Sequel dari OH MY JENY
☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘
" Kau selalu bilang padaku, apa yang harus kau lakukan untuk membalas semuanya Dean?"
" Aku akan melakukan apapun untukmu Tuan!"
" Kalau begitu menikahlah dengan putriku!"
Deg
Tubuh Dean menegang seketika
Kebohongan yang dilakukan Bulan membuat sang ayah murka. Hingga Ken memaksa putrinya untuk menikah bersama pria pilihannya yaitu Dean sebastian. Seorang pengusaha sukses yang sangat cerdas dari Paris
"Aku sungguh tidak menyukainya, dia terlalu pendiam dia bukan tipeku sama sekali Dad"
Baca selanjutnya ➡➡➡
Selalu tinggalkan Jejak, Like dan Vote 🤗🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Dean
-
-
Menjelang subuh Dean tiba dijakarta. Ia sedikit merenggangkan tubuhnya yang lelah. Bayangkan saja, belasan jam Dean berdiam didalam pesawat. Ia mampir sebentar ke kantin bandara membeli kopi untuk menghilangkan rasa penatnya. Setelahnya Dean kembali melanjutkan perjalanannya mencari alamat rumah Ken
14 tahun berlalu kini banyak perubahan di Ibukota Jakarta. Dean merasa pangling, ia tersenyum tipis memandangi sekitar bandara yang kini lebih modern dibandingkan saat terakhir ia kemari
Dengan membawa koper kecil Dean keluar dari bandara. Tiba-tiba seorang pria paruh baya menghampirinya. Pria itu melihat ponselnya untuk memastikan gambar diponsel dengan wajah yang didepan matanya
" Tuan Dean ya?" tanya pria itu
Dean hanya mengangguk. Padahal Dean tak meminta ataupun berkata akan tiba kapan pada Ken tapi pria itu seperti tahu apa yang ia akan lakukan
" Saya supir Tuan Ken disuruh menjemput anda. "
" Saya Dean, jangan panggil saya Tuan. "
" Tidak bisa saya harus menghormati Tuan Dean. " saut pria paruh baya itu
Dean hanya mendesah pelan
" Baiklah terserah bapak saja. " saut Dean
" Mari Tuan. " ucap pria itu menunjukan jalan menuju tempat parkir dimana ia memarkirkan mobil itu
Tak terhitung satu jam mobil yang ditumpangi Dean telah sampai di sebuah rumah mewah yang diyakini adalah rumah Ken. Dean langsung membuka pintu dan mengambil koper tanpa mengandalkan supir yang membawanya
Maniknya mengedar memperhatikan setiap sudut rumah yang sangat luas halamannya itu. Sebuah hamparan merah menarik perhatian Dean, ia mendekat sejenak memperhatikan bunga mawar merah yang bermekaran dan mengeluarkan semerbak harum hingga mencuat ke hidungnya
Dean tersenyum sesaat lalu mulai menapaki tangga demi tangga menuju pintu rumah Ken yang terbuka. Dari jauh sudah terlihat seorang pria yang tak asing bagi Dean sedang berdiri didepan pintu dengan senyum bangga menghias dibibirnya
" Welcome Dean. " sapa Ken berjalan mendekat pada Dean, pria itu merentangkan tangannya dan memeluk Dean, menepuk-nepuk punggungnya sejenak sebelum melepaskan kembali pelukan itu. Tangan Ken menepuk-nepuk pelan pipi kanan Dean lalu berpindah pada bahu
" Apa ini hasil kerja kerasmu selama dua tahun ini. "
" Sekarang ini berotot tidak lembek. " saut Dean membuat Ken tertawa
" Masuklah, kau pasti lelah. " Ken menggandeng Dean kedalam menaiki lantai tiga dan menunjukan kamar pria itu selama tinggal disana
" Emmh Tuan kenapa-"
" Istrihatlah!" Ken memotong ucapan Dean lalu pergi meninggalkannya begitu saja
Dean merasa ada yang aneh dengan Ken yang tiba-tiba menyuruhnya kesini dan sekarang sikap Ken juga sangat aneh. Bahkan Ken terlihat menghindari pertanyaan Dean
Pria itu menutup pintu rapat, membuka lemari pakaian disana dan meletakan beberapa baju ganti ia selama disini. Selesai Dean membuka mantel hitamnya lalu segera berbaring diranjang, ia tatap langit-langit kamar itu. Jika sendiri Dean memang selalu termenung dengan pikiran kosong, selama ini Dean tidak terlalu menikmati hidupnya. Meski di keramaian ia masih tetap merasa sepi dan sendiri
Rivana, Dean mungkin mencintainya tapi wanita itu samasekali tidak pernah bisa mengusir rasa kesedihan Dean selama ini. Meski sejujurnya Dean tidak tahu apa yang selama ini membuatnya sedih dan selalu merasa kesepian. Kemudian Dean memejamkan mata, mungkin ia akan tidur beberapa jam untuk menghilangkan rasa lelah ditubuhnya
Ken baru saja memasuki kekamarnya. Sambil melangkah ia tak berhenti melamun. Ia menimbang memikirkan keputusannya untuk menikahkan Dean bersama putrinya. Apa Ken akan egois dan tidak adil pada Dean? sementara Ken tahu pria itu sekarang sedang menjalin hubungan bersama seorang wanita
Tapi beban didada Ken terasa berat. Semakin Bulan dewasa, Ken merasa bebannya semakin bertambah, dua bocah ingusan Chesa-Chesy pun kian hari mereka kian bertambah besar apalagi dengan kejadian kemarin sore rasanya jantung Ken terhantam sebuah gada hanya karena melihat putrinya di cumbu pria yang menurutnya sangat berengsek. Ken begitu takut, Ken tidak bisa melihat satupun dari putrinya menjadi korban para pria brengsek yang hanya memanfaatkan tubuh mereka seperti dirinya dulu di masa muda
Dean pria yang baik, Ken sangat tahu. Pria itu pendiam tak pandai bermain wanita meskipun kini ia punya semua yang diinginkan wanita. Ken memang selalu mematai Dean, ia tahu Dean berhubungan dengan siapa saja, dan apa yang mereka selalu lakukan sangat jauh dengan Ken dulu, pria itu tak pernah meniduri wanita manapun. Ken sangat mengenal Dean meski ada satu yang tidak pernah Ken tahu yaitu masa lalu Dean sebelum dirinya bertemu Ken. Meski berulang kali mencari tahu namun Ken tidak pernah mendapatkan informasi apapun karena pria itu dan ibunya tidak pernah tinggal menetap mereka selalu berpindah-pindah semenjak Dean berusia 12 tahun
" Sayang ada apa?" tanya Jeny mengusap bahu Ken saat melihat suaminya terus melamun
Ken hanya menggeleng lemah. Ia baringkan tubuhnya dikasur disebelah sang istri. Maniknya menatap langit-langit, tampak sekali pria itu mempunyai banyak pikiran
" Dean sudah datang?. "
" Dia sedang istirahat dikamar atas. "
" Ken, apa tidak sebaiknya kamu pikirkan dulu untuk menikahkan mereka. " Ken tampak terdiam sejenak
" Aku sudah memikirkannya matang-matang. Aku sudah memilih Dean untuk menjaga putriku bahkan sebelum ada kejadian kemarin. Dean pria yang baik dia akan melindungi putri kita. "
" Tapi bukankah ini sangat egois? mereka tidak saling mencintai, bagaimana bisa menjalani pernikahan!" Ken menarik nafasnya dalam perkataan istrinya memang benar, tapi Ken juga tidak bisa membiarkan beban didadanya terus menumpuk, membuatnya sesak dan tak bisa tidur nyenyak setiap malam hanya karena memikirkan putri-putri mereka
" Cinta akan datang seiring berjalannya waktu. Mungkin mereka tidak saling menyukai, tapi melihat Dean, pria itu baik dan aku yakin itu akan meluluhkan Bulan. Dan bukankah mereka sangat cocok? Dean yang pendiam dengan Bulan yang galak, menurutmu bagaimana bila mereka satu atap?" Ken tersenyum lucu membayangkan putrinya yang sangat galak dan cerewet. Jeny ikut tersenyum lalu memeluk tubuh Ken membuat Ken beralih dan menghadapnya
" Apapun keputusanmu itu pasti yang terbaik untuk putri kita . " saut Jeny dengan senyum tak pudar
" Sepertinya aku sudah lama tidak menyentuhmu. " Ken tak berhenti menatap wajah Jeny yang masih saja cantik meskipun telah termakan usia dengan tangan yang mulai nakal. Ia tarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya sampai kepala lalu terjadilah kegiatan panas yang menghasilkan keringat
" Sayang, bagaimana kalau kita membuat adik untuk Chesy?"
" Kalau begitu kamu saja yang melahirkan."
" Huh bagaimna bisa. "
" Jangan disitu, itu terlihat semua orang. " pekik Jeny dan terdengarlah gelak tawa dalam gulungan selimut itu
-
-
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak-like- vote kalian 😉😉
-
-