Cinta itu tak bisa dijelaskan seberapa besarnya. Orang mungkin menilai cinta itu sebesar dunia, samudera, bahkan langit. Namun, tak ada seseorang pun yang bisa menakar seberapa besar cintanya dengan logika. Ketika kamu telah menemukan cinta sejati, peluk dan genggamlah ia selama kamu masih memilikinya.
"Apa itu sangat menyakitkan? Kamu ingin menguburnya saja?"
"Ya, begitulah."
"Kamu bilang 'cinta yang sebenarnya akan mengikat jiwa, memenuhi semua pikiran, cinta memiliki ruang tersendiri di dalam hati.' Bagaimana dengan itu? Jiwamu telah terikat pada cintanya, jadi kamu akan terus memikirkannya?"
"Hanya satu cinta yang bisa mengikat jiwa seseorang. Tempatnya tidak akan berubah di hati. Itulah cinta yang sebenarnya, cinta sejati. Sedangkan cinta yang lain, bisa berada di mana saja, bisa datang dan pergi."
"Jadi, jiwamu belum terikat sama sekali? Aku yang akan mengikat jiwamu."
'Sudah sejak lama Ardi. Hanya saja telah tersimpan, kunci hatiku entah hilang kemana, kamu harus cari.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rikha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan
🍂🍂🍂
Tengah malam sunyi dan damai.
Rindu yang terlelap dalam tidurnya, tenggelam dalam alam bawah sadar yang membawanya ke alam mimpi. Rindu duduk di sebuah bangku, di hadapannya terhampar Padang rumput yang luas. Udaranya sejuk, hembusan angin segar bertiup merayapi kulitnya. Rambut panjangnya bergoyang-goyang diterpa semilir angin yang hangat. Dihirupnya udara yang terasa segar mengisi paru-parunya.
Lalu didepannya muncullah bayangan sosok pria menghalangi pandangan Rindu. Matanya mengerjab merekam wajah pria itu lebih seksama. Namun wajahnya tidak terlihat sama sekali. Pria itu mengulur tangan padanya. Mengajak Rindu bangkit dan pergi. Rindu pun mengulurkan tangan mengikuti pria itu. Meraka berlari menyusuri hamparan Padang Bunga yang sedang bermekaran. Bunga edelweis. Bunga yang dijuluki sebagai bunga simbol keabadian cinta. Pria itu membalikkan badannya menarik Rindu hingga jatuh ke pelukannya. Rindu merasa bahagia, sangat sangat bahagia. Senyuman tak pernah hilang dari bibirnya.
Rindu menghirup aroma tubuh pria itu, wangi maskulinnya menggetarkan hati. Pelukan yang begitu damai, Rindu merasakan dada itulah tempat ternyaman baginya. Kemudian tangan pria itu meraih dagu Rindu, membuatnya mendongak ke atas. Pria itu begitu tinggi, dia tersenyum namun wajahnya tidak begitu jelas. Pria itu mendekatkan wajahnya, menempelkan bibirnya yang begitu menggoda ke bibir Rindu. Rindu memejamkan mata, merasakan kehangatan yang menyentuh lembut di mulutnya hingga masuk ke relung hatinya.
Beberapa saat kemudian Rindu kembali membuka mata. Namun masih saja gelap. Sosok pria tinggi tadi telah menghilang. Rindu mengerjab kan matanya berulang kali. Hingga akhirnya rindu terbangun. Seketika iapun sadar bahwa itu semua hanya mimpi.
Ketika Rindu akan memejamkan mata kembali. Terlihat bayang-bayang orang sedang mengendap-endap menghampirinya. Seketika itu Rindu menegang, ingin berteriak namun tidak bisa. Nafasnya tersendat terasa sesak. Dan....
Klliikk... Lampu menyala.
Surpriisssee.....
"Happy birthday... Rindu....!"
Ardian melepaskan confetti, Dian dan Dimas meniup peluit ulang tahun yang akan memanjang jika ditiup. Ketegangan yang semula Rindu rasakan seketika hilang. Ya, tepat jam 12 malam ini Rindu telah berumur 17 tahun. Bahkan ia sendiri lupa.
"Astaga... kalian... hampir aku jantungan tau gak?" pekik Rindu kepada Ardian Dimas dan Dian yang sudah berada di hadapannya.
Mereka tertawa bersamaan. Kemudian Mama Lia masuk membawa kue di ikuti Papa Ariel, Allan dan Allen kedua adik kembar Rindu. Sambil menyanyikan lagu ulang tahun mereka bertepuk tangan.
Happy birthday to you...
Eeeiii... Eeeiii...
Happy birthday to you...
Eeeiii... Eeeiii...
Happy birthday to Rinduuuu...
Happy birthday to you uuuuu....
Masih dalam mode kaget Rindu menganga membulatkan mata dan mulutnya. Ardian meraih tangan Rindu agar bangkit dari tempat tidur. Rindu menghampiri mereka lalu memejamkan mata berdoa dan meniup lilin.
Huuuffff....
Yeeaaa..... Sorak semuanya bertepuk tangan. Rindu memeluk keluarganya satu persatu. Kecupan di kening pipi kiri dan kanan bergantian untuk Rindu. Disertai doa tulus di sematkan untuknya. Senyum dan tangis bahagia Rindu untu hari ini, kenangan ini akan ia simpan di hatinya.
Kemudian Rindu beralih ke sahabat-sahabat nya. Ketiga sahabatnya merentangkan tangan bersamaan. Rindu memeluk Dina disusul Ardian dan Dimas memeluk mereka berdua di sisi kiri dan kanan. Terharu, Rindu merasa beruntung memiliki sahabat yang sangat peduli padanya.
Dalam pelukan itu Ardian mencium puncak kepala Rindu sesaat. Tidak ada seorangpun yang menyadari. Namun tidak dengan kamera yang diletakkan di sudut ruangan. Kamera itu sudah dipersiapkan dari sebelum kejutan di mulai. Posisinya yang tepat merekam aksi Ardian barusan.
"Heiii... Kalian...," Rindu berkata lirih. "Aku... gak... Bisa nafas, sudah bisa dilepas?"
Pelukan itu seketika terlepas.
"Sorry.... sorry," ucap Dian Dimas Ardian bersamaan.
"Huufftt... Huufftt...!"
Rindu memegangi dada menormalkan pernafasannya kembali. Lalu meledak lah tawa mereka bersamaan, di susul Mama Papa dan adik-adik Rindu. Bahagianya Rindu dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Keluarga dan sahabat mereka semua adalah harta Rindu yang paling berharga.
"Ermmm.... Aku mau bilang sesuatu."
Dan semua terdiam. Rindu memandangi satu persatu keluarganya. Menatap dengan penuh kasih.
"Makasih Pa Ma, sudah melahirkan aku ke dunia, diberi kasih sayang yang melimpah, aku beruntung dibesarkan di keluarga ini."
"Makasih Alan, Alen... kalian adik kesayangan kakak, makasih sudah menjadi pelindung kakak."
"Ardian, Dimas, Dian... makasih selama setahun lebih menjadi sahabat terbaik aku, makasih kalian selalu perhatian, hidup aku gak pernah sepi karena kehadiran kalian."
Mereka semua tersenyum, lalu memeluk Rindu bergantian.
_____
Setelah kejutan ulang tahun yang singkat, mereka pun kembali tidur. Ardian Dimas dan Dian akhirnya menginap di sana. Rindu tidur di atas tempat tidur dengan Dian, sedangkan Ardian dan Dimas di bawah disebelah tempat tidur. Dengan hanya beralaskan kasur lantai mereka pun bisa tidur dengan tenang. Rumah itu hanya punya 3 kamar. Kamar adik-adik Rindu terlalu kecil, sebab itu Ardian dan Dimas hanya bisa tidur di kamar Rindu. Tidur di luar pasti panas dan banyak nyamuk. Bukan mereka gak mau, Rindu hanya kasihan, mereka pasti gak biasa di gigit nyamuk.
Pagi menjelang. Rindu di kejutkan dengan suara gaduh dari arah dapur. Rindu membalikkan badan hingga ke tepi tempat tidur. Merasa sudah tidak bisa terlelap lagi Rindu membuka mata. Saat tersadar Rindu ternyata begitu dekat dengan Ardian. Ia memandangi wajah tampan yang begitu teduh saat terlelap. Rindu meraba tanpa menyentuh setiap sudut muka Ardian.
"Ardi... Pagi ku di sambut dengan keindahan. Tampan sekali..., cintaku semakin hari semakin dalam. Terima kasih, walau aku tak bisa mengungkapkan perasaanku."
Seketika tangannya di tarik kembali menjauh. Ardian tiba-tiba menggeliat membuatnya terkejut. "Huufftt Hampir aja ketahuan."
Kemudian Rindu bangun dan keluar dari kamar. Mama Lia sedang asyik dengan pekerjaan di dapur menyiapkan sarapan. Mama sepertinya sedikit kerepotan, lalu Rindu ikut membantu.
"Sudah Rin... Kamu bangunin teman-teman mu, mama sudah bisa sendiri, sekalian kamu mandi dan siap-siap," pinta mama Lia karena Rindu sudah sangat membantu pekerjaannya.
"Iya ma..."
Rindu pun masuk masuk ke kamar, melihat teman-teman nya masih enak tidur. Pikiran nakal pun seketika singgah di benaknya. Rindu tersenyum jahil. Ia mengambil toa kecilnya di atas meja belajar. Lalu Rindu berdiri mendekat ke tempat tidur.
"SELAMAT PAGIIII... BAGUUNN, BAGUUNN...!"
Ketiganya kaget dan langsung bangun. Tubuh mereka masih belum stabil.
"Aaaaaa...," Dina berteriak.
"Apaan.... mana malingnya manaa...!" teriak Ardian dan Dimas linglung dengan gaya karate mereka.
Ardian sudah siap dengan kuda-kuda nya. Dimas yang masih setengah memejam jungkir balik siap menyerang.
"Hahahaha... hahaha."
Rindu meledakkan tawanya memegangi dan perutnya. Sementara Ardian Dimas dan Dian masih benggong berusaha mengumpulkan kesadaran mereka. Mama yang juga terkejut berlarian dari arah dapur. Lalu melihat kelakuan anak gadisnya yang pagi-pagi sudah membuat keributan.
"Astagaaa... Rindu... kamu ngapain sih? Kasihan itu teman-teman kamu," mama memukul lengan Rindu.
Plaakk....
"Aauuu... Mama Sakiiitt...!"
"Lain kali jangan iseng begini lagi. Mama bisa jantungan tau gak?"
"Iya... iya... ma... maaf...!"
Manapun kembali ke dapur. Papa yang baru keluar dari kamar, menggeleng kan kepalanya. Dulu Rindu adalah anak yang kalem dan pendiam. Jarang sekali Rindu membawa teman pulang. Sejak bergaul dengan ketiga anak itu Rindu menjadi lebih ceria. Orang tua Rindu senang dengan kehadiran mereka, rumah ini menjadi semakin ramai.
Ardian Dimas Dian yang sudah kesal dengan kelakuan Rindu, terduduk lemas mengelus dada masing-masing. Benar-benar ini senam jantung di pagi hari, Rindu kamu jahil banget.
"Duhh... Pagi-pagi udah kena omelan mama," katanya lirih di dengar teman-temannya.
"Syuukuuriiinnnn...," teriak mereka kompak pada Rindu.
Mereka tertawa bersama-sama. Karma langsung terbalas.
"Lagian kamu, jahil benget. Kepikiran dari mana coba, bangunin kita pake cara itu?" protes Dimas.
"haha... kalian tidur kaya kebo, jadi bangunin nya harus pake cara khusus. Anggap aja balasan yang tadi malam," senyum Rindu puas.
"Huuhhh... Dendaman...!" guman Ardian dan Dimas.
"Udah yuk siap-siap," ucap Dian kemudian.
*
*
*
*
*
Jangan lupa tinggalin jejak nya yaa...
LoPe dan JemPol kamu yang berharga. 🥰
Komen Yuuu ramein, biar Aku semangat nulisnya...
Love U all ☺️😘
diMangatoon lah tempatnya 😁
Hari ini kutemui karyamu 😊
Mari salkung bersama - sama 🤣
Semangat Kaka 🤗 !!!
Jika kak Author ada waktu mari mampir kekarya saya :
" MISTERI DUA CINCIN DIBALIK RUNTUHNYA ISTANA ANDALUSIA " .
Semangat terus 👍👍
...
Nanggung Ardiii...
😭😁🤣