Bosan dengan kehidupan bagaikan seorang putri membuat Kimora Candy Anastasya harus membuat perjanjian dengan sang ayah agar bisa terbebas dari semua peraturan Keluarga Besar Park.
Ayah Kimora, Baek Hyeon sangat protektif terhadap putrinya itu hingga semuanya harus sesuai dengan peraturan keluarganya. Semenjak istrinya meninggal Baek Hyun sangat over protektif hingga membuat Kimora tidak betah.
Hingga ia memilih menjadi artis dan bertemu dengan Abigail seorang vampire yang juga bekerja di dunia entertainment sebagai artis figuran. Tertarik dengan kehidupan Abigail membuatnya banyak berubah dari seorang gadis manja menjadi mandiri. Hanya saja Abigail sangat anti terhadap wanita.
Lalu bagaimanakah cara Kimora menaklukan hati Abigail? Akankah keluarga besar mereka memberikan restu dan berakhir bahagia? Atau penuh dengan rintangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 9. ABIGAIL TERLUKA
Dengan cepat Audrey bergegas mengemudikan mobilnya ke Rumah Sakit. Tempat di mana Kimora di rawat. Melihat sikap Abigail yang dingin membuat suhu ruangan di dalam mobil ikut dingin.
"Kalau bukan karena Kimora, aku juga tidak akan mungkin mencari dan meminta pertolongan darimu!" ucap Audrey di dalam hati.
"Tunggu dulu, kenapa udara di sini sangat dingin?"
Namun, Audrey lebih memilih untuk konsentrasi dengan perjalanan panjang yang akan mereka lewati. Kemampuan Audrey cukup lihai dalam mengendari mobil, sehingga mereka tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di Rumah Sakit.
"Ruang rawat Kimora ada di lantai 5, ruang Bougenville."
Tanpa ragu Abigail bergegas untuk masuk ke dalam ruang rawat, ketika menyadari bahwa Kimora dengan manjanya sedang menikmati aneka snack, ia amat marah.
Ternyata apa yang ditakutkan Abigail kini menjadi kenyataan. Di dalam hatinya ada sebuah sesal karena telah mempercayai ucapan Audrey kakak kandung Kimora.
Wanita itu justru membohongi dirinya dan mengunakan akses agar bisa masuk ke dalam ruang perawatan Kimora hanya demi memenuhi rasa rindu kepadanya.
"Sayang, kamu datang untuk menjengukku?" sapa Kimora senang.
Bukannya membalas dengan perkataan lembut, Abigail justru mengucapkan kata-kata pedasnya.
"Jadi ini yang dinamakan sakit parah? Dengan seenaknya makan aneka snack dan membuang waktuku hanya untuk mengunjungimu?
Abigail tampak kecewa dan bergegas pergi meninggalkan tempat rawat Kimora. Tanpa menunggu Kimora untuk memberikan sebuah alasan. Sementara itu Kimora hanya membatu ketika mendengar ucapan kasar yang diberikan Abigail barusan.
Begitu pula dengan Audrey yang tidak suka dengan sikap Kimora yang menghancurkan rencananya sendiri.
"Menyesal kakak telah membantumu!" ucapnya lalu pergi.
Ekspresi yang ditunjukkan Audrey tampak sama, kecewa dan kesal pada Kimora. Audrey meninggalkan tempat rawat adiknya dan lebih memilih kembali bekerja daripada menanggapi kegilaan Kimora pada Abigail.
Kini Kimora hanya bisa melihat punggung Abigail yang semakin jauh dari kamarnya. Ingin hati ia mengejarnya tetapi kakinya masih sakit.
"Non, ini minuman dan snacknya."
"Ambil saja, memangnya mau diapain lagi, kamu bisa melihat sendiri jika pacarku sudah melenggang pergi!"
Seok tampak kecewa lalu hendak pergi. Namun, perkataan Kimora membuat Seok menghentikan langkahnya.
"Tunggu dulu Seok, bisakah kita bicara?"
Seok yang merasa terpanggil segera mendekati Kimora.
"Ada apa, Nona?"
"Apakah kau mempunyai sebuah cara agar kau bisa menarik perhatian lawan jenis?"
"Perhatian seperti apa? Sementara saya tidak mempunyai pacar!"
"Sudahlah, sepertinya aku berbicara dengan salah orang."
"Lagi pula semua sudah terjadi, aku pun tidak mau terlalu capek untuk mengurusi seperti ini."
"Kalau begitu selamat beristirahat, Nona. Saya permisi."
Daripasa bosan, Abigail mengunjungi sebuah lokasi syuting. Ia memilih untuk kembali melakukan pekerjaannya.
"Kebetulan kau datang tepat waktu, aku ada penawaran yang cocok denganmu. Lihatlah!"
Sutradara memberinya sebuah naskah sebagai pemeran utama. Menurutnya ia sangat cocok memerankan karakter tersebut. Maka tidak perlu menunggu lama, Abigail menyanggupi hal tersebut.
"Bagaimana, apa kau setuju?"
"Deal, aku setuju akan hal ini."
"Baiklah semua kru bersiap, kita jadi menggunakan Abigail sebagai pemain utama."
"Yeay!" seru anggota kru yang lainnya.
Hari itu juga Abigail langsung berperan sebagai pemeran utama di dalam film tersebut. Genre yang diambil oleh sutradara kali ini adalah tentang cerita mafia dan action.
Kebetulan semua kriteria sangat cocok dengan Abigail. Wajahnya sangat cocok dengan karakter pemeran utama di dalam film saat ini.
"Selamat ya Bro kamu terpilih sebagai MC utama. Jangan lupa jaga kesehatan!"
"Sip," jawab Abigail singkat.
Sebelum memulai syuting wajah Abigail dipoles terlebih dahulu dengan make up tipis lalu menyempurnakan penampilannya dengan beberapa kostum yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Hingga kini tibalah Abigail berperan untuk melakukan sebuah adegan pembunuhan.
"Semuanya, rolling ... kamera ... action!"
Sorot kamera mulai menyimpan adegan demi adegan syuting yang dilakukan oleh Abigail. Mereka mengadakan syuting kali ini di atap gedung tertinggi di kota Seoul.
Dalam scane kali ini, Abigail akan disetting seolah-olah dia terpeleset dari gedung tersebut. Lalu salah seorang mafia itu menembak tempat ke arah kepala Abigail.
Awalnya semua berjalan dengan baik, lalu tiba-tiba saja terdengar sebuah teriakan yang dilakukan oleh semua kru film.
Kurangnya konsentrasi yang dimiliki oleh Abigaill saat itu membuat ia tidak bisa menyelesaikan adegan tersebut dengan baik. Bahkan kakinya tergelincir sesaat sebelum alat pengaman menempel di tubuhnya. Hingga Abigail terjatuh dari atap gedung dan terluka di bagian lengan.
"Abiiii-gaaaiiilll!" teriak beberapa kru
Ada banyak kru yang berteriak karena Abigail terjatuh. Badan Abigail tidak kenapa-napa, hanya saja luka di salah satu lengannya membuat ia kehilangan banyak darah.
Karena lukanya tidak dapat diobati di klinik yang tersedia di perusahaan, maka dengan segala cara para kru mencoba membawa Abigail pergi ke Rumah Sakit. Kebetulan tempat kerja Abigail bekerja sama dengan tempat Audrey bekerja.
Kimora sedang melihat berita jika ada salah satu kru film Young terluka, seketika ia teringat akan keberadaan Abigail. Ketika mendengar beberapa petugas medis yang sibuk karena kedatangan aktor film Young menjadi histeris, Kimora hanya bisa menundukkan wajahnya karena malu.
"Harusnya kau yang aku pinta untuk menemaniku setiap waktu, tetapi hanya karena kemarahan kecil, kau bahkan tidak mau menyapaku."
Sementara itu di ruang operasi, dokter Audrey melakukan pemeriksaan pada lengan Abigail lalu kemudian menjahitnya. Abigail merasa tidak suka karena dokter yang merawatnya adalah Audrey.
Tetapi Abigail mengesampingkan perasaannya dan lebih memilih untuk membiarkan Audrey menjalankan tugasnya.
"Jangan banyak bergerak! Lukamu cukup dalam."
"Hm."
Audrey merasa beruntung karena bisa merawat Abigail. Dengan begitu ia bisa dengan mudah menyelidiki sosok lelaki yang sedang dekat dengan adiknya tersebut.
"Karena aku merasa curiga kepadamu, maka jangan salahkan jika aku memeriksa semuanya."
Baru saja Audrey menaruh berkas milik Abigail salah seorang perawat masuk ke dalam ruangan dokter Audrey.
"Maaf, dok. Ada sesuatu yang salah dengan darah dari pasien yang bernama Abigail Xavier Davinci."
"Maksudnya?"
Perawat itu segera menyerahkan data yang dimaksud lalu menatapnya dalam-dalam.
Kenyataan bahwa darah yang dimiliki oleh Abigail berbeda membuat Audrey tercengang.
"Tetapi keadaan pasien akan memburuk jika tidak segera mendapatkan donor darah yang tepat!"
"Kamu sudah mencocokkan darah yang dimiliki dengan pasien, tetapi tidak ada jenis golongan darah yang cocok!"
"Berikan sampel darah milik pasien, segera!"
Tanpa menunggu banyak waktu, perawat itu memberikan sample darah Abigail lalu dokter Audrey segera memeriksanya.
Beberapa waktu kemudian.
"Golongan darah apa ini? Kenapa tidak ada darah yang cocok dengannya golongan darah yang dimiliki Abigail?"
Merasa pengetahuannya tidak memadai, dokter Audrey segera mencocokkan dengan beberapa artikel dengan komponen darah yang dimiliki oleh Abigail.
"Tunggu sebentar, golongan darah Abigail sangat unik dan cocok dengan ciri-ciri golongan darah yang dimiliki oleh orang yang berusia ratusan tahun yang lalu di sebuah daratan Eropa?"
"Bukankah ini aneh? Padahal mereka yang mempunyai golongan darah unik ini semuanya sudah meninggal ratusan tahun yang lalu? Ada apa ini?"