Jalan kehidupan memang tak selamanya mudah dan mulus, ketika kaki sebelah tersandung maka kaki yang lain harus kuat menopang tubuh agar tak sampai terjatuh.
Berkisah tentang seorang perempuan yang harus menyandang status janda di usianya yang masih muda, berjuang mematahkan opini masyarakat jika 'janda' itu tak mempunyai hak dan keistimewaan yang sama dengan perempuan lainnya. Berbagai ujian, cercaan, fitnah dan gunjingan menjadi makanannya sehari-hari, namun senyumnya tak pernah surut, menyembunyikan luka yang semakin lama semakin menggunung.
Sampai seorang Presdir perusahaan besar tempatnya bekerja mengajaknya berkompromi dalam sebuah pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Alifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GALA ARSYANENDRA
Wafa mengibas-ngibaskan wajahnya dengan telapak tangan saat sinar matahari pagi itu menerpa wajahnya. Sinarnya hangat, namun terasa panas bagi Wafa yang sudah hampir satu jam berdiam diri di sana menunggu gilirannya untuk di panggil pihak HRD di perusahaan itu.
"Ngelamar juga yah??" Seorang gadis berambut panjang juga seorang pria yang berpakaian dengan warna yang sama dengannya menghampiri. Dapat di pastikan jika mereka pun sama seperti Wafa, tengah menunggu giliran untuk panggilan.
Wafa mengangguk, "iya mbak, mas". Jawab Wafa dengan ramah.
"Panggil aku Sisi, dan ini temen aku namanya Bimo, kayanya kita seumuran".
"Aku Wafa". Wafa menyambut uluran tangan kedua teman barunya itu dengan berganti, kemudian berbincang-bincang mengenai tempat tinggal mereka sebelum akhirnya nama Wafa di panggil oleh salah satu pihak perusahaan. "Aku duluan ya Si, Bim".
Sisi dan Bimo mengangguk, memberikan lambaian singkat pada Wafa.
Menjelang siang, Wafa keluar dari perusahaan itu. Ia tinggal menunggu kabar dari pihak GALAMEDIA yang akan memberi tahunya jika ia di terima atau tidak.
Siang yang teramat terik membuat Wafa berjalan menyusuri teras pinggir gedung bertingkat itu, menghindari panas sinar matahari yang akan membuat kulit putihnya memerah.
Di tengah langkahnya, ia melihat seorang pria berjalan dengan tergesa. Hingga tanpa pria itu sadari sesuatu terjatuh dari tangannya.
Wafa berjalan cepat, mengambil benda terbungkus kotak berwarna merah itu kemudian mengejar pria tinggi yang hendak memasuki gedung perusahaan.
"Hey, hey tunggu. Kamu menjatuhkan sesuatu". Teriak Wafa.
Bukan hanya pria itu saja yang menoleh, tapi semua mata beberapa orang yang tengah beraktivitas di lobbi itu menatapnya. Tatapan seolah menyiratkan jika Wafa melakukan kesalahan.
"Kamu menjatuhkan sesuatu mas. Ini!!" Wafa memberikan kotak berwarna merah itu pada tangan pria itu dengan kesal, panas-panas begini ia harus berlari mengejar pria tinggi yang berjalan cepat dengan langkah lebarnya. "Lain kali tuh hati-hati, jalan boleh cepet tapi perhatikan juga barang-barang kamu. Kalau ada yang menemukan terus gak di kembalikan gimana? Kamu juga yang rugi. Aku jadi cape kan ngejar-ngejar kamu. Panas lagi".
Wafa mengomel, tidak memberikan kesempatan sedikitpun pada pria tinggi berkulit putih yang berdiri di hadapannya dengan tatapan tajamnya.
"Kamu..."
"Sudah-sudah, aku cape mas. Permisi". Wafa melengos pergi, tanpa memperdulikan tatapan-tatapan menakutkan dari orang-orang di sekitarnya. Yang ada dalam benaknya saat ini adalah minum teh botol dingin langsung dari botolnya, ah..rasanya pasti menyegarkan di tengah terik matahari yang menyengat ubun-ubun.
Pria itu mengeram kesal, namun juga ingin tertawa melihat seorang perempuan yang bersikap seenaknya padanya. Karena seumur hidupnya, tidak pernah ada perempuan yang mengabaikannya seperti saat ini.
💜💜💜
Hari ini, Wafa tengah bersiap untuk bekerja, pasalnya, kemarin siang GALAMEDIA menghubunginya, dan memberikan kabar jika dirinya di terima bekerja di sana sebagai sekretaris. Meski sedikit heran karena dalam surat lamarannya sangat jelas jika Wafa tidak ada pengalaman dalam bidang itu, tapi ia sangat bersyukur dan akan memulai semuanya dengan sangat baik.
"Kamu beruntung Fa dapet posisi itu, aku aja yang udah lama masih di staf keuangan aja". Lastri memulai perbincangan, saat ini mereka tengan berada di dalam angkutan umum menuju GALAMEDIA.
"Tapi aku takut Ti, aku kan gak ada pengalaman jadi sekretaris. Kamu tahu sendiri sebelumnya aku hanya karyawan pabrik."
"Semangat Fa, anggap aja ini keberuntungan buat kamu."
"Semoga aja bosnya gak galak ya Ti".
"Yang aku dengar sih, pak Presdir itu bukan galak, tapi tegas. Aku juga gak tahu sih, aku gak pernah langsung ketemu deket gitu".
Tanpa terasa, angkutan umum yang membawa mereka berhenti tepat di depan gerbang perusahaan GALAMEDIA. Wafa dan Lastri turun bergantian, kemudian berjalan bersama memasuki gedung bertingkat itu.
"Fa, aku duluan yah". Pamit Lastri, karena ruangannya berada di lantai Lima, sedangkan Wafa masih belum tahu bekerja di lantai berapa.
"Iya Ti, aku mau tanya ke resepsionis dulu bentar".
Lastri menuju lift sedangkan Wafa menuju ke meja resepsionis untuk menanyakan dimana ruangannya.
Wafa berjalan tergesa memasuki lift, menuju kelantai lima belas lantai tertinggi dimana ruangannya berada, sesaat yang lalu, resepsionis memberi tahunya jika ruangannya berada di lantai lima belas. Karena di lantai itu hanya ada satu ruangan, yaitu ruangan CEO.
Tap tap tap
Suara high heels nya menggema di lorong ruangan, celana panjang hitam di padukan dengan atasan berwarna mint membuat kulit bersihnya semakin bersinar. Pashmina berwarna senada dengan atasannya terlihat sangat serasi dan membuatnya tampak segar.
Pintu besar berwarna cokelat klasik menjadi tujuannya. Di depan pintu ruangan itu berdiri seorang pria dengan pakaian rapi, tersenyum ramah menyambut kedatangannya.
"Pagi pak, sa..saya Wafa, saya.."
"Sekretaris pak bos yang baru kan??" Potong pria itu.
"Iya pak". Wafa mengangguk segan.
"Saya Reno, asisten pribadi pak Arsya. Mari silahkan masuk".
Wafa kembali mengangguk, ia mengikuti langkah Reno.
"Pagi pak, sekretaris baru anda sudah disini".
Reno memberikan isyarat melalui tangannya, agar Wafa mendekat dan berdiri di sampingnya.
Pria bernama Gala Arsyanendra itu menatap Wafa yang masih menunduk, senyum penuh arti terbit dari bibirnya. "Perkenalkan nama kamu".
Wafa mencoba mengangkat wajahnya, matanya membulat saat melihat pria di depannya yang ia rasa tak asing. "Ka..kamu, kamu pria ceroboh itu?"
"Ya? Dan saya bos kamu!!" Tegasnya
Wafa menelan ludahnya dengan susah payah, tubuhnya nyaris terhuyung ke belakang karena kenyataan di depannya. Jadi kemarin dia memaki bosnya sendiri??
"Perkenalkan dirimu perempuan cerewet". Suara bariton pria itu membuat Wafa tersadar.
"Sa..saya Wafa Az-Zahra pak"
Arsya mengangguk, "ok, itu ruangan kamu. Bekerja dengan baik atau saya akan memberikan denda pada mu karena kamu sudah berani memaki saya kemarin".
Wafa memejamkan matanya, ia merutuki kebodohannya kemarin. Tak ingin berlama-lama berhadapan dengan Arsya, Wafa segera pamit untuk ke ruangannya. "Iya pak, saya permisi ke ruangan saya".
Wafa melangkah setelah mendapat anggukan dari Arsya. Ruangannya menyatu dengan ruangan Arsya, hanya tersekat kaca saja yang memisahkan antara ruangan besar itu dan ruangannya.
Baru saja mendaratkan dirinya di kursi, kedatangan Reno kembali membuatnya berdiri. "Ada yang bisa saya bantu pak Reno??"
"Ini file jadwal pak Arsya, kamu bisa memindahkannya ke tablet itu". Reno menunjuk sebuah tablet yang sudah ada di meja Wafa.
"Iya pak Reno, apa ada lagi yang harus saya tahu pak??".
"Setiap pagi, kamu harus buatkan pak Arsya kopi hitam tanpa gula. Jam sepuluh kamu harus kembali buatkan pak Arsya kopi susu tapi pakai es. Dan menjelang jam pulang, kamu juga harus kembali membuatkannya kopi hitam dengan gula satu sendok aja, ngerti??".
Wafa mengangguk meski ragu, "ngerti pak ngerti".
"Bagus, lanjutkan pekerjaan kamu".
"Kopi buat pak Arsya??" Tanya Wafa.
"Tidak usah, tadi saya sudah buatkan. Jam sepuluh dan menjelang pulang baru kamu yang buatkan"
"Siap pak".
Setelah kepergian Reno dari ruangannya, Wafa kembali duduk dan mulai mengerjakan pekerjaannya. Memindahkan semua jadwal Arsya ke dalam tabletnya.
PENCET SEMUA TOMBOL DI AKHIR BAB GUYS....