Pangeran Nicholas Veer Ralph, putra bungsu dari Raja Luther pemimpin Kerajaan Tharvis, terkenal sebagai seorang yang angkuh, pemarah, dan pemberontak. Bahkan reputasinya sebagai seorang pemain wanita telah tersebar luas di seluruh negeri. Sikapnya yang sangat berbeda dari kedua saudara kandungnya membuatnya menjadi sorotan. Demi mengubah perilakunya, Raja Luther berencana menjodohkannya dengan Putri Madeleine, dengan harapan bahwa pernikahan akan membawa perubahan. Namun, Nicholas menolak dengan keras dan malah mencari pasangan yang bisa dia kendalikan. Dalam pencariannya, Nicholas bertemu dengan Anastasia Rosalie, seorang perempuan baik hati dan lembut dari kalangan bawah. Dia menjebak Anastasia agar mau menikah dengannya untuk memenuhi ambisi pribadi, tanpa memikirkan konsekuensi yang mungkin akan terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon micemicu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peluk Untukmu
...⚜️⚜️⚜️...
Nicholas duduk terpuruk sendirian di sebuah sudut tersembunyi Istana Riverdale, sebuah lorong buntu yang dingin dan nyaris tak pernah dilalui siapa pun. Wajah tampannya yang biasa memancarkan keangkuhan kini tertunduk dalam, tenggelam di antara kedua lututnya. Rasa kebas dan nyeri masih menjalari sebelah pipinya, berbaur dengan rasa anyir darah yang mengering di sudut bibirnya yang pecah.
Belum genap satu jam berlalu sejak Raja Luther menamparnya dengan keras tanpa ampun, meneriakkan makian dan kekecewaan secara terang-terangan di hadapan seluruh jajaran istana akibat kekacauan di Arena Arion. Tamparan fisik itu menyakitkan, namun rasa malu dan hancur di dadanya jauh lebih menyiksa.
Ini bukanlah kali pertama sang ayah melontarkan kemurkaannya di depan publik, dan setiap kali hal itu terjadi, hati Nicholas kembali terkoyak oleh kenyataan pahit bahwa ia tidak akan pernah cukup baik untuk dicintai oleh ayah kandungnya sendiri.
Tanpa bisa ditahan lagi, benteng pertahanan yang selalu ia bangun tinggi-tinggi akhirnya runtuh juga. Air mata yang terasa panas meluncur deras membasahi pipi pucatnya. Ia putus asa. Di mata Raja Luther, ia telah dikutuk secara kejam sebagai anak pembawa aib, seorang pemberontak yang tidak tertolong.
Nicholas terisak dalam sunyi. Tidak adakah satu orang pun yang bersedia melihat jauh ke dalam hatinya? Memahami bahwa segala pemberontakannya hanyalah jeritan putus asa dari seorang anak yang haus akan validasi? Yang ia inginkan hanyalah dicintai, dirangkul, bukan selalu dihakimi dan dihempaskan.
Hanya Ibunda Permaisuri yang mau memberinya kehangatan semacam itu. Kini, sikap tak adil Raja selalu mencekiknya dengan pemikiran kelam bahwa tidak ada satu ruang pun yang pantas ia tempati di dunia ini. Sering kali, Nicholas berharap ia bisa menghilang saja atau lenyap kembali menjadi debu.
"Pangeran Nicholas."
Suara selembut itu membuat bahu Nicholas tersentak hebat. Dengan panik, ia buru-buru menyeka jejak air mata di wajahnya menggunakan punggung tangan. Ketika ia mengangkat kepala, ia mendapati Anastasia tengah berdiri mematung di ambang lorong. Raut wajah istrinya tampak terkejut, tak mengira akan menemukan suaminya bersembunyi di tempat segelap ini.
"Untuk apa kau kemari?" tanya Nicholas, suaranya terdengar parau dan bergetar hebat. Ia memalingkan wajah, setengah mati mencoba merangkai kembali topeng ketus untuk menutupi kerapuhannya. Ia sangat benci terlihat lemah di mata siapa pun.
Alih-alih mundur, Anastasia justru melangkah maju mendekatinya. "Aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku sudah mencarimu ke seluruh penjuru istana."
Di bawah cahaya seandainya yang masuk lewat celah lorong, Nicholas dapat melihat dengan jelas sepasang mata Anastasia yang sembab dan menyiratkan ketakutan yang teramat dalam.
"Dari mana kau tahu aku bersembunyi di sini?"
"Aku hanya mengikuti naluriku," jawab Anastasia lirih. Ia telah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Raja Luther menampar dan mempermalukan suaminya.
Sejak Nicholas melarikan diri dari aula dengan pandangan hancur, hati Anastasia tidak bisa tenang. Ia berlarian ke sana kemari, diliputi ketakutan luar biasa bahwa Nicholas yang sedang tidak stabil akan melakukan tindakan nekat yang membahayakan nyawanya sendiri.
Nicholas kembali bungkam. Sepasang netranya menatap kosong ke arah langit malam yang pekat di balik jendela batu, mencerminkan labirin keputusasaan yang tengah mengurung batinnya.
Selama beberapa saat, hanya suara deru napas mereka yang mengisi keheningan lorong tersebut. Hingga akhirnya, Anastasia mengumpulkan keberanian untuk memecah kesunyian.
"Nicholas," panggilnya lembut. "Aku benar-benar meminta maaf jika keberadaanku atau sikapku membuatmu semarah itu di Arena Arion tadi." Anastasia menyadari bahwa teguran keras dari Raja bermula dari kekacauan di arena, dan ia merasa dirinyalah pemicu utama keributan tersebut, meski ia masih tidak paham di mana letak kesalahannya.
Nicholas menoleh perlahan, menatap istrinya dengan pandangan lelah. "Sudah berulang kali kukatakan padamu, Stasia... jangan pernah meminta maaf untuk sesuatu yang bahkan tidak kau ketahui di mana letak kesalahannya."
Anastasia menundukkan wajahnya, meremas jemarinya sendiri.
Sejujurnya, Nicholas pun merasa muak dengan dirinya sendiri. Ia tahu betul amarahnya di arena murni didorong oleh rasa cemburu buta yang kekanakan karena Anastasia memuji pria lain. Apalagi pria itu adalah musuhnya, kawanan Pangeran William yang selalu membuatnya iri karena mendapatkan kasih sayang dari Raja Luther.
Ia juga sepenuhnya sadar bahwa perilakunya yang kasar dengan menghempaskan Anastasia di atas pasir adalah sebuah ketidakpantasan. Seharusnya, dialah yang bersimpuh meminta maaf. Namun, kata-kata itu seolah terkunci rapat di tenggorokannya, tertahan oleh sisa-sisa ego yang enggan mati.
Tiba-tiba, dada Nicholas berdenyut nyeri. Ia terbatuk pelan, sebelah tangannya meremas kemeja di atas dadanya—tepat di titik di mana tendangan keras Stephen mendarat sore tadi. Rasa sesak itu memaksanya meringis menahan sakit.
Anastasia seketika mendongak, instingnya langsung mengambil alih. "Dadamu masih terasa sakit?"
Nicholas hanya bisa memberikan anggukan kecil, wajahnya pias.
"Aku akan mengoleskan minyak rempah hangat untukmu. Sebentar, tetaplah di sini dan jangan ke mana-mana."
Tanpa menunggu persetujuan, Anastasia berbalik dan berlari kecil menyusuri koridor. Nicholas menurut, terlalu lelah untuk membantah.
Tak butuh waktu lama, wanita itu kembali lagi dengan napas sedikit terengah, membawa sebotol kecil minyak rempah dan sebuah cangkir keramik yang mengepulkan asap tipis.
"Kau pasti lelah dan belum minum apa pun. Aku membuatkan air lemon madu kesukaanmu," ujar Anastasia seraya menyodorkan cangkir hangat tersebut.
Nicholas menatap cangkir itu sejenak, lalu meraihnya dengan jemari yang masih sedikit gemetar. Kehangatan keramik itu perlahan menjalar ke telapak tangannya.
"Aku izin membuka kemejamu, ya?" pinta Anastasia lembut, meminta persetujuan.
Nicholas mengangguk pasrah. "Iya."
Dengan pergerakan yang teramat hati-hati, jemari lentik Anastasia mulai melonggarkan tiga kancing teratas kemeja Nicholas, membuka kemeja itu lebar. Setelah kain itu tersingkap, ia menuangkan sedikit minyak rempah ke telapak tangannya, menggosoknya perlahan, lalu membalurkannya di atas permukaan dada Nicholas yang memar kemerahan.
Sentuhan lembut jemari Anastasia dan sensasi hangat dari rempah-rempah itu mengalirkan kenyamanan yang luar biasa, perlahan mengurai rasa ngilu di tubuh sang pangeran.
"Nicholas... kalau ada beban yang terasa terlalu berat untuk kau tanggung sendiri, aku selalu siap mendengarkannya," ucap Anastasia pelan, matanya menatap lekat raut sendu suaminya.
Tanpa Nicholas ketahui, Anastasia sebenarnya sempat melihat pria itu menangis dari kejauhan tadi, dan pemandangan itu berhasil meremukkan hatinya berkeping-keping karena selama ini ia tidak tahu pangeran bungsu itu pernah menangis. Yang ia tunjukkan keangkuhannya dan sikap liarnya yang membuat seluruh istana pusing.
Nicholas mengembuskan napas panjang yang penuh kepenatan. Ia menatap lurus ke dalam manik mata istrinya yang memancarkan ketulusan itu. Ada keraguan besar yang menahannya. Apakah menceritakan ketakutan dan lukanya akan membuat keadaan lebih baik? Atau justru Anastasia akan berbalik memandangnya rendah seperti orang lain?
Nicholas terlanjur sulit memberikan kepercayaan. Selama bertahun-tahun, ia membangun tembok yang tebal untuk melindungi hatinya, membiarkan dunia hanya melihat wujud monster yang nakal dan arogan, agar tak ada satu pun yang bisa menyentuh kelemahannya.
Melihat Nicholas yang kembali mengunci diri dalam kebisuan, Anastasia tersenyum maklum. "Tidak apa-apa jika kau belum siap untuk bercerita malam ini," bisiknya menenangkan. "Tapi tolong ingat ini... jangan terlalu lama memendam rasa sakitmu sendirian. Kita sudah terikat dalam pernikahan, Nicholas. Aku akan selalu menjadi rumah untukmu, tempatmu pulang dalam suka maupun titik paling hancur sekalipun."
Pertahanan terakhir Nicholas luruh mendengar kalimat itu. Tenggorokannya tercekat oleh gelombang emosi yang mendesak keluar. Ia menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Anastasia.
"Aku cuma ingin dipeluk," bisik Nicholas teramat lirih, suaranya pecah, terdengar seperti rintihan seorang anak kecil yang tersesat di dalam kegelapan yang membingungkannya.
Senyum kecil yang menenangkan kembali terbit di bibir Anastasia. Ia merapikan kembali kerah kemeja suaminya, lalu merengkuh tubuh besar dan tegap itu ke dalam dekapan yang teramat erat.
"Dan ini dia pelukan paling hangat khusus untukmu," bisik Anastasia seraya mengusap punggung Nicholas dengan penuh kasih sayang.
Di dalam pelukan itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nicholas menutup matanya dan membiarkan dirinya merasakan kedamaian yang sesungguhnya. Hati yang telah lama membeku itu perlahan menemukan ritme kehidupannya kembali.