Tujuh tahun menikah dan belum di karuniai seorang anak tak membuat cinta Yudistira pada Kamelia meluntur. cinta tanpa syarat dari Yudistira, telah melambungkan Kamelia ke atas awan hingga permintaan sang ibu mertua Kamelia, berhasil menjatuhkannya ke dasar lautan.
Bagaimana tidak, ibu mertuanya, meminta sesuatu yang tidak mungkin bisa ia kabulkan. seorang anak yang tidak mungkin bisa hadir di dalam rahimnya. namun ibu mertuanya, meminta hal itu dari wanita lain.
Dan yang ia juga tidak pernah tahu Yudistira memiliki rahasia besar di belakangnya.
akankah ia sanggup menerima rahasia terbesar Yudistira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusiana Anwar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bahagia karena mu
Menjadi ibu adalah impian bagi setiap wanita. Merawat, membesarkan serta menyayangi adalah hal mutlak yang di lakukan seorang ibu pada anaknya.
Begitu pula dengan ku, walau Alfin, tidak terlahir dari rahim ku Aku tetap ibu baginya. malah, dia lebih dekat dengan ku dari pada Inggrid, yang ibu kandungnya.
"Kok bisa sih, Alfin dekat banget sama kamu mbak,"
Aku tertawa melihat Inggrid merajuk, karena Alfin tidak mau di pakaikan baju olehnya.
Anak laki-laki badan gempal dan pipi bulat itu lari ke kamar ku dengan berteriak memanggil nama ku.
" Alfin, ada apa? Kenapa lari lari."
dia memelukku sambil menangis, jika Inggrid melarangnya melakukan ini dan itu.
Alfin terpaksa dilahirkan di usia kandungan yang masih tujuan bulan. sebab kejadian dua tahun silam, tubuh Inggrid tidak mampu lagi untuk pertahankan Alfin, lebih lama dalam kandungannya.
Aku bersyukur dia bisa lahir dengan selamat meskipun harus melewati masa perawatan intensif selama dua bulan di rumah sakit.
Setelah dua bulan di rawat akhirnya, kami di perbolehkan membawa Alfin, pulang ke rumah.
Tapi sebaliknya, kondisi Inggrid, butuh waktu beberapa bulan setelah Alfin, di izinkan pulang.
Aku juga tidak mengerti apa penyebab hingga Inggrid, harus di rawat begitu lama di rumah sakit.
Setahuku, operasi Caesar tidak akan butuh waktu selama itu untuk pulih seperti sedia kala.
Tak apalah yang penting mereka baik baik saja sekarang.
Mungkin sebab itulah Alfin, menjadi dekat dengan ku.
kejadian yang menimpa Inggrid, tidak lepas dari keteledoran ku. aku merawat Alfin, kecil dengan sepenuh hati sebagai penebusan kesalahan ku pada Inggrid.
Kemarahan mas Yudis, kepadaku waktu itu masih membekas di relung hati.
"Jika terjadi sesuatu pada Inggrid dan anakku, aku tidak akan memaafkan mu,"
Masih ku ingat betul ucapan nya saat itu. Wajahnya benar-benar menyiratkan kemarahan. bahkan, dia tak segan mengacungkan telunjuknya padaku.
Salah ku karena memaksa Inggrid ikut bersama ku. hingga kejadian itu menimpa Inggrid. aku juga tidak pernah mencari tahu kenapa Inggrid, bisa sampai terjatuh dari tangga.
Yang lebih membuat ku sakit, mas Yudis, tak mengijinkan aku masuk kedalam ruangan Inggrid waktu itu.
Dia tak mau sesuatu terjadi pada Inggrid, lagi karena aku. Begitu katanya.
Biarlah, aku tidak bisa merawat Inggrid, menjaga dan melihatnya dari kejauhan itu sudah cukup bagi ku.
Aku akan tetap berjaga di sini, di lorong panjang rumah sakit ini. lorong ini lah saksi bisu kepedulian ku kepada Inggrid.
Entah mengapa malam itu terasa sangat dingin di bandingkan malam malam sebelumnya.
Aku tidur meringkuk di lorong, beralaskan tikar tipis yang ku pinjam dari sesama keluarga pasien yang menunggu.
Tubuhku ku menggigil hingga mulut ku bergetar karena menahan dingin.
Walau mataku terpejam aku masih bisa merasakan sesuatu yang hangat menimpa tubuhku.
Dan ketika terbangun di pagi hari, aku mendapati tubuhku terbalut selimut.
"Ini punya emak?" Tanyaku pada sesama keluarga pasien yang meminjamiku tikar.
"Bukan, semalam suami kamu yang kasih," jawabnya sambil tersenyum.
Apa benar mas Yudis, memberikan selimut pada ku.
Aku melupakan kejadian semalam, nyatanya seharian ini sikapnya tetap dingin pada ku.
Dan malam harinya, aku kembali membentangkan tikar di lorong itu.
Oh ya, kali ini aku sendiri karena anak emak, yang bersama ku sudah di izinkan pulang. Dan emak, meninggalkan tikar nya untuk ku pakai.
Aku duduk bersandar di dinding dengan kaki selonjoran lalu memainkan gawai ku. Aku mendongak saat seseorang duduk di sebelah ku.
"Apa kamu marah padaku?" kata mas Yudis, pandangannya lurus kedepan.
Aku mengernyit menatapnya kemudian tersenyum.
"Katakan, apa yang harus membuat aku marah,"
" Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu padamu. aku panik dan khawatir jika terjadi sesuatu pada Inggrid dan anakku,"
dia menoleh padaku.
" Aku mengerti, ini salahku. seharusnya aku yang meminta maaf,"
"kamu tidak salah, ini sudah takdir. aku telah di buta kan oleh kemarahan,"
Aku menggeleng lalu tersenyum. Detik itu juga dia memelukku dan menangis. aku bisa dengar isakannya. aku tepuk punggungnya agar dia tenang.
kemudian dia menuntunku masuk ke dalam kamar rawat Inggrid. Aku menolak karena takut sesuatu yang buruk akan menimpa Inggrid kembali.
"ini bukan salah mu, aku mohon maafkan aku yang telah menyalahkan mu. aku lupa karena siapa Inggrid, berada di sisiku,"
Dia menatapku dan sekali lagi meminta maaf dengan mata berkaca-kaca. Aku tidak pernah melihat Yudistira, selemah ini. yang aku tahu selama ini dia adalah orang yang tegar.
Setelah melihat keadaan Inggrid, dia kembali menuntun ku kesebuah ruangan yang letaknya tidak jauh dari kamar Inggrid.
Aku melihat jendela kaca yang luas, menampakkan bayi bayi mungil yang sedang tertidur di dalam sana.
kami menggunakan pakaian pelindung lengkap. berjalan mendekati salah satu bayi yang terlelap dalam kotak kaca bening.
Perih, bagai luka yang tersiram air garam melihat bayi mungil dengan beberapa alat menempel di tubuhnya. aku bisa merasakan betapa menderitanya bayi itu di dalam sana.
"Dia, belum punya nama," mas Yudis, berjongkok di depan kaca inkubator menatap bayi di dalamnya, "Maukah kau memberikan nama untuknya?"
Tangisanku ku pecah saat mas Yudis, mengatakan itu. lalu aku mengangguk kemudian ikut berjongkok di sampingnya. mengusap kaca yang menampakkan wajah mungil bayi itu.
Aku menatapnya, "A-l-fin," kataku terbata.
" Nama yang bagus," mas Yudis, tersenyum.
"kau bisa dengar itu, bunda memberi mu nama Alfin, apa kau suka?"
Aku tersenyum, saat dia berbicara pada bayi itu seolah bayi itu sudah mengerti.
Kebahagiaan ku tak berlangsung lama. setelah Inggrid sadar aku melihat kasih sayang dan perhatian mas Yudis, pada Inggrid, begitu besar. mereka terlihat seperti keluarga yang sempurna. rasa cemburuku kembali menyeruak.
Aku menghindari mereka dengan menyibukkan diri di toko dan akan pulang larut malam.
Namun, usaha ku menjauh dari mereka tak bertahan lama. nyatanya Mas Yudis, selalu melibatkan aku dalam setiap tumbuh kembang Alfin, selama dua tahun belakangan ini.
Walaupun terlahir prematur tapi tingkat kecerdasan Alfin, tak kalah dari anak anak yang terlahir normal. Tak jarang kami di buat kelimpungan dengan tingkah nya.
"Alfin, no no no. Jangan di berantakin mainannya,"
Aku tersenyum melihat interaksi Alfin dan Inggrid, yang lebih mirip Tom and Jerry menurutku.
Jika sudah seperti itu pasti Alfin akan berlari dan mengadu kepada ku sambil menangis.
"Alfin, kenapa nangis?"
"Bunda jahat Alfin, gak boleh main,"
Aku menghapus air matanya kemudian mengecup kening nya.
"Alfin mau ikut bunda milea, ke toko?" dia mengangguk.
"Jangan di manjain mbak, nanti kebiasaan dia,"
Inggrid berjalan mendekati kami sambil menyilang kan kedua tangannya di dada.
" Gak papa Nggrid dia kan masih kecil, belum tahu artinya manja," Aku tersenyum pada Inggrid. Lalu menggendong Alfin.
Aku berharap kehadiran Alfin, perlahan akan mengikis luka di hati yang terlanjur dalam.