NovelToon NovelToon
Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:51.9k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.

Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.

Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.

Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?

Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Empat Belas

Dua hari setelah malam yang ingin ia lupakan, Hana memilih bangkit dan memulai hidup baru sendiri, jauh dari rumah yang dulu ia sebut tempat pulang.

Dua hari setelah malam itu, Hana akhirnya berdiri di depan cermin kamar hotelnya untuk terakhir kali.

Tidak ada lagi air mata yang jatuh seperti sebelumnya. Wajahnya masih terlihat lelah, matanya masih menyimpan sisa-sisa luka, tapi ada sesuatu yang berbeda. Lebih tenang. Lebih kosong, mungkin. Atau justru lebih kuat.

Ia menatap pantulan dirinya beberapa detik lebih lama, lalu menarik napas pelan.

“Cukup. Sudah cukup sekarang aku harus bangkit,” bisiknya.

Bukan untuk dunia. Tapi untuk dirinya sendiri.

Hana meraih koper yang sudah ia rapikan sejak tadi pagi. Di dalamnya, tidak banyak yang ia bawa. Hanya pakaian seperlunya, beberapa dokumen penting, dan laptop yang selama ini menjadi sumber penghasilannya.

Hotel ini terlalu mahal untuk ditinggali lama. Dan lebih dari itu, tempat ini menyimpan terlalu banyak kenangan yang ingin ia tinggalkan. Ia melangkah keluar tanpa menoleh lagi.

Udara luar terasa berbeda. Lebih hidup. Lebih nyata.

Hana berdiri sejenak di depan hotel, menatap jalanan yang ramai. Kendaraan berlalu lalang, orang-orang berjalan dengan tujuan masing-masing. Dunia tetap berjalan seperti biasa.

Dan kali ini, ia memutuskan untuk ikut berjalan juga. Tidak lagi diam dan tenggelam.

Hana mengangkat tangannya, menghentikan taksi yang lewat. Begitu pintu terbuka, ia langsung masuk.

“Ke daerah kontrakan di sekitar sini, Pak. Yang sederhana saja,” ucapnya pelan.

Supir itu mengangguk tanpa banyak bertanya.

Sepanjang perjalanan, Hana menatap keluar jendela. Pikirannya tidak sepenuhnya kosong. Tapi juga tidak lagi berisik seperti dua hari lalu.

Ia sudah membuat keputusan. Ia tidak akan kembali ke rumah itu. Tidak sekarang dan selamanya.

Dua jam kemudian, Hana sudah berdiri di depan sebuah rumah kontrakan kecil. Tidak besar. Tidak mewah. Tapi cukup untuk dirinya tinggal.

Bangunannya sederhana, catnya sedikit memudar, halaman depannya sempit. Tapi ada sesuatu yang membuat Hana merasa, ini cukup untuk memulai lagi.

Pemilik kontrakan, seorang ibu paruh baya, tersenyum ramah saat menyerahkan kunci.

“Kalau ada apa-apa, bilang saja ya, Nak,” ucapnya.

Hana mengangguk pelan. “Terima kasih, Bu.”

Begitu pintu tertutup, suasana hening langsung menyambutnya. Tidak ada suara siapa pun. Tidak ada kenangan yang mengikat. Hanya dirinya sendiri.

Hana meletakkan koper di lantai, lalu duduk di kasur tipis yang ada di dalam kamar. Tangannya jatuh lemas di pangkuan.

Beberapa detik ia hanya diam. Lalu perlahan, ia mengeluarkan ponselnya. Ada beberapa pesan yang masuk. Dari nomor yang sama. Farhan, suaminya.

Hana menatap layar itu cukup lama. Jarinya sempat bergerak, seolah ingin membuka pesan itu. Tapi kemudian ia berhenti.

Layar dimatikan. Ia belum siap. Belum sekarang.

Sebagai gantinya, Hana membuka aplikasi lain. Kontak-kontak lama. Beberapa nama pemasok yang dulu pernah bekerja sama dengannya. Jari-jarinya mulai bergerak. Satu per satu pesan dikirim.

“Mbak, masih ada stok seperti dulu?” “Mas, kalau saya mau ambil lagi, bisa?” “Saya mau mulai jualan lagi.”

Pesannya sederhana. Tanpa penjelasan panjang. Dan satu per satu, balasan mulai masuk.

Sebagian masih ingat dirinya. Sebagian bertanya kenapa lama menghilang. Tapi yang terpenting, peluang itu masih ada.

Hana menarik napas pelan. Setidaknya ini sesuatu.

Ia membuka laptopnya, menyalakan kembali akun toko onlinenya yang sudah lama tidak aktif. Tampilan layar itu terasa asing sekaligus familiar. Seperti bertemu kembali dengan bagian dirinya yang dulu sempat hilang.

“Pelan-pelan aja,” gumamnya pada diri sendiri. Tidak perlu langsung sempurna. Yang penting mulai bergerak.

Di tempat lain.

Arsaka berdiri di depan jendela kantornya, menatap pemandangan kota dari lantai atas.

Tangannya berada di saku celana, rahangnya sedikit mengeras. Sudah dua hari berlalu, tapi bayangan perempuan itu masih saja muncul di kepalanya. Hana.

Nama yang bahkan baru ia ketahui. Dan sejak saat itu, rasa penasarannya justru semakin besar.

Ketukan di pintu membuatnya menoleh. “Masuk.”

Pintu terbuka, dan salah satu bawahannya masuk dengan membawa sebuah map.

“Pak, ini yang Bapak minta.”

Arsaka tidak langsung mengambilnya. Tatapannya tetap tajam. “Sudah lengkap?”

“Sebisa mungkin, Pak. Termasuk rekaman CCTV dari bar itu.”

Kali ini Arsaka langsung bergerak. Ia mengambil map tersebut, membukanya dengan cepat.

Beberapa lembar foto dan dokumen ada di dalamnya. Salah satunya adalah potongan gambar dari CCTV.

Hana terlihat jelas. Masuk sendirian. Tidak ada siapa pun yang menemaninya. Arsaka menyipitkan mata, menatap gambar itu lebih lama.

“Sendiri …,” gumamnya pelan.

Ia membalik halaman berikutnya. Beberapa keterangan tambahan tertulis di sana. Nama lengkap. Usia. Status.

Langkah Arsaka terhenti. “Menikah.”

Satu kata itu cukup untuk membuat ekspresinya berubah tipis.

Ia membaca lebih lanjut. “Istri dari Farhan… tinggal di alamat ini … tapi .…”

Bawahannya melanjutkan dengan hati-hati, “Menurut informasi, Pak ... dia sudah dua hari tidak pulang ke rumahnya.”

Arsaka mengangkat kepala. “Tidak pulang?”

“Iya, Pak. Katanya pergi setelah bertengkar dengan suaminya.”

Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi. Arsaka menutup map itu perlahan, tapi pikirannya justru semakin terbuka ke berbagai kemungkinan.

Wanita menikah. Datang ke bar sendirian. Minum sampai kehilangan kesadaran. Dan sekarang sedang pergi dari rumah.

Ia berjalan perlahan kembali ke jendela, menatap keluar. Wajah Hana malam itu kembali terlintas di benaknya.

Tatapan bingung. Tubuh yang hampir jatuh. Cara ia memegangnya dan bagaimana perempuan itu terlihat begitu rapuh.

Tidak seperti wanita yang terbiasa dengan dunia malam. Tidak seperti yang ia pikirkan sebelumnya.

Arsaka menghembuskan napas pelan. “Dia bukan wanita seperti itu …,” gumamnya tanpa sadar.

Bawahannya terdiam, tidak berani menyela. Arsaka kembali membuka map itu, menatap foto Hana sekali lagi.

Ada sesuatu yang tidak cocok. Sesuatu yang membuatnya merasa ada cerita yang belum ia tahu.

“Kenapa dia ke sana …?” bisiknya pelan.

Pertanyaan itu muncul begitu saja. Lebih dalam dari sekadar rasa penasaran biasa.

Ia mengingat lagi informasi yang baru saja ia dapat. Bertengkar dengan suami. Pergi dari rumah. Datang ke bar sendirian.

Semua itu seperti potongan puzzle yang belum tersusun dengan benar. Arsaka menghela napas panjang, lalu menutup map itu dengan tegas.

Tatapannya kembali kosong, tapi pikirannya penuh.

“Cari tahu lebih lanjut,” ucapnya akhirnya.

Bawahannya langsung mengangguk. “Baik, Pak.”

Begitu pintu kembali tertutup, Arsaka berdiri sendiri di dalam ruangan itu. Ia menatap kota di depannya, tapi yang ia lihat bukan gedung-gedung tinggi. Melainkan wajah seorang perempuan yang bahkan tidak ia kenal dengan benar. Hana.

Wanita yang masuk ke bar sendirian. Wanita yang sekarang meninggalkan rumahnya. Dan wanita yang entah kenapa masih terus mengganggu pikirannya.

Arsaka menyipitkan mata sedikit. Dalam hatinya, satu pertanyaan itu kembali muncul. Lebih jelas dan tajam.

Kenapa dia pergi dari rumah dan memilih datang ke tempat seperti itu? Apakah hanya karena pertengkaran? Atau ada sesuatu yang lebih dalam?

Pertanyaan itu menari-nari dalam pikirannya. Arsaka merasa perlu mencari tahu lagi tentang Hana agar semua pertanyaan itu bisa terjawab.

1
Enny Suhartini
lanjut kak ditunggu 👍
Radya Arynda
semangaat hana,, semogah cepat nikah sama arsaka
🌷💚SITI.R💚🌷
benar ga benar hana..tp smg setekah ini ada status kejelasan buat kamu..kamu msh istriy farhan atau istriya arsaka..smg yg trbaik
Eka ELissa
bner Hana dia ayah dri ank mu...
dan dia yg bkln meratukan kan membhgiakan kmu Hana....
Sugiharti Rusli
entah lha ya laki" bisa sangat picik pikirannya seperti Farhan dan ibunya yang mengaanggap mereka Tuhan yang bisa menentukan segala sesuatu,,,
Sugiharti Rusli
karena sejatinya urusan rahim itu adalah ranahnya Allah Sang Pemilik segalanya, bukan si Hana atau si Chika yah,,,
Sugiharti Rusli
dan si Farhan maupun ibunya percaya diri gitu kalo dia menikahi si Chika akan langsung dikaruniai anak🙄🙄🙄
Sugiharti Rusli
apa sebelum mendiang ayah Farhan wafat, dia terpaksa menerima Hana yah karena atas ijin mendiang suaminya si Farhan menikahi Hana🤔🤔🤔
Sugiharti Rusli
bahkan ketika ada peringatan wafatnya sang suami, si bu Meri juga ga segan" mempermalukan menantunya di hadapan orang banyak kan,,,
Sugiharti Rusli
sedari awal ibu mertuanya memang tidak menerima si Hana sebagai menantu sepertinya sih,,,
Sugiharti Rusli
dan belum" sudah menyodorkan calon istri baru buat putranya tanpa memikirkan perasaan Hana nanti seperti apa,,,
Sugiharti Rusli
apalagi si Farhan juga belum pernah dicek kesuburannya selama ini kan, kenapa langsung vonis Hana yang bermasalah,,,
Sugiharti Rusli
kenapa yah vonis selalu datang dari ibu mertua ke menantu perempuan langsung,,
ken darsihk
Tenang Hana kamu aman ikut dngn Arsaka , ini juga untuk kebaikan baby mu 💪💪
guest1053527528
akhirx di pertemukan thor
Ida Nur Hidayati
keputusan Arsaka udah yang terbaik ikut saja Hana
vania larasati
lanjut kak
Vie
akhirnya lanjut juga.... makasih kak aku kira cerita ini bakalan gak lanjut lagi..... mudah2an ceritanya lanjut sampai tamat ya kak, jangan digantung, karena digantung itu sangatlah gak enak, ga ada kepastian... 🤭🤭👍👍
Vie: ok kak.. aku selalu menunggu..... ceritanya seru... makin penasaran nunggu lanjutnya... 👍👍👍👍👍
total 2 replies
Ilfa Yarni
pasti yg terbaik hana arsaka orang baik dan bertanggung jawab km ga usah ragu dan khawatir semua akan baik2 saja buat km dan calon ank kalian
yumna
han km kira"d hukum ga ya 🤣🤣🤣🤣🤣.....lasng bos mu yg trun tangan bjuk hana🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!