NovelToon NovelToon
BERBEDA

BERBEDA

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Romansa-Percintaan bebas / Komedi / Indigo / Teen School/College / Tamat
Popularitas:43.5k
Nilai: 5
Nama Author: DES_Putri:)

"Lo itu kurang kerjaan atau gimana sih, hah?!."

"Lah ini lagi kerja..."

"....Ngerjain Senior maksudnya."

"Berani banget yah lo sama Senior!."

"Ya, lebih baik berani didepan dari pada dibelakang ngomongin...Sorry, Varo nggak serendah itu orangnya."

♡♡♡

"Kita berada di iman yang berbeda. Di amin yang berbeda pula. Sungguh ironis my love story."
-Alvaro Genandra

"Antara tasbih yang kugenggam dan salib yang ada dilehermu. Antara adzan yang berkumandang dan lonceng yang berdentang. Dan, dari sanalah perbedaan antara kita yang tak akan pernah bisa bersatu."
-Zoya Prameswari

"Yang seagama aja berat, apalagi yang beda. Gobloknya temen gue itu masih aja diharapin."
-Reihan Aditama

♡♡♡

#familyship
#brothership
#friendship
#kisahremaja
#bedaagama
#cintaterlarang

Semoga suka🤗 Jangan lupa Like & Komen sebagai pembaca yang budiman😊


Dan untuk my Bestie, tolong kalau tahu cerita ini jangan dibaca. Sekali lagi jangan dibaca, terima kasih🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DES_Putri:), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chap 8 (Dia lagi)

...Ada dua tipe manusia didunia ini. Manusia yang tertawa karena bahagia, dan manusia yang tertawa karena menutupi luka....

Bola hitam pekat itu masih menatap penuh binar sosok dihadapannya. Hingga detik berlalu membuat keduanya mengalihkan pandangan satu sama lain saat suara derap langkah memecah hening yang sempat tercipta.

Segerombol orang dengan pakaian serba hitam keluar dari dalam rumah bertingkat. Sejenak, cowok berambut gondrong itu berhenti hanya sekedar diam ditempat, menatap kedua orang yang tak lain Zoya dan Varo bergantian. Hingga manik matanya saling terkunci dengan netra coklat milik Zoya. Entah kenapa, Zoya melihat sesuatu didalam sana. Siratan yang memancarkan bumerang. Tidak ada damai didalamnya.

Deruman motor seketika menguar diudara. Tatapan heran dari Varo melepas kepergian segerombol orang-orang itu. Sampai atensinya teralihkan oleh suara tinggi disampingnya.

"Lo ngapain disini?!."

Sebelum menjawab, Varo tersenyum menampakkan deretan giginya yang terlihat rapi. "Mau ketemu Bang Arex. Kalau Kak Zoya ngapain disini?."

"Bukan urusan lo!"

Mata Zoya memicing, menatap Varo lekat-lekat sampai suara tingginya kembali membuat Varo memundurkan badannya. "Jangan bilang lo mau ikut Warios, ya?!."

"Ya ampun kak sellow aja. Ngegas mulu dari tadi,"balas Varo sembari mengelus dadanya.

Zoya menarik napas dalam lalu mengembuskannya perlahan. Sepertinya, asumsi yang dia pikirkan ketika mendengar perbincangan Varo dan Arex waktu itu dilapangan benar adanya. Bahwa Varo ingin masuk Organisasi persilatan yang termasuk ilegal itu. Organisasi yang dibangun Arex itu diberi nama Warios. Banyak kumpulan organisasi seperti itu, yang sebenarnya tak patut disebut organisasi jika saling bermusuhan diatas ring. Dan itu yang paling Zoya benci, saling menunjukkan kekuatan mereka diatas ring tanpa adanya keamanan yang menjamin.

"Udahlah nggak usah ngalihin pembicaraan. Jawab aja! Lo mau masuk Warios, kan?!."

"Iya, bener."

Zoya mendelik, menatap heran Varo  yang menjawab begitu entengnya. "Nggak! Lo nggak boleh ikut geng nggak jelas kayak gitu. Jangan ngikut Arex, dia otaknya miring. Nggak patut lo tiru! Gue sebagai senior lo yang lebih tahu dunia SMA kayak apa, mending nurut aja. Dari pada lo kejerumus pergaulan yang salah."

Zoya membuang napasnya kasar setelah bicara begitu banyaknya. Sedang dari kejauhan, sepasang mata menatap mereka berdua. Hingga suaranya mematahkan niat Varo yang ingin membalas ucapan Zoya.

"Varo!," teriak Arex sembari memberi isyarat agar dia mendekat.

Sebelum beranjak mendekat, Varo melirik Zoya yang menatapnya tajam. "Ada apa Bang?," ujar Varo setelah berdiri tepat didepan Arex.

"Gue ada urusan. Tolong antar Zoya kerumah gue, bisa kan?."

"Loh, terus gue nggak jadi latihan sekarang?," tanya Varo menunjuk dirinya sendiri.

"Besok aja."

"Tadi, mereka siapa Bang?."

Arex diam sejenak. Baru saja ingin membuka suara, tapi intruksi dari belakang membuat kedua orang beda generasi itu menoleh.

"Nggak usah ajak-ajak bocil masuk geng lo yang nggak jelas deh, Rex."

"Udah banyak masalah yang lo bikin. Bisa ringanin beban Tante Siska, kan?," lanjut Zoya.

Arex tersenyum miring. Membalas tatapan Zoya yang tak kalah tajam. "Urusannya apa sama lo, gue tanya?!."

"Gue nggak ngajak dia gabung. Dia sendiri yang minta!," lanjut Arex.

Varo meringis, menggaruk belakang lehernya sembari menatap Zoya yang juga menatapnya sengit. "Lo-."

"Nggak usah ikut-ikut urusan orang! Dia yang mau, jangan ikut campur! Mending sekarang lo ke rumah, daripada orang-orang pada nyariin," potong Arex lalu beranjak pergi setelah menepuk pundak Varo.

Kedua tangan Zoya mengepal. Giginya saling bergemelutuk. Tatapannya beralih kewajah Varo yang masih mempertahankan senyum pepsodennya.

"Wajah lo bisa di kondisikan?! Jangan senyun melulu kayak orang gila!," sentak Zoya.

"Ya tuhan galak banget sih kak. Orang senyum aja enggak boleh."

Sekian detik, Zoya menyadari ada yang salah. Sampai suara toaknya keluar membuat lemparan sarung tangan dari dalam hampir mengenai tubuhnya, jika saja tidak gesit Varo menangkapnya.

"WOY REX GUE PULANGNYA GIMANA BEGO?!."

...)(...

Rintik hujan yang semakin besar membuat tancapan gas yang dikendarai Varo melesat membelah jalanan sore yang mulai padat oleh pulangnya para pekerja. Dibelakang, Zoya menutup matanya. Berusaha menghalau terjangan angin disertai rintikan hujan yang terasa menusuk wajah.

"Kak ini masih terus?!," teriak Varo dibalik helm full facenya.

"Didepan ada gang, belok kanan!," sahut Zoya juga berteriak.

Hingga hujan mengguyur deras, motor Varo juga tepat berhenti didepan rumah Arex. Banyak keluarga Zoya yang berada diteras dan menyambut keduannya.

"Masuk aja nak. Hujannya masih deras," ujar pria paruh baya yang merupakan kakak dari ibunya Zoya.

Varo tersenyum ramah sebelum akhirnya mengangguk. Mengekor dibelakang Zoya dengan tubuh sedikit menggigil, begitu juga Zoya.

"Loh kamu kehujanan, nak?."

"Iya tan," balas Zoya singkat.

"Ini siapa? Mana Arex?,"tanya Tante Siska sambil menatap Varo yang menganggukkan kepalanya.

"Ini adik kelas Zoya tan. Namanya Varo, kalau Bang Arex masih ada urusan."

"Ya ampun tuh anak ada urusan apa lagi sih? Sok sibuk banget, nggak tahu disini lagi banyak keluarga yang dateng apa," gerutu Tante Siska yang hanya dibalas senyum tipis Zoya dan Varo.

"Ya udah kamu kekamar Arex gih! Keringin dulu badan kalian. Didalam ada handuk bersih, ambil dilemari ya Zoya."

"Iya tan, makasih."

"Permisi tante," ujar Varo.

"Iya, santai aja nak. Anggap rumah sendiri," balas Tante Siska.

Pintu kamar Arex sengaja Zoya tidak menutupnya. Dan, tidak mungkin juga dia didalam kamar bersama lawan jenis yang modelannya seperti Varo yang kurang waras itu. "Kamarnya Bang Arex rapi juga ya," ujar Varo pelan yang masih bisa didengar Zoya.

"Nih!."

Varo menangkap handuk yang dilempar Zoya kepadanya. Beberapa menit berlalu, keduanya masih sibuk mengeringkan baju juga badannya. Hingga suara berat Varo memecah hening yang tercipta.

"Ada acara apa kak?."

"Syukuran seribu harinya kakek buyut."

Varo manggut-manggut.

"Gue mau keringin rambut dulu. Lo disini aja, jangan kemana-mana, banyak orang diluar."

"Siap!," balas Varo sembari memberikan hormat.

Zoya beranjak kedalam kamar mandi yang ada dikamar itu. Setelah kepergian Zoya, Tante Siska masuk membawa nampan yang menyimpan dua teh hangat juga dua toples cemilan.

Varo berdiri dari kursi yang ia duduki. Tersenyum saat pandangan keduanya bertemu. "Zoyanya dimana nak?," tanya Tante Siska sembari menaruh nampan diatas nakas.

"Masih dikamar mandi tante."

"Ohh...Ini tante bawain teh hangat diminum ya. Biar nggak masuk angin."

"Iya tante makasih. Maaf udah ngerepotin."

"Nggak ngerepotin sama sekali. Oh..ya, kamu adik kelas atau teman sekelas Zoya?."

"Adik kelas Tan," seloroh Zoya yang berjalan keluar dari kamar mandi.

Tante Siska tersenyum penuh arti menatap keduanya bergantian. Tak lama kemudian, suaranya kembali terdengar dan membuat Zoya jengah detik itu. "Adik kelas, atau gebetan nih?."

Varo berdehem, membuat atensi keduanya fokus kepada Varo yang membalas tatapan Zoya dengan senyuman. "Apaan sih Tan. Cuma adik kelas aja kok, kenal aja juga baru kemarin."

"Iya iya, Tante ngerti kok."

"Di ajak makan tuh adik kelasnya, hm?!."

"Iya Tante," balas Zoya ogah ogahan.

Setelah Tante Siska keluar, otaknya terbesit pemikiran kenapa Varo bisa menemui keluarga besarnya disaat seperti ini. Padahal, banyak sahabat dan temannya yang tak pernah ia kenalkan kepada keluarga. Dan sekarang tanpa sengaja, Varo dengan mudah bertemu mereka.

"Kak, Varo pulang aja ya. Nggak enak disini banyak keluarga Kak Zoya," ujar Varo memecah lamunan Zoya yang sempat berlarian.

"Ekhhmm...entar dulu kalau hujannya reda."

"Minum gih!," lanjut Zoya sembari mengambil segelas teh hangat.

Suara detik jarum jam menjadi sound diantara keduanya yang masih tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga suara itu kembali masuk kedalam atensi Zoya.

"Orang tua Kak Zoya yang mana?."

Zoya menyesap tehnya sebelum membalas pertanyaan Varo. "Orang tua gue di Surabaya."

"Ngapain?."

Kedua alis Zoya menyatu, mencerna pertanyaan yang tak berbobot itu. " maksud gue, orang tua gue itu tinggal di Surabaya. Jadi, itu alasan mereka nggak ada disini! Karena masih di Surabaya!," jelas Zoya kesal.

"Loh, jadi Kak Zoya disini tinggal sama siapa?."

"Sama nenek," balasnya ringan sembari membuka toples berisi kue kering.

Ada jeda sebelum suara Varo kembali mengisi relung kosong disana. "Dua duanya di Surabaya?."

"Hhmm."

"Nenek Kak Zoya yang mana?."

"Di rumah. Nggak ikut."

"Orang tua Kak Zoya di Surabaya kerja?."

"Hmm."

"Kak Zoya anak tunggal?."

"Nggak, adik gue ikut orang tua."

"Terus Kak Zoya disini sendiri sama nenek? Sejak kapan? Kenapa nggak ikut Ortu ke Surabaya aja?"

Bukan jawaban yang diberikan Zoya, melainkan dengusan kasar lalu meletakkan kue keringnya yang tinggal separuh itu. Beralih menghadap tepat kearah Varo yang juga menatap dirinya penuh tanda tanya.

"Ternyata selain resek lo juga kepo tingkat dewa, ya?!."

"Banyak banget pertanyaan lo dari tadi," lanjut Zoya kembali mengambil roti yang sempat ia letakkan lalu memakannya.

"Heheheee habisnya nggak ada topik lain. Ya udah bahas yang ada aja."

"Jadi, gimana kak?."

"Apanya?!."

"Yang tadi, pertanyaan Varo?!."

"Ck, perlu dijawab?!."

Varo mengangguk sembari mencuil roti kering yang hendak Zoya makan. Sang empu mendelik, lalu meletakkan kembali potongan roti yang separuhnya sudah masuk kedalam mulut Varo. "Ambil sendiri dong! Masih banyak tuh," ujar Zoya dibalas kekehan Varo.

"Ya, lo nggak perlu tahu sejak kapan gue ikut nenek. Dan, ini privasi!."

"Oke-oke santai dulu kak," balas Varo cengengesan.

Hening kembali merenggut keduanya yang asyik memakan roti kering dalam diam. Sampai ingatan Zoya kembali berputar ke belakang, dimana saat ia bersama Varo didepan masjid. Ucapan Varo tentang yatim piatu waktu itu sejujurnya masih menghantui Zoya. Dan, entah kenapa sekarang waktu yang tepat untuk Zoya mengutarakan pertanyaan yang mengelilinginya sejak itu.

"Eekhhmm.."

Varo menoleh, suara deheman Zoya menaikkan satu alisnya. "Ada apa kak?," tanya Varo ketika pandangan Zoya seakan mengisyaratkan kata yang ingin diutarakan.

"Eehmm...itu, soal yang waktu itu lo bilang yatim piatu...."

"...Maksudnya, apa?."

Detik itu, Zoya menyadari perubahan wajah Varo. Juga binar matanya yang perlahan meredup. Ada retakan didalam tatapannya yang ia coba sembunyikan.

Apa gue salah ngomong ya? Batin Zoya.

Detik jarum jam membawa mereka dalam sunyi yang terasa menyekat. Ada detak jantung yang mencoba tenang. Hingga suara dentingan jarum jam yang menunjukkan pukul lima tepat mengalihkan atensi Varo sepenuhnya.

"Jam lima?!," sentak Varo sembari berdiri hingga kursi yang didudukinya terdorong ke belakang.

"Kenapa?," tanya Zoya ikut berdiri.

"Gawat kak, Varo ada bimble jam lima. Aduh kenapa lupa sih?!," cemas Varo segera mengambil jaketnya yang ada diatas ranjang.

"Mau pulang sekarang?."

"Iya, kak."

Zoya mengamati Varo yang mengenakan jaket. Juga menyampirkan tas kepunggungnya. "Tapi hujannya masih deras loh."

"Lebih baik basah kuyup dari pada kena omel."

"Ya udah tunggu bentar, gue ambilin jas hujannya Om Hendra."

"Nggak us-."

"Tunggu disini!," potong Zoya segera keluar.

Varo bergerak gusar, memandangi jarum jam yang terus bergerak. Gawat, setelah ini pasti akan ada badai.

Waktunya sedikit terbuang karena keluarga Zoya yang mengajaknya berbincang dan mencari banyak alasan agar Varo tak menerobos hujan yang cukup lebat itu. Namun, tetap saja berakhir keras kepala Varo yang ingin segera pulang. "Varo pulang dulu ya, kak."

"Makasih buat tumpangannya," lanjut Varo yang sudah diatas motornya.

"Iya, hati-hati jangan ngebut!."

Sebelum benar-benar melenggang pergi, Varo sempat mengucapkan beberapa patah kata yang membuat tubuh Zoya membeku detik itu.

"Kedua orang tua Varo udah tenang diatas sana, Kak."

...)(...

"Lo dari mana aja sih?! Lo tahu kan ada bimble jam lima, hah?!."

"Iya gue tahu, tapi sayangnya gue lupa," balas Varo.

"Terus kenapa baru pulang? Lo itu telat setengah jam loh, Var," ujar Vero yang masih setia mengamati saudara kembarnya melepas jas hujan.

Keduanya kini berada digarasi. Ruangan gelap itu serasa terisi oleh suara bisikan keduanya. "Emang gurunya udah datang?."

"Iya, dari tadi! Sebelum jam lima malah."

"Rajin amat tuh guru," balas Varo enteng.

Vero berdecak sebal. "Mama ada dirumah. Lo, pasti tahu kan kalau ada dia keadaan nggak segampang itu."

Varo menatap lekat Vero dengan cahaya remang-remang dari ventilasi. "Lo, Vero kan?!."

Pertanyaan Varo yang tak jelas itu membuat Vero membuang napasnya kasar. "Terus, menurut lo kalau bukan gue siapa?!."

"Tumben lo banyak bacot! Biasanya mah stay cool."

Sejenak, Vero terdiam. Benar juga, baru kali ini Vero terlalu banyak bicara. Tapi, sekarang masalahnya sudah berbeda. Ada dia yang selalu mengawasi gerak gerik keduanya, dan...Vero pastinya tidak mau saudara kembarnya itu terkena masalah terus terusan.

Belum sempat Varo melangkah masuk, tangannya dicekal lebih dulu oleh Vero. "Gue kayak gini cuma nggak mau lo kena marah terus, Var. Jadi plis berubah, okey?!."

"Sorry, gue nggak bisa berubah. Gue mau dapetin diri gue sendiri. Dan, gue harap lo juga gitu."

"Jangan jadi Vero yang pendiam. Jujur....gue nggak suka lo yang sekarang," lanjut Varo.

Langkah derap kaki Varo perlahan menghilang. Namun, suara Varo bagaikan kaset yang terus diputar ulang. Memenuhi pikiran Vero yang tiba-tiba melambat. Membeku.

...♡♡♡...

...HOLAP HOLAAPP👋...

...JANGAN LUPA LIKE...

...KOMEN...

...VOTE...

...SEE YOU NEXT CHAP...

...LOVE YOU ALL FRIENDS🥰...

^^^Tertanda^^^

^^^Naoki Miki^^^

1
Fadiylah19
andai aja cerita ini d lanjut😟😟😟
Dheana Rabbani Alghozy
kapan update lg author?
leeshuho
woahh ak mmpir thor slm dari North pole couple ❤️,btw bucin nya ank SMA klau di fiksi rumit batt ya😆,
leeshuho
so sad klau bda nya kek gini🤧
Ganis Khanne
kok lama sih up nya
Aprilia Desi
next Thor, jangan lupa mampir diceritaku ya kk 🤗
Echa zaaaa
Hai, yg masih setia nunggu klnjutan cerita ini, maaf ya, ini akun ku kedua, lupa sandi jadi nggk bisa masuk akun ku yg desputri

sekali lagi maaf ya nggk bisa lanjut
cry:(
mociiii
next thor 🤗
Umaymay Sifa
lama nya update🙄
Umaymay Sifa: iya ditunggu2 gak muncul2
total 2 replies
Echa zaaaa
Ini nggk lanjut? Beneran nggk mau ditamatin thor?
Umaymay Sifa
ihhh kok gak update lagi kk
Naoki Miki: Tunggu sbentar lagi ya, Kak
ini masih updte cerita sebelah 'Awan sang Biru'
total 1 replies
Fadiylah19
bentar bentar aq msih loading inih pas d akhir gmna sih mksudnya 🙄🙄aaaaahhh dripda bingung mnding lanjut lagi lah thor,,yo semangat yo✊✊✊🥰🥰🥰
Ika Sartika
ada ada aja
oom komalasari
yuch double yuch .🤩🤩 jgn lama lama Kaya nunggu di Lamar Sama ayang nya orang🥲
sya-sha
sabar y varo
Umaymay Sifa
iihhhh..... pura pura lupa ingatan... tapi lucu juga sih gk ingat sama vero dan mama miranti, tapi ingat zoya eh malah tunangan.. dasar varo modus😂😂kasihan ya varo masih belum d akui sama keluarga ny.. klo dia pindah keyakinan. semangat varo💪
Dheana Rabbani Alghozy
diih...pura² lupa😂😂

modus ke zoya itu😝

tp...varo ngelakuin itu karena denger ucapan mama miranti itu
Intan Lpg
nah kannn betull,, feeling ku varo g'bner" amnesia Dy hnya pura" ehhh beneran..🤣🤣
lagiii Thor
haa
semangat thorrr
Echa zaaaa
Sakitnya smpe sini:(
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!