Tiga tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Alya bertahan hanya karena menghormati wanita yang telah menyatukan mereka.
Namun, tepat setelah sang nenek meninggal dunia, suaminya menjatuhkan talak dan mengakhiri hubungan yang selama ini hanya dianggap sebagai kewajiban.
Dengan satu kaki palsu dan hati yang hancur, Alya meninggalkan rumah yang tak pernah benar-benar menerimanya. Ia tak menyadari bahwa di dalam rahimnya sedang tumbuh kehidupan baru.
Saat dunia seolah menutup semua pintu untuknya, Alya memilih bertahan demi seorang anak yang bahkan belum lahir. Anak itu ia beri nama Senja.
Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang berjuang melawan keterbatasan, kesepian, dan kerasnya kehidupan. Sebab bagi Alya, Senja bukan sekadar anak. Senja adalah alasan mengapa ia terus hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Porsi Sate Kambing.
Dewa menahan nafas kasar entah kenapa setiap kali bertemu wanita itu kesabarannya selalu diuji. Suasana sudah nampak lenggang pengendara yang tadi sempat berhenti karena terkejut dengan insiden kecil itu, kini mulai meninggalkan tempat sehingga jalan kembali normal. Tapi tidak dengan hati pria itu.
Ia sedikit menyeret lengan Alya agar wanita itu mengikutinya.
"Kamu mau bawa aku kemana?" tanya Alya.
"Ke mobil," sahut Dewa datar.
"Gak mau!" tolak Alya dengan suara lantang.
"Gak mau?" ulang Dewa. "Setelah yang terjadi barusan kau tetap gak mau pulang, apa memang kau senang buat orang khawatir," pungkasnya.
Alya hanya menunduk. "Maaf merepotkan tapi aku masih belum mau pulang."
"Lalu?"
Wanita itu tidak menjawab tapi tatapannya tertuju pada gerobak kecil di seberang jalan sana, Dewa yang menyadari akan hal itu ia langsung menarik tangan Alya kembali.
"Kamu lapar?" tanyanya.
"Tidak... aku hanya ingin makan sate kambing saja," sahutnya pelan. "Entah kenapa dari tadi aromanya bikin aku pengin."
Dewa menatap Alya beberapa detik. Lalu menatap gerobak sate kemudian kembali menatap Alya.
"Karena itu kau hampir ditabrak?"
Alya menunduk semakin dalam. "Maaf."
Meskipun dalam keadaan kesal entah kenapa mendengar ucapan Alya yang menginginkan sate hatinya mudah tersentuh. Ia paham betul jika wanita dihadapannya itu sedang berbadan dua, biasanya wanita hamil akan mengalami masa ngidam. Bisa saja sekarang Alya sedang berada di fase itu.
Tanpa banyak bicara Dewa langsung menyebrangi jalanan sambil memegang lengan Alya, dengan hati-hati sehingga perjalanan menuju warung sate aman terkendali. Alya hanya mengikuti langkah kaki di depannya itu tanpa banyak bicara.
Sesampainya di gerobak sate Alya duduk di bangku plastik sementara Dewa berdiri menghampiri akang satenya.
"Bang sate tiga porsi ya," ujarnya.
Alya tertegun, matanya langsung membulat sempurna. "Hah! Tiga porsi."
"Katanya kamu mau makan sate," sahut Dewa.
"Tapi gak harus tiga porsi," protesnya.
"Sudah gak apa-apa ini permintaan anakmu," ucap Dewa.
Tak lama kemudian beberapa ibu-ibu yang sedang makan di sana mulai memperhatikan mereka, sebagian dari mereka ada yang mengira jika keduanya merupakan sepasang suami istri.
"Wah beruntung ya Mbak."
Alya menengok ke sebelah. Ibu itu tersenyum ramah.
"Suaminya perhatian sekali."
Alya langsung membeku. "Eh bukan Bu...."
"Kalau saya dulu ngidam sate begini, suami saya malah pura-pura tidak dengar."
Beberapa orang tertawa sedangkan Alya hanya tersenyum kaku, ia pun mulai mengingat masalalu.
"Suami," gumam Alya lirih.
Refleks wanita itu mengelus perutnya yang rata. Entah kenapa ia sedikit murung setelah mendengarnya. Mungkin Alya berkaca pada diri sendiri. Bahkan hingga saat ini ayah dari janin yang dikandungnya tidak tahu sama sekali jika benihnya tengah tumbuh apalagi menyaksikan momen-momen ngidam seperti ini.
Dewa yang baru selesai memesan sate langsung menghampiri dan duduk dihadapan Alya. Pria itu menelisik seolah menyadari perubahan wajah Alya yang nampak murung.
"Kamu kenapa?"
Alya hanya menggeleng pelan. "Gak apa-apa," sahutnya sambil menahan air mata yang hendak turun membasahi pipi.
"Kamu nangis?" tanya Dewa.
Alya segera menggelengkan kepalanya. "Tidak."
"Tapi air matamu jatuh di meja," sahut Dewa.
Alya mendengus kesal, ternyata selain menyebalkan cowok di hadapannya itu usil juga. "Apa sih orang tidak nangis."
"Bagus," ucapnya sambil menatap dalam wajah Alya. "Jadi perempuan gak boleh lemah, hanya karena perkataan seseorang yang menyinggung masalalu. Hidupmu saat ini sangat berharga bagi anakmu bukan bagi orang yang tidak peduli denganmu," imbuhnya sambil mengangkat tipis sudut bibirnya.
Alya terdiam. Kalimat itu sederhana, tetapi entah mengapa menghantam tepat ke relung hatinya. Perlahan ia menundukkan kepala, menyembunyikan mata yang kembali memanas.
"Terima kasih," bisiknya lirih.
Lalu tidak lama kemudian sate yang di pesan tadi datang juga memenuhi meja di depan Alya. Dewa yang tidak mau melihat wanita itu terus bersedih dengan cepat ia mendorong piring sate ke arah Alya.
"Makan. Keburu dingin."
Alya mengangguk. Tangannya bergerak cepat meraih piring itu. Seporsi sate kambing membuat matanya berbinar. Asap hangat yang mengepul langsung menyapa indra penciumannya.
Perlahan ia menyantap satu tusuk sate, lalu mengunyahnya dengan nikmat, ternyata daging kambing tidak bau prengus yang ia kira. Rasa gurih dari bumbu yang meresap seakan menghapus sesak yang sejak tadi mengganjal di dadanya. Wajah murungnya perlahan berubah cerah, bahkan senyum kecil mulai menghiasi bibirnya saat menikmati makanan di hadapannya.
"Mau nambah lagi," ujar Dewa ketika tahu satu porsi di piring Alya sudah habis.
Alya tersenyum malu-malu lalu perlahan menganggukkan pelan. "Iya."
"Makan lagi saja," ujarnya.
Tanpa menunggu lama Alya langsung meraih piring keduanya, rasanya masih sama daging kambing yang empuk membuat lidahnya tidak mau berhenti mengunyah.
"Dulu aku pikir sate kambing itu bau Mas," ucap Alya sambil menikmati makanannya.
"Memang kalau cara memasaknya kurang tepat kambing akan bau prengus," sahut Dewa.
"Iya sih, dan menurutku ini sate kambing pertama yang enak," imbuh Alya.
"Kalau kamu suka nambah lagi ya," ujar Dewa.
Alya terkejut hampir saja ia terdesak sate yang ia punya. "Gak usah ini saja masih belum habis."
"Siapa tahu sebentar lagi kamu habiskan juga," kata Dewa.
"Nggak usah. Dua porsi saja sudah cukup, sisanya boleh aku bawa pulang," pinta Alya.
"Terserah. Yang penting nanti anakmu jangan sampai ngambek karena keinginannya tidak dituruti."
Begitu kalimat itu keluar, Dewa langsung berdeham pelan. Ia sendiri heran kenapa bisa ikut memikirkan hal-hal seperti itu.
Alya menoleh dengan senyum tipis. "Mas perhatian juga ya sama anakku."
Dewa langsung mengalihkan pandangan. "Jangan salah paham."
Alya justru terkekeh kecil. Tangannya lalu mengusap perutnya yang masih datar. "Senja, dengar ya. Hari ini Om Dewa baik sekali. Sampai membelikan kita tiga porsi sate kambing."
Senyum Alya semakin mengembang. "Jadi nanti jangan rewel dan jangan bikin Mama ngidam lagi."
Selesai makan keduanya mulai beranjak dari duduknya, Dewa menggandeng tangan Alya bukan karena ada maksud lain. Tetapi karena ia begitu khawatir jika perempuan itu akan bertingkah ceroboh lagi.
Sesampainya menyebrang di jalan raya tiba-tiba saja tatapan Dewa jatuh pada sepatu selop Alya. Sepatu yang sama digunakan kemarin.
"Besok pulang kerja kamu gak tunggu aku ya, jangan jalan sendiri sebelum aku datang," ucapnya tiba-tiba.
"Memang kenapa?"
"Sudah nurut saja."
Alya tidak menunjukkan tanda-tanda protes meskipun di dalam hatinya bertanya-tanya. Ia pun segera masuk ke dalam mobil karena hari sudah menjelang malam.
☘️☘️☘️☘️
Malam mulai larut, di dalam sebuah kamar yang megah Arlan nampak terlelap, akan tetapi sudut wajah pria itu nampak tidak tenang di dalam mimpi ia bertemu dengan seseorang yang begitu ia sayang dan segani.
Di sebuah taman yang dipenuhi dengan bunga-bunga cantik Nek Ratih duduk termenung. Wajahnya nampak murung dan sedih entah apa penyebabnya.
Arlan perlahan mendekati akan tetapi benaknya itu tidak meresponnya sama sekali meskipun ia sudah memanggilnya beberapa kali.
"Nek ... Nenek ...," panggilnya.
Nek Ratih masih bungkam sorot matanya mengeras seolah menahan amarah pada seseorang. "Nenek marah ya?" tanya Arlan hati-hati.
Perempuan itu mendongakkan pandangannya lalu berkata dengan tegas. "Nenek gak marah. Nenek hanya merasa kecewa terhadap orang-orang yang Nenek perjuangkan, ternyata begitu cepat mereka melanggar janjinya, dan membuang begitu saja orang yang aku sayang."
Arlan masih mencerna perkataan neneknya itu namun ia tidak berani untuk bertanya.
"Nenek kecewa padamu Arlan pada mamamu juga, Nenek merasa dikhianati oleh darah daging Nenek sendiri, bahkan kamu sendiri meremehkan pilihan Nenek dan lebih memilih perempuan itu!"
Duar!
Suara hujan dan kilatan petir yang bersahutan membangunkan tidurnya. Arlan terkejut begitu menyadari ia sedang bermimpi bertemu mendiang neneknya.
Pria itu memeluk selimutnya erat keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. Ia masih mengingat jelas kemarahan Nek Ratih di dalam mimpinya itu.
"Tidak ... tidak mungkin Nenek marah itu hanya mimpi biasa," ucapnya mencoba untuk mengelak.
Bersambung .....
Selamat pagi semoga suka ya