Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).
Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.
Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 27
Langit Tertinggi – Inti Takdir Surgawi.
SRAAASH!
Tidak ada ledakan yang memekakkan telinga. Tidak ada gemuruh petir yang menggetarkan jiwa. Ketika Sabit Perang berwarna merah darah milik Shi Hao membelah Mata Surgawi, suara yang terdengar hanyalah decitan pelan, persis seperti suara kain sutra tua yang dirobek paksa di tengah keheningan malam.
Namun, dampaknya melampaui segala bentuk kehancuran yang pernah dicatat dalam sejarah Tiga Ribu Dunia.
Mata Surgawi wujud kesadaran murni dari Tatanan Tertinggi terbelah menjadi dua bagian yang simetris dari atas hingga ke bawah. Cahaya keemasan yang selama ini menyinari dimensi mutlak itu berkedip-kedip layaknya lilin yang tertiup angin topan, lalu padam sepenuhnya.
"KAU... KAU BENAR-BENAR MENGHANCURKAN..."
Itu adalah gema terakhir dari Tatanan Alam Semesta yang lama. Sebuah kehendak yang telah berkuasa tanpa tanding sejak zaman penciptaan, kini meregang nyawa di ujung bilah sabit seorang manusia yang memilih jalan fana.
Dari celah belahan Mata Surgawi, bukan darah yang memancar keluar, melainkan Hujan Aturan (Laws of the Universe) yang hancur berkeping-keping layaknya pecahan kaca. Sungai Takdir yang mengalirkan miliaran benang nyawa mendadak berhenti bergolak. Roda gigi karma berhenti berputar.
Seluruh dewa, siluman, dan manusia di Tiga Ribu Dunia mendadak merasakan beban tak kasat mata terangkat dari pundak mereka. Rasa takut akan takdir yang tertulis mutlak telah sirna. Mulai detik ini, tidak ada lagi Kehendak Langit yang menindas dari atas. Takdir berada di tangan masing-masing kehidupan.
Di tengah hujan serpihan cahaya keemasan itu, Shi Hao berdiri dalam diam. Sabit merah di tangannya bergetar, memancarkan kepuasan setelah meminum esensi tertinggi di alam semesta, lalu perlahan meleleh kembali menjadi wujud sebatang tongkat bambu yang lapuk.
Mata kiri Asura-nya yang memendam Lautan Darah perlahan-lahan mereda. Pusaran dosa dan pembantaian di dalam rongga matanya mengendap, kembali setenang air telaga.
Shi Hao menghela napas panjang, sebuah hembusan yang meniup sisa-sisa awan emas di Langit Tertinggi.
"Atap yang terlalu tinggi dan tertutup rapat hanya akan membuat seisi rumah pengap," gumam Shi Hao pelan, menatap kehampaan tempat Mata Surgawi tadi berada. "Mulai sekarang, biarkan Tiga Ribu Dunia bernapas tanpa atap yang mengekang mereka."
Shi Hao mengangkat tangan kirinya, mengambil sehelai kain rami putih baru dari saku dadanya. Dengan gerakan yang sangat telaten dan penuh perasaan, ia kembali mengikatkan kain putih itu untuk menutupi mata kirinya. Niat membunuh Asura yang bisa meruntuhkan galaksi itu dikunci rapat-rapat, dikubur kembali di bawah kedamaian Jalan Kemanusiaan.
Pemuda berpakaian rami itu memutar tubuhnya. Ia tidak mengklaim singgasana Langit Tertinggi. Ia bahkan tidak melirik sedikit pun pada energi tak terbatas yang tertinggal dari kematian Tatanan Surgawi.
Ia hanya melangkah menuruni tangga kehampaan, berjalan menyusuri robekan dimensi, kembali ke arah Sektor Tembok Ratapan.
Alam Atas – Sektor Tembok Ratapan.
Di lautan bintang, tiga sosok raksasa masih berlutut dalam diam. Lei Shan, Wuming, dan Ao Zun menahan napas mereka saat melihat robekan langit berwarna darah di atas mereka perlahan memudar, digantikan oleh ruang angkasa yang bersih dan damai.
Dari balik robekan itu, Shi Hao turun. Sandal jeraminya memijak meteorit dengan sangat pelan.
"Bos..." Lei Shan mendongak, matanya yang biasa memancarkan arogansi dewa petir kini basah oleh air mata pemujaan. "Langit Tertinggi... Tatanan Surga..."
"Sudah kubongkar," jawab Shi Hao santai, menggunakan tongkat bambunya untuk menopang tubuh. Ia tersenyum tipis, persis seperti senyum hangat seorang kakak kepada adik-adiknya. "Mulai sekarang, tidak akan ada Rantai Penghakiman yang turun menghukum kalian hanya karena kalian berbuat baik pada musuh."
Ketiga jenderal itu menempelkan dahi mereka ke atas meteorit, bersujud dengan hormat yang melampaui batas bahasa. Tuan mereka baru saja membunuh Surga itu sendiri hanya karena Surga berani mengganggu pengampunan yang ia berikan!
"Lei Shan, Wuming, Ao Zun," panggil Shi Hao, nada suaranya berubah menjadi sedikit lebih.
"Hamba menunggu perintah, Yang Mulia!" seru mereka serentak.
"Tembok Ratapan ini sudah hancur, dan tulang-belulang kapal Nether berserakan di mana-mana. Bersihkan pekarangan depan Alam Atas ini. Jangan biarkan sisa-sisa energi kotor mencemari aliran Sungai Bintang," perintah Shi Hao. "Setelah itu, pulanglah ke istana kalian dan rawat luka kalian. Perang telah usai."
"Siap laksanakan, Tuan Besar!"
Shi Hao mengangguk puas. Ia tidak berkata apa-apa lagi. Sang Kaisar Asura memutar tubuhnya, melangkah ke dalam udara kosong, dan menghilang dalam sekejap mata, meninggalkan jejak harum bunga persik yang sangat samar di tengah lautan bintang.
Dunia Fana – Halaman Gubuk Keluarga Shi.
Pilar cahaya hijau raksasa dari Formasi Teratai Penopang Semesta yang sedari tadi menjulang ke langit, perlahan-lahan meredup dan memudar kembali ke dalam bumi.
Di teras gubuk bambu, Gu Qing Yi menurunkan kedua tangannya yang sedari tadi membentuk segel penyangga langit. Keringat sebesar biji mutiara menetes dari pelipisnya. Menahan seluruh hukum alam fana agar tidak hancur akibat kematian Tatanan Surgawi bukanlah tugas yang mudah, bahkan untuk seorang Raja Dewa.
Namun, senyum di wajah cantiknya tidak pernah luntur.
WUSSS.
Angin musim semi berhembus lembut. Daun-daun bambu bergemerisik pelan. Di depan gerbang kayu pekarangan, sesosok pemuda bersandal jerami muncul dari ketiadaan, membuka pintu pagar dengan bunyi decitan yang khas.
"Aku pulang, Istriku," sapa Shi Hao, berjalan tertatih-tatih memasuki halaman. Mata kirinya kembali terbalut kain putih, dan tongkat bambunya mengetuk-ngetuk tanah berbatu.
Ketiga anjing peliharaan mereka—Hitam Satu, Dua, dan Tiga—langsung berlari menyambut, mengibaskan ekor mereka dengan lincah seolah majikan mereka baru saja pulang dari pasar, bukan dari memenggal Kehendak Semesta.
Qing Yi bergegas menyeka keringatnya dengan celemek rami, lalu berlari kecil menuruni tangga teras. Ia menabrakkan tubuhnya ke dalam pelukan Shi Hao, memeluk pinggang pria itu dengan sangat erat.
"Selamat datang di rumah, Suamiku," bisik Qing Yi, membenamkan wajahnya di dada bidang Shi Hao. Ia bisa mencium aroma ketiadaan dari Langit Tertinggi di jubah suaminya, namun aroma itu dengan cepat tertutupi oleh wangi tanah dan bambu.
Shi Hao tertawa pelan, membelai rambut istrinya dengan tangan kirinya yang masih menyisakan sedikit noda darah fana—darah yang ia teteskan saat menahan Rantai Surgawi.
Qing Yi meraih tangan itu. Ia tidak bertanya mengapa suaminya berdarah. Matanya yang indah menatap luka goresan di telapak tangan Shi Hao, lalu ia meniupnya dengan sangat lembut. Segumpal Qi penyembuhan tingkat Raja Dewa mengalir, menutup luka itu tanpa menyisakan bekas luka sekecil apa pun.
"Kau pasti lelah," kata Qing Yi, menuntun tangan suaminya. "Masuklah. Sup ayam jamurnya masih sangat hangat. Aku juga membuatkan teh bunga persik kesukaanmu."
"Teh bunga persik, ya..." Shi Hao tersenyum, teringat pada percakapan terakhirnya dengan Shen Yu. "Itu pilihan yang sangat tepat hari ini, Qing Yi."
Keduanya berjalan berdampingan menaiki teras kayu, masuk ke dalam gubuk sederhana yang atapnya kadang masih bocor jika hujan lebat turun. Di luar, langit sore berwarna jingga keemasan, memancarkan kedamaian fana yang akan bertahan hingga puluhan ribu zaman ke depan.
Di atas meja makan bambu, semangkuk sup hangat mengepulkan uap putih. Tidak ada pedang yang beradu, tidak ada dewa yang menjerit, dan tidak ada lagi Langit yang mengatur takdir.
Di sudut kecil Dunia Fana ini, Kaisar paling mengerikan dalam sejarah Tiga Ribu Dunia akhirnya bisa duduk dengan tenang, meniup kuah supnya perlahan, dan mencicipi kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan keabadian.