NovelToon NovelToon
Cinta Sang Penguasa

Cinta Sang Penguasa

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Cintapertama / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:526.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: TereLiye21

Warning 21+
Dosa tanggung sendiri jika melanggar😚😚

Jonathan, seorang penguasa pemilik Asian Grup, berusaha mencari cinta pertamanya yang bernama Keynara Anastasia, untuk membalas dendam atas pembullyan yang terjadi saat masa sekolah..

Setelah beberapa tahun mencari, keduanya di pertemukan di sebuah acara pernikahan. Jonathan tidak ingin kehilangan lagi, sehingga jeratan pernikahan langsung di lilitkan kuat pada leher Nara..

Setelah pernikahan terjadi, Jonathan baru menyadari jika Nara tidak seperti dulu. Dia bukan lagi Nara yang jahat dan penuh ambisi dan berubah menjadi Nara yang polos bahkan cenderung bodoh..

Namun di balik sikap polosnya, Nara menyembunyikan sisi gelap yang mungkin akan bisa bangkit kapan saja. Sisi yang tidak di ketahui oleh siapapun tidak terkecuali Ayahnya sendiri...

Cerita ini mengandung unsur dewasa💦 Kekerasan 💢dan bahasa yang sedikit fulgar...
Harap bijak dalam membaca...

Ini karya pertamaku...
Silahkan klik ♥️, like dan share sebanyak-banyaknya..

~Tere Liye

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TereLiye21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 8

Joy mengambil obat dari tangan Nara dan membuangnya begitu saja di lantai. Nara ingin mengambilnya lagi namun Joy menghalanginya dengan menginjak obat tersebut hingga hancur.

"Aku pusing." Eluh Nara memijat kepalanya.

"Kau baru mengkonsumsinya tadi, kenapa kau minum lagi?"

"Kapan?" Joy meraih pergelangan tangan Nara dan mengiringnya untuk duduk di sofa.

" Kau pura-pura lupa?" Imbuh Joy memastikan, dia mengingat ucapan dari Pak Anto, Ayah dari Nara .

"Aku tidak pura-pura, aku benar-benar pusing."

Apa obrolan tentang reuni itu yang membuatnya pusing. Joy mengangkat kedua tangannya dan memijat lembut pelipis Nara.

"Minum obat ada aturannya, kau bisa over dosis jika tidak membaca aturan pakai."

"Enak sekali Joy..."

Deg!!!

Joy berubah menegang ketika mendengar suara Nara yang mengingatkannya pada adegan panas semalam. Nara beberapa kali menyebut itu di tengah d*sahannya. Apalagi wajah Nara kini berada di dekatnya dengan bibir setengah terbuka, itu menggodanya mengingat Joy menyukai hal seperti itu.

Joy mencoba meredam itu, dia menelan salivanya kasar seraya berpaling dari wajah Nara. Namun yang terjadi selanjutnya di luar dugaan. Nara beralih posisi dan naik kepangkuan Joy dengan melebarkan kedua kakinya sehingga membuat Joy merasa kaget.

"Begini lebih enak." Jawab Nara tersenyum tidak berdosa padahal dia langsung membangunkan cacing milik Joy.

"Turun." Pinta Joy menahan hasratnya dengan sekuat hati.

"Tidak." Entah Nara tidak tahu atau pura-pura tidak tahu tapi dia malah menekan cacing Joy yang mulai mengeras akibat rangsangan dari Nara.

"Kau menggodaku?" Suara Joy terdengar berat apalagi Nara malah melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Joy dan membenamkan kepalanya di dada bidangnya." Apa yang kau lakukan Keynara..." Protes Joy.

"Tidak perlu di pijat, begini lebih nyaman."

Ahh sial!!! Cacing ku langsung memberontak!!!

"Tapi kau..." Nara menegakkan posisi duduknya dan mengusap lembut kedua pipi Joy.

"Bolehkah aku meminta itu Joy."

"Meminta apa?"

"Itu." Nara mendekatkan wajahnya dan mengigit lembut bibir bawah Joy sehingga Joy m*ndesah lembut sebab hasratnya semakin tidak terkendali." Apa aku berhak meminta itu Joy?" Tanya Nara lagi dengan posisi bibir yang masih menempel sehingga keduanya bisa menghirup aroma nafas masing-masing.

"Siapa yang mengajarimu seperti ini?" Joy sangat senang menerima perlakuan agresif dari Nara.

"Kamu.."

"Aku tidak pernah mengajarimu." Keduanya masih saling menghirup dan Nara sengaja semakin mendekatkan bibirnya.

"Aku ingin itu ketika melihatmu Joy." Jawab Nara gamblang, Joy tersenyum mendengar kejujuran Nara yang seharusnya di tutupi oleh sebagian besar wanita.

"Hanya aku?" Joy mulai mengangkat tangannya lalu menelusupkan dan mulai meraba punggung Nara.

"Kau harus percaya jika aku hanya menginginkan ini denganmu. Kau memberikannya di malam pertama kita dan itu membuatku kecanduan." Joy juga merasakan hal yang sama namun dia tidak pernah mengungkapkannya.

Tangan Nara melingkar kuat ke leher Joy sehingga Joy semakin menunduk dan menikmati perlakuan Nara padanya.

"Kau percaya kan Joy?"

"Aku percaya." Nara kembali mengigit bibir bawah Joy sehingga Joy tidak dapat menahan dan ******* kasar bibir Nara. Joy melirik ke arah pintu yang belum tertutup dan kebetulan Andra melintas sehingga dia memanggilnya." Andra..." Teriak Joy.

"Iya Tuan." Andra menelan salivanya pelan melihat adegan yang terjadi di hadapannya.

"Kau lihat apa!!!" Nara tersenyum, dan asyik mencium sekitar telinga Joy." Tutup pintunya." Pinta Joy melanjutkan aktivitas panasnya.

"Baik Tuan." Andra menutup pintu seraya menarik nafas panjang." Astaga ternyata Nona Nara sangat agresif." Andra tersenyum dan pergi dari depan pintu kamar Joy.

Nara mengigit bibir bawahnya ketika Joy mulai asyik bermain di dua gundukan miliknya. Tangan Nara mengusap lembut rambut Joy dan sesekali menjambaknya saat Joy memainkan lidahnya, itu menandakan jika Nara ingin Joy memperdalam permainan.

"Joy... Aku..."

"Aku juga sayang..." Sahut Joy untuk pertama kalinya memanggil Nara dengan sebutan itu. Nara tersenyum dan sangat bahagia mendengarnya.

"Juga apa?" Joy hanya tersenyum dan segera membuka boxer yang dia kenakan.

"Dia ingin bertemu dengan milikmu.." Joy kembali menindih Nara lalu memasukkan cacingnya dan menggerakkannya cepat." Kenapa rasanya masih tetap sama, sempit sekali.." Milik Nara seolah memijatnya dan memberikan sensasi yang tidak pernah Joy dapatkan dari wanita manapun. Joy sudah banyak merenggut keperawanan seorang gadis namun rasanya tidak seperti milik Nara yang mulai menjadi candu untuknya.

"Lebih cepat Joy.." Pinta Nara mengusap kasar pinggang Joy.

"You are my favorite dear." Joy semakin mempercepat gerakannya hingga d*sahan Nara semakin terdengar keras. Namun Nara masih memintanya untuk mempercepat tempo gerakannya. Dengan cepat Joy mengganti posisi hingga Nara kini berada di atasnya." Lakukan sesuai kemauanmu." Nara tersenyum dan mulai menaik-turunkan pinggulnya. Joy mendongak dengan bibir setengah terbuka, merasakan kenikmatan yang berlipat-lipat sebab percintaan ini di lakukan atas dasar cinta.

"Aku lelah Joy." Nara menghentikan gerakannya padahal cacing Joy sudah akan mencapai puncaknya. Dengan cepat Joy berdiri dan mendudukan Nara di atas meja rias.

"Kau akan mengingat ini Keynara." Tutur Joy sebelum memberikan gerakan yang membuat Nara semakin menggila. Joy memperlihatkan gerakan mematikan yang selama ini membuat para wanita bertekuk lutut di hadapannya. Dan gerakan itu sanggup membuat Nara seolah berada di dunia lain, dunia yang indah tentunya. Beberapa kali nama Joy di sebut di tengah d*sahannya sehingga membuat Joy semakin tidak terkendali dan benih tersembur sempurna pada rahim Nara.

Keduanya saling melempar senyuman seraya mengatur nafas yang masih memburu. Nara duduk tegak lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Joy.

"Kau mau lagi?" Tanya Joy melingkarkan tangannya erat pada pinggang Nara.

"Sudah cukup, kakiku benar-benar sakit sekarang. Kita mandi bersama." Joy mengangkat tubuh Nara yang polos begitupun dirinya ke dalam kamar mandi.

Keduanya berdiri sejajar dengan air shower yang menguyur." Kenapa kau keluarkan di dalam Joy?" Tanya Nara seraya menikmati usapan lembut tangan Joy di punggungnya." Jika aku hamil bagaimana?" Imbuh Nara mengira jika Joy mungkin tidak ingin mendapatkan anak dari wanita yang di bencinya." Apa kamu tidak sengaja tadi?" Tanya Nara lagi.

"Kau cerewet sekali, aku belum menjawab tapi kau sudah bertanya lagi dan lagi.." Joy tersenyum dan fokus memperhatikan kulit halus Nara yang saat ini di gosoknya." Aku sengaja.." Jawab Joy pelan.

"Ku fikir kau membenciku."

Aku mencintaimu lebih besar dari apapun...

"Kau memang menyebalkan, aku akan tetap membalas perbuatanmu."

"Iya aku siap."

Sikapnya sekarang benar-benar meluluhkan hatiku...

"Siap untuk apa?" Nara membalikkan badannya dan kini keduanya berdiri saling berhadapan lagi.

"Apapun..." Tangan Nara melingkar erat ke perut Joy sehingga kulit keduanya kembali bergesekan." Mandi jadi lebih hangat jika seperti ini." Nara bahkan tidak merasa risih atau malu melihat cacing Joy yang masih menggantung dan mulai terangsang lagi dengan sikap manjanya.

"Kau akan membangunkannya lagi, cepat pakai handuk." Nara tersenyum, Joy menyambar handuk dan memberikannya pada Nara." Jika ingin berganti baju, kunci pintu dan tutup tirai dulu." Joy merasa tidak rela jika miliknya di lihat orang lain.

"Aku tunggu kamu saja." Nara duduk di toilet seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.

"Kau nanti kedinginan."

"Di sini lebih hangat daripada suhu di kamar dan lagi, kakiku benar-benar sakit jadi rasanya tidak kuat berjalan." Nara terkekeh sementara Joy tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Dia tahu Nara sengaja, dan Nara memang sengaja melakukan itu apalagi reuni di adakan dua minggu lagi. Nara ingin menghabiskan waktunya bersama Joy selayaknya pasangan pengantin baru yang lain. Nara tidak perduli jika Joy menganggapnya murahan karena terlalu agresif. Sebab julukan itu sudah di dapatkannya dulu.

Joy melilitkan handuk pada pinggangnya, tanpa bertanya, Joy mengangkat tubuh Nara lalu membawanya keluar kamar mandi dan menurunkannya di depan lemari.

"Kita lupa menutupnya tadi, semoga tidak ada yang lihat." Gumam Joy menutup tirai dan mengunci pintu kamarnya.

"Ini lantai dua Joy." Nara menanggalkan handuknya begitu saja lalu memilih baju. Joy menarik nafas panjang melihat kebiasaannya Nara yang membuat jantungnya terkena serangan mendadak. Entah sengaja atau tidak, Nara begitu lama membungkuk sehingga miliknya bisa terekspos oleh mata nakal Joy.

"Kau mencari apa?"

"Baju." Joy mengambil satu baju dengan cepat dan memberikannya pada Nara." Terlalu banyak, aku binggung memilihnya." Nara mengambil baju itu dan memakai." Oh lupa." Nara kembali menanggalkan bajunya sebab belum mengenakan Bra dan celana d*lam. Joy menghembuskan nafas berat dan mulai memilih baju santai untuknya sendiri.

Setelah memakai baju, Nara membereskan bajunya dan Joy yang berserakan di lantai. Dia menaruhnya dalam bak cucian kotor dan berbaring di atas sofa dengan kepala yang bertumpu pada paha Joy.

"Kenapa tidak berbaring di tempat tidur?" Joy menyalahkan televisi seraya memakai cemilan.

"Sebentar." Nara beranjak lalu berjalan ke arah tempat tidur. Joy mengira jika Nara akan tidur di sana namun tebakannya salah. Nara membawa selimut dan kembali berbaring seraya menutupi tubuhnya dengan selimut.

"Kau tidak gerah memakai itu?"

"Di sini sangat dingin. Tolong Joy, usap sebelah sini." Nara menunjuk rambutnya yang setengah basah.

"Untuk apa ku lakukan itu?"

"Agar hangat."

"Aku tidak mau."

"Kenapa tidak." Nara memperhatikan wajah Joy dari bawah. Joy mencoba berpaling namun Nara malah mengalungkan tangannya lagi agar Joy melihatnya.

"Aku akan menghabisimu sekarang juga jika kau terus menggodaku seperti ini."

"Aku tidak menggodamu Joy, aku hanya ingin kamu mengusap ini hingga aku tidur." Daripada banyak bicara dan membuat cacing Joy tersiksa, Joy memilih melakukan permintaan Nara dan mulai mengusap sekitaran dahi Nara dan rambutnya.

Nara menikmati setiap usapan, begitupun Joy. Sepenuh hati dia membelai dahi Nara hingga rambut dan sesekali mendarat pada pipinya. Joy melakukan itu berulang-ulang hingga terdengar dengkuran halus keluar pada bibir Nara.

Joy mengecilkan suara televisi, lalu menunduk, menatap wajah Nara. Memperhatikan setiap detailnya dan dia masih menganggap jika Nara sangat cantik. Padahal, perawatan yang lama tidak di dapatkan membuat wajahnya sangat kusam dan kering. Tapi Joy tidak pernah melihat itu, sejak awal hingga sekarang, tidak ada seorangpun yang mampu menggeser tempat Nara di hatinya.

.

.

.

.

Nara terjaga dari tidurnya tepat pukul setengah sembilan malam. Dia terduduk dan melihat Joy juga berbaring di sampingnya. Nara menyibak selimut seraya memegangi perutnya yang terasa keroncongan. Joy tadi berusaha membangunkan untuk makan tapi Nara tidur seperti orang mati. Bahkan saat ini, Joy baru saja membaringkan badannya karena lelah menunggu Nara yang tidak juga bangun.

"Joy.." Panggil Nara mengoyang tubuh Joy.

"Hm.." Gumam Joy tidak bergeming.

"Ini gawat Joy." Raut wajah Nara gelisah seraya terus memegangi perut.

"Aku baru saja tidur.." Jawab Joy masih memejamkan matanya.

"Bik Yanti sudah pulang?"

"Hm..."

"Aku lapar.." Rengek Nara.

"Kau sudah ku bangunkan tadi, ada pizza di meja."

"Pasti dingin, aku tidak mau."

"Ya sudah, jika tidak mau tunggu besok. Aku mengantuk."

"Joy..."Joy malah memunggungi Nara. Itu membuatnya mendengus kesal, Nara menurunkan kakinya dan melihat kotak pizza di atas meja namun dia tidak berselera. Lebih baik dia memakan mie instan tapi hangat daripada memakan makanan dingin." Ya sudah,aku akan membelinya sendiri." Nara meraih dompet kecilnya dan berdiri. Joy yang mendengar itu langsung duduk dan melebarkan matanya.

"Beli di mana?"

"Depan komplek."

"Kau bisa di culik, ini sudah malam."

"Siapa yang mau menculikku, aku biasa melakukannya. Kamu tidur saja." Nara berjalan keluar dan Joy terpaksa mengikutinya meski matanya terasa berat. Dia menarik pergelangan tangan Nara dan menutup pintu kamar saat Nara sudah membukanya separuh.

"Kau sekarang istriku, itu sudah lain cerita." Tutur Joy mencoba memberikan pengertian pada Nara." Makan pizza saja, aku baru membelinya tadi." Joy menggiring Nara ke sofa lalu mendudukkannya. Nara malah diam saja sehingga membuat Joy ikut duduk dan membuka pizza yang masih termakan dua potong.

"Aku tidak akan kenyang jika tidak makan nasi." Protes Nara mengeluh.

"Ini masih banyak. Kau akan kenyang." Nara menyentuh pizza yang terasa dingin.

"Ini bahkan sudah dingin." Eluh Nara lagi.

"Ini hangat, astaga. Coba dulu." Joy mengambil satu potong dan menyodorkan pada mulut Nara dan perlahan mulut Nara terbuka lalu mengigit sedikit pizza tersebut.

"Hoooooeeeekkkkk." Nara berdiri lalu berlari ke dalam kamar mandi untuk memuntahkan pizza tersebut.

"Kau segitunya tidak mau makanan dingin?"

"Memang tidak." Nara mengambil tisu dan membersihkan sisa air di sekitar mulutnya." Ayo Joy." Ajak Nara.

"Aku benar-benar malas keluar sayang.." Joy menghembuskan nafas panjang ketika tidak sengaja mengucapkan itu.

"Sayang... Wahhh..." Nara tersenyum dan berdiri di hadapan Joy." Jika sayang, ayo turuti aku." Rayu Nara.

"Aku tidak sengaja mengatakannya." Joy memalingkan wajah dan dengan cepat Nara duduk di paha Joy sebelah kanan. Nara melingkarkan tangannya ke leher Joy dan memaksa Joy untuk menatapnya." Kau agresif sekali. Kau tidak malu melakukan itu." Joy berpura-pura memasang wajah kesal padahal dia sangat menyukai perlakuan Nara padanya.

"Kau suamiku, untuk apa malu." Nara menyandarkan kepalanya di dada kanan Joy." Perutku sangat lapar." Hembusan nafas Nara terasa hangat membelai leher dan sekitaran pipi Joy sehingga langsung membuat Joy merasa gelisah.

"Apa yang bisa kau berikan setelah aku mengantarkanmu." Dendam Joy terkubur dalam-dalam, dia tenggelam dalam sikap Nara yang membuatnya semakin menyukainya.

"Aku hanya bisa memberikan itu."

"Itu apa?" Nara membisikkan sesuatu sehingga membuat Joy tersenyum." Kau tidak lelah?" Tangan kanan Joy mulai melingkar di punggung belakang Nara.

"Lelah tapi.. Daripada lapar."

"Baik ayo." Nara mencium pipi Joy cukup lama kemudian berdiri." Ganti bajumu dulu." Pinta Joy seraya meraih kunci mobil. Nara tidak banyak bicara, dia berjalan ke arah lemari lalu mengambil baju dan menanggalkan baju lamanya begitu saja.

Ahh.. Kenapa ini terasa menyenangkan. Aku sangat menyukai sikapnya yang tidak malu-malu. Aku semakin suka dan suka. Joy menepuk cacingnya sebentar seolah ingin memberitahu untuk bersabar sedikit lagi.

~Tere Liye

1
Liliek Soetjipto
yg hebat pengarangnya..
Lisa Icha
Masih nyimak dulu Thor
Susi saswita kunum
sabar dulu lah tunggu sampai kamar napa kasian tu yg lagi jomlo🤣🤣
itu joy naranya dijaga benar benar jangan disia sia in kasian dia🥰🥰
Susi saswita kunum
berjanjilah nara kalau kau ngak akan kaget nanti 😁
Susi saswita kunum
ahaha...joy niat hati ingin mengerjai malah terbalik dia yg dikerjai ternyata nara bisa cemburu juga...
Zackya Amalia76
Kecewal
keong' racun 88
bagus ceritanya
elita cantik
oke
Resa Dwi
hahhhh....
korban selanjutnya....
Jihan Putri Khaerunnisa
bagus sekali bikin ikutan JD bucin😘😘
Jihan Putri Khaerunnisa
🥰🥰🥰🥰😘😘😘
Jihan Putri Khaerunnisa
ayo semangat💪💪😘😘
Jihan Putri Khaerunnisa
jdjikutan baper nih😍😍
Nengah Oka
kurang garam yg cewek katak ya
Eli agha
bagus novelnya mantap alur cerita jelas , mantap lah
chaaa
bucin akut bang Joy 🤣
chaaa
lucu bgt mereka berdua 🤣
chaaa
yg mau bls dendan siapa, yg frustrasi siapa 🤣 suka karakter ceweknya.kayaknya tangguh dan gak cengeng 👍
Lulu Nasya
Soo sweet
Lulu Nasya
keren bgt ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!