Mencintai adalah hal yang harus dilakukan oleh semua insan di muka bumi ini. Namun tak semua orang boleh dicintai, tapi boleh disayangi. Salah satu contoh kisah seorang pemuda dan pemudi yang dipisahkan jauh oleh takdir karena sebuah kecelakaan yang tidak diinginkan. Namun ketika mereka sudah dewasa, takdir mempertemukan mereka kembali. Pertemuan ini adalah pertemuan yang tidak diinginkan oleh orang mana pun. Namun bukan Aqila namanya jika ia tidak hidup bersama kakaknya yang sudah ia rindu selama hidupnya. Ia pun memilih untuk menyusul sang kakak demi kebahagiaan hidupnya yang sudah pudar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Nurhalizah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nineth
Aqila menghela nafas gusar.
Aqila sudah lelah dengan ekting kakak tirinya yang selalu mengadu domba kepada ibunya. Dia sudah sakit untuk kesekian kali akibat kekerasan kakaknya. Setiap ayah dan ibunya tidak di rumah, Dimas pasti dengan leluasa memukul, menampar, ataupun menjambak Aqila. Dan Aqila tidak berani mengadu karena ancaman kakaknya itu.
Aqila menangis sejadi jadinya didepan televisi yang menyala. Sambungan ponselnya sudah dimatikan oleh ibunya. Aqila tak mengerti harus bagaimana. Di satu sisi dia sudah tidak sanggup untuk menerima kekerasan itu, di sisi lain Alfid lah jaminannya.
Dia takut dan memeluk bantal sofa dengan erat.
"Ayah, kakak, bantu aku, hiks." Aqila terus menangis sampai dia pun tertidur pulas di sofa ruang tengah.
***
"Lili!" teriak Pharsa tiba tiba terbangun dari tidurnya.
"Astagfirullah, kenapa pah?" tanya Swita ikut terbangun.
"Aggghh aku mimpikan Lili terus sayang. Apa dia dalam bahaya ya?" ucap Phasa khawatir.
"Apa perlu kita cari dia pah? Aku yakin dia masih hidup," ucap Swita menenangkan Phasa membuat Phasa sedikit rilex.
"Kita carinya bagaimana?" tanya Phasa.
"Kita cari dari orang yang kamu merasa dia anak mu. Karena bagaimana pun, naluri seorang ayah juga pasti mengalir," jawab Swita.
"Baik lah. Berarti kita harus introgasi dia," ucap Phasa.
***
"Oke anak-anak. Di pagi yang cerah agak panas ini, ibu akan mengumumkan novel terbaik yang akan di terbitkan" ucap sang bu kepala sekolah dari pengeras suara.
"Yang ke 3 adalah novel karya anak 10 ipa 1!"seru bu ks.
Semua anak dari kelas 10 ipa 1 teriak gembira.
"Ya jatuh atas nama Nayla, Zahra, Gisell dan Aqila!"
"Yeayyyyyyyy!" teriak para wanita yang merasa namaya terpanggil.
"Akhirnya usaha kita ngak sia sia!" seru Aqila pada teman-temannya.
"Iya alhamdulillah," ucap Nayla. Semua pun berpelukan.
"Oke. Juara ke 2 di menangkan oleh... 12 ipa 3!" seru bu kepala sekolah kembali.
"Yeayyyyyy!" teriak para kakel.
"Atas nama Puput, Vivit, Fafat, dan Totot!" teriak bu kepala sekolah.
Teriakan para peserta yang di sebutkan pun terdengar jelas.
"Baik lah. Ini dia novel terbaik dari seluruh siswa kreatif... Jejejejejejejeng (sound efek manual) 11 ips 1!" seru bu kepala sekolah.
Murid murid dari kelas 11 ips 1 pun bersorak ria.
"Atas nama....." bu kepala sekolah sengaja melama-lamakan agar semua makin penasaran.
"Jejejejejeng..... TUNGGU SESAAT LAGI!"
"Ahhh ibu jangan bercanda dong!"
"Bu ih jangan gitu!"
"Bu bener bu! Panas bu!"
"Bubar-bubar!"
"Luak wait kopi!"
"Tenang semua tenang! Atas nama... Kevin, Alfid, Vaisal, Angga, dan Noval. Kok lebih satu ya? Yauda deh. SELAMAT!"
"YEAYAYYYYYYYYY!"
Teriakan lelaki juga fans nya pun meriahkan satu sekolah.
"Gila para cogan pintar banget bikin bukunya!"
"Pengen baca!"
"Pasti ada gue nya kan gue mantan Alfid."
"Sumpah cerita apa ya para cogan,"
"Terbit langsung ambil!"
Begitulah kurang lebih komentar dari para netijen.
"Yeay kak Alfid juara 1!" seru Nayla langsung memeluk Alfid dan di balas dengan sangat erat.
"Ih! Pengap!" teriak Nayla. Alfid pun melepaskan pelukannya.
"Aku juga mau dong," ucap Kelvin.
Vaisal pun menghampiri nya.
"Diem ya gue enggak mau homo!" Kevin menjauhinya.
"Sini aku yang peluk." Ucap seorang perempuan.
"Pergi lo jablay, ih!" Kevin langsung pergi kabur dari kejaran para fans nya itu.
"Eh kita di kantin yuk, di sini rame, enggak enak ngobrol nya!" teriak Nayla.
Semua pun mengangguk dan pergi menuju kantin.
Sesampainya di kantin, mereka memesan makanannya sendiri-sendiri. Setelah memesan, baru lah bergabung kembali ke satu meja.
"Eh Fid. Entar lo bakal nyalonin osis enggak?" tanya Vaisal.
"Harus lah! Masa yang punya sekolah enggak jadi ketos!" sambung Nayla.
"Enggak nanya ke lo nenek lampir!" ledek Vaisal.
"Eh kurang ajar lo! Enggak restuin puas lo! " Alfid menjitak pala Vaisal.
"Ya maap kak ipar," ucap Vaisal.
"Eh, kita di sini mau apa dah. Tadi lo yang ngajak ke sini Nay?" tanya Aqila.
"Ohiya. Bokap gue ngajak dinner hari ini. Lo pada bisa kan ke rumah gue?" tanya Nayla menebarkan senyum.
"Bisa banget," jawab Noval.
"Udah jawaban di wakili Noval," jawab Angga.
"Iya gue juga setuju. Entar gue berangkat bareng Gisell," jawab Zahra.
"Jangan lupa Qila," sambung Gisell.
"Hm, aku enggak ikut ya," jawab Aqila.
"Loh kok enggak ikut?" tanya Kevin yang baru saja tiba.
"Gue harus balik ke rumah. Kasian abang gue udah nunggu," jawab Aqila.
"Kok lo mau balik lagi ke rumah itu sih?" bentak Kevin.
"Gimana pun juga dia abang aku Vin. Durhaka bagi gue ngelawan dia. Apalagi ibu gue khawatir. Enggak enak juga ngerepotin ka Alfid," jelas Aqila.
"Tapi Qill, abang lo kan--"
"Walau begitu, gue tanggung jawab dia," potong Aqila.
"Yaudah engga papa Qill. Kita juga bakal sering main ke rumah lo deh biar lo enggak kesepian," ucap Zahra menenangkan Aqila.
"Makasih Zah,"
Zahra pun mengangguk dan memberikan senyuman. Tak lama mereka berpelukan.
***
"Assalamualaikum," Aqila melontarkan salam pada rumah nya.
"Baru pulang? Udah di bayar berapa?" sentak Dimas.
"Aku enggak di apa-apain bang," jawab Aqila menunduk.
"Enggak di apa-apain? Terus ngapain lo mau diajak cowok enggak dikenal hah!" bentak Dimas kembali.
"Dia kakak teman aku, jadi aku--"
"Dengan gitu lo langsung percaya? Harusnya lo tawarin! Tuker pake duit! Kan berguna juga!" sentak Dimas lagi.
Ya allah selamatkan hamba batin Aqila.
Plak
Satu tamparan pun mendarat di pipi Aqila membuat air matanya berdemo ingin keluar.
"Sakit? Sakit!" teriak Dimas.
"Maaf bang aku enggak--"
"Berani ngomong kamu!"
Brughh
"AAAAAA!" teriak Aqila.
btw mampir yuk ke novelku yang berjudul Athariz, kalau suka vote ya, btuh kritik dan saran juga,makasih hehe:)