NovelToon NovelToon
Sistem Dewi Rubah

Sistem Dewi Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

terjadi kesalahan cerita, cerita akan di mulai dengan cerita baru. cerita ini tiba-tiba terjadi kesalahan yang tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Cinta untuk Nona Muda"

Dua hari berlalu.

Bagi murid-murid SMA Seiran, dua hari hanyalah dua hari. Tapi bagi Lucy, dua hari adalah waktu yang cukup untuk mengukir namanya di benak seseorang.

Setiap pagi, Ren Arisugawa kini menyapanya. Bukan sapaan hangat—tentu saja bukan. Hanya anggukan kecil. Atau kadang, "Pagi," yang diucapkan dengan nada datar sambil berlalu. Tapi bagi seseorang yang sebelumnya bahkan tidak menyadari keberadaannya, itu adalah lompatan besar.

Dan setiap sore, saat Lucy selesai latihan klub musik dan Ren selesai rapat OSIS, mereka sering bertemu di koridor. Kadang mereka berjalan bersama menuju gerbang—tidak berdampingan, tapi cukup dekat. Kadang Ren bertanya hal-hal kecil: "Latihanmu bagaimana?" atau "Kakimu sudah baikan?" Dan Lucy akan menjawab dengan suara pelan, pipi memerah, mata menunduk.

Akting yang sempurna.

"Kau benar-benar menikmati ini," komentar Lili suatu malam saat Lucy sedang mengaplikasikan sesuatu ke wajahnya.

Mereka ada di apartemen Lucy. Sang Dewi Rubah duduk di depan cermin, sebuah toples kecil di tangannya berisi krim putih mutiara yang berkilau samar—bukan produk perawatan manusia, melainkan ramuan dari kastilnya sendiri.

"Aku tidak percaya perawatan manusia," kata Lucy, mengoleskan krim itu ke pipinya. "Terlalu banyak bahan kimia. Terlalu lambat hasilnya. Ini lebih aman." Dia menepuk-nepuk wajahnya pelan. "Dan ya, aku menikmatinya. Sangat."

"Berpura-pura menjadi gadis pemalu yang gugup?"

"Itu menyenangkan." Lucy tersenyum pada bayangannya. "Seperti memainkan peran di drama panggung. Hanya saja penontonnya tidak tahu bahwa mereka sedang ditonton."

Kulitnya kini terlihat lebih cerah, lebih lembut. Bukan perubahan drastis—hanya sedikit demi sedikit, seperti seseorang yang akhirnya cukup tidur dan minum air yang cukup. Tapi Lucy tahu persis apa yang dia lakukan. Dia merawat dirinya dengan standar surgawi, dan hasilnya mulai terlihat.

Rambutnya masih hitam—itu tidak akan berubah dulu. Softlens hitam masih menutupi mata birunya. Tapi cara dia membawa dirinya, sedikit demi sedikit, berubah.

 

Keesokan harinya adalah hari terakhir latihan sebelum acara ulang tahun sekolah. Besok adalah hari besar.

Tapi klub musik tidak sedang latihan hari ini. Sebagai gantinya, mereka sibuk mempersiapkan peralatan—mengecek mikrofon, menyetel amplifier, memastikan semua alat musik dalam kondisi prima. Nao, Rina, dan Mika sibuk mondar-mandir, tapi Lucy sudah menyelesaikan bagiannya lebih awal.

"Aku mau jalan-jalan sebentar," katanya pada ketiga temannya. "Kalian tidak apa-apa di sini?"

"Jalan-jalan? Ke mana?" tanya Nao.

"Ha-hanya... melihat-lihat..."

"Ah, aku tahu!" Rina tiba-tiba menyeruduk di antara mereka, matanya berbinar. "Kita juga hampir selesai. Gimana kalau kita ke ruang basket?"

"Ruangan basket?" Mika ikut berbinar. "Buat nonton Kaito Fujiwara maksudmu?!"

"Jelas! Siapa lagi?" Rina sudah meraih tasnya. "Lucy, ikut yuk! Kita belum pernah ajak kamu nonton anak basket!"

Lucy memiringkan kepalanya, pura-pura tidak tahu. "Kaito... Fujiwara?"

"KAMU TIDAK TAHU KAITO?!" Ketiga gadis itu menatapnya dengan ekspresi tidak percaya. "Dia ketua klub basket! Satu kelas sama kamu lagi!"

"A-aku... tidak terlalu memperhatikan..."

"Ya ampun, Lucy." Nao menggeleng-gelengkan kepala. "Hari ini kamu harus ikut. Ayo!"

Sebelum Lucy bisa memprotes lebih lanjut, ketiga temannya sudah menariknya keluar ruangan. Dia membiarkan dirinya diseret, sebuah buku kecil di tangannya—siap untuk pura-pura membaca.

Antagonis pria, pikirnya. Aku sudah memperhatikanmu dari jauh. Tapi hari ini... aku akan melihat lebih dekat.

 

Ruang basket SMA Seiran sangat luas. Tribune penonton bertingkat tiga di kedua sisi, dan di tengah, lapangan kayu mengilap dengan garis-garis putih bersih. Suara sepatu basket berdecit di lantai, dicampur teriakan pemain dan peluit pelatih.

Lucy duduk di tribune paling atas bersama ketiga temannya. Buku terbuka di pangkuannya—Pengantar Sosiologi—tapi matanya tidak membaca satu kata pun.

Di bawah, tim basket sedang berlatih. Dan di tengah-tengah mereka, Kaito Fujiwara bermain seperti badai yang dikurung dalam kulit manusia.

Gerakannya cepat, agresif, penuh tenaga. Setiap lompatannya eksplosif. Setiap lemparannya presisi. Dia menggiring bola melewati lawan dengan kemudahan yang nyaris menghina, dan saat dia melakukan dunk, seluruh tribune bergetar oleh tepukan tangan.

"Lihat, lihat, lihat!" Rina mencengkeram lengan Lucy. "Itu dia! Kaito! Ganteng banget kan?!"

"Cool banget," tambah Mika dengan napas hampir tertahan. "Dia kayak nggak tersentuh gitu."

"Justru karena dia nggak tersentuh makanya menarik," Nao menambahkan bijak. "Katanya sih, nggak ada perempuan yang bisa deketin dia. Semua ditolak."

"Bahkan Akane Minagawa?" tanya Mika.

"Kata orang sih, Akane itu tunangannya cuman karena urusan keluarga. Kaito sendiri kayaknya nggak peduli."

Lucy mendengarkan percakapan mereka dengan setengah telinga. Matanya mengikuti gerakan Kaito, menganalisis setiap detail. Posturnya yang tinggi dan berotot. Caranya mengabaikan teriakan dari tribune—perempuan-perempuan yang memanggil namanya. Caranya bahkan tidak melirik sedikit pun.

Dia benar-benar tidak suka perempuan yang mendekatinya, pikir Lucy. Menarik.

Latihan berakhir dengan peluit panjang. Para pemain mulai beristirahat, menyebar ke pinggir lapangan. Dan seperti jamur setelah hujan, sekelompok gadis muncul entah dari mana, membawa botol minuman dan handuk.

Teman-teman Kaito—anggota Five Shadows—menerima minuman itu dengan senyum lebar. Mereka terbiasa dengan perhatian. Tapi Kaito? Dia hanya berjalan melewati gadis-gadis itu tanpa melihat. Satu gadis mencoba memberinya botol, dan dia menggeleng—singkat, dingin, final.

Gadis itu mundur dengan wajah merah padam, entah karena malu atau marah.

"Tuh kan," bisik Nao. "Katanya, dia bahkan nggak suka dikasih minuman. Nggak ada yang bisa deketin."

"Tapi justru itu bikin penasaran," Rina menghela napas dramatis. "Pria dingin yang nggak tersentuh... aduh."

Lucy hampir terkekeh. Pria dingin yang tidak tersentuh. Kalian belum melihat apa-apa.

Saat itulah, di tengah kerumunan yang mulai membubarkan diri, Kaito mendongak.

Matanya menyapu tribune—dan berhenti di satu titik.

Tepat di tempat Lucy duduk.

Lucy sedang memegang bukunya, matanya tidak menatap lapangan. Dia pura-pura membaca, wajahnya tenang, tidak peduli. Tapi dia bisa merasakan tatapan itu di kulitnya. Sebuah insting lama—insting seorang predator yang sadar sedang diamati oleh predator lain.

Dia mendongak.

Kontak mata. Sesaat. Dua detik, mungkin tiga.

Mata cokelat Kaito menatapnya dengan sesuatu yang sulit diartikan. Bukan ketertarikan—belum. Tapi... kesadaran. Kesadaran bahwa ada seseorang di tribune yang tidak seperti yang lain. Seseorang yang tidak berusaha menarik perhatiannya.

Lucy mengalihkan wajahnya lebih dulu. Dia menutup bukunya, berdiri, dan berjalan menuruni tangga tribune.

"Eh, Lucy? Mau ke mana?" panggil Nao.

"Ke toilet sebentar."

Dia berjalan keluar dari ruang basket tanpa menoleh. Tapi di punggungnya, dia masih bisa merasakan tatapan itu.

Bagus, pikirnya. Dia menyadariku. Itu langkah pertama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!