Siapa yang kamu pilih? Daniel seorang kristiani berwajah tampan, ramah dan baik hati kepada semua orang. Terlahir dari keluarga kaya tapi tetap rendah hati. Atau Arfan laki-laki shalih, ketua Rohis di kampus, memiliki wajah teduh dan tampan sehingga banyak dikagumi oleh wanita-wanita di kampusnya.
Aku memilihmu tapi tidak tahu siapa yang Allah pilihkan untukku. Aku tidak mau terlalu cepat memilih karena kelabilan pikiran ini. Maukah kau menunggu selagi aku memantapkan hati?
-Alisha Sabiya Nadifah
Naskah ini pertama kali dibuat pada tanggal 5 Maret 2019
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna Samsiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sembilan
Bau obat menyeruak di indra penciuman perempuan yang baru bangun dari tidurnya yang cukup lama. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali menyesuaikan dari gelap ke terangnya cahaya lampu ketika pertama membuka mata. Ia tidak mengenal tempat ini. Kepalanya terasa sangat pusing hingga harus memejamkan mata lagi.
Tubuhnya terasa remuk tidak bisa digerakkan. Perlu gerakan perlahan ia memutar kepala dan mendapati lelaki yang tak asing baginya sedang duduk bersandar di sofa dengan mata terpejam.
"Kak.." Ucapnya dengan suara pelan dan serak. Lelaki itu masih di posisinya belum menyadari bahwa perempuan yang sedang ditunggunya sudah bangun. "Kak Daniel..." Panggilnya sekali lagi.
"Dek Ica!" Daniel terkesiap lalu melompat mendekati Ica yang terbaring di atas ranjang rawat. "Kamu udah siuman." Serunya senang sekaligus menunjukkan kekhawatiran yang luar biasa, takut terjadi hal buruk pada perempuan yang dicintainya. Ia ingin sekali menggenggam tangan kecil Ica untuk memberi kekuatan tapi itu tidak mungkin dilakukannya, selama ini ia tak pernah berani menyentuh gadis itu. Ia sangat menghormati Ica hingga harus menahan gejolak keinginan dalam hatinya untuk menyentuh Ica.
"Kenapa?" Ica mencengkram selimut yang menutup setengah badannya. Ia bingung karena berada di tempat yang tidak dikenalnya.
"Ssshhh, jangan takut, nggak apa-apa, tadi kamu keserempet motor di depan rumah sakit." Daniel hanya memegangi pinggiran tempat tidur Ica. "Maaf Dek Ica seharusnya aku nggak biarin kamu pergi sendirian." Daniel merasa bersalah karena ia ingat bahwa Ica pergi ketika Dean sedang memeluknya.
"Dianis tahu?" Ica melihat Daniel, matanya berkaca-kaca menggambarkan ketakutan mengingat kejadian tadi. Ica perempuan kuat yang bisa pergi kemanapun sendiri tapi apa yang dialaminya tadi membuatnya takut. Daniel menahan diri, ingin sekali ia menarik tubuh gadis mungil itu dalam pelukannya. Daniel ikut sakit melihat sorot mata Ica redup tidak seperti biasanya yang selalu bersinar.
"Dianis tahu tapi aku bilang sama dia kesini besok aja soalnya udah malem." Daniel menarik kursi untuk duduk di dekat tempat tidur.
Ica melirik jam dinding di depan pintu masuk menunjukkan pukul setengah 2 pagi.
"Kak Daniel nggak pulang?" Ica mengalihkan pandangannya pada langit-langit ruangan yang berwarna putih terang.
"Aku nggak mungkin ninggalin kamu sendiri disini."
"Aku mau pulang." Lirih Ica. Ia tidak nyaman berada disini berdua dengan Daniel. Walaupun keberadaan lelaki itu menenangkannya tapi lain hal nya jika hanya berdua.
"Dek Ica belum boleh pulang, lusa kita usahakan udah pulang ya." Daniel tersenyum teduh menenangkan Ica. "Besok Dianis juga kesini."
Ica terdiam. Bayangan Daniel dan Dean berpelukan muncul di pikirannya. Ia ingin tahu anggota tubuhnya bagian mana lagi yang luka selain hati.
"Dek Ica nggak apa-apa cuma luka di bagian lutut, tadi pingsan karena saksi mata bilang kepala kamu kebentur." Tangan Daniel mengepal kuat menahan emosinya mengingat kejadian itu.
Deanna melepaskan pelukannya lalu Daniel membawa perempuan itu duduk di kursi depan ruang ICU. Daniel baru menyadari bahwa Ica tidak ada disana. Daniel berlari ke arah koridor mencari keberadaan Ica tapi rupanya terlambat karena di sepanjang koridor tidak ia temukan gadis berjilbab panjang itu.
Melihat kerumunan orang di pinggir jalan tepat di depan rumah sakit membuat Daniel mempercepat langkahnya, jantungnya berdegup kencang. Lelaki itu berusaha menembus kerumunan orang, jantungnya seolah melompat dari tempatnya ketika melihat Ica tak sadarkan diri dengan gamis berlumuran darah di bagian kaki.
"Dek Ica!" Daniel mengangkat tubuh Ica membawanya ke Unit Gawat Darurat yang kebetulan berada tidak jauh dari tempat itu. Daniel tidak mempedulikan ucapan orang-orang bahwa lelaki yang menabrak Ica telah melarikan diri. Yang ada di pikiran Daniel adalah Ica harus segera ditangani dokter.
Daniel tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu yang buruk pada gadis itu.
"Jangan buka jilbabnya." Daniel mencegah seorang perawat yang hendak melepas jilbab Ica.
"Tapi kami harus memeriksa kepalanya." Perawat tersebut tidak bisa menuruti perkataan Daniel.
"Kalau gitu tutup selambunya, saya tunggu di luar, jangan biarkan lelaki melihat rambutnya walaupun sehelai, lalu pasang kembali jilbabnya setelah selesai memeriksa." Titah Daniel.
Perawat menyanggupi permintaan Daniel kemudian bergegas menutup selambu, hanya ada dua perawat perempuan dan seorang dokter untuk memeriksa keadaan Ica. Sedangkan Daniel menunggu di luar selambu dengan perasaan gusar. Daniel tidak tahu apa-apa tentang aurat perempuan tapi ia sangat tahu bahwa Ica selalu menjaga anggota tubuhnya agar tidak terlihat oleh orang lain dan Daniel bisa mengerti itu. Walaupun sekarang Ica tidak sadar tapi Daniel tetap akan menjaga apa yang seharusnya dijaga perempuan itu.
Daniel mondar-mandir menunggu perawat selesai memeriksa dan mengobati luka Ica. Tak pernah ia merasa takut seperti ini dalam hidupnya. Daniel mengacak-acak rambutnya kasar, menyalahkan dirinya sendiri karena telah membiarkan Ica pergi.
"Kita pindahkan ke ruang rawat." Perawat membuka selambu. Daniel membalikkan badan melihat Ica yang masih memejamkan mata. Terdapat perban kecil di bagian pelipis serta selang infus di tangan kiri.
"Gimana keadaannya?" Daniel melihat dokter yang sedang melepas lateks.
"Dia nggak apa-apa, cuma luka di bagian lutut dan pelipis, lusa baru boleh pulang, kita lihat perkembangannya." Jelas dokter. "Ini tas pasien." Dokter menyodorkan tas kecil berwarna coklat pada Daniel. "Kamu suaminya?" Tanya dokter tersebut.
"Bukan." Daniel menggeleng. "Saya yang akan mengurus administrasinya."
"Baik." Dokter mengangguk lalu meninggalkan Daniel.
Perawat memindahkan ke ruang rawat diikuti Daniel. Ponsel Ica di dalam tas tak henti berdering. Awalnya Daniel ragu untuk mengangkatnya tapi ia memberanikan diri untuk membuka tas Ica. Terdapat nama Dianis di layar depan.
"Halo ini Daniel." Daniel mengawali.
"Loh Ica mana?" Dianis di seberang sana terkejut karena bukan Ica yang menjawab telepon.
"Ica kecelakaan, tapi kamu nggak usah khawatir dia udah di rumah sakit sekarang." Daniel menggapit ponsel dengan bahunya ketika ia sampai di ruang rawat untuk membenarkan selimut Ica.
"Kalau gitu aku kesana sekarang." Suara Dianis berubah panik.
"Besok aja sekarang udah malam, untuk sekarang biar aku yang jagain Ica." Daniel meletakkan tas Ica di atas nakas.
"Aku mau kesana pokoknya, gimana aku bisa tetep disini kalau Ica sekarang di rumah sakit." Dianis mendesak tapi Daniel tidak ingin teman Ica keluar selarut ini.
"Aku bilang Ica nggak apa-apa, besok pagi kamu bisa kesini." Tegas Daniel. Hening. Dianis tidak segera membalas ucapan Daniel. "Lagi pula ini udah malam, bahaya kalau perempuan keluar sendirian."
"Yaudah." Sahut Dianis.
Daniel memasukkan ponsel ke dalam tas Ica ketika sambungan telepon terputus. Ia duduk di sofa panjang dekat pintu memperhatikan Ica yang masih setia memejamkan mata. Jika saja Daniel tidak mengajak Ica ke rumah sakit pasti gadis itu saat ini sedang tidur nyenyak di tempat kos. Tapi semuanya sudah terlambat. Daniel ikut memejamkan mata lalu terlelap walaupun posisinya tidak nyaman untuk tidur.
Daniel membuka mata ketika ia mendengar suara Ica memanggilnya.
Sekarang barulah Daniel bisa bernapas lega ketika Ica bangun setelah 6 jam tidak sadarkan diri.
"Minum." Daniel menyodorkan gelas berisi air putih dengan sedotan. Perlahan Ica minum air yang Daniel sodorkan.
"Orang yang nabrak aku nggak apa-apa?" Ica melihat Daniel yang sedang meletakkan kembali gelas di atas nakas.
"Dia lari." Jawab Daniel, ia tak habis pikir mengapa Ica masih memikirkan orang yang telah menabraknya. "Besok aku lapor polisi." Daniel menatap Ica.
"Jangan." Ica menggeleng kuat. "Aku yakin orang itu nggak sengaja nabrak aku, lagi pula aku nggak apa-apa ini cuma kecelakaan ringan."
Daniel diam sesaat sedangkan Ica melihat Daniel memohon.
"Ya udah." Ucap Daniel akhirnya, ia menghembuskan napas keras. "Kamu tidur lagi gih." Daniel memastikan selimut Ica tidak tersingkap.
"Gimana aku bisa tidur kalau Kak Daniel disini." Ica menggigit bibirnya untuk menghilangkan rasa gugup.
"Terus aku dimana?" Daniel tersenyum gemas melihat gadis di dekatnya, walaupun pucat tapi rona wajahnya terlihat memerah.
"Kak Daniel tidur aja di sofa." Ica melihat sofa panjang dekat pintu tempat Daniel tidur baru saja.
"Oke, selamat tidur" Daniel beranjak dari duduknya beralih membaringkan tubuh di atas sofa. Kakinya menggantung di atas pegangan sofa karena sofa tersebut tidak bisa menampung seluruh bagian tubuh Daniel. Sebelum memejamkan mata, Daniel melihat Ica sesaat untuk memastikan lagi bahwa perempuan itu dalam keadaan aman. Tidak akan ia biarkan siapapun mengganggu perempuan itu lagi, tidak akan.
Emang icha nya mau sama Babang 🤭🤭
iya tidak maniss karna manis nya udah di Icha nyaa 🤭🤭 jadi tak apa kue nya Hambar asal orang nga Manisss 🤭🤭
bilang aja mau mintak 😅😅🙈🙈