NovelToon NovelToon
Dinikahi Konglomerat Sejagat

Dinikahi Konglomerat Sejagat

Status: tamat
Genre:Komedi / Contest / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.7
Nama Author: Rhiy Navya

Sudah direvisi lebih bagus, silakan dibaca dari awal. Terima kasih!

Tidak kenal, tapi menikah. Nadin menyetujui surat perjanjian karena ditolong oleh tuan muda, saat hendak dijual dengan temannya sendiri. Nadin tidak menyia-yiakan kesempatan, dia berusaha membuat Argan jatuh cinta padanya. Akankah dia berhasil mencapai tujuannya, disaat banyak rintangan yang menghalangi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senjata Makan Tuan

Andi dan Fendi sibuk bersenda gurau, sampai akhirnya berhenti. Tiba-tiba, mereka mencium bau tidak sedap dari dapur. Keduanya segera menghampiri pelayan-pelayan, yang sedang berkutat di dapur. Mereka bercengkrama tidak jauh, saling berdekatan saat bekerja.

"Bau apa ini?" Fendi yang panik melihat satu persatu wajah pelayan, menunggu jawaban dari mulut masing-masing.

"Maaf pengawal Fendi, aku tadi tidak sengaja membakar plastik." jawab bibi Ranti.

"Aku Kira tabung gas mau meledak." ujar Andi.

"Hus, mulutnya dijaga botak, nanti di aamiinkan malaikat."

"Iya, iya kriwil." jawab Andi.

Tak berselang lama, makanan disiapkan. Argan, Hadi, dan Sahara duduk di kursi makan, bersama dengan Nadin. Tidak ketinggalan juga, dua asisten pribadi milik tuan Argan.

”Nah, ini kesempatan untukku memalukan Nadin,q di depan mertuanya.” batin Niken.

Dia menusuk daging dengan sendok yang ada di dalam piring, berniat ingin melemparkannya ke arah Nadin. Namun tiba-tiba matanya terkena lemparan ikan sambal.

"Haa... Pedas." teriak Niken dengan kencang.

Semua orang menjadikan Niken pusat perhatian karena berteriak-teriak. Dera pura-pura tidak tahu, padahal sebenarnya dialah yang menusuk ikan dengan garpu dan melemparkannya ke Niken. Bibi Ingke mengambil piring yang dipegang Niken.

"Cepatlah kamu cuci matamu itu, biar aku yang mengantarnya."

Niken segera pergi dari ruangan itu, dengan amarah yang memuncak. Dia mengusap matanya dengan air, di dalam kamar mandi.

"Nadin!" Niken berteriak, tangannya meninju kaca besar sekuatnya hingga pecah. Tidak menghiraukan darah yang bercucuran dari tangannya. Merasa dengki untuk menghancurkan kebahagiaan Nadin, membuatnya frustasi.

Keluar dari ruangan itu, masih juga mau membuat ulah. Niken melihat Nadin,, yang berjalan kaki sendirian. Mungkin dia malas, untuk meminta antar menggunakan mobil.

"Nadin bagaimana kemarin, enak tidak dimarahi dengan tuan muda?" Niken mancing-mancing emosi Nadin.

"Tidak enak si, yang enak itu ...." Nadin meletakkan jari telunjuk di dagunya. "Yang enak itu memberikan penjahat pelajaran." Tersenyum lebar ke arah Niken.

"Apa yang mau kamu lakukan?"

"Aku cuma mau bekerjasama dengan penghuni rumah." jawab Nadin.

Dera tiba-tiba muncul, membawa tali tambang. Nadin menepuk-nepuk pundak Niken, sambil tertawa-tawa.

"Kami akan bercanda sebentar, tidak masalah bukan?" tanya Dera.

"Yups, bercanda sekaligus memberikan pelajaran." Nadin memegangi lengan Niken.

"Kalian jangan kurang ajar iya, atau aku laporin ke tuan Argan." ancam Niken.

"Silakan saja, aku sangat menantikannya." ucap Dera.

"Ayo, kita ringkus dia biar cepat bertaubat." Nadin berjalan dengan santai.

Niken berniat membuat Nadin kebakaran api, eh malah senjata makan tuan. Niken tidak dapat melengos sambil menghentakkan kakinya di lantai, karena sekarang dirinya berjalan sambil diseret.

Dera mencari Andi dan Fendi, dengan menyapu pandangan ke sekeliling. Nadin berhenti di balik tembok pembatas, dia mendengar percakapan dua orang. Niken juga sengaja menguping pembicaraan mereka.

"Botak, sepertinya tuan muda masih mencintai kekasihnya yang dulu iya."

"Iya kriwil, buktinya saja tuan muda terlihat lebih dingin dan arogan setelah kepergian sang kekasih."

"Sudah, sudah, nanti kita dimarahi dengan asisten siaga, bila membicarakan privasi tuan muda."

"Makanya diam."

Mbek! Mbek! Mbek!

Tiba-tiba saja ponsel Niken berbunyi, membuatnya harus segera mematikan ponsel agar tidak ketahuan. Itu adalah telepon dari pria hidung belang, yang sempat kurang ajar pada Nadin.

"Ini seperti suara nada dering ponsel, milik Pak Wawan pengawal rumah."

"Pengawal di rumah ini ada seribu orang, aku saja tidak hafal."

"Ini bukan suara kambing, tapi asalnya dari ponsel pelayan Niken." Dera mendorong Niken dengan kasar. "Cepat kalian kurung dia di gudang, benar-benar tidak tahu diri."

"Baik asisten Dera." Fendi dan Andi menarik lengan Niken.

"Asisten Dera, kamu benar-benar tidak berkemanusiaan." Berteriak, sambil menendang kaki Andi dan Fendi.

Nadin tidak mempedulikan kepala Niken, yang menoleh ke belakang. "Kali ini harus berbuat sedikit ekstrim, maafkan aku iya teman."

"Jangan lembut padanya, sifatmu ini harus digunakan untuk tuan muda seorang." Dera tersenyum, mendengar kalimatnya sendiri.

"Hmmm... baiklah." Nadin pertama kalinya melihat Dera senyum lebar.

"Bagus, aku menaruh harapan padamu." Dera menepuk lengan Nadin tiga kali.

Pulang dari kantor, Argan sangat lelah.

"Lepaskan jas ku, dan lepaskan bajuku!" titah Argan pada Nadin.

"Iya suamiku, eh tuan muda maksudnya." Nadin melepaskan jas Argan, dengan perlahan membuka kancing baju. Terlihatlah dada Argan yang kekar. Nadin menumpuk kemeja Argan, pada keranjang baju kotor.

Tok! Tok! Tok!

Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamar. "Kakak, ini aku Sahara." ucapnya.

"Nadin, segera bukakan pintu." titah Argan.

Nadin segera menghampiri pintu, dan Argan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Nadin meraih gagang pintu, dan dia melihat Sahara.

"Kak, boleh aku masuk?" tanya Sahara.

"Boleh dong sayang, ini 'kan kamar kakak kamu juga." jawab Nadin ramah.

Sahara masuk ke dalam kamar dan Nadin menutup pintu. "Kak, di mana Kak Argan?" tanyanya.

"Dia lagi mandi sayang."

"Oh lagi mandi, pantas saja tidak ada di sini."

Mereka berbincang-bincang cukup lama, sesekali bersenda gurau sampai akhirnya Argan keluar dari kamar mandi. Argan berganti baju dan segera menghampiri Sahara dan Nadin.

"Ada apa kamu ke sini Adik cantik?" tanya Argan.

"Aku mau tidur di kamar ini."

"Hah?" Argan terkejut.

"Memangnya tidak boleh iya Kak?"

"boleh kok sayang, apa yang tidak untuk Adik kakak yang manja ini." Mengacak-acak rambut Sahara.

”Kesempatan untukku, aku bisa tidur satu ranjang dengan Argan. Ayo Nadin, jangan sia-siakan kesempatan.” Bergembira dalam batin.

Sahara merasa kesal dengan rambutnya yang diacak-acak. "Kakak jail, sebagai hukumannya Kakak harus menguncir rambutku bersama kak Nadin. Selain itu, Kakak harus bisa mengepang rambutku dengan cantik."

Argan melirik Nadin, karena tidak tahu bagaimana caranya mengepang rambut. "Biar kakak Nadin saja, yang mengepang rambutnya."

Sahara mengangguk, dan Nadin mulai menyisir rambutnya. Setelah itu mulai mengepang rambut seperti biasanya, sejajar dua di belakang.

"Huh, bukan seperti itu yang aku inginkan." celoteh Sahara. "Karena kalian berdua membuatku kesal, maka harus di hukum." titah Sahara.

"Apa hukumannya? Katakan saja." Argan dengan tidak sabar, ingin mengakhiri rengekan adiknya.

"Kalian harus berpelukan dalam waktu satu jam." Sahara tertawa-tawa.

"Hentikan hukuman tidak masuk akal itu." Argan melotot.

"Suamiku, tidak boleh membohongi anak kecil. Kamu harus benar-benar melakukannya." rayu Nadin.

"Kamu lupa iya dengan kesepakatan kita." Argan jadi kesal.

Argan segera memeluk Nadin dengan sembarangan, jarak tangan dan pinggang juga jauh. Sahara merasa lucu, melihat tingkah Argan yang marah.

"Cie, hahaha... hahaha..." Sahara tertawa-tawa.

"Kalau kamu mau kami melakukan lebih, silakan menghadap tembok. Aku jamin satu jam berpelukan." Nadin hampir tertawa, namun ditahan.

Sahara yang polos menghadap tembok, memang Nadin tidak ingin dia melihatnya. Argan melihat Nadin mendekatkan wajah ke arahnya, lalu menempelkan bibirnya. Argan terkejut dan salah tingkah saat Nadin memeluknya, sambil memberikan kecupan berkali-kali pada bibir ranumnya.

1
Hj Hasmiati
Biasa
Rahma Inayah
gila ja rumh sdh spt hotel bintg 5 aja ..es jagung lgi viral.skrg ..ya..
Rhiy: Lebih dari fasilitas bintang lima hhh
total 1 replies
Yuniati Widya Amastuti
thor perbaiki kosa kt dlm penulusan ..contohnya..oermisi dl ya..bkn permisi dulu iya..🙏🙏🙏
maaf krn sukak dg ceritax,semiga makin sukses..💪💪💪
Rhiy: Terima kasih
total 1 replies
Rhiy
Jangan lihat komentar masa lalu, namun baca isi novelnya sekarang. 👍
Meity Manoppo
Lantai berlian, dinding emas, stap kristal...seribu kamar, seribu toilet, seribu pelayan, yg tinggal di situ hanya tuan muda...halu nya tingkat dewa..thor, tp lanjut baca aja deh namanya jg novel 😆😆😆
Lisma Wati
jangan kebanyakan ngmng dlm batin Thor ,cerita nya jd ga seru ,udah serius baca ujung2 nya batin yg ngomong ,jd ky di prank .
Besse sumarniekarani Ekarani
knp banyak bahasa dlm hati si nadin
Besse sumarniekarani Ekarani
aku suka crt ceo
yg jahat tp nanti bucin
walau crt sama tp beda nama doang
tp aku suka crt ceo
tiya amelia
suara nada ponselnya itu loh
mbek mbek mbek 😂😂😂
achie puspita
seru
Rhiy: Terima kasih
total 1 replies
Amanah Amanah
kucing dn tikus
Amanah Amanah
suka dh dg kejailn Sahara dn argan
Amanah Amanah
👍👍🥰🥰👍
Amanah Amanah
katanya nadin sudh tidur thooor koq Sling pndng SMA dera
Amanah Amanah
ga ada insyapnya ya vahisa dn niken
Amanah Amanah
tooobbat vahisa ,,,nikeen
Amanah Amanah
semoga happy smuanya
Amanah Amanah
semoga g ada lgi yg mengganggu nadin dn argan
Amanah Amanah
suka thooor
Amanah Amanah
syukur dh argan waspada thdp minuman itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!