NovelToon NovelToon
Kawin Lari

Kawin Lari

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Duda / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 5
Nama Author: Chida

Ketika kenyataan tak seindah bayangan...

Mampukah Radit, sosok lelaki yang sudah berstatus duda dan Jenna, gadis yang selalu merasa dirinya terkekang dalam menentukan pilihan hidup mampu melawan restu yang bahkan enggan menghampiri.

Atau terus berjuang hingga titik darah penghabisan.

Atau berlari demi cinta mereka yang tak lagi mampu dipisahkan.


"Kenapa harus datang jika hanya memberi luka, kenapa hadir jika selalu memberi perih"
~Jenna~


"The girl who make my world like a rainbow"
~Radit~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

First date

"Mau kemana?" tanya Mama Kartina saat Jenna mengulurkan tangannya pada Pak Sofyan untuk berpamitan.

"Jenna pamit keluar ya Pa," katanya pada sang Papa.

"Mau kemana? kamu denger gak Mama ngomong?"

"Jenna ada janji sama temen Ma, dari Jakarta ... temen kuliah," bohongnya.

"Abang kamu mana? minta anter sama Akbar."

"Abang tidur ... kasian Abang, capek katanya kemarin."

"Ya sudah suruh Pak Manto antar."

"Jenna udah pesan ojek online kok, Jenna pergi sendiri aja."

"Sudahlah Ma, anak di rumah salah anak keluar rumah salah ... gimana mau berkembang sampai sebesar inipun masih kamu urusin mereka." Pak Sofyan akhirnya ikut bicara. "Pergi lah kalo mau pergi, jangan pulang terlalu malam ... ingat Na, jangan malam-malam," ujar Pak Sofyan mengambil potongan apel di piring.

"Makasih Pa, Jenna jalan ya Ma," ujar Jenna menatap Mama Kartina yang akhirnya mengizinkannya untuk pergi.

"Aku heran sama kamu Ma ... sudahlah, biarkan anak-anak kita berkembang, kalo setiap gerak langkah mereka kamu ikuti terus yang ada nanti malah salah langkah, yang malu ya kita juga."

"Karena aku takut mereka salah langkah, makanya apapun yang menyangkut mereka aku harus tau," ujar Mama Kartina tak kalah sengit.

"Kamu liat Akbar, sampai detik ini gak sedikitpun ngecewain kamu, sampai pendamping hidup aja dia masih nunggu kamu yang cari, karena apa ... karena dia gak mau bikin kecewa kamu, Ma!" Pak Sofyan berdiri dari duduknya meninggalkan istrinya dengan tatapan kesal.

Jenna cepat melangkah keluar setelah mendengarkan kedua orang tuanya beradu pendapat. Seperti itulah keluarga mereka, segala kehidupan harus melulu atas persetujuan sang Mama.

Langkah kaki Jenna tergesa saat akhirnya dia melewati blok pertama, untungnya matahari tak begitu bersinar terik. Menoleh ke kanan dan ke kiri ketika dia sudah berada di gerbang komplek mencari mobil yang Radit gunakan kemarin. Sedan hitam milik Radit tak ia temukan, gadis itu berdiri di sisi gerbang sebelah kiri, mencari gawai di dalam clutch nya mencoba menghubungi Radit namun tak ada jawaban.

Sebuah motor ninja berwarna merah berhenti di depan Jenna, gadis itu terkejut ketika helm pengendara yang tertutup rapat itu terbuka.

"Mas Radit?"

Radit tersenyum, "Ayo, naik."

"Motor? Aku begini ...." Jenna memilin dress dengan potongan sedikit di atas lutut itu.

"Gak papa ... aman." Radit menyerahkan helm pada Jenna, gadis yang belum pernah sama sekali berboncengan dengan seorang lelaki itu terlihat kikuk.

"Sini aku pakein," ujarnya lalu meraih helm itu, "kuncirnya di lepas dulu ya ... biar gak sakit." Radit melepaskan ikat rambut Jenna yang di kuncir kuda lalu memakaikan helm di kepala gadis itu.

"Ayo, naik."

"Gimana?"

"Ya naik ...." Radit meraih tangan Jenna ia taruh di pundaknya agar Jenna berpegangan saat naik di belakang boncengannya.

"Duduk cowok?" Radit mengangguk.

"Kaki kamu taro di sadel motornya pegangan di pundak aku," Radit memberi titah, Jenna mengikutinya.

"Udah," ujar Jenna membenari letak duduknya.

"Ok ...." Radit menjalankan motornya. "Gak pernah naik motor ya?" tanya Radit menoleh sedikit ke arah Jenna.

"Kenapa Mas?"

"Kamu gak pernah naik motor?" ulang Radit lagi dengan nada suara agak kencang.

"Gak ... gak pernah," jawab Jenna mendekatkan sedikit wajahnya ke arah Radit.

Tangan Jenna masih berada di pundak Radit, karena dengan cara itulah dia berpegangan agar tidak jatuh, sedangkan clutch bag nya Jenna taruh di tengah agar dress yang ia pakai tak tersingkap.

"Mas Radit mobilnya mana?"

"Ada di rumah, tukar pinjam sama anak coffee shop ... biar lebih cepet aja kalo naik motor, kenapa? panas ya?"

"Oh ... hah? gak ... gak panas, biasa aja ... lagian kan emang mataharinya gak begitu terik," jawab Jenna.

"Jenna ...."

"Iya."

"Ini kita kemana?"

"Oh iya ... kemana ya?"

"Loh?"

Jenna tertawa, ingin sekali ia melihat ekspresi wajah Radit yang bingung sebenernya mereka akan kemana.

"Mas Radit sukanya makan dimana?"

"Sukanya makan di rumah," jawab Radit asal.

"Yah ... harusnya kalo gitu di siapinnya pagi-pagi," ujar Jenna lugu.

"Aku becanda ... terserah ini mau kemana, kemana aja boleh ... asal sama kamu." Radit tersenyum tipis, untung saja Radit mengenakan helm full face jadi amanlah untuk dirinya jika saat ini ia sedang menggombal.

Jenna pun ikut tersenyum geli. "Nanti kita belok ke kanan ya Mas, terus aja ikuti jalan sampai ketemu portal di kiri jalan masuk ke area pantai." Jenna memberikan petunjuk.

...----------------...

Dan disinilah mereka, duduk di sudut restoran yang tepat berada di bibir pantai. Menunggu pesanan yang mereka pesan. Duduk saling berdiam, sekali-sekali saling lempar pandangan tanpa sengaja. Belum ada pembicaraan yang berarti sejak mereka sampai.

"Jenna."

"Ya?"

"Makasih ya ... udah mau aku ajak keluar," ujar Radit menyugar rambutnya.

"Kan aku ada hutang, jadi harus di bayar." Jenna tersenyum.

"Kalo gitu lain kali kalo butuh apa-apa hutang aja sama aku ...."

"Eh?"

"Iya, biar kamu bayar terus kita keluar lagi," Radit terkekeh.

"Itu mah mau nya."

"Emang." Dan mereka pun tertawa.

"Mas Radit di sini kerja? oh ya aku lupa Mas Radit pemilik coffee shop viral itu ya."

Radit mengangguk. "Bangka, destinasi aku membuka peluang usaha di sini ... selain tempat pariwisata, Bangka punya prospek yang bagus untuk usaha tempat-tempat seperti yang aku punya, antusias anak-anak muda di sini luar biasa."

Jenna mengangguk, "berarti pulang pergi Jakarta Bangka?'

"Untuk sementara gak ... aku niat tinggal di sini, sewa rumah di salah satu cluster di daerah kota gak jauh dari coffee shop."

"Oh ...."

"Kamu sendiri?" tanya Radit lalu memundurkan tubuhnya saat pelayan datang membawa pesanan mereka.

"Aku? Dari lahir di sini ... sempat kuliah di Jakarta setelah selesai pulang lagi," ujar Jenna.

"Oh ya? kuliah di Jakarta?"

"Heeh, dua tahun lalu kembali ke Bangka dapet kerja di sini."

"Oh ... gak boleh jauh-jauh dari keluarga?"

"Begitulah." Wajah Jenna berubah.

"Di makan Na," ujar Radit.

"Pantai-pantai di daerah Bangka Belitung gak kalah indah seperti pantai-pantai di Bali," ujar Jenna saat mereka duduk di pinggir pantai setelah menikmati makan siang. "Banyak pantai-pantai liar di sini yang belum terjamah oleh turis, apalagi Belitung ... pantai di sana indah-indah, terkadang aku heran tempat wisata sekeren itu pengunjungnya sangat jarang padahal kalo turis luar tau mungkin Bangka Belitung akan seramai Bali atau Lombok."

"Promonya kurang ... sebagian turis juga domestik, kalo turis luar lebih terbiasa dengan Bali dan Lombok, seperti yang kamu bilang tadi mungkin kalo mereka lebih banyak tau tentang Indonesia khususnya Bangka Belitung yang pasti daerah ini akan seramai Bali, tapi sudah siapkah masyakaratnya itu juga salah satu poin utama." Radit mulai menganalisa.

Perbincangan mulai dari serius hingga lawakan-lawakan lucu Radit membuat Jenna bisa tertawa lepas.

"Mau pulang?" tanya Radit saat waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.

"Mas Radit mau pulang?"

"Kok balik nanya," kekeh Radit. "Kamu kayak yang gak mau pisah gitu sama aku."

"Ih, ngaco." Jenna tertawa.

"So?"

"Apa?" Jenna menoleh ke arah Radit.

"This is our first date?"

Sudut bibir Jenna mengembang, ia melempar pandangannya jauh ke depan. Deburan ombak seakan tahu jika hatinya seperti di gelitik oleh kupu-kupu.

"First date? there will be a second date? (kencan pertama? itu berarti akan ada kencan kedua?)" tanya Jenna menaikkan alisnya.

"Pastinya," Radit tersenyum.

"Gawat."

"Kok gawat?"

Jenna menggeleng, lalu beranjak dari duduknya melangkah ke arah dimana motor itu terparkir.

***enjoy reading 😘

ini visual Jenna dan Radit ya... sesuai imajinasi aku, jika menurut kalian gak pas atau yaaah kok si ini dan si itu... weeesss simpan dalam hati aja... mari menghalu sesuai imajinasi kita.. okay😘 jangan lupa like dan komen temen-temen semua dooong aku ingin kalian berpartisipasi nih biar Kawin Lari masuk ke dalam 20besar karya baru... Yo bisa yo bantu Chida ada di deretan karya baru seperti Sephia kemarin.

makasih ya kesayangan aku semua 😘***

1
Wiwik Roviyantini
kpn mulai up cerita terbaru kk
Maryati Subur92
AQ ikut deg deg kan
Aisya
part ini ak nangis malem malem 😭😭
Agus Tina
Baca ini sudah ketiga kalinya ... nggak bosen. Suka ceritanya .... Pak Sofyan sosok ayah yg baik dan bijaksana banget ...
Dewa Nara
gak ada kota bangka Thor, karena bangka itu nama pulau. adanya kota Pangkal Pinang, Mentok, dsb.
Chida: oh iya kota Pangkal Pinang .. makasih ya
total 1 replies
Ulil Baba
jangan pernah berhenti untuk mencintai KU
dalem banget artinya
Ulil Baba
wong gendeng 😤😤 semremet Karo mbok e
Ulil Baba
yaa Allah serius kak nangis nyesek banget,, konyol ku lagi mata masih merah habis nangis ada kurir paket datang,,,ambyar deeehh
T.N
Luar biasa
Ulil Baba
bacanya ikut senyum senyum
Vivo Smart
Budi emang anak baik kek dibuku buku pelajaran
Vivo Smart
duda emang udah lebih berani ya
Vivo Smart
kok diajarin boong Jenna nya Dit
Vivo Smart
aku sudah punya anak dua, tapi masih suka banget kalau dicium
Vivo Smart
waaahhh... kasih pak Manto tips Na. oke banget dia padahal belum dibriefing
Vivo Smart
Radit duda kan
Vivo Smart
kadang cinta datang tanpa menunggu kesiapan Mas.
Pun patah hati, sering datang tanpa aba aba
Vivo Smart
akbar nggak tegas jadi laki
Vivo Smart
Emang Abang nggak kemana-mana Bang?
May Keisya
diajarin ya mas😂..itu senjata dia wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!