NovelToon NovelToon
CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:554k
Nilai: 5
Nama Author: Ough See Usi

Adisti harus memutuskan pertunangannya dengan Prasetyo Anggoro, seorang pewaris Anggoro Putra Group, saat 30 hari menjelang pernikahannya. Rita Gunaldi, desainer sekaligus MUA baju pengantin yang merupakan, pemilik The Ritz “mengambil” tunangannya tepat di depan matanya.

Siapa yang menyangka tepat di hari H yang sudah dibatalkan, Adisti jatuh dari tebing dan justru bertemu dengan jodoh yang sebenarnya di tengah jurang, Bramasta Sanjaya seorang pewaris Sanjaya Group dan perintis B Group. Pertama kali mereka bertatap mata di tengah jurang, pertama kalinya mereka merasakan jatuh cinta. Dan huruf “G” kecil tulisan tangan Adisti semakin meyakinkan hati Bramasta.

Keluarga Anggoro dendam. Begitupula Rita Gunaldi. Dendam menguak aib dan kejahatan yang mereka lakukan. Melibatkan Interpol dan polisi di dalamnya.

Cinta dan Dendam, kepada siapa nasib akan berpihak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ough See Usi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 – PERCOBAAN BUNUH DIRI?

Suara Bunda yang terkesiap terdengar jelas setelah mendengar pertanyaan suaminya. Detik kemudian, dia terisak di samping bed Andisti sambil mengelus pipi anaknya. Agung bergegas menghampiri bundanya untuk menguatkan.

“Pada saat saya tiba di lokasi, Andisti sedang berlutut di tepian jurang. Kemudian berdiri sambil membersihkan tanah yang menempel di lutut celananya. Kemudian saya melihat dia menuruni tepian jurang dengan hati-hati,” Bramasta bercerita sambil telunjuk kanannya menyentuh cuping hidungnya, ciri khas seorang Bramasta bila sedang berpikir, ”Apakah ada orang yang akan bunuh diri dalam keadaan kalut dan emosi dia membersihkan tanah yang menempel di pakaiannya sebelum meloncat ke dalam jurang? Apakah ada, orang yang berniat bunuh diri, berjalan berhati-hati meniti tepian jurang, tangannya mencari-cari pegangan karena takut jatuh?”

Ayah memandang lurus ke arah Bramasta, sementara Agung mendengarkan dengan seksama sambil menepuk-nepuk punggung bundanya.

“Menurut saya, Adisti tidak meloncat jatuh ke dalam jurang. Dia tidak melakukan percobaan bunuh diri,” kata Bramasta yakin.

“Alhamdulillah..” Ayah dan Bunda mengucap syukur.

“Jadi sebenarnya apa yang sedang dilakukan Adisti di tepian jurang?” tanya Agung.

“Entahlah. Sepertinya ada sesuatu yang menarik perhatian Andisti di tepian jurang,” jawab Bramasta, “Kata Indra, ada buku diary Adisti di dalam tasnya. Sebelumnya maaf karena harus membuka dan membaca diary Adisti tanpa ijin untuk menemukan titik terang penyebab Adisti jatuh ke jurang, apakah terjatuh ataukah percobaan bunuh diri.”

Agung mengeluarkan buku bersampul tebal warna terakota. Berdua dengan ayahnya membaca diary Adisti.

“Walau asmaranya kandas, putri Bapak seorang wanita yang kuat, dia tidak cengeng dan tidak larut lama dalam kesedihan. Jadi tidak ada alasan untuk meloncat ke jurang, begitu kesimpulan Indra dan Anton setelah membaca diary Andisti.”

“Akan terasa aneh bila Adisti memilih untuk meloncat ke jurang bila mengingat betapa tegarnya dia, betapa dewasanya dia saat mengembalikan barang-barang saat lamarannya dan cincin pertunangannya kepada orangtua mantan tunangannya, juga semua barang-barang pemberian dari mantan tunangannya selama mereka bersama,” kata Agung sambil menggigit punggung jempolnya.

Dia menatap ayahnya, “Ayah, Adek itu gadis sholeha, tidak mungkin dia memutuskan untuk melakukan hal yang dibenci Allah. Awalnya Kakak juga mengira Adek mencoba untuk bunuh diri, tapi setelah mengingat malam itu, Kakak membuang jauh pikiran bahwa Adek berniat bunuh diri.”

“Pak Bram belum membaca diary ini?” tanya Agung.

“Belum, Anton kan baru datang tadi setelah Bapak dan Ibu datang,” jawab Bramasta.

“Oh iya..” kata Agung sambil menyodorkan diary warna terakota itu kepada Bramasta.

Bramasta menerima buku itu. Membukanya lalu terkesima dengan tulisan tangan Adisti.

“Tulisannya rapi dan indah,” telunjuk Bramasta menelusuri kata demi kata. Telunjuknya terhenti di huruf G kecil. Mendadak bulu-bulu halus di tangannya meremang. Juga bulu kuduknya. Menggerakkan lehernya untuk menghilangkan remangan, Bramasta menoleh ke belakang. Menatap lekat Adisti yang masih memejamkan matanya. Seperti berusaha menghafal wajah Andisti.

“Ada apa Nak?” tanya Ayah Agung heran melihat perilaku Bramasta.

“Ah tidak.. hanya sekedar mengecek Adisti yang masih belum sadar juga,” Bramasta tergagap, “Kata dokter tadi, kondisi belum sadarkan diri mungkin dari beban psikis Adisti. Setidaknya ini membantu otak Adisti untuk berisitrahat sejenak dari beban pikirannya.”

Agung lalu menceritakan tentang batalnya pernikahan Adisti kepada Bramasta. Kisah yang tadi Bramasta peroleh dari Indra. Saat Agung bercerita, wajah Ayah Agung seperti menahan amarah dan sakit hati. Tangannya terkepal erat.

Suara gawai Bramasta berdering.

“Maaf,” katanya sambil berdiri lalu berjalan mendekati jendela.

“Wa’alaikumussalam. Ya, Ndra ada apa?” jeda.

“Gue udah di room, lantai 5 VIP 2. Lu naik aja bareng Anton. Udah pada makan kalian semua?” jeda.

“OK, anak-anak suruh pulang aja pakai mobil lu. Kalian pulang bareng gue ya. Gak sanggup nyetir pulang nih kayaknya. Briefingnya via zoom aja nanti malam jam 8an. Anton siapin foto-foto site. Tolong anak-anak cek pengerjaan gerbang sementara di site ya. Pastikan selesai sore ini juga.” jeda agak lama.

“Ya udah kalian naik aja. Assalamu’alaikum,” Bramasta menutup panggilannya.

“Kita makan siang dulu ya, Pak,” Bramasta membuyarkan lamunan Ayah Agung. Dia lalu menghampiri meja pantry lalu mengambil buku menu di atas meja counter bar, “Bapak mau makan apa? Agung? Ibu? Silahkan pilih menunya.”

“Bapak gak lapar, Nak. Silahkan Nak Bramasta saja yang makan,” Ayah Agung menggeleng.

“Ibu juga nggak lapar, Nak. Dapat musibah seperti ini boro-boro ingat makanan, Nak,” Bundanya Agung menghampiri Bramasta.

“Bapak, Ibu dan Agung harus makan. Adisti butuh kalian untuk merawatnya. Jangan sampai kalian juga ikut sakit karena tidak mau makan. Saya pesankan saja, ya? Saya juga kan tidak enak harus makan sendirian,” Bramasta tersenyum kepada Bundanya Agung.

Ada telepon interkom di meja pantry. Bramasta menekan tombol kafetaria lalu memesan untuk mereka berempat. Sesaat kemudian terdengar ketukan pintu. Agung membuka pintunya.

Kepala Indra muncul dari arah luar,

“Assalamu’alaikum..”

Yang di dalam ruangan menjawab salam. Indra masuk diikuti Anton.

“Masih belum siuman?” tanya Indra kepada Agung. Agung menggeleng.

Indra dan Anton bergantian menyalami Ayah dan Bunda lalu duduk di sofa. Mata Indra menatap buku sketsa dan buku diary Andisti yang tergeletak di meja.

“Maaf, Pak, Kami tidak menemukan handphone Adisti di lokasi. Mungkin ikut terjatuh saat Adisti jatuh,” kata Indra.

“Handphone?” Ayah menatap Agung heran, “Gung?”

“Adisti tidak membawa handphone. Handphonenya saya pegang setelah Adisti membatalkan pernikahannya,” Agung menjelaskan.

“Ah, syukurlah memang tidak ada handphonenya pada saat kejadian,” kata Anton.

“Maksudnya, handphonenya disita? Kenapa?” tanya Indra, rasa keingintahuannya meronta-ronta.

“Keluarga mantan tunangannya tidak terima dengan keputusan Adisti. Mereka meneror Adisti dengan kalimat-kalimat kasar via telepon ataupun text. Adisti sampai sakit panas selama beberapa hari,” Agung mengusap wajahnya kasar, matanya menerawang jauh.

Penjelasannya membuat Bramasta, Indra dan Anton semakin berempati dan bersimpati kepada Adisti.

“Bukan hanya itu,” Agung kembali berbicara, “Keluarga mantan tunangannya menuntut Adisti atas tuduhan pencemaran nama baik. Pembatalan yang dilakukan Adisti dianggap telah mencoreng nama baik dan citra mereka dalam dunia bisnis karena undangan yang sudah tersebar. Juga karena uang yang sudah disetorkan untuk membayar acara pernikahan tidak bisa ditarik seluruhnya, ada biaya pembatalan. Saat itu Adisti hari keempat sakit panasnya. Kami merahasiakan hal ini darinya takut dia semakin drop.”

Bramasta mengenyit, “Kesalahan ada pada mantan tunangannya kan?”

Agung mengangguk, “Keluarganya tidak mau tahu dan tidak peduli anaknya sudah berbuat salah. Bagi mereka kesalahan ada pada Adisti yang tidak mau nrimo dan tidak bisa berlapang dada. Tuntutan dibatalkan setelah Ayah dan Bunda memohon sambil berlutut dan membayar sejumlah uang ganti rugi karena pembatalan sepihak dari Adisti.”

“Keluarga gila,” timpal Indra gemas.

“Siapa nama tunangannya?” tanya Bramasta.

“Prasetyo Anggoro, putra pertama keluarga Hilman Anggoro, pemilik perusahaan Anggoro Putro,” Agung memejamkan matanya merasakan sakit hati yang ia rasakan. Tangannya terkepal erat.

Bramasta memandang pada Indra. Menaikkan sebelah alisnya sambil memiringkan kepalanya. Indra mengangguk paham. Komunikasi tanpa kata yang hanya dipahami oleh mereka berdua.

“Bagaimana mereka bertemu? Setahu saya, keluarga Hilman Anggoro bukan orang yang ramah kepada orang yang bukan dari kalangannya,” tanya Bramasta tetapi kemudian dia menambahkan cepat, “Maaf, bukan maksud saya merendahkan keluarga A Agung.”

Agung mengangguk, “Iya saya mengerti, tidak apa-apa Pak, memang kenyataannya seperti itu. Beda kasta, kata mereka saat Ayah dan Bunda berlutut di hadapan mereka. Sebenarnya dari awal keluarga Hilman Anggoro tidak menyetujuinya. Bibit bebet dan bobot Adisti dianggap tidak memenuhi syarat untuk menjadi istri anaknya, calon penerus perusahaan. Tetapi Prasetyo bersikeras memaksa menikahi Adisti dan mengancam tidak akan mau meneruskan bisnis keluarganya bila tidak dibolehkan menikah dengan Adisti. Prasetyo dan Adisti dulu teman satu sekolah saat SMA. Bertemu lagi saat Andisti magang di perusahaan Anggoro Putro.”

Bramasta menyugar rambutnya mendengar cerita Agung. Dia tahu keluarga Hilman Anggoro. Perusahaannya beberapa kali bekerja sama dengan perusahaaan ayahnya. Bramasta juga beberapa kali bertemu dengan Hilman Anggoro saat makan malam bisnis mewakili perusahaan ayahnya. Tetapi dia belum pernah bertemu dengan putranya, Prasetyo Anggoro.

“Ndra, kita menerima undangan dari Keluarga Anggoro tidak?” tanya Bramasta sambil tangannya mencari profile Hilman Anggoro di gawainya.

“Wah.. lupa lagi. Sudah lama ya,” Indra terdiam sejenak untuk berpikir, “Ah ya.. baru ingat ada pemberitahuan pembatalan undangan via email dan WA dari pihak public relations Anggoro Group.”

Bramasta melirik layar gawainya yang menampilkan wajah Hilman Anggoro dan istrinya, ibu jarinya menyapu layar gawainya ke atas, scroll up gambar. Ada foto keluarga Hilman Anggoro. Bramasta menyentuh dengan ibu jarinya. Hilman Anggoro bersama istri dan kedua anak laki-lakinya. Anak laki-laki yang bungsu seusia anak SMP sedangkan yang sulung, mungkin pertengahan 20.

“He is a good looking young guy_Dia anak muda yang tampan_,” kata Bramasta sambil menatap ke arah Adisti.

1
Ough See Usi
gak di ACC pihak NT.

Sama dengan Mr. Architect, awalnya pakai foto Taehyung BTS, tapi disuruh ganti.
Niken Dwi Handayani
Awalnya pakai photo Chow Yun Fat, kok bisa ganti jadi Hyun Bin Thor?
Ough See Usi: waduh salah kolom sayanya.. 🙏🏼

karena gak di ACC pihak NT
Ya gitu deh...
total 1 replies
Ough See Usi
Eric masih 11 tahun
Alif 8 tahun
Abay 5 tahun
Andra 2 tahun
Sidney 15 tahun
Niken Dwi Handayani
Di novel ini Eric umurnya berapa ya? Sebab di novel nya Anton, umurnya sudah 11 tahun kalau ga salah baca.
Ough See Usi: maaf salah naruh komen.
Author juga salah nempatin umur 🙏🏼🙏🏼

Belum direvisi 🙏🏼🙏🏼
Mau nge-revisi udah kelewat jauh.

Semua novel, masih ditahun yang sama.
total 1 replies
Syaiful Leli
kapan munculnya naga2 dalam tubuh merwka thor
Ough See Usi: ada di bab-bab ataupun cerita berikutnya

Keempat novel Author itu twtralogi, saling menyambung jalinan ceritanya.

Selamat membaca, semoga suka ya. 😍😍😘
total 1 replies
Ulla Hullasoh
halahhhh....... lupa tuh Indra
Ough See Usi: qqqqqq 😁🤭
total 1 replies
Ulla Hullasoh
keluarga medusa emang keluarga bejad menyeramkan
Ough See Usi: jahara pokoknya..
total 1 replies
Ulla Hullasoh
Hadiah buat ayah mertua/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ough See Usi: ofcourse... 😁😁🤭
total 1 replies
Ulla Hullasoh
wahhhhh ngebut nih Bram wkwkwk
Ulla Hullasoh
keren nih bang Bram tanjabbb tanpa basa basi...keren Thor
Ough See Usi: Bram gitu loh.... 🥰🥰
total 1 replies
Ulla Hullasoh
tamu nya Adisti pada kreatif wkwkwk
Ough See Usi: qqqqqq 🤣🤣🤣🤭
total 1 replies
Ulla Hullasoh
waduhhhh mama toh yang membocorkan
Ough See Usi: Mommy memang gak bisa nge-keep cerita... 😁😁🤣
total 1 replies
Ulla Hullasoh
semangat Thorrr
Ough See Usi: siyyyaaaap
(walau sambil meriang...)
total 1 replies
Ulla Hullasoh
Anton keren kumplit nih laporannya
Ough See Usi: selalu dong... Anton... 😁😁
total 1 replies
Ulla Hullasoh
lanjut Thorrr ceritamu selalu bagus. kerennn
Ough See Usi: Hatur nuhun, hatur tengkyu

🥰🥰🥰🥰🌷🌷🌷
total 1 replies
Ulla Hullasoh
kerennn Thor...saya malah sdh duluan baca cerita Anton yg sdh menikah. kerennn
Ough See Usi: Author baru nemuin Reader yang membacanya dengan urutan terbalik... 🤭

Kalem, gak akan jadi bingung.
Paling, "Ooh jadi begitu benang merahnya..."


Selamat membaca ya.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
amelia Adwin
ttp setia deh...tenang za...😘
Ough See Usi: 🥰🥰🥰 iya... iya.... 😁😁😁😘
total 1 replies
Noni Diani
Luar biasa
Ough See Usi: Terima kasih banyak🥰🥰
Ayo capcus ke novel berikutnya supaya lebih kenal dengan para Babang Ganteng di Kuping Merah 😁😁😉🌺
total 1 replies
Noni Diani
Biasa
Ough See Usi: Terimakasih banyak
Jangan lupa baca novel selanjutnya ya.. 🌷
total 1 replies
Septi Lahat
aq nggk ush baling-baling apapun tuh kak thor,, aq pengen punya kendaraan yg bisa anter jemput ank2 qu dg aman terlindungi dri panas n hujan 😁😁😁
Ough See Usi: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!