"Ara... mas sudah bilang, mas tidak peduli kamu membalas cinta mas atau tidak, tapi mari kita melangkah berdua. Kita bergandengan tangan bersama dengan ikatan suci. Mas ingin mengikrarkan janji nikah hanya dengan kamu."
Kata-kata itulah yang akhirnya membuat Ara mengambil keputusan menerima Sony, meskipun tanpa cinta, ditengah-tengah rasa sakit akibat cintanya dikhianati.
Kata-kata CINTA itu sangat menyakitkan bagi Ara.
Cinta seperti apakah yang akan diterima oleh Ara? Seorang gadis cantik yang menjadi kesayangan keluarga, terutama papinya.
Ikutin terus yuk kisahnya dan tinggalin jejaknya dengan like, komen & vote
Sebelumnya baca juga Bukalah Hatimu Untukku ya.... Biar nyambung cerita dan tokoh-tokohnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Penasaran
Sudah tiga hari Ara di ruang ICU dalam kondisi koma pasca operasi. Keluarganya saling bergantian menunggu
meskipun hanya bisa melihat dari kejauhan. Termasuk ketiga sahabat Karina juga datang. Di hari kejadian itu, rupanya karena sampai sore tidak ada kabar tentang Ara, malam harinya Hanny pergi ke rumah Ara karena penasaran.
Hanny bertemu dengan Cello yang menceritakan kondisi kakaknya, tetapi Cello berpesan agar merahasiakan
keberadaan Ara, sesuai dengan perintah papinya.
Memang Seno memerintahkan pihak rumah sakit untuk menutup akses informasi tentang Ara yang ditempatkan di
ruangan khusus, yaitu lantai paling atas yang memang disiapkan untuk keluarga pemilik rumah sakit itu. Hanya dokter-dokter dan perawat tertentu yang mengetahui keberadaannya. Yang dijinkan menengok hanya pihak keluarga dan orang-orang tertentu yang diijinkan Seno, termasuk sahabat Ara.
Rupanya Seno juga sudah mendengar dari orang suruhannya kalau sebelum kecelakaan Ara berkunjung ke apartemen Dion.
“Kamu yakin kalau Dion disuruh orang tuanya untuk mendekati Ara?” Tanya Seno pada anak buahnya dengan nada
geram.
“Benar tuan, bahkan tuan Surya Wijaya meminta anaknya untuk segera menikahi nona Ara, agar bisa masuk
dalam keluarga besar tuan Baskoro. Tetapi rupanya tuan Dion menolak keinginan papanya. Apalagi ada gadis lain yang dia cintai…” Jawab orang itu dengan kepala menunduk.
Mendengar hal itu wajah Seno makin mengeras dan tangannya mengepal menahan marah. Dia tidak menyangka kalau ada orang yang mengusik keluarganya, bahkan mempermainkan perasaan putri kesayangannya. Seno juga khawatir jika Dion dan Ara sudah melakukan hal-hal yang terlalu jauh selama mereka pacarana, meskipun hati kecilnya sangat mempercayai anak gadisnya yang pasti tidak akan melakukan hal-hal yang tidak
boleh dilakukan.
“Akan aku hancurkan keluarga mereka….!” Kata Seno sambil menggebrak meja di hadapannya.
“Mas……!” Tiba-tiba suara Karina terdengar dari arah pintu. Rupanya saat Karina keluar untuk melihat Ara, datang
orang suruhan Seno dan mereka ngobrol di kamar sebelah yang pintunya tidak tertutup rapat, sehingga saat Karina akan kembali ke kamarnya dan melewati ruangan itu sempat mendengar pembicaraan dari balik pintu.
Karina berjalan mendekati Seno dengan air mata berlinang. Dia juga merasa sakit mendengar penjelasan dari
anak buah suaminya. Melihat kedatangan isterinya, Seno memberi isyarat pada anak buahnya dengan matanya untuk meninggalkan ruangan.
“Sayang… kamu mendengar…..” Kata seno setelah mereka tinggal berdua.
“Mas… jangan kotori tangan dan pikiranmu dengan kejahatan. Kalau mas menghancurkan mereka, apa bedanya mas dengan mereka….?” Kata Karina yang memotong omongan Seno.
“Tapi mereka….”
“Mas…. aku mohon, biarkan mereka mendapat pembalasannya bukan dari kita”
“Mereka sudah mempermainkan anak kita Karin….!” Ada kemarahan di suara Seno, sehingga dia hanya menyebut
nama pada isterinya.
“Kita sedang berdoa untuk kesembuhan Ara mas, jangan sampai di doa kita terselip rasa amarah….” Kata Karina lagi dengan suara lembut meskipun air mata masih menetes.
“Aaarrrgghhh…..!!” Seno menahan geram sambil mengacak-acak rambutnya. Dia selalu kalah dengan kata-kata
lembut isterinya.
Karina memeluk suaminya dari samping. Dia tahu kalau suaminya saat ini sangat marah, apalagi ini menyangkut
Ara, anak perempuan satu-satunya, anak kesayangannya.
“Mas… berjanjilah untuk tidak melakukan sesuatu. Kita konsentrasi saja untuk kesembuhan Ara….” Kata Karina
sambil mengusap-usap punggung suaminya.
Sementara itu di ruangan ICU, terlihat dokter Sony sedang duduk termenung di samping ranjang Ara. Terlihat
beberapa alat bantu menempel di tubuhnya. Dengan wajah yang masih terlihat pucat dan beberapa bekas luka di tubuhnya yang sudah mulai mengering, Ara terus berjuang dalam diam.
Perasaan dokter Sony terasa sakit melihat kondisi Ara dan dokter Sony sendiri tidak tahu apa sebabnya.
Ingatan dokter Sony melayang pada kejadian hampir satu bulan yang lalu.
Flashback on
Dokter Sony yang kebetulan sedang libur, memenuhi permintaan Chacha untuk bermain di arena permainan
sebuah mall. Sony mengikuti terus semua permainan yang diinginkan Chacha. Setelah puas bermain, Chacha mengajak ke sebuah toko mainan, dia ingin membeli boneka yang sudah lama diinginkannya.
Saat mereka hendak pulang, tiba-tiba Chacha berteriak.
“Mama Ala……!!” Lalu berlari menuju orang yang dipanggil. Rupanya mata kecilnya melihat sosok Ara yang
sedang mendorong trolly yang penuh belanjaan. Ara kaget saat seorang anak kecil menubruknya, sementara Sony mengikuti di belakangnya.
”Chacha….. sama siapa….?” Tanya Ara sambil berjongkok mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil itu. Ara
menoleh ke beakan lalu menujuk kea rah papanya.
“Sama papa. Mama Ala ngapain…?” Tanya Chacha sambil melihat trolly yang tadi didorong Ara.
“Tante belanja…”
“Ara… sendirian….?” Tanya Sony yang sudah ada di dekatnya.
“Eh… dokter… iya sendirian. Habis jalan-jalan…..?” Tanya Ara.
“Chacha minta main lalu beli boneka. Ini belanjaan banyak banget….?” Tanya Sony sambil menunjk kearah belanjaan Ara.
“Hee… he… iya, buat anak-anak panti.” Jawab Ara.
Rupanya saat itu Ara sedang janjian dengan Dion di café yang terletak di Kawasan mall itu, tetapi lagi-lagi Dion tidak bisa menemui dengan alasan tiba-tiba ada urusan kantor. Dengan memendam rasa kecewanya terhadap Dion, Ara masuk ke sebuah supermarket dan berbelanja banyak makanan yang akan dibawa ke panti asuhan. Dengan melihat anak-anak panti, Ara merasa terhibur dan melupakan sejenak rasa kecewanya.
Sony yang mendengar jawaban Ara menjadi heran.
“Oke.. Cha tante pulang dulu ya, kapan-kapan kita makan es cream lagi….” Kata Ara sambil tersenyum kearah Chacha.
“Pa… Chacha mau ikut mama Ala…” Kata Chacha yang merengek sambil memegangi kaki papanya. Sony bingung
dengan permintaan anaknya.
“Cha… tante Ara nya sbuk, kapan-kapan aja ya…..?” Bujuk Sony.
Chacha menggelengkan kepalanya, dan air matanya mulai menggenang, membuat Seno makin panik.
“Sayang… oma sudah nunggu lho, kita pulang yuk….” Bujuk Sony lagi. Chacha tetap tidak mau, bahkan
memegang erat kaki Ara. Ara pun tidak tega melihat Chacha.
“Oke… Chacha boleh ikut tante ke panti ya….”
Akhirnya Sony mmbantu mendorong trolly kearah parkir mobil Ara untuk memindahkan barang-barang belanjaan.
Di panti asuhan, Sony sangat takjub melhat keakraban dan perlakuan Ara pada anak-anak kecil itu. Mereka
bergantian minta digendong Ara, dan Ara dengan sabar menghadapi anak-anak itu. Chachapun rupanya cepat akrab dengan anak-anak yang seumuran dengan dirinya.
Flashback off
“Kamu anak yang baik. Ada apa yang terjadi dengan dirimu?” Tanya dokter Sony dalam hati, karena dia melihat
keanehan perlakuan keluarga Ara yang sangat menyembunyikan kondisi Ara dari public. Apakah ini karena Ara yang berasal dari keluarga Baskoro yang sangat dikenal publik? Tapi untuk apa haru sampai disembunyikan seperti ini? Apakah untuk menghindari dari seseorang? Lantas siapa dan kenapa? Bermacam-macam pertanyaan berkecamuk dalam diri dokter Sony.
******
Hai... aku up lagi ya, di sela-sela kesibukan kerjaan di dunia nyata.
Aku tetap ngarep vote, like & komen dari kalian ya, biar nanti malam bisa up lagi.
Oke.....? Muuaaacch.....😘😘😘