Tepat di usia pernikahan yang ke lima, diceraikan oleh suami yang selama ini dicintainya hanya karena tidak bisa hamil. Namun dia tiba-tiba hamil setelah perceraian itu datang...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La-Rayya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan
Aku tidak bisa menahan diriku lebih lama lagi. Makanan itu sangat menggairahkan dan aku tidak mungkin bisa untuk mengabaikannya. Aku akan makan sekarang, jadi aku bisa mendapatkan kekuatanku untuk rencana besok.
Aku harap Mas Al tidak berencana untuk meracuni aku bukan?
Pikiran itu muncul pada diriku saat aku menelan satu sendok penuh sup jamur. Jika ini memang sudah di beri racun, maka aku akan mati dalam kedamaian dan aku tidak bisa lebih bersyukur atas kebaikan terakhirnya yang dia berikan kepadaku ini.
Aku akhirnya selesai memakan sup itu dengan keringat yang penuh di pelipis ku. Dan sejauh ini aku masih hidup, itu artinya racun itu mungkin tidak ada di sini. Aku menyamping kan mangkok kosong dan menarik piring lainnya yang berisi sayuran yang dicampur dengan sedikit nasi. Lalu aku menghabiskan makanan itu dan mengisi perut ku yang lapar dengan waktu yang sangat cepat.
Setelah aku selesai, aku belum makan semua makanan yang ada di dalam piring kecuali kue itu. Aku berencana untuk memakannya setelah aku selesai mandi dan berendam di bathtub.
Aku sangat kenyang lalu aku bersandar di sebuah kursi dan menghela napas panjang. Jika aku tidak bertemu dengan Mas Al hari ini, aku berpikir jika hidupku bisa menakjubkan seperti saat ini.
Setelah beberapa menit, aku menelpon pada meja resepsionis dan meminta staf untuk membawa keluar semua bekas piring makanan yang sudah kosong ini. Aku tidak menunggu begitu lama dan dengan cepat seorang pemuda masuk untuk mengambil semua piring kotor dan dia pun pergi dengan membawa troli yang penuh dengan piring kotor itu bersamanya.
Aku menghidupkan televisi dan bukannya menonton acara yang ada, aku malah tertidur dengan televisi yang berbalik menonton diriku. Aku terbangun karena mendengar suara ponsel yang terus berdering. Aku bangun dengan malas dan menjawab panggilan telepon itu. Itu adalah staf hotel yang bertanya padaku apakah aku ingin makan malam untuk dikirim sekarang.
Aku merasa terkejut karena ketiduran tadi membuat tubuhku terasa lemas. Aku menatap kearah jam dinding dan menyadari bahwa sekarang sudah pukul 06.00 sore hari.
Aku lantas menaruh telepon itu kembali di atas meja setelah menginformasikan kepada staf hotel tentang rencana ku yang tidak mau makan malam. Aku masih kenyang dengan banyaknya makan siang ku tadi dan aku masih punya beberapa minuman dan kue untuk aku konsumsi malam ini. Itu sudah cukup untuk membuat ku tidak kelaparan.
Mas Al tidak ada disini, membuatku berpikir kemana dirinya berada. Dia tidak sarapan dan dia pergi tanpa makan siang. Aku tetap membencinya, tapi aku tidak mau dia kelaparan sampai membuatnya mati.
Saat aku bangun dari tempat tidur, hangatnya selimut menutupi pundak ku. Dan saat aku melihat kearah televisi, televisi itu sudah mati. Aku menyadari sesuatu saat aku melihat kearah sisi tempat tidur itu. Ada tanda bahwa Mas Al pernah duduk disana.
Jam 07.00 malam sudah datang, tapi Mas Al belum juga kembali.
Aku menatap kearah pintu besi dengan perasaan yang terasa menyakiti hatiku. Ada perasaan kuat yang menginginkan aku untuk menangis setelah menunggu berjam-jam dan menyadari bahwa Mas Al tidak kembali lagi.
Aku duduk di ujung tempat tidur, merasa lelah dan bosan karena tidak melakukan apapun sepanjang hari. Keinginanku untuk melakukan sesuatu membuatku merasa tidak berguna dan itu tidak baik untuk ku jika aku terus gelisah.
Hidupku seperti sebuah perahu yang berlayar tanpa tujuan dan itu merupakan alasan yang cukup kuat untuk jatuh dengan keras ke arah depresi yang lebih dalam.
Melamun dalam kebisuan akan menanti dirinya, apakah dia akan kembali atau tidak. Aku hanya bisa menatap kearah pintu terus-menerus dengan sabar menunggu sedikit lebih lama, dengan harapan bahwa Mas Al akan merubah pikirannya dan menghabiskan malam ini bersamaku dibandingkan dengan Angela. Bakan jika itu berarti aku harus bertahan dari rasa sakit yang ada di dalam hatiku karena perlakuan suamiku itu.
Rambutku terasa memutih karena menunggu terlalu lama, tapi dia masih belum muncul juga. Kebisingan yang terus ada di telingaku membuat perasaanku semakin memburuk dibandingkan dengan yang aku pikirkan. Membayangkan tingkah Mal Al bersama Angela saat bercumbu, membuatku sakit hati dan aku bahkan tidak bisa menahannya lagi.
Aku langsung membenamkan wajahku di atas tempat tidur dengan air mata yang mengalir jatuh dari mataku ke pipiku dan membuat selimut berwarna putih itu mulai basah.
Mencintai Mas Al adalah satu-satunya dosa yang aku buat dan sekarang aku harus membayar harga atas tindakan kriminal yang aku lakukan itu.
Pundak ku bergetar dengan tidak terkontrol, menyadari bahwa bayangan keduanya yang tengah bercumbu membuatku merasa cemburu.
'Apalagi yang bisa mereka lakukan di dalam sebuah kamar mewah di cuaca yang dingin seperti ini?' pikirku.
Aku tidak bisa membayangkan bahwa mereka berdua hanya saling memandang satu sama lain.
Angela bukanlah gadis yang polos dan Mas Al sendiri bukankah pria yang sempurna. Faktanya suamiku adalah pria berdarah dingin yang membutuhkan sebuah mainan dan Angela adalah boneka yang sempurna untuk dimainkan.
Sebenarnya mereka berdua tengah dalam proses untuk saling memuaskan hasrat yang ada di dalam diri mereka dengan menjamah tubuh satu sama lain. Tuhan tahu jika mereka memilih untuk melakukan hal itu di kamar mandi atau di tangga rumah kali ini dan mereka bisa melakukan hal itu dimana pun mereka inginkan. Tergantung dengan keinginan mereka, sama seperti apa yang sudah mereka lakukan dengan bertingkah tidak senonoh di dalam mobil yang aku berikan kepada Mas Al sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kami yang pertama.
"Aaaarrrrggghhhh....!" Aku berteriak dengan keras seraya membuang bantal ke arah lantai saat aku tidak bisa membayangkan semua hal yang bisa saja terjadi antara Angela dan Mas Al lagi.
Ngomong-ngomong Mas Al akan menceraikan aku. Jadi dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan dengan wanita simpanan nya itu. Dia bisa menjadi pria yang bebas kali ini. Aku tidak berada pada posisi yang bisa merasa keberatan dengan sikapnya itu.
Bahkan jika dia ingin menjamah Angela di dalam kolam dan dia bahkan bisa memilih untuk melakukan hal itu di ujung menara eiffel, aku sangat tidak perduli dengan hal itu.
Aku lalu melangkah ke arah kamar mandi dan tidak menghiraukan perasaan cemburu yang ada di dalam hatiku. Aku merasa sudah cukup dengan masalah hidupku. Akan jauh lebih baik tanpa dirinya ada di dalam hidupku. Dia bukanlah mentari pagi yang selama ini aku pikirkan. Pada kenyataannya, di adalah kegelapan yang memburu mimpiku dengan semua mimpi buruk. Dia adalah monster yang aku nikahi setelah satu malam yang penuh kesalahan terjadi diantara kami. Aku harus membayar semuanya karena sudah memaksanya untuk berkomitmen pada kesalahan lainnya, yaitu menikahi aku.
Bersambung....