NovelToon NovelToon
Suami Dinginku

Suami Dinginku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Cintamanis / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 — Tekanan Akad

Pagi itu, udara di rumah Biantara terasa lebih berat dari biasanya.

Bukan karena cuaca, tetapi karena sesuatu yang tidak diucapkan oleh siapa pun di ruang tamu itu. Sesuatu yang menggantung di antara tatapan, jeda percakapan, dan ketenangan yang dipaksakan.

Diara duduk dengan sikap rapi seperti biasa.

Abaya hitamnya jatuh sempurna, jilbab navy menutupi kepalanya dengan elegan. Wajahnya tenang, terlalu tenang bahkan untuk seseorang yang pikirannya sedang tidak berada di tempat yang sama dengan tubuhnya.

Di seberangnya, Kinnas duduk dengan tangan saling menggenggam. Wajahnya lembut, tetapi ada kegelisahan yang tidak ia sembunyikan sepenuhnya.

Biantara duduk tegak di ujung sofa, tatapannya lurus, tegas seperti biasa. Namun hari ini, ketegasan itu terasa berbeda—lebih berat, lebih final.

Dan di kursi seberang ruang itu, Aishani dan Idrissa hadir bersama Jifan Artha Syahrezan.

Seperti biasa.

Pria itu duduk dengan posisi yang sama seperti pertemuan sebelumnya. Jas hitam rapi, ekspresi wajah tanpa perubahan berarti, tatapan yang tidak menunjukkan keterlibatan emosional.

Seolah ia hanya hadir untuk menyelesaikan sesuatu.

Bukan untuk memulai sesuatu.

“Setelah kami berdiskusi,” suara Idrissa akhirnya memecah keheningan, “kami rasa tidak ada alasan untuk menunda lebih lama.”

Kinnas menoleh pelan.

Biantara tidak langsung bereaksi.

Diara menatap lantai.

Namun kalimat itu sudah cukup jelas.

Akan dipercepat.

Akad.

Diara sudah menduga arah pembicaraan ini, tetapi ketika kata itu benar-benar diucapkan, ada sesuatu di dalam dadanya yang sedikit menegang.

Bukan karena ia tidak siap.

Tapi karena ia sadar—tidak ada lagi ruang untuk menunda.

Aishani menambahkan dengan lembut, “Kami hanya ingin semuanya berjalan dengan baik, tidak berlarut-larut dalam ketidakpastian.”

Kinnas menatap Diara sekilas.

“Bagaimana menurut kalian?” tanyanya pelan.

Pertanyaan itu tidak hanya ditujukan kepada Diara.

Tetapi juga kepada Jifan.

Diara menarik napas pelan.

Ia tidak langsung menjawab.

Pandangan semua orang kini tertuju padanya.

Dan itu justru membuatnya merasa lebih sempit.

“Ummi…” suara Diara akhirnya keluar, pelan namun jelas, “ini terlalu cepat.”

Kinnas tidak menjawab langsung.

Biantara yang berbicara.

“Cepat atau tidak, tidak selalu ditentukan oleh perasaan kita.”

Kalimat itu tidak keras.

Tidak menekan.

Tapi cukup untuk membuat Diara mengangkat pandangannya.

Biantara melanjutkan, lebih tenang namun tegas.

“Ada keputusan yang memang harus diambil, bukan ditunda terus-menerus.”

Diara menatap ayahnya.

“Abi… ini tentang hidup.”

Biantara mengangguk kecil.

“Justru karena itu.”

Hening.

Diara merasa kalimat itu tidak memaksanya, tetapi juga tidak memberinya jalan keluar yang jelas.

Seperti pintu yang hanya memiliki satu arah.

Jifan akhirnya berbicara.

Suara itu tetap datar seperti sebelumnya.

“Tidak ada masalah dari pihak saya.”

Kalimat singkat.

Tanpa emosi.

Tanpa jeda.

Semua orang menoleh ke arahnya.

Aishani tampak sedikit lega.

Idrissa mengangguk kecil.

Biantara tetap tenang.

Kinnas menunduk pelan.

Dan Diara…

Ia menatap pria itu lebih lama dari biasanya.

Tidak ada keraguan di suara Jifan.

Tidak ada beban.

Tidak ada konflik.

Seolah pernikahan ini tidak pernah menjadi sesuatu yang perlu dipikirkan secara emosional.

Hanya keputusan yang sudah selesai di kepalanya.

“Jadi,” Idrissa kembali berbicara, “kita bisa mulai mempersiapkan akad dalam waktu dekat.”

Kinnas menghela napas pelan.

“InsyaAllah…”

Aishani tersenyum kecil.

“Semoga Allah mudahkan.”

Diara tetap diam.

Tangannya di pangkuan sedikit mengencang.

Namun wajahnya masih tenang.

Terlalu tenang.

Setelah percakapan berlanjut beberapa menit, pembicaraan mulai beralih ke teknis: tanggal, tempat, dan keluarga yang akan diundang.

Semua terdengar seperti diskusi biasa.

Namun bagi Diara, setiap kata terasa seperti lapisan yang menutup ruang geraknya perlahan-lahan.

Ia tidak sedang ditanya.

Ia sedang diarahkan.

Dan arah itu tidak memberi banyak pilihan.

Di tengah pembahasan itu, Biantara akhirnya menoleh ke Diara.

“Diara.”

Suaranya tidak tinggi.

Tapi cukup untuk membuat semua percakapan berhenti sejenak.

Diara menoleh.

“Abi ingin kamu memahami satu hal.”

Diara menunggu.

Biantara melanjutkan, lebih pelan.

“Aku tidak akan memaksamu.”

Kalimat itu membuat Diara sedikit menghela napas.

Namun sebelum harapan itu sempat terbentuk, Biantara melanjutkan lagi.

“Tapi aku juga tidak akan membiarkan kamu terus berada dalam ketidakpastian yang membuatmu sendiri tidak tenang.”

Diara terdiam.

“Abi memberikan kamu pilihan,” lanjut Biantara,

“tapi pilihan itu bukan untuk ditunda tanpa akhir.”

Ada jeda.

Biantara menatapnya lurus.

“Kamu bisa menolak.”

Kalimat itu ada.

Jelas.

Tapi tidak ringan.

Karena setelahnya, Biantara menambahkan:

“Dan kamu juga bisa menerima, jika kamu yakin ini bukan sesuatu yang buruk untukmu.”

Diara menunduk.

Dua pilihan itu terdengar sederhana.

Namun tidak terasa sederhana sama sekali.

Menolak berarti mengubah seluruh arah hubungan keluarga.

Menerima berarti melangkah ke sesuatu yang ia sendiri belum pahami.

Dan di antara dua itu, tidak ada ruang yang benar-benar aman.

Kinnas menyentuh tangan Diara pelan.

“Ummi hanya ingin kamu tenang, Nak…”

Suara itu lembut.

Tapi justru membuat dada Diara terasa semakin berat.

Sementara itu, Jifan tetap duduk tanpa perubahan ekspresi.

Seolah pembicaraan tentang masa depan dirinya sendiri bukan sesuatu yang perlu melibatkan dirinya secara emosional.

Namun ketika Idrissa menatapnya, ia mengangguk sekali.

Singkat.

“Baik.”

Hanya itu.

Satu kata.

Formal.

Final.

Diara menatapnya sekilas.

Dan di detik itu, sesuatu dalam dirinya terasa runtuh sedikit demi sedikit.

Bukan karena Jifan menolak.

Bukan karena Jifan memaksa.

Tapi karena Jifan… tidak merasakan apa pun.

Tidak ada penolakan.

Tidak ada kegembiraan.

Tidak ada konflik.

Seolah dirinya tidak cukup penting untuk menimbulkan reaksi apa pun.

Percakapan akhirnya berakhir.

Tanggal akad disepakati.

Semua berjalan dengan rapi, terstruktur, dan terlalu cepat bagi Diara.

Saat ia berdiri untuk pulang, langkahnya tetap stabil.

Wajahnya tetap tenang.

Senyumnya tetap sopan ketika berpamitan.

Namun di dalam dirinya, ada sesuatu yang tidak lagi bisa ia jaga dengan baik.

Retakan kecil yang tidak terlihat orang lain.

Yang mulai menyebar diam-diam.

Di luar rumah, udara sore menyambutnya.

Biantara berjalan di sampingnya tanpa banyak bicara.

Namun sebelum masuk mobil, Biantara berkata pelan:

“Abi tidak ingin kamu kehilangan dirimu sendiri.”

Diara menatap ayahnya.

Untuk sesaat, ia hampir berkata sesuatu.

Tapi tidak jadi.

Ia hanya mengangguk kecil.

“Diara mengerti, Abi.”

Padahal ia sendiri tidak yakin apakah benar-benar mengerti.

Di dalam mobil, Diara menatap jendela.

Pemandangan luar bergerak cepat, tetapi pikirannya justru terasa lambat.

Wajah Jifan muncul lagi di kepalanya.

Tenang.

Dingin.

Tidak tergoyahkan.

Dan untuk pertama kalinya, Diara tidak tahu apakah ia sedang menuju pernikahan…

atau menuju sesuatu yang perlahan menghapus dirinya sendiri.

1
Kaira Caem
sebentar manggil mas,. sebentar manggil Jifan.. ngantuk ya thoor🤣
Kaira Caem
tapi Diara pake hijab.. kok bilang rambut nya diikat rapi.. kadang² ngelindur ini author nya
Aiza-ra: Sorry kak, baru pertama kali nulis jadi suka ada yang typo 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!