Mantan agen rahasia dari sektor 7 kini kembali setelah masa tugasnya delapan tahun selesai.... Faas laki-laki pendiam yang selalu di anggap keluarganya adalah aib karena sifat pendiam nya membuat keluarga membuang Faas ke Amerika dengan dalih untuk meneruskan pendidikannya di sana, namun bertahun-tahun lamanya, menurut keluarnya ,Faas tetaplah laki-laki pendiam yang tidak bisa berbuat apa-apa,selain menghabiskan uang keluarganya, padahal di balik pendiam nya Faas , ada rahasia tersembunyi yang tidak ada satu keluarga nya yang tahu .
_
_
_
Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum...
bertemu lagi dengan author yang suka-suka...
yuk ikuti kisahnya ... , ini kelanjutan cerita tentang Faas sebagai rekan sektor 7 shadow Midi.
semoga sukaaaaa
dan selamat membaca.... yang tidak suka tinggal skip, dan untuk yang mau mengikuti cerita ini, mohon dukungannya ya, 🥰🥰🥰🥰 terimakasih 🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Di ruang makan mewah, seluruh keluarga sudah berkumpul. Ada Kakek Horison, Papa Doni, serta Saka. Faas duduk dengan tegap di kursi utama di samping Eliza, memancarkan aura seorang kepala keluarga baru yang bertanggung jawab.
"Wah, aroma masakan pengantin baru beda ya, wangi sekali," goda Saka sengaja memecah keheningan sembari mengambil sendok, membuat Eliza mengerucutkan bibirnya manja.
"ini bukan nasi sisa catering kemarin kan Eliza ?" celetuk Saka sambil memakan sesuap nasi goreng buatan Eliza.
"tentu saja tidak kak, itu hanya sisa nasi semalam" jawab Eliza ketus membuat semuanya tertawa...,sifat manja Eliza yang telah hilang selama tiga tahun ini, mulai kembali semenjak mengenal Faas.
Perbincangan ringan dan tawa hangat mengalir di sepanjang sarapan pagi itu. Namun, perlahan-lahan, suasana berubah menjadi lebih tenang dan sarat akan emosi ketika sarapan mulai usai. Ini adalah momen pelepasan, saat di mana Eliza harus keluar dari rumah yang membesarkannya untuk mengikuti langkah suaminya.
Papa Doni meletakkan sendoknya, lalu menatap Faas dengan pandangan mata seorang ayah yang dipenuhi ketulusan sekaligus ketegasan.
"Faas," panggil Doni, suaranya yang berat bergetar menahan haru.
Faas langsung menegakkan punggungnya, menatap balik mertuanya dengan takzim. "Iya, Papa."
"Hari ini, kamu akan membawa Eliza keluar dari rumah ini untuk tinggal bersamamu. Sejak bayi, kami merawatnya dengan limpahan cinta. Dia adalah permata di rumah ini," ucap Doni, matanya mulai berkaca-kaca. Ia menjeda kalimatnya sejenak, menahan sesak di dada. "Papa titipkan Eliza kepadamu. Tolong, sayangi dia, bimbing dia, dan selalu jaga dia dengan baik."
Doni menghela napas panjang, menatap Eliza yang air matanya sudah mulai mengambang di sudut mata. "Dan Papa berpesan satu hal... jika suatu hari nanti, entah karena alasan apa pun, kamu sudah tidak mencintainya lagi... tolong jangan sakiti dia. Jangan bentak dia, jangan khianati dia. Kembalikan Eliza kepada Papa dengan cara yang baik-baik, sama seperti saat kamu memintanya secara baik-baik kemarin."
Mendengar ucapan Doni, tangis Eliza pecah. Ia langsung menggenggam tangan Faas di bawah meja dengan sangat erat. Saka yang duduk di seberangnya ikut berkaca-kaca, sementara kakek Harison mengangguk, setuju dengan ucapan menantunya.
Faas tertegun. Kalimat mertuanya menghujam langsung ke lubuk hatinya yang paling dalam. Laki-laki kaku dan pendiam itu tidak langsung menjawab. Ia membalas genggaman tangan Eliza, menyalurkan kehangatan yang kokoh.
Faas menatap Doni, lalu beralih ke Kakek Horison dan Saka dengan tatapan elangnya yang paling mantap, mutlak, dan tidak tergoyahkan.
"Papa Doni, Kakek, dan Kak Saka... dengarkan janji saya pagi ini," suara bariton Faas bergaung tenang namun sangat berwibawa di ruang makan. "aku bersumpah demi yang memegang jiwa saya, saya mengambil Eliza dengan kalimat-Nya, dan saya tidak akan pernah menyia-nyiakannya. Tidak akan pernah ada hari di mana saya mengembalikan Eliza karena kehilangan cinta."
Faas menoleh menatap Eliza dengan tatapan yang begitu melembut, dipenuhi komitmen yang sakral.
"Saya membawa Eliza untuk seumur hidup saya. Bahkan jika dunia berguncang, janji mati saya adalah untuk selalu mencintai, melindungi, dan menghormatinya sebagai ratu di hidup saya. Saya tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan keluarga Daneswara, seujung kuku pun tidak."
Mendengar janji mati yang diucapkan dengan begitu tegas dan tanpa keraguan dari bibir Faas, Kakek Horison mengangguk-angguk haru sembari menghapus sudut matanya dengan sapu tangan. Saka menepuk bahu tegap adik iparnya itu dengan bangga.
"Kami memegang kata-katamu, Faas. Kamu laki-laki sejati," ucap Saka dengan senyum lega.
kakek Harison menyela"dan untuk mu saka, cepatlah cari pendamping, masa di rumah sebesar ini, semua penghuninya laki-laki"
"kenapa tidak kakek saja sama papa yang cari pendamping " jawab Saka terkekeh.
Tuk....
Kakek Harison menyentil telinga Saka"kualat Kamu, aku sumpahin, akhir tahun ini kamu punya istri" .
Eliza tergelak sambil mengaminkan sumpah kakeh Harison.
Suasana haru dengan penuh candaan yang pekat itu ditutup dengan pelukan perpisahan. Eliza mencium punggung tangan Papa Doni dan Kakek Horison dengan sangat lama, menumpahkan air mata syukurnya. Setelah berpamitan dengan keluarnya, Faas membimbing Eliza melangkah keluar menuju mobil yang sudah siap di pelataran.
Pagi itu, dengan restu dan doa tulus yang mengiringi langkah mereka, Faas resmi membawa Eliza pergi. Mobil sedan hitam itu bergerak membelah jalanan, meninggalkan kehangatan Daneswara, bergerak menuju kediaman Abrari di mana Jihan, Jenita, dan Megan sudah menunggu kedatangan mereka dengan belati kelicikan yang siap dihunus, tanpa tahu bahwa mereka sedang menyambut badai kehancuran mereka sendiri.
____
Mobil sedan hitam milik Faas akhirnya berbelok memasuki pelataran mansion keluarga Abrari. Tidak ada karpet merah, tidak ada dekorasi indah, dan tidak ada penyambutan khusus yang hangat seperti di rumah Daneswara. Suasana teras depan terasa begitu sunyi dan dingin, seolah-olah rumah megah ini enggan menerima kehadiran sepasang pengantin baru.
Begitu pintu utama terbuka, hanya Diana yang sudah menunggu di ruang tengah dengan kursi rodanya, didampingi oleh Yolanda. Gurat kebahagiaan terpancar jelas di wajah pucat Diana saat melihat putra sulungnya melangkah masuk sembari membimbing tangan Eliza.
Namun, ketenangan itu langsung terusik ketika langkah kaki beritme angkuh terdengar dari arah dalam. Jihan melangkah maju dengan pakaian rumahannya yang mewah, diikuti oleh Megan yang berjalan di sampingnya. Hanya dalam waktu semalam, Megan yang licik terbukti sudah berhasil mengambil hati Jihan dengan sikap manis yang dibuat-buat, demi mengamankan posisinya sebagai menantu pertama di rumah ini.
"Oh, jadi ini pengantin baru yang kemarin bikin heboh sampai membuat suamiku harus repot-repot datang?" sindir Jihan, langsung membuka suara tanpa basa-basi.
Namun, saat pandangan mata Jihan turun dan terkunci pada wajah pengantin wanita di samping Faas, langkah Jihan seketika terhenti. Matanya membelalak lebar, napasnya tertahan di tenggorokan.
"K-kamu... perempuan udik yang di kampus itu?!" pekik Jihan, suaranya mendadak meninggi karena syok yang luar biasa.
Jihan langsung mengenali wajah Eliza dari foto-foto yang sering ditunjukkan oleh putrinya, Jenita, saat merundung Eliza di media sosial.
Otak Jihan berputar cepat, mencoba mencerna kenyataan pahit yang baru saja disampaikan Husen semalam , bahwa musuh besar putrinya di kampus ternyata adalah putri angkat kesayangan dari aliansi raksasa keluarga Daneswara! Kenyataan bahwa gadis yang selalu mereka hina miskin kini berdiri sebagai istri sah Faas, sekaligus memegang status sosial yang jauh di atas keluarga mereka, membuat harga diri Jihan hancur berantakan di lantai mansionnya sendiri.
"Assalamualaikum...." ucap Eliza lembut, langsung mencium lembut punggung tangan Diana yang sedari tadi tersenyum tanpa memperdulikan Jihan.