NovelToon NovelToon
Aku Mencintai Gadis Unik

Aku Mencintai Gadis Unik

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Tamat
Popularitas:1.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Mei_Mei

(Taka season 2)

Kisah ini lanjutan dari 'TAWAKU TERBALUT LUKA' sebelum membaca kisah ini, harap baca judul itu dulu agar menyambung dengan ceritanya.

Kisah cinta remaja. Sedih, romance.

Seorang pemuda bernama Taka harus berjuang untuk melawan penyakit kanker otak.

Sebelumnya pemuda itu dijuluki sebagai Pangeran Komedi, namun beberapa waktu berlalu julukan itu berubah menjadi Pangeran Kesedihan.
Disaat orang-orang terdekatnya mengetahui penyakit yang diderita, ia tak lagi membawa kebahagiaan. Melainkan kesedihan.

Ketika ia terjatuh dalam keterpurukan, pertama kali bertemu dengan gadis unik yang di panggilannya Hutapea(bukan nama sebenarnya)

Pertemuan pertama mampu tersimpan didalam memorinya. Dua kalimat singkat namun sarat makna yaitu 'Semangat dan Berjuang' membuat semangat dalam dirinya bangkit dan berusaha untuk melawan penyakitnya.

Akankah keduanya dipertemukan kembali? atau hanya satu kali itu saja?

Ayo ikuti kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei_Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kakak, malaikat tak bersayap

"Bisa, kamu pasti bisa menjadi pangeran komedi lagi. Kamu penghibur kami, penghibur baby Saf-Saf. Kamu tega mau ninggalin kita semua? waktu kamu pergi kesini, keponakanmu itu terus mencari Om kesayangan, sampai dia terserang demam." ucap bunda Sensa.

"Baby Nutrigel." raut wajah Taka semakin sendu saat teringat dengan keponakannya. Terakhir keseruan bersama baby Saf-Saf ketika menangkap kupu-kupu dihalaman rumahnya, saat dia sedikit lengah keponakannya itu malah hilang ditelan selokan yang banyak mengandung lumpur hitam. Betapa indahnya waktu itu. Masih bisa tertawa lepas, bercanda dan berdebat dengan anggota keluarga.

Lalu saat ini? apakah masih bisa mengulang keceriaan seperti waktu itu?

"Taka kangen sama Baby Nutrigel," Taka berkata dengan lirih.

"Tapi aku nggak bisa lihat dia, Bun." imbuh Taka dengan kesedihan.

"Mungkin kedua matamu tidak bisa melihat kami, tapi memori dan hatimu pasti mengingat kami." ucap bunda Sensa.

Lama keduanya saling diam, bunda Sensa terdiam dengan meneliti wajah Taka.

Sedangkan Taka sendiri terdiam dengan pemikirannya yang sedang mengingat orang-orang terdekat juga yang dia rindukan.

"Nak, makan ya, Bunda suapin." bunda Sensa membujuk Taka untuk makan siang. Taka mengangguk.

Bunda Sensa lebih dulu mengatur ranjang Taka agar posisinya nyaman.

Bunda Sensa mengambil mangkuk bubur. Menyendok sedikit bubur lalu didekatkan ke bibir Taka.

Taka membuka mulut untuk menerima suapan dari Bundanya, meski makanan itu terasa hambar tapi tetap ia makan. Sedikit kesusahan untuk menelan makanan, tenggorokannya pun terasa sakit.

Baru memakan tiga sendok bubur, Taka membekap mulut. "Bun, aku mau muntah." ucapnya tidak jelas karna mulutnya ditutup. Tapi meski begitu bunda Sensa mengerti, segera mengambil tempat khusus untuk membuang muntahan makanan itu.

Bukan hal pertama kali jika Taka memuntahkan makanan yang dikonsumsi, hampir setiap jam makan Taka tak pernah menghabiskan makanannya.

Dengan sabar dan telaten bunda Sensa mengurus semua keperluan Taka. Saat ini pun membersihkan pinggiran mulut Taka menggunakan tissu.

"Bun, Taka bisa sendiri. Apa Bunda nggak jijik lihat aku seperti ini."

"Bunda nggak pernah jijik, Nak. Ini sudah kewajiban Bunda mengurus anak-anak Bunda jika sakit. Bunda akan setulus hati merawat mu, jangan memikirkan apapun. Yang terpenting pikirkan kesehatan mu dan berjuanglah demi Bunda." kata bunda Sensa dengan lembut.

"Makasih ya Bun, sudah merawat Taka." tangan kurus Taka terulur untuk memeluk bundanya. Bunda Sensa memajukan badan agar Taka lebih mudah menjangkau.

"Bunda janji akan nemenin Taka dan merawat Taka sampai sembuh. Walau hanya sebentar, Bunda tidak akan pernah meninggalkanmu."

Ceklek...

Suara daun pintu yang dibuka, terdengar langkah kaki mendekat. Bukan itu saja, tapi juga terdengar isak tangis.

Pelukan Taka dengan bunda Sensa terlepas. Tapi sedetik kemudian berganti pelukan dari saudara kembarnya.

Bahu Nata bergetar hebat saat memeluk tubuh Taka yang kurus. Keduanya terdiam, tak ada yang berbicara.

Meski sangat terkejut tapi Taka belum mampu bersuara, dia tahu siapa yang memeluknya saat ini. Lama mereka terdiam, lama mereka berpelukan.

"Dek," akhirnya Taka bersuara, memanggil Nata.

Entah kenapa Nata malah menggelengkan kepalanya.

"Aku merindukanmu, Kak." suara Nata serak karna menangis.

"Kamu kesini?" pertanyaan Taka membuat Nata melepaskan pelukannya.

"Apa aku nggak boleh jenguk Kakak?" jawabnya senggukan. Taka tersenyum, tapi ada bulir bening yang menetes.

Apa semua orang sudah tahu jika dia tengah sakit? kenapa orang-orang terdekat tiba-tiba datang.

Nata meniti wajah saudara kembarnya. Aneh, kenapa manik mata kakaknya tidak fokus melihat ke wajahnya?

Nata lalu beralih melihat bunda Sensa, tapi bunda Sensa memberi isyarat dengan menggelengkan kepala. Ayah Arsel lupa memberitahu jika penglihatan Taka tidak berfungsi.

Meski tidak yakin tapi Nata masih terisak. Menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Sungguh tidak tega melihat kakaknya dengan kondisi seperti ini. Kamu kenapa Kak? Kenapa keadaanmu seperti ini?

Pertemuannya dengan saudara kembarnya tidak banyak berkata-kata. Taka yang biasanya banyak bicara dan suka meledek kini terdiam dan menunduk. Entah apa yang dipikirkan.

"Kenapa kamu kesini, Dek? bukannya jadwal kuliah masih padat." tanya Taka berbasa-basi. Telinganya terasa berdengung mendengar tangisan Nata.

"Enggak Kak, aku bisa menunda kuliahku." Jawab Nata. Dia tahu Taka sedang bersedih karna gagal untuk melanjutkan kuliah.

Nata yang belum puas kembali memeluk Taka. "Kakak, aku kangen, Selama Kakak pindah kesini nggak ada lagi yang buat aku dan geng kita ketawa. Bahkan aku dan temen-temen kewalahan mengajari anak-anak jalanan. Kakak harus sembuh. Harus." Nata tidak mau melepas pelukannya.

"Jangan bahas anak-anak jalanan, Dek." Taka memperingati dengan suara lirih. Karna diruangan itu masih ada bunda Sensa.

"Kakak kenapa nggak bilang sama aku, kalau sakit? ternyata Kakak pindah kesini karena alasan ini? bukan untuk kuliah. Kalau Nata tahu alasan itu, aku juga bakal ikut pindah kesini. Nata bisa nemenin Kakak. Kakak lupa, dari lahir kita selalu bersama, bahkan didalam perut Bunda kita juga bersama-sama, jadi apapun yang Kakak rasakan Nata juga ikut merasakan." Nata berkata panjang lebar.

"Kakak nggak mau lihat kalian bersedih. Biar Kakak berjuang sendiri, meskipun gagal, aku nggak akan menanggung beban karna buat kalian bersedih."

"Itu pemikiran buruk, Kak. Apapun yang terjadi, harusnya kita saling mendukung dan mendampingi."

Bunda Sensa yang mendengar kalimat Nata barusan menganggukkan kepala. Memang yang dikatakan Nata adalah benar, apapun yang terjadi, keluarga memang wajib tahu.

Tapi berbeda orang maka berbeda juga dengan prinsip dan pendapat.

"Maafin Kakak, Dek." Taka meminta maaf menyadari kesalahannya dalam berpikir.

"Kita akan menangis, tapi untuk hari esok kita tidak akan menangis lagi. Jika kemarin Kakak yang menghibur kita, kali ini giliran kita yang akan menghibur hari-hari Kakak." kata Nata.

"Bener Bos, kita akan menemani dan menghibur Bos." tidak tahu sejak kapan Mujiren sudah berdiri disamping Nata, lalu menyahut perbincangan dua kakak beradik itu.

"Mujiren?!" kali ini Taka benar-benar terkejut mendengar suara Mujiren. Tidak mengira jika Mujiren bisa sampai disini.

"Aku kangen loh Bos karo awakmu." sahut Dudung.

"Dudung?!" Lagi-lagi Taka dibuat terkejut.

"Kalian..." Taka tidak melanjutkan kalimatnya. Jika dua temannya tiba-tiba datang, sudah pasti Mujirah dan Ali Baba pasti juga ikut.

Mereka serempak menganggukkan kepala, padahal Taka tidak bisa melihat.

Nata bergeser, memberi ruang agar teman-temannya bisa memeluk tubuh Taka.

"Bos," panggil Dudung dengan tangisannya.

"Bos, iki inyong, Ali Baba." Ali Baba, Mujiren dan Dudung mendekat untuk saling memeluk tubuh Taka. Mereka menangis, yang mana membuat Taka juga ikut menangis.

"Kakak Malaikat Tak Bersayap." panggil Dimas dan Andre.

1
Maria larasati Ulfa
bagus bgt
Muhamad Hasbi
Luar biasa
Sena Fiana
😀😃😄😄😁
Gus Maneli
😭😭😭😭
Gus Maneli
aku ngk kuat baca nya nangis trus😭😭😭
Nurwana
itulah nata, jdi org itw jgn terlalu polos.
Nurwana
thorrrrr........😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Mmh Na Aas Tea
wkkwkkk Taka," ada" aja
Mmh Na Aas Tea
dasar Saritem ganggu aja😤
Mmh Na Aas Tea
lanjut ka makin penasaran Ama cerita nya
Ulum Udin
💔💔💔💔
Risha Aagustynah
ada lanjutannya ndk kk cerita ini
THE END.MD
ngapain sih saritem ada di sana ganggu aja ach.
Syafira Putri
kapan ni akak Mei..buat cerita anak2 nya nata sama Taka..
calon orng sukses
author klo ngasih ujian ga kira kira😭
bnyak bngt pelajaran yg bisa di ambil dri cerita ini
ilanarunnis
semangat akak Mei
nadila karla
kk mei gk lanjut cerita taka?
Sri Mulyani Asis
lanjut dong akak me cerita rumah tangga Taka dan Nata 🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼
Siska Tambunan Helvini Tambunan
🤣🤣🤣🤣🤣aq senang sekali.....
kembali ke tawa lg ☺
soal nya air mata ku sudah kering 😂

makasih banyak author aq pada mu yg sudah meng obrak abrik hatiku 🤗
tetap semangat...
jaga kesehatan Tor ku
Karmila
aka mei aku tunggu nih cerita taka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!