Brianna, gadis berumur 20 tahun. Yang selalu menghabiskan harinya hanya untuk bersenang-senang. Tidak mau melanjutkan ke perguruan tinggi dan hanya menjadi benalu di rumah. Anak tunggal yang pasti akan mewarisi semua harta kekayaan orang tuanya.
Henry, pria dewasa berumur 35 tahun yang belum menginginkan untuk menikah selepas kehilangan tunangannya 10 tahun silam. Olivia yang merupakan tunangannya dinyatakan hilang dan jejaknya tak dapat dicari hingga detik ini.
Abraham yang merupakan ayah dari Brianna menjodohkan putrinya dengan putra dari sahabat lamanya. Berharap setelah menikah Brianna akan berubah menjadi seseorang yang lebih menghargai hidup dan masa depannya.
Saat Brianna bertemu dengan sosok Henry, mereka berdua sama-sama terkejut. Karna mereka sebelumnya pernah bertemu dalam sebuah tragedi tak terduga.
Bagaimana kisah rumah tangga Anna si gadis nakal dan Henry si pria dewasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutrieRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 DI RESTORAN
Tak kuat berlama-lama satu ruangan dengan Celine, Dave mengusirnya cepat. Ia menaruh berkas yang diberikan Celine dan menyuruhnya cepat pergi. Perlu diakui, kinerja Celine memang bagus. Ia sangat teliti dan juga cepat tanggap. Itu yang menjadikan Celine tetap dipertahankan menjadi sekretaris Henry.
Waktu sudah memasuki jam makan siang. Tapi Henry masih terlelap. Dave takut untuk membangunkannya. Tapi daripada bosnya kelaparan, ia perlahan membangunkannya dengan cara menggoyangkan tubuhnya hati-hati.
"Tuan, bangun ...." lirihnya.
Tak berapa lama Henry mengerjab. Ia langsung bangun karna terkejut Dave memposisikan wajahnya terlalu dekat. Ia yang baru saja membuka mata refleks bangun.
"Ada apa?" tanyanya dengan lesu. Ia sejenak merenggangkan otot-ototnya yang terasa pegal.
"Waktunya makan siang, Tuan. Anda mau makan diluar atau saya pesankan makanan?"
Ia melirik jam dipergelangan tangannya. Sedikit ia merasakan lapar. Henry memutuskan untuk makan siang di luar. Tujuannya kini ke restoran favoritnya yang tak jauh dari kantor.
Dave sudah tau apa makanan favorit tuannya di sini. Ia pun yang memesankan. Disaat mereka sedang duduk, dari kejauhan Henry menangkap dua orang yang sedang duduk di meja paling pojok. Sosoknya tak asing, bahkan ia meyakini bahwa mereka adalah orang yang ia kenali.
"Dave, lihatlah itu. Apa itu benar paman James dan bibi Rose?" tunjuknya.
Dave mengangguk saat benar-benar ia memperhatikan keduanya lama.
Henry memutuskan untuk menghampiri keduanya. Sudah lama mereka tidak berjumpa, karna kabar terakhir yang ia dengar bahwa mereka menetap di luar negeri.
"Paman James dan Bibi Rose, apa kabar?" sapanya sesaat ia sampai di meja mereka. Keduanya terkejut melihat kedatangan Henry yang tiba-tiba. Mereka benar-benar terkejut dan hanya mampu memandangi Henry dengan pandangan yang sulit diartikan. Keduanya saling pandang.
"Henry, kau di sini?" James bertanya, ia tak percaya akan bertemu mantan tunangan putrinya.
"Iya, Paman. Henry sedang makan siang di sini. Paman dan Bibi sudah kembali tinggal di sini?"
"Oh, tidak. Paman dan Bibi hanya pulang sebentar. Nanti akan terbang lagi ke luar negeri," jawabnya.
Melihat orang tua dari Olivia, Henry kembali bersedih. Entah bagaimana takdir hidup Olivia, ia sudah pergi atau memang masih ada di dunia ini, ia tak tahu.
"Henry, Paman dengar kau sudah menikah. Selamat ya, Paman dan Bibi senang mendengarnya. Akhirnya kau bisa move on juga dari putri Paman."
Henry tercengang, darimana Paman James dan Bibi Rose tahu tentang pernikahannya.
"Paman dan Bibi tahu darimana?"
"Ya kami di sini masih banyak saudara dan teman, ya otomatis mereka tahu apalagi keluarga besar kamu terkenal di kota ini," jawab Rose.
Henry hanya mengangguk, ia tak begitu menanggapi. "Hm ya sudah. Selamat makan siang, Paman, Bibi," ucapnya dan berlalu pergi.
Di mejanya sendiri, Henry terdiam. "Tuan, Anda kenapa?" Dave melihat perubahan raut wajah bosnya ketika baru saja bertemu dengan mantan calon mertuanya.
Makanan yang mereka pesan pun datang. Henry tak menjawab pertanyaan asistennya. Ia memilih untuk makan saja. Dan disela-sela mereka makan. Dave menangkap sosok gadis yang ia kenali.
"Tuan, itu nona Anna," tunjuknya pada seorang gadis yang baru masuk ke dalam restoran bersama beberapa teman wanitanya.
Restoran ini rupanya banyak dikunjungi berbagai kalangan orang. Memang tempatnya nyaman dan juga makanannya lezat.
Salah seorang temannya pun menyadari akan keberadaan Henry, mereka berhenti sambil memperhatikannya.
"Tuan, Anda tidak memanggil nona untuk makan siang bersama di sini?"
"Tidak usah. Biarkan saja dia bersama teman-temannya." Henry mengacuhkan Anna, padahal sedari tadi gadis itu memandanginya lekat.
"Anna, itu suamimu. Dia juga sedang makan di sini. Dia melihatmu, kan?" Lysa menyenggol lengan sahabatnya. Ia pun terkagum dengan sosok Henry yang gagah.
"Iya, Anna. Itu suamimu, kan? Kenapa dia seolah-olah tidak menyadari kehadiranmu? Tadi sepertinya dia melihat kearah sini," timpal Marissa.
Anna memilih duduk di kursi yang kosong. Itu benar Henry, tapi suaminya itu malah acuh. Padahal meja mereka tidak terlalu jauh.
"Anna, kau tidak menghampiri suamimu saja?" Maura kini mengusulkan untuk mendatangi Henry, tapi Anna dengan tegas menggeleng.
"Ayo buruan pesan makanan. Jangan hiraukan dia!"
Sembari menunggu pesanan datang, Anna sedari tadi curi-curi pandang pada suaminya. Ia memandangi Henry yang lahap menyantap makanannya.
"Dia memanggilku saja tidak. Say hello, say hai, juga tidak. Jadi begini rasanya menikah tapi tak dianggap?"
Anna menggerutu dalam hati. Ia tak berharap dianggap sebagai istri, tapi setidaknya Henry menghargai kehadirannya di sini. Apalagi ada teman-temannya yang pasti akan mengoloknya.
"Anna, suamimu tampan sekali. Kau sangat beruntung." Lysa tak berhenti memuji ketampanan suaminya. Sedangkan Anna mengekpresikan akan muntah. Ia bergidik ngeri saat sahabatnya memuji suaminya.
"Kau ini apa tidak bisa melihat? Dia benar-benar tampan seperti romeo," Marissa ikut menimpali. Ia juga mengakui akan ketampanan Henry. Sosok pria dewasa yang tampan dan gagah.
"Kalian ini malah memuji suami orang!" seru Maura. Mereka malah tertawa, tak sadar bahwa suami orang mereka puji-puji. "Eh, bagaimana kalau habis makan siang kita ke Mall? Shopping yuk. Lalu malamnya kita ke club. Sudah lama nih, kita gak ke club bareng," ajak Maura bersemangat.
"Ah kalian waktu itu aku ajak ke club tidak mau! Banyak alasan!" Anna kesal karna waktu ia terpaksa ke club sendirian disaat hatinya sedang kosong. Dan itu menjadi awal mulanya bertemu dengan sosok Henry.
Samar-samar Henry menangkap percakapan empat gadis yang salah satunya adalah istrinya. Ia sedikit mendengar apa yang sedang mereka bahas.
Henry tiba-tiba berdiri, ia melangkahkan kakinya menuju meja istrinya.
"Ayo pulang!" Henry tiba-tiba menarik tangan Anna. Gadis itu terkejut dan langsung memberontak.
"Apa-apaan ini, aku sedang makan!" Anna kesulitan melepaskan cengkraman tangan Henry. Suaminya ini menggenggam lengannya sangat kuat. Anna menatap satu persatu sahabatnya seakan meminta pertolongan.
"Bagaimana ini? Anna kenapa ditarik keluar."
Lysa, Maura dan Marissa langsung menyusul Anna yang sudah ditarik ke luar. Mereka berlari seraya memanggil nama sahabatnya.
"Anna!"
"Kak, kakak! Lepaskan Anna!" Teriak mereka bergantian. Saat ini mereka sudah di luar restoran.
"Jangan temui Anna lagi, apa kalian paham?" Henry menatap tajam satu persatu wajah sahabat istrinya. Mereka semua langsung mundur ketakutan sambil saling berpegangan satu sama lain.
"Apaan sih! Mereka itu—" Henry membungkam mulut istrinya, lalu ia membuka pintu mobil dan memaksanya untuk segera masuk.
"Dengar ya, jangan coba-coba mengajak Anna kemana pun. Anna sudah menikah, jika kalian ingin mengajaknya pergi harus ijin denganku lebih dulu. Apa kalian paham?"
Sahabat Anna hanya mengangguk. Mereka tidak percaya bahwa dibalik ketampanan Henry, ia sosok pria yang menakutkan.
Congrats Henry!!!
buang Olivia kelaoot 😂😂😂