

Semakin lama kedua pria itu semakin mendekat dan saat itulah, Nimas sadar bahwa mereka berjalan sedikit sepoyongan dan ia tahu bahwa mereka sedang mabuk. Meskipun hari masih terang, tapi suasana yang sepi membuat Nimas sedikit bergidik ngeri.

Khawatir akan keselamatannya, Nimas memutuskan untuk berjalan cepat menjauh dari tempat itu. Ia sedikit berlari kecil seraya memegangi perutnya.

"Hey lihat! Di depan kita ada wanita cantik," ujar salah satu dari mereka dan ucapan itu masih terdengar di telinga Nimas. Hal itu membuat dirinya semakin cemas. Langkahnya ia buat secepat mungkin seraya terus berdoa dalam hati untuk keselamatan dirinya dan juga janin yang ada dalam perutnya.

Entah kenapa Nimas merasa semakin cepat ia berjalan semakin dekat pula kedua pria yang dibelakangnya itu.

"Sedikit lagi Nimas, sedikit lagi kamu sudah sampai jalan raya. Ayo kamu harus kuat." Nimas menyemangati dirinya sendiri.

Grap

Di saat kaki Nimas menginjak aspal jalan raya dalam waktu bersamaan tangannya berhasil diraih oleh salah satu dari pria mabuk itu.

"Nimas! Kamu di mana? Kamu masih di sini, kan?" Shaka berteriak menyusuri setiap sudut rumah. Ia sampai menyusuri halaman belakang, memastikan bahwa Nimas ada di sana atau tidak. Tidak ada satupun sudut di pekarangan itu yang ditinggalkan oleh Shaka.

Merasa sudah menyusuri sepanjang pekarangan, Shaka akhirnya pergi dari rumah itu. Ia harus mencari Nimas, tapi ke mana? Shaka membatin bingung.

"Pak, orang yang saya cari tidak ada di rumah ini. Boleh saya pinjam motor Bapak untuk mencarinya? Bapak bisa tunggu di sini, itu ada makanan Bapak bisa makan. Ini ada dompet saya, di dalamnya ada KTP sama kartu ATM. Bapak bisa bawa dompet ini ke kantor polisi kalau saya tidak kembali sampai malam. Terima kasih, Pak." Tanpa menunggu jawaban dari tukang ojek itu, Shaka meloncat ke motor dan melajukannya dengan cepat.

Pria itu sendiri juga tidak tahu harus mencari Nimas di mana. Ia hanya mengikuti kata hatinya dan juga perasaanya yang terkadang tidak melesat dari perkirakan. Ya, Shaka termasuk pria yang memiliki insting kuat.

Shaka menajamkan penglihatannya ke setiap jalan-jalan yang ia lewati. Laju kendaraannya begitu pelan, sampai-sampai orang di belakangnya terkadang memencet klakson dengan keras karena tak sabar.

"Astaga, Nimas. Kamu ini kenapa? Kamu ke mana? Kenapa kamu melakukan ini? Ada yang menanggung kehidupan kamu dan juga calon anak kamu malah kamu kabur."

Panas matahari yang tadinya menyengat begitu jahat, perlahan meredup dan datang awan hitam. Semakin lama semakin gelap, dan rintik hujan mulai berdatangan. Pergantian cuaca yang begitu cepat membuat Shaka semakin tak karuan.

Entah dari mana datangnya perasaan merasa bersalah dan berdosa saat situasi seperti ini. Ia hingga kini juga tak paham kenapa merasa Nimas adalah tanggung jawabnya seutuhnya. Seakan ia saja yang menghamili gadis itu.

"Nimas, ayo tunjukkan dirimu. Aku harus ke mana untuk menemukan kamu. Kamu harus bersamaku demi Kak Bryan, aku mohon tunjukkan keberadaan kamu," rintih Shaka yang sudah mulai basah kuyup karena semakin lama hujan semakin deras.

"Tolong!"

1
Juna Dong
suka bgt..
Surati
bagus
Ratih Hermansyah
part ini mengandung bawang/Sob/sedih jg jadi bryan
Ahmad Nashrullah
aneh,,,,,berzina,,,,meninggalkan aib n anak tak bernadab ke dirinya mo metong malah meninggalkan wasiat g genah,,,,,anehhhh
Yani Mulyani
Biasa
Ogi Ngatama
baik
Marlina Pardede
p
Erlinda
nimas ini super super goblo..hadeeeh sorry Thor aq stop sampai disini
Erlinda
yg aq ga ngerti kenapa author nya selalu menciptakan sosok wanita bodoh dan lemah disiksa dan dilecehkan jujur aq yg sudah ratusan membaca novel online ini baru 7 novel yg luar biasa karakter cewek nya.ga lebay ga bodoh .ini seperti sinetron ku menangis deh
Erlinda
ya Allah dasar mertua iblis semoga kau mati ditabrak mobil sampai hancur berkeping keping..
Erlinda
si nimas ini kenapa sih kok keras kepala banget ga nurut kata suami .lama lama benci jg aq dgn sikap nimas yg bodoh bin tolol ini
Erlinda
hei pak Malik itu adalah calon cucumu darah daging Bryan ..jadi orang kok seperti ga punya hati..ntar klo cucumu udah lahir dan besar jgn kau akui dia cucumu .seperti kebanyakan novel
Sri Sunarti
,lanjut
Dafila Nurul
bagus ceritanya tp banyak typo nya.
ayu irfan
Bu Marisa tega, pdhal ke cucu sendiri lo😢
ayu irfan
Shaka, kamu langka.
Susi Andriani
cintanya saka bikin aku baper😃😃😃
Susi Andriani
semangat mas saka💪💪💪
Susi Andriani
owalah ibu ibu jadi ibu itu ya mbok jangan jahat
Susi Andriani
mau aja aku mencekik ibunya saka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!