Bekerja dengan boss yang lebih muda darimu, membuatmu merasa harus lebih dihormati? Tidak dengan boss satu ini. Dia lebih dingin dari sebongkah es batu.
Indira Pertiwi, perempuan 30 tahun yang berstatus janda dengan anak satu. Ditinggal mati oleh suaminya karena penyakit kronis. Mencari pekerjaan demi menghidupi dirinya sendiri dan anak satu-satunya.
Bertemu dan bekerja dengan Boss yang lebih muda dari dirinya serta mempunyai sifat yang dingin, membuat Indi menghadapi banyak hal setelah resmi bekerja di perusahaannya. Demi pekerjaan, Indi bertahan dalam keadaan tersebut. Sampai suatu saat ada benih-benih rasa tumbuh di antara mereka.
Bagaimana kisah dari seorang Indira? Apakah pada akhirnya Indi akan bahagia saat menjalin hubungan dengan seorang Arya Wijaya?
Ikuti terus alur ceritanya. Dukung author dengan like,komen,vote n giftnya ya. Tank you readers 🤗❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeKha_chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Ayo Berteman
Setelah seharian melihat mood Bossnya naik turun, akhirnya Indi pulang ke rumah. Indi sedang memasak untuk makan malam, ketika pintu rumahnya diketuk.
"Evan, tolong bukain pintu," pinta Indi pada Evan yang sedang menonton tv.
Indi menata masakannya di meja makan.
"Siapa yang ketuk pintu sayang?" tanya Indi menghampiri Evan di pintu depan.
"Malam, Indi," sapa tamu yang datang, ternyata adalah Arya.
"Malam Ar, ada apa ya?" tanya Indi polos.
"Gak ada apa-apa. Pengen mampir aja, baru dari kantor," kata Arya tersenyum.
"Silahkan masuk Om, duduk dulu," Evan mempersilahkan Arya duduk.
"Oiya, masuk dulu," Indi merasa malu, membiarkan tamunya berdiri di depan pintu.
"Sorry, kalau ganggu," Arya duduk di ruang tamu.
"Hehehe, enggak kok," Indi tersenyum kaku. Dia tidak berharap Arya datang ke rumahnya hanya untuk main. Apalagi dia sekarang hanya memakai kaos oblong dan celana jeans selutut.
"Kamu lagi ngapain?" tanya Arya melihat ke arah Evan yang sedang menonton tv.
"Tadi habis masak buat makan malam," Indi masuk ke dapur mengambil minuman, lalu meletakkannya di meja tamu.
"Ya udah, aku pulang dulu deh," Arya meminum minumannya sampai habis.
"Loh, gitu aja," Indi bingung dengan kelakuan Arya.
"Iya, cuma pengen mampir aja," kata Arya, beranjak dari duduknya.
"Om, ikut makan malam aja sekalian," kata Evan, masih sambil nonton tv.
"Om, makan di rumah aja Van," kata Arya lalu keluar rumah, Indi mengikuti.
"Hmm, bener 'gak mau makan malam sekalian?" tanya Indi ragu.
"Iya, makan di rumah aja. Makasih udah nawarin," Arya tersenyum manis.
"Astaga, ini kenapa senyumnya bikin panas dingin gini," Indi membatin.
"Pulang dulu ya, Ndi," pamit Arya.
"Hati-hati," Indi melambaikan tangan, lalu menghembuskan nafas lega.
Lama-lama, Indi merasa bisa jantungan kalau tiap hari lihat senyum Arya dan kelakuannya yang beda dari biasanya.
Pov Arya.
"Gue ngapain tadi ke sana sih," Arya tersenyum geli, sambil menyugar rambutnya ke belakang.
Arya masih dalam perjalanan, ketika dia sadar dengan kelakuannya yang 'gak jelas itu. Senyuman terus mengembang di bibir Arya, sampai tiba di rumahnya.
"Lo kenapa Kak, senyum-senyum gitu?" tanya Arini yang memperhatikan Arya, dari waktu masuk ke rumah.
"Kepo," Arya menjulurkan lidahnya. Bwlee.
"Mamaaaa, Kak Arya nih," teriak Arini, membuat Mamanya keluar dari kamarnya.
"Kenapa sih?" tanya Mama berkacak pinggang.
"Tuh, kak Arya Mah," kata Arini menunjuk Arya yang terus berjalan ke kamarnya di lantai 2.
"Arya," panggil Mama.
"Kenapa Mah?" Arya menengok dan tersenyum seperti biasanya.
"Kak Arya 'gak kenapa-napa kok," Mama jadi bingung sendiri.
"Arya ke kamar dulu Mah," Arya langsung berjalan kembali, tapi menjulurkan lidah lagi ke arah Arini.
"Kak Aryaaaa," Arini teriak karena diledekin. Arya tertawa terbahak.
Mama hanya menggelengkan kepala, melihat kelakuan kedua anaknya.
Satu minggu berlalu. Arya masih suka marah 'gak jelas, senyum 'gak jelas, dan yang paling 'gak jelas adalah kelakuannya. Arya suka datang ke rumah Indi tanpa alasan yang jelas. Seperti halnya malam ini, malam minggu alias weekend. Arya sudah berdiri di depan pintu rumah Indi.
Tok..tok..tok.. Arya mengetuk pintu. Tak lama, pintupun terbuka.
"Malam Evan," sapa Arya pada Evan, yang membukakan pintu.
"Malam Om, masuk Om. Mama lagi di kamar," Evan mempersilahkan Arya masuk. Sudah tidak kaget bagi Evan, kalau Arya datang ke rumahnya.
"Bentar, Evan panggilin Mama ya Om," Evan lalu pergi ke kamar Indi. Arya hanya mengangguk dan tersenyum.
Evan lalu ke ruang tamu bersama Indi. Indi baru saja mandi, dan bersiap mau mengajak Evan jalan-jalan. Tapi tamu yang tidak diundang dan sering datang ke rumahnya itu, kini duduk santai di ruang tamunya.
"Hai, Indi," sapa Arya tersenyum manis.
Indi masih saja belum terbiasa dengan senyuman manis Arya. Jantungnya masih suka berulah.
"Ngapain Ar?" tanya Indi.
"Gak boleh main ya," Arya sedikit kecewa mendengar pertanyaan Indi.
"Boleh sih, udah biasa juga kamu tiba-tiba nongol," Indi sedikit tersenyum. "Tapi, aku mau pergi sama Evan," kata Indi, duduk di depan Arya.
"Pergi ke mana? Aku temenin ya, ikut kalian jalan," kata Arya dengan semangat.
"Iya Mah, ajak Om Arya aja. Jadi rame," kata Evan sedikit memohon.
"Okelah, tunggu Mama ambil tas dulu ya," kata Indi mengusap kepala Evan.
Indi pergi ke kamarnya dan mengambil tas. Dia bingung dengan semua ini. Dia harus bersikap seperti apa. Indi keluar lagi dan melihat Arya sedang bercanda dengan Evan. Evan kelihatan senang dan tertawa lebar. Begitupun dengan Arya. Baru kali ini, Indi melihat Arya tertawa lepas. Seperti bukan Arya, si Boss yang dingin.
"Udah, yuk kita berangkat," suara Indi membuat Arya menoleh.
"Mau kemana kita?" tanya Arya pada Indi.
"Ke pasar malam, ada di dekat alun-alun kota," kata Indi memakaikan Evan jaket.
"Wah, kayanya asik tuh," kata Arya berbinar.
"Om pernah ke pasar malam?" tanya Evan pada Arya.
"Belum pernah, makanya Om penasaran."
Setelah semua siap, Arya melajukan mobilnya ke alun-alun kota. Baru hari ini dia pergi jalan-jalan di waktu malam minggu. Jalanan lumayan padat, dia harus ekstra sabar.
Setelah menempuh 30 menit perjalanan karena macet, akhirnya mereka sampai di pasar malam. Arya menggendong Evan, karena takut Evan hilang.
"Turunin aja Ar, dia berat loh," kata Indi melihat Evan digendong Arya.
"Gak apa Ndi, rame gini, takut dia hilang," Arya tersenyum melihat Evan.
Hati Indi tiba-tiba menghangat. Tapi Indi cepat-cepat menepis perasaan itu.
"Mah, Evan mau naik kuda putar dong," kata Evan di atas punggung Arya.
"Ya udah sayang, kamu turun dulu deh. Kasihan Om Arya," kata Indi memegang tangan Evan.
"Om, turunin Evan," pinta Evan.
"Oke anak ganteng," Arya membungkuk dan menurunkan Evan.
Evan sudah berada di atas kudanya. Dia naik sendirian. Indi dan Arya berdiri di samping permainan tersebut. Indi terus tersenyum melihat putranya yang tertawa senang. Arya melihat senyuman Indi dan dia ikut tersenyum.
"Indi," panggil Arya, tanpa melepas pandangan matanya.
Indi menoleh karena dipanggil dan matanya langsung bertaut dengan mata Arya. Indi cepat-cepat memalingkan matanya.
"Kenapa Ar?" tanya Indi sambil celingak celinguk gugup.
"Aku mau jadi teman kamu," kata Arya. Dan berhasil membuat Indi melongo.
"Maksud kamu Ar? Kita kan memang teman satu kantor. Kamu Bossnya, aku bawahan kamu," kata Indi melambaikan tangannya pada Evan.
"Aku mau jadi teman kamu yang lain. Teman berbagi cerita. Teman berbagi keluh kesah. Teman berbagi kesedihan. Teman berbagi segalanya," kata Arya serius.
"Tapi Ar, aku ... " belum selesai bicara, Evan sudah menghampiri dan memeluk pinggang Indi.
"Seneng sayang?" tanya Indi. Evan mengangguk mantap.
"Evan mau naik apa lagi?" tanya Arya pada Evan sambil mencubit hidung Evan.
"Evan mau naik pesawat itu Mah," Evan menunjuk pesawat yang digantung dan diputar dengan perlahan.
"Ya udah, ayo," Indi menggandeng tangan Evan.
Setelah Evan menaiki wahana pesawatnya, Arya langsung menatap Indi. Indi yang ditatap seperti itu, jadi salah tingkah.
"Aku serius mau jadi teman kamu Ndi," kata Arya tegas dalam suaranya.
Indi menghela nafas dalam. "Oke, kita berteman," kata Indi tersenyum pada Arya.
Arya langsung jingkrakan gak jelas dengar pernyataan Indi.
"Dasar bocah," kata Indi geleng-geleng kepala.
"Apa kamu bilang?" kata Arya melotot tajam. Dia tidak suka dikatai bocah, oleh siapapun.
"Kamu bocah," Indi tertawa melihat respon Arya.
"Aku tahu aku imut emang," kata Arya menyombongkan diri. Dia tidak jadi marah karena melihat Indi tertawa lepas. Indi hanya menggelengkan kepalanya.