Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.
Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.
Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Hadiah Sistem Pertama & Berita Pagi
Matahari bergerak naik perlahan di atas garis cakrawala lautan West Blue. Cahayanya yang keemasan memantul pada riak ombak yang berkejar-kejaran. Udara pagi terasa sangat segar, membawa aroma garam laut yang pekat dan hawa dingin yang menyisakan embun di atas pagar kayu kapal.
Kapal tanpa nama itu terus melaju membelah lautan. Suara derit kayu dari lambung kapal yang bergesekan dengan air menjadi satu-satunya nyanyian yang menemani pelayaran mereka. Layar putih yang telah dibersihkan dari lambang tengkorak usang tampak menggembung sempurna, menangkap angin pagi yang berhembus stabil dari arah timur.
Di atas geladak, suasana terasa sangat tenang. Ketenangan yang lebih menyerupai ketegangan.
Para kru kapal bergerak dengan sangat berhati-hati. Mereka melangkah dengan ujung jari kaki, memastikan sepatu bot mereka tidak menimbulkan suara berisik saat bersentuhan dengan lantai kayu. Mantan kapten bajak laut yang bertubuh gemuk sedang sibuk menggulung tali tambang di dekat tiang utama. Dia mengarahkan anak buahnya hanya menggunakan isyarat tangan dan tatapan mata.
Tidak ada yang berani berbicara dengan suara keras. Mereka semua tahu bahwa penguasa baru mereka sedang duduk di ujung haluan, memejamkan mata dalam keheningan mutlak. Mereka takut suara sekecil apa pun akan mengganggu meditasi sang monster.
Nico Robin berdiri di dekat pintu dapur. Dia memegang sebuah nampan kayu kosong di tangannya. Pandangannya tidak lepas dari punggung pemuda berarmor merah yang duduk membelakanginya di ujung kapal.
Perasaan hangat dari kejadian tadi pagi masih membekas di dadanya. Pemuda itu memakan ikan gosong buatannya tanpa protes. Sebuah tindakan kecil yang mungkin tidak berarti apa-apa bagi orang lain, namun bagi Robin, itu adalah bentuk penerimaan yang sangat berharga.
Tiba-tiba, suara kepakan sayap memecah keheningan langit pagi.
Robin menengadah. Para kru kapal juga ikut mendongak, mencari sumber suara tersebut.
Dari balik gumpalan awan putih, seekor burung camar berukuran besar melayang turun. Burung itu mengenakan topi pelaut berukuran kecil di atas kepalanya. Sebuah tas selempang kulit berwarna merah tergantung rapi di dadanya.
Itu adalah News Coo. Burung pengantar koran yang menjadi urat nadi informasi di seluruh penjuru lautan.
Burung camar itu berputar satu kali di atas tiang layar utama sebelum akhirnya meluncur turun. Ia mendarat dengan mulus di atas pagar kayu geladak, tepat di sebelah tempat Robin berdiri. Burung itu memiringkan kepalanya, menatap Robin dengan mata hitamnya yang bulat, lalu mengeluarkan suara pekikan pelan.
Robin mengerti apa yang diinginkan burung tersebut. Dia merogoh saku celana kainnya. Dia menemukan beberapa keping koin tembaga sisa dari perjalanannya kemarin.
Robin menyodorkan koin-koin itu ke paruh sang News Coo. Burung camar itu dengan cekatan mengambil koin tersebut, memasukkannya ke dalam sebuah kantong kecil di tas selempangnya. Sebagai gantinya, burung itu menarik sebuah gulungan kertas koran yang masih tercium bau tinta segar, lalu menjatuhkannya ke tangan Robin.
Setelah transaksinya selesai, News Coo itu kembali mengepakkan sayapnya. Burung itu terbang membubung tinggi ke angkasa, bersiap mengantarkan berita ke kapal-kapal lain di lautan West Blue.
Robin memegang gulungan koran itu dengan kedua tangannya.
Dia selalu membaca berita. Sebagai seorang pelarian, informasi adalah senjata utamanya untuk bertahan hidup. Dia harus selalu tahu pergerakan Angkatan Laut, perubahan harga buronan, dan kejadian-kejadian besar yang bisa mempengaruhi rute pelariannya.
Robin membuka gulungan kertas itu secara perlahan. Kertas koran yang sedikit kasar bergesekan di telapak tangannya. Bau tinta cetak yang khas langsung menyengat hidungnya.
Dia meratakan halaman depan koran tersebut.
Detik berikutnya, seluruh tubuh Robin membeku.
Napas gadis itu terhenti di tenggorokan. Jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu ketukan penuh. Mata birunya terbelalak lebar, menatap lurus ke arah gambar besar yang mendominasi seluruh halaman depan surat kabar tersebut.
Gambar itu dicetak dalam warna hitam putih, namun kejelasannya sangat mengerikan.
Itu adalah gambar sebuah gang sempit yang hancur lebur. Dinding batunya terlihat meleleh dan menghitam. Asap tebal masih mengepul dari genangan lumpur yang mengering. Dan di tengah-tengah kehancuran itu, terkapar tubuh-tubuh pria berjas hitam yang sudah tidak berbentuk.
Di bagian tengah foto, berdiri membelakangi kamera, adalah sosok yang sangat dia kenal.
Seorang pemuda dengan rambut hitam panjang yang bagian ujungnya tajam menjuntai bebas. Pemuda itu mengenakan pelindung dada kuno yang terlihat sangat kokoh. Postur tubuhnya tegak, memancarkan dominasi yang begitu kuat hingga terasa menembus kertas koran tersebut. Di sudut kanan bawah foto, terlihat sebagian kecil dari mantel Robin sendiri.
Kamera telah menangkap momen tepat sebelum mereka meninggalkan gang di Pulau Oohara.
Tangan Robin mulai bergetar hebat. Kertas koran di tangannya ikut bergetar, menghasilkan suara gemerisik pelan.
Dia menggeser pandangannya ke arah huruf-huruf besar yang dicetak tebal tepat di atas gambar tersebut. Judul berita utama hari itu.
Robin membuka mulutnya. Dia mencoba membaca judul itu di dalam hati, namun rasa terkejut yang luar biasa membuat suaranya lolos begitu saja dari bibirnya yang pucat.
“Pembantaian Cipher Pol di Oohara...” suara Robin bergetar, memecah keheningan geladak kapal.
Mantan kapten bajak laut yang berada tidak jauh dari sana menghentikan pekerjaannya. Dia menoleh ke arah Robin dengan kening berkerut. Para kru lainnya juga ikut menghentikan aktivitas mereka, tertarik oleh suara gadis itu.
Robin tidak memedulikan tatapan para kru. Matanya terpaku pada baris kalimat selanjutnya. Suaranya semakin bergetar saat dia melanjutkan bacaannya.
“Kemunculan Iblis Api Baru!”
Begitu kalimat itu terucap, suasana di atas geladak langsung berubah.
Mantan kapten gemuk itu menjatuhkan gulungan tali tambang di tangannya. Tali itu jatuh ke lantai kayu dengan suara berdebum pelan. Pria bermata satu di dekat tiang layar menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Mereka semua tahu apa itu Cipher Pol. Organisasi pembunuh rahasia milik Pemerintah Dunia. Organisasi yang namanya saja sudah cukup untuk membuat bajak laut paling kejam di West Blue bermimpi buruk.
Dan berita pagi ini mengatakan bahwa organisasi mengerikan itu baru saja dibantai. Dibantai oleh seorang Iblis Api.
Mantan kapten itu melangkah tertatih-tatih mendekati Robin. Dia merebut sedikit ujung koran itu agar bisa melihat halamannya. Matanya membulat sempurna saat melihat foto pemuda berarmor yang tercetak di sana.
Itu adalah armor yang sama persis dengan yang dikenakan oleh kapten baru mereka saat ini.
“T-Tuan Madara...” bisik kapten gemuk itu dengan wajah pucat pasi. “Beliau... beliau menghancurkan agen Pemerintah Dunia?”
Berita itu menghantam akal sehat para kru bajak laut. Mereka mengira pemuda itu hanyalah petarung kuat yang mungkin memakan Buah Iblis. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa pemuda yang kini duduk tenang di haluan kapal mereka adalah seorang buronan kelas dunia yang baru saja menampar wajah Pemerintah Dunia secara langsung.
Kengerian yang amat sangat mulai merayap di kulit mereka. Jika Angkatan Laut mengetahui mereka berada di kapal yang sama dengan Iblis Api ini, mereka semua akan diseret ke penjara bawah laut Impel Down tanpa pengadilan.
Namun, bersamaan dengan kengerian itu, tumbuh sebuah perasaan lain yang jauh lebih kuat di dalam jiwa mereka.
Kekaguman yang buta.
Mereka sedang melayani seseorang yang tidak takut pada penguasa dunia. Mereka berada di bawah perlindungan monster yang bisa membakar agen elit hingga menjadi abu. Selama mereka berguna bagi pemuda ini, tidak ada satu pun kapal Angkatan Laut di West Blue yang berani menyentuh mereka.
Ketakutan mereka terhadap Angkatan Laut tergantikan oleh rasa aman yang terdistorsi. Rasa aman yang melahirkan kesetiaan mutlak dan fanatik.
Di ujung haluan kapal, Madara duduk dengan mata terpejam.
Dia mendengar suara kepakan sayap burung camar. Dia mendengar suara kertas koran yang dibuka. Dan dia mendengar suara Robin yang bergetar saat membacakan judul berita yang konyol tersebut.
'Iblis Api Baru?' batin Madara.
Sebuah julukan yang sangat kekanak-kanakan. Orang-orang di dunia ini benar-benar kekurangan kosakata untuk mendeskripsikan kekuatan yang berada di luar nalar mereka. Mereka menyamakan keagungan klan Uchiha dengan iblis dongeng yang menyedihkan.
Madara bersiap untuk membuka matanya dan menyuruh krunya untuk diam.
Namun, sebelum kelopak matanya sempat terbuka, suara mekanis yang dingin dan kuno tiba-tiba meledak di dalam kepalanya. Suara itu jauh lebih keras dan lebih mendesak daripada sebelumnya.
[Peringatan: Ketakutan berskala regional terdeteksi. Kekaguman jiwa dari kru mencapai tingkat fanatik.]
Layar biru semi-transparan muncul di balik kelopak matanya yang tertutup. Teks berwarna putih terang mengalir dengan sangat cepat, membawa informasi yang membuat seluruh sel di dalam tubuh Madara bereaksi.
[Poin Reputasi mencapai ambang batas Tahap Pertama. Poin Reputasi +5.000.]
Lima ribu poin.
Angka itu bukanlah angka yang kecil. Foto dirinya yang tersebar di surat kabar pagi ini telah dibaca oleh jutaan pasang mata di seluruh lautan West Blue. Para penduduk pulau yang ketakutan, para bajak laut yang merasa terancam, dan para agen pemerintah yang merasa terhina.
Semua emosi negatif dan ketakutan massal itu diserap oleh Sistem dalam satu waktu yang bersamaan. Ditambah lagi dengan kekaguman buta dari kru di belakangnya dan kesetiaan mutlak dari Robin. Semua itu menciptakan sebuah gelombang energi yang sangat masif.
Suara di dalam kepalanya berlanjut, membawa berita yang paling dia tunggu-tunggu.
[Membuka segel Kapasitas Chakra: Level Jonin Elit terbuka.]
Detik itu juga, dunia di dalam tubuh Madara berubah total.
Sensasi panas yang luar biasa menyengat bagian tengah dadanya. Panas itu bukan berasal dari elemen api, melainkan dari kepadatan energi murni yang sedang dilepaskan dari belenggunya.
Segel tak kasatmata yang selama ini menekan jaringan tenketsu di tubuh remajanya hancur berkeping-keping.
Madara menarik napas panjang. Udara laut yang masuk ke paru-parunya terasa membakar, namun sangat melegakan.
Aliran chakra yang sebelumnya hanya sebesar parit kecil, tiba-tiba membesar dengan sangat drastis. Dinding-dinding saluran energi di dalam tubuhnya melebar paksa untuk menampung volume yang melonjak ribuan kali lipat. Chakra mengalir deras seperti sungai raksasa yang bendungannya baru saja dijebol.
Sungai energi itu mengalir ke seluruh sudut tubuhnya. Memasuki setiap otot, setiap jaringan saraf, dan setiap tulang di dalam tubuh remajanya.
Sensasi kelelahan fisik akibat mabuk laut menghilang tanpa sisa. Rasa kaku di persendian tangannya lenyap seketika. Tubuhnya kini dipenuhi oleh kekuatan yang meluap-luap. Kekuatan dari seorang ninja kelas atas. Kekuatan seorang Jonin Elit.
Ini memang belum mencapai tahap kekuatan dewanya saat Perang Dunia Ninja Keempat. Ini belum cukup untuk membelah gunung hanya dengan satu ayunan pedang Susanoo.
Namun bagi Madara, ini adalah langkah pertama yang sangat nyata untuk kembali ke singgasana aslinya. Dengan kapasitas chakra Jonin Elit, dia tidak perlu lagi membatasi penggunaan ninjutsu tingkat tinggi. Dia bisa merapal jutsu api skala besar secara beruntun tanpa harus khawatir kehabisan napas. Dia bisa menggunakan kemampuan dasar Sharingan-nya tanpa batasan waktu yang menyiksa.
Madara mengepalkan kedua tangannya yang berada di atas lutut. Otot-otot lengannya mengencang sempurna. Dia bisa merasakan chakra biru berputar di bawah permukaan kulitnya, siap untuk diledakkan kapan saja.
Tetapi Sistem belum selesai memberikan kejutannya.
Layar biru di dalam pikirannya kembali berkedip, memunculkan satu baris kalimat terakhir yang tidak dia duga sama sekali.
[Sistem menganugerahkan adaptasi energi dunia: Kenbunshoku Haki (Haki Pengamatan) Tingkat Dasar.]
Madara mengerutkan keningnya, masih dengan mata terpejam.
Apa itu Kenbunshoku Haki?
Sebelum dia sempat bertanya lebih jauh di dalam hatinya, sebuah tekanan aneh menekan bagian belakang kepalanya. Bukan rasa sakit, melainkan sebuah sensasi seolah-olah pikirannya ditarik paksa keluar dari tengkoraknya dan disebarkan ke udara di sekitarnya.
Sebuah indra baru terbuka secara instan.
Dunia di sekitar Madara tiba-tiba menjadi sangat berisik.
Dia tidak mengaktifkan Sharingan. Dia tidak mengalirkan chakra ke telinganya. Tetapi dia bisa merasakan segalanya dengan kejelasan yang menakutkan.
Gelap di balik kelopak matanya digantikan oleh sebuah radar tiga dimensi yang tidak memiliki warna. Bentuk-bentuk energi muncul di dalam benaknya.
Dia bisa merasakan riak air di bawah lambung kapalnya. Bukan hanya riak ombak, dia bisa merasakan keberadaan mahluk hidup di bawah sana. Dia bisa mendengar detak jantung sekumpulan ikan kecil yang berenang menjauhi bayangan kapal. Dia bisa merasakan hembusan napas seekor hiu yang sedang berburu beberapa ratus meter di dasar laut.
Fokus indra barunya meluas ke atas geladak kapal.
Dia bisa merasakan posisi setiap krunya tanpa perlu menoleh. Dia tahu kapten gemuk itu sedang berdiri mematung di dekat tiang layar dengan napas yang tertahan. Dia tahu pria bermata satu sedang bersandar di pagar kapal dengan keringat dingin yang mengucur.
Dan yang paling aneh adalah, dia tidak hanya mengetahui posisi mereka. Dia bisa merasakan emosi mereka.
Sebuah gelombang warna emosional menabrak pikirannya. Dia merasakan ketakutan yang luar biasa pekat dari para kru bajak laut. Ketakutan yang bergetar seiring dengan detak jantung mereka. Dia merasakan kepanikan yang bercampur dengan rasa takjub yang buta.
Dia juga bisa merasakan emosi dari gadis yang berdiri di dekat pintu dapur. Nico Robin. Emosi gadis itu terasa berbeda. Ada kepanikan sesaat saat membaca berita, namun dengan cepat digantikan oleh rasa aman yang mendalam dan kesetiaan yang sangat tulus.
Ini sangat berbeda dengan kemampuan sensorik shinobi yang selama ini dia kenal.
Kemampuan sensorik di dunia asalnya bekerja dengan cara melacak tanda chakra. Seorang ninja sensor harus memusatkan pikirannya dan mencari fluktuasi energi fisik dan spiritual di udara. Jika musuh bisa menyembunyikan chakranya dengan sempurna, maka ninja sensor tidak akan bisa menemukannya.
Tetapi indra baru ini, Kenbunshoku Haki ini, bekerja melampaui batasan fisik energi.
Indra ini tidak melacak energi yang dikeluarkan. Indra ini melacak keberadaan itu sendiri. Melacak niat. Melacak emosi. Melacak kehidupan dari setiap mahluk yang memiliki kehendak.
Seseorang bisa menyembunyikan kekuatannya, tetapi mereka tidak bisa menyembunyikan niat dan emosi mereka dari Haki ini. Selama mereka memiliki pikiran, Haki ini akan bisa membacanya seperti sebuah buku yang terbuka.
Madara menyerap seluruh informasi baru ini dengan cepat. Otak jeniusnya menganalisis dan mengkalibrasi indra barunya dalam hitungan detik.
Dia menyesuaikan fokusnya, meredam suara napas ikan di dasar laut agar tidak mengganggu konsentrasinya. Dia memblokir emosi kepanikan dari para kru yang terasa terlalu bising di kepalanya. Dia mengendalikan jangkauan radarnya agar hanya mencakup area di sekitar kapal dan beberapa mil laut di depan mereka.
Setelah semuanya terkendali, Madara perlahan membuka kedua matanya.
Iris hitamnya menatap laut lepas di depannya dengan ketajaman yang baru.
'Mirip dengan kemampuan sensorik shinobi,' batin Madara. Dia mengevaluasi hadiah dari Sistem tersebut. 'Tapi ini... berasal dari niat dan kehendak.'
Sebuah senyuman sinis perlahan mengembang di wajah remajanya.
Dunia ini ternyata tidak sebodoh yang dia kira. Ada kekuatan tersembunyi yang berakar dari tekad dan kekuatan mental. Sebuah sistem energi yang tidak mengandalkan segel tangan atau genetika, melainkan murni dari kedalaman jiwa penggunanya.
Haki.
Kata itu bergema di kepalanya. Dia ingat pernah mendengar sekilas tentang hal ini dari bisikan-bisikan orang di pelabuhan Oohara. Kekuatan misterius yang hanya dikuasai oleh segelintir orang di lautan Grand Line.
Dan sekarang, Sistem telah menanamkan dasar dari kekuatan itu langsung ke dalam sistem sarafnya, menggabungkannya dengan kapasitas chakra Jonin Elit yang baru saja bangkit.
Madara mengangkat tangan kanannya. Dia menatap telapak tangannya sendiri. Dia tidak perlu memusatkan pandangannya untuk mengetahui bahwa Robin sedang melangkah pelan mendekatinya dari arah belakang. Dia tahu persis berapa jarak gadis itu, dan dia tahu persis bahwa gadis itu merasa sedikit ragu.
“Berhenti di sana.”
Suara Madara terdengar tenang, namun menghentikan langkah Robin seketika.
Robin menelan ludah. Dia berdiri mematung sambil memegang koran pagi yang sudah kusut.
“A-Ada berita di koran ini,” ucap Robin dengan suara pelan. Dia mencoba mengontrol nada suaranya agar tidak terdengar terlalu panik. “Pemerintah Dunia telah mengetahui keberadaanmu. Mereka menyebarkan fotomu. Nilai buronanku juga disebutkan kembali di sini.”
Madara tidak menoleh. Dia masih menatap telapak tangannya.
“Lalu?” tanya Madara singkat.
“Kita tidak bisa merapat ke pelabuhan biasa lagi,” jelas Robin, insting bertahannya mengambil alih. “Setiap pangkalan Angkatan Laut di West Blue pasti sudah disiagakan. Kapal-kapal patroli akan mencari pria berarmor merah. Jika kita tertangkap...”
“Tertangkap?” Madara memotong ucapan Robin. Nada suaranya diwarnai oleh keheranan yang meremehkan.
Madara menurunkan tangannya. Dia perlahan berdiri dari posisi duduknya di ujung haluan. Armor merahnya bergesekan pelan, menciptakan suara logam yang mengintimidasi.
Pemuda itu memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah Robin dan para kru kapal yang sedang berdiri gemetar di tengah geladak.
Kapasitas chakra yang meluap-luap di dalam tubuh Madara secara tidak sadar memancar keluar, membuat udara pagi yang segar tiba-tiba terasa tebal dan menyesakkan.
“Kau pikir sebuah selembar kertas kotor bisa membuatku bersembunyi?” tanya Madara. Matanya menatap tajam ke arah koran di tangan Robin.
Robin menggelengkan kepalanya perlahan, menyadari kebodohannya. Tentu saja pemuda ini tidak akan bersembunyi. Seseorang yang membakar agen pemerintah di siang bolong tidak akan lari dari selembar koran.
Madara mengalihkan pandangannya ke arah mantan kapten yang sedang berlutut di lantai geladak.
“Berapa lama lagi menuju Reverse Mountain?” perintah Madara. Pertanyaannya lebih terdengar seperti tuntutan.
Kapten gemuk itu tersentak. Dia memaksakan lidahnya untuk menjawab.
“D-Dengan angin yang mendukung, k-kita akan tiba di pintu masuk Grand Line dalam waktu tiga hari, Tuan Agung!” jawabnya dengan suara bergetar.
“Arahkan kapal lurus ke sana. Jangan berbelok. Jangan berhenti di pulau mana pun,” titah Madara mutlak.
Mantan kapten itu mengangguk dengan cepat hingga dagunya hampir membentur lantai kayu.
Madara kembali menatap Robin.
“Kertas itu menyebutku sebagai Iblis Api, bukan?” Madara menyeringai, sebuah senyum arogan yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
“Biarkan mereka menyebutku dengan nama konyol apa pun yang mereka suka. Biarkan burung-burung itu menyebarkan gambarku ke seluruh dunia. Aku ingin semua anjing Pemerintah Dunia tahu ke arah mana aku berlayar.”
Madara melangkah maju, melewati Robin yang masih berdiri terpaku.
Saat bahunya sejajar dengan gadis itu, Madara berhenti sejenak. Dia menatap ke arah laut lepas di sebelah kanan kapal. Kenbunshoku Haki-nya yang baru saja terbuka merasakan sesuatu yang sangat jauh di depan mereka. Sebuah rintangan yang mungkin akan menjadi arena bermain barunya.
“Jika mereka mengirim pasukan patroli untuk mencegat kapal ini,” bisik Madara dengan nada dingin yang membuat darah Robin berdesir.
“Itu hanya akan menghemat waktuku untuk mencari mereka.”
Madara melanjutkan langkahnya menuju kabin di bagian belakang kapal. Pintu kayu berderit pelan saat dia masuk dan menutupnya dari dalam.
Di atas geladak, Robin menghembuskan napas yang sedari tadi dia tahan. Dia menunduk menatap koran di tangannya, melihat foto punggung pemuda itu sekali lagi.
Rasa panik yang sebelumnya menyelimuti hatinya kini menghilang tanpa sisa. Digantikan oleh sebuah keyakinan yang sangat kokoh.
Dunia mungkin sedang bersiap untuk memburu mereka dengan seluruh kekuatan militer yang ada. Namun Robin tahu, tidak peduli seberapa besar armada Angkatan Laut yang akan datang, mereka hanya mengantarkan diri mereka sendiri menuju kehancuran mutlak.
Kapal Bajak Laut Taring Berkarat kembali hening. Layarnya ditarik maksimal. Para kru bekerja dengan kecepatan ganda, didorong oleh ketakutan dan fanatisme yang luar biasa.
Mereka berlayar lurus menembus West Blue, meninggalkan pulau-pulau aman di belakang mereka, menuju satu-satunya pintu masuk ke lautan para monster. Membawa serta sang Hantu Uchiha yang kini telah membuka tahap pertama dari kekuatan aslinya, siap untuk memulai tarian sesungguhnya di dunia yang konyol ini.