Nadia Vega, gadis cantik yang mencintai pria yang tak di anggap oleh keluarga nya. terpisah karena ambisi sang kakak pria yang juga mengagumi nya. melakukan berbagai cara licik untuk memiliki nya.
banyak rintangan yang harus mereka hadapi, termasuk terhalang restu dari orang tua nya sendiri.
dapatkan Nadia memperjuangkan kebahagiaan nya dan melawan kakak dari pria tersebut?
apakah setelah berpisah mereka akan bertemu lagi?
yuk kepoin cerita nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun Nazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEMAN LAMA
Part 10:
Perlahan ka Andre pun mendekati ku. Aku yang sudah terlanjur trauma dengan nya pun ketakutan.
Aku bergegas bangun dengan posisi duduk sambil menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh ku.
Saat ka Andre terus mendekati ku, aku pun terus-menerus perlahan mundur dengan wajah tertekan.
" Kamu beruntung hari ini, aku masih belum bisa melakukan nya hari ini. Tapi lain kali kamu ga bisa lolos dari aku.!" Gertak nya dengan senyum penuh arti dan sedikit penekanan.
" Dan satu lagi, kamu ga bisa kabur dari sini. Karena setiap pintu atau jendela di sini sudah aku kasih kode alarm. Jika kamu coba-coba kabur, maka dengan otomatis alarm itu akan berbunyi, dan semua penjaga di villa ini akan dengar dan selanjutnya, kamu sudah paham kan?." Timpal nya lagi dengan raut wajah sinis.
Aku hanya tertunduk takut dengan penjelasan nya serta air mata yang mengalir tiada henti.
*******
Ibu Nadia yang sedari tadi mondar-mandir karena anak nya tidak kunjung pulang merasa sangat cemas, dia pun segera menghubungi Avi dan segera mengambil ponselnya yang berbeda di kamar.
" Iya Bu!" Kata Avi menjawab telpon dari ibu Nadia.
" Hallo nak Avi, ibu mau nanya sama kamu. Nadia di rumah kamu nda?." Suara ibu Nadia yang terdengar sangat panik.
" Gak ada Bu, Nadia gak ada ke sini. Ini Avi baru aja pulang liburan." Tutur nya yang membuat ibu Nadia heran dan bertanya-tanya.
Namun karena kepanikan dan kecemasan nya anak nya itu, dia menyamping kan kecurangan nya.
" Oh begitu ya. Kalau kamu ketemu sama Nadia, hubungi ibu ya!." Pesan ibu kepada Avi. Ibu Nadia pun mengakhiri sambungan telepon nya dengan Avi.
Tak habis akal, setelah menelpon Avi, ibu Nadia pun kembali menghubungi seseorang, siapa lagi kalau bukan biang kerok nya.
Dia pun menunggu jawaban telpon dari Andre. Namun disisi lain, Andre yang menerima panggilan dari ibu Nadia pun sontak panik, dan berpikir sejenak lalu segera meraih ponselnya dan menjawab telepon.
" Iya ibu ada apa?, tumben siang-siang gini nelpon saya. Apa ibu nyuruh saya jemput Nadia?." Tanya nya mulai memainkan sandiwara licik nya.
" Justru itu yang ibu mau tanya kan sama nak Andre. Nak Andre liat Nadia nda?, siapa tau dia sedang ada di rumah nak Andre dan diam-diam bertemu adik nak Andre itu lagi." Tanya ibu Nadia dengan nada cemas, dan sempat-sempatnya menuduh Daniel. Entah mengapa setiap Andre mendengar kata-kata Nadia bersama Daniel, emosi nya selalu tidak bisa di kontrol.
Tangan nya langsung mengepal erat, tapi dia sadar bahwa dia sedang bersandiwara. Andre segera menetralisir emosi nya dan melanjutkan sandiwara nya.
" Seperti nya tidak ada Bu, Nadia tidak ada ke sini. Bahkan saat acara malam tadi saya tidak melihat Nadia." Lagi-lagi Andre berbohong. Entah berapa banyak lagi kebohongan demi kebohongan yang Andre lakukan demi menutupi kebusukan nya.
*******
Di sisi lain Daniel yang mendengar percakapan via telepon antara Andre dan ibu Nadia pun terperanjat. Daniel benar-benar syok dan tak percaya, wanita terkasihnya hilang dari rumah, karena baru pagi tadi Daniel mengantarkan Nadia pulang ke rumah nya. Apa ini ada hubungannya dengan kejadian pagi tadi? Tanya nya dalam hati.
Daniel segera berlari ke kamar nya, meraih kunci mobil yang berada di nakas dan bergegas menuju garasi tempat mobil nya terparkir.
Tak di hiraukan nya lagi panggilan Cetrin dan Diendra yang menanyakan keterburu-buruan nya itu.
*******
Daniel segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Karena kekhawatiran nya terhadap Nadia, dia sampai lupa dengan keselamatan nya sendiri.
Tempat pertama yang dia tuju adalah rumah Ronal sahabat nya sejak kecil sebelum akhirnya Daniel pindah ke Korea dan setelah Daniel pulang mereka pun akhirnya bertemu. Karena rumah Ronal dari dulu sampai sekarang tidak pernah pindah.
Jika Daniel mempunyai masalah, selalu mencari Ronal. Karena sejak kecil, Daniel sudah menganggap keluarga Ronal seperti keluarga nya sendiri, apa lagi ibu Ronal yang sangat sayang kepada Daniel dan menganggapnya seperti anak sendiri. Berbanding terbalik dengan keluarga nya sendiri yang tidak pernah menganggap nya dan selalu pilih kasih terhadap Daniel, dan lebih menyayangi Andre.
Setelah sampai, Daniel segera turun dengan terburu-buru melangkah masuk ke rumah Ronal. Ronal yang melihat sahabat nya datang, otomatis sangat gembira, karena semenjak pulang dari Korea, Daniel memang jarang berkunjung ke rumah Ronal.
Ronal menyambut kedatangan Daniel dengan antusias. Merentangkan kedua tangannya untuk menyambut kedatangan Daniel.
" Wih,,,, bro udah lama ga ke sini. Gue kira udah lupa sama temen seperingusan Lo ini." Ucap Ronal sambil memeluk Daniel dengan begitu akrab, ala-ala anak milenial. Daniel yang semula cemas, terpaksa menutupi kecemasan nya, karena Daniel sudah lama tidak berkunjung ke rumah itu, dia merasa tidak enak jika harus mengatakan masalah nya sekarang.
" Yuk masuk. Nyokap udah masak yang enak, sekalian kita makan siang bareng. Nyokap gue pasti kaget liat Lo dateng, karena dia kangen banget sama anak tampan nya ini." Ronal pun terkekeh. Lain hal nya dengan Daniel yang memaksa kan senyum, karena yang ada di pikiran nya sekarang hanya ingin tau keadaan Nadia.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah Ronal yang sederhana namun cukup bersih dan tempat nya pun masih sangat asri. Karena rumah Ronal dekat sekali dengan sawah dan pegunungan.
Memang rumah Ronal tidak sebesar rumah Daniel, bahkan keluarga Ronal termasuk keluarga Tak mampu, namun bagi Daniel kenyamanan di rumah itu begitu terasa, di tambah lagi perlakuan keluarga Ronal yang begitu menyayangi nya.
Ibu Ronal yang sedang menyiapkan makan siang pun begitu terkejut dengan kedatangan Daniel yang secara tiba-tiba, dan memang sudah lama ia menunggu kedatangan Daniel. Siti pun memeluk Daniel dengan sangat haru, dia memang sangat merindukan Daniel, karena hampir dua belas tahun mereka tidak bertemu.
" Ya ampun Daniel!, ibu tidak menyangka kamu datang. Kenapa datang gak bilang-bilang?, kalau kamu bilang kan ibu bisa masakin semur ayam kesukaan kamu." Tutur ibu Ronal sambil menyeka air matanya karena haru.
" Ibu gak usah repot-repot, harus nya Daniel yang bawain makanan buat ibu, karena buru-buru, Daniel jadi lupa. Maaf ya Bu.!" Timpal Daniel dengan lembut. Bahkan dengan ibu kandung nya sendiri, Daniel tidak pernah selembut ini. Karena perlakuan orang tua nya sendiri lah yang membuat Daniel tidak bisa sopan kepada mereka.
" Gak perlu bawa apa-apa, kamu sudah datang saja ibu sudah sangat senang." Ucap nya lagi.
" Ayo kita makan sama-sama. Ibu cuma masak ini, semoga kamu suka ya." Kata ibu Ronal menimpali.
" Ehemmm,,,, yang ini ga di suruh makan nih?. Mentang-mentang anak kesayangan nya udah pulang, anak yang selalu ada di mana pun berada ini di lupakan." Timpal Ronal dengan nada sedih yang di buat-buat.
" Bisa ai Lo.!" Balas Daniel dengan memukul lengan Ronal pelan.
" Emang umumnya gitu bro. Kalau ada yang baru, yang lama minggir. " Tambah Daniel lagi sambil terkekeh.
" Barang lama itu barang antik, tentu nya mahal dan gak mungkin di buang." Ucap Ronal tak mau kalah.
" Eh. Sudah-sudah!. kalau berdebat terus kapan makan nya?." Ibu Ronal yang sedari tadi mendengar kan perdebatan mereka pun menengahi.
Mereka memang seperti itu jika sudah bertemu, selalu bercanda tiada habisnya. Terkadang ibu Ronal lah yang selalu menjadi penengah nya, karena jika di biarkan mereka bisa kejar-kejaran seperti anak kecil.
Mereka bertiga pun mulai makan, karena saat itu ayah Ronal sedang berada di sawah dan biasanya akan pulang saat menjelang sore.
Mereka pun makan dengan lauk yang sudah di sediakan oleh ibu Ronal, di sana ada tahu dan tempe goreng, sambal terasi dan sayur lodeh kesukaan Daniel.
Mereka pun makan dengan lahap nya, karena memang sudah lama mereka tidak pernah lagi berkumpul bersama.
Mereka pun saling lempar candaan, kecuali Daniel yang sedari tadi gelisah, seperti memikirkan sesuatu.
Ibu Ronal yang melihat kegundahan terpancar jelas di wajah Daniel pun segera paham, karena ibu Ronal sudah mengenal Daniel lama bahkan sudah menganggap Daniel seperti anak nya sendiri, dan saat Daniel berbohong pun, dia akan segera tau.
" Daniel." Panggil Bu Siti. Suara ibu Ronal tersebut rupanya mengejutkan Daniel. " Kamu ada masalah?." Tanya nya sepontan.
Sontak membuat Daniel gugup dengan pertanyaan yang diajukan ibu Ronal.
Kalimatnya terbata-bata. Perasaan nya kini benar-benar gelisah tak karuan. Bagaimana tidak, kekasih yang sangat dia cintai kini tidak tau bagaimana kabar nya.
Karena selama hidupnya, hanya Nadia yang bisa membuat nya mengerti akan cinta. Bisa di bayangkan bagaimana perasaan Daniel terhadap Nadia, jelas saja Daniel sangat khawatir.
" Da...niel ga papa ko' Bu." Ucap nya gugup. Daniel pun terpaksa berbohong karena tidak ingin membuat ibu Ronal ikut khawatir dengan masalah yang sedang ia hadapi.
" Beneran kamu gak ada masalah?." Tanya nya penuh selidik.
" Iya Bu, Daniel baik-baik aja kok.!" Ucap nya dengan penuh penekanan. Daniel pun juga memaksakan senyumnya.
Karena tidak mau bertanya lebih dalam, ibu Ronal pun mencoba untuk percaya, padahal di dalam hati nya merasa ada yang janggal. Namun dia sadar, tidak semua masalah Daniel harus ia ketahui. Jika Daniel ingin cerita saja baru lah dia akan mendengar kan dan memberi nasehat.