NovelToon NovelToon
JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: YANG BANGKIT DARI KEGELAPAN

Suara langkah kaki yang berat dan lambat itu bergema ritmis, beradu dengan dinding-dinding batu kuno terowongan bawah tanah bawah altar Gorgan. Setiap kali kaki tak terlihat itu menapak, getaran halus merambat naik menembus anak tangga batu yang licin, membuat tetesan darah segar dari ukiran mata satu di dinding semakin deras mengalir. Hawa dingin yang memancar dari kedalaman lorong melonjak drastis, membekukan lumut-lumut hijau menjadi kristal es tipis dalam hitungan detik.

Dion mempererat cengkeraman tangan kirinya pada jemari Mayang, menarik tubuh ramping wanita itu selangkah lebih dekat ke balik punggung tegapnya. Pendar sihir kabut perak bercampur ungu murni di tangan kanan Dion semakin menyala terang, memotong kepekatan udara gua dan mengarah lurus ke arah lorong bawah tanah yang gelap gulita di depan mereka.

"Dion... baunya..." bisik Mayang dengan suara yang bergetar menahan pekatnya atmosfer. Sebagai seorang tabib, indera penciumannya menangkap aroma sulfur yang sangat menyengat, bercampur dengan bau karat besi tua dan anyir darah yang teramat sangat kental. "Ini bukan bau manusia... ataupun binatang buas yang biasa hidup di Lembah Shrouded."

"Tetap di belakangku, Mayang. Jangan lepaskan tanganmu, apa pun yang terjadi," perintah Dion, suara baritonnya yang berat terdengar begitu dingin dan mutlak, memotong kepanikan yang mulai merayap di dada wanitanya. Tangan kanannya yang memegang belati perak pusaka klan terangkat siaga, memosisikan bilah senjatanya dalam sudut tebas yang mematikan.

Pendar cahaya ungu dari tangan Dion akhirnya berhasil menangkap sesosok siluet raksasa yang perlahan muncul dari balik belokan lorong bawah. Sosok itu memiliki tinggi hampir tiga meter, mengenakan zirah besi kuno yang telah berkarat dan hancur di berbagai sisi, memperlihatkan kulit tubuhnya yang berwarna abu-abu pucat seperti mayat yang telah mengering selama ratusan tahun.

Namun, yang membuat bulu kuduk Mayang meremang adalah bagian kepala makhluk tersebut. Makhluk itu tidak memiliki wajah, melainkan hanya sebuah batu kristal merah darah berukuran besar yang tertanam paksa di dalam rongga tengkoraknya, memancarkan cahaya merah yang berkedip-kedip seirama dengan detak jantung magis yang mengerikan.

‘Golem Pengikat Jiwa...’ batin Dion seketika mengenali makhluk terkutuk tersebut dari catatan kuno para pemburu terdahulu. Makhluk itu adalah boneka perang tanpa jiwa yang diciptakan oleh penyihir tingkat tinggi Sekte Bayangan Darah menggunakan mayat para ksatria yang gugur, digerakkan sepenuhnya oleh inti kristal di kepalanya.

GROOOOAAAAARRRR!

Merasakan kehadiran energi sihir naga ungu yang sangat masif di dalam tubuh Dion, Golem raksasa itu mendadak mengaum keras, meskipun ia tidak memiliki mulut. Gelombang suara yang dihasilkan begitu padat, menciptakan tekanan angin kencang yang menghantam tubuh Dion dan Mayang hingga pakaian mereka berkibar hebat.

Tanpa peringatan lebih lanjut, Golem itu melesat maju dengan kecepatan yang sangat kontras dengan ukuran tubuh raksasanya. Tangan kanannya yang memegang sebuah kapak perang raksasa berkarat diayunkan mendatar, mengincar langsung ke arah leher Dion.

Dion tidak memilih untuk mundur. Sifat dominan dan insting predatornya sebagai pemburu klan membumbung tinggi. Dengan gerakan refleks yang luar biasa cepat, ia merendahkan tubuhnya, menarik Mayang ikut menghindar ke bawah.

SLASH!

Mata kapak raksasa itu menebas angin tepat di atas kepala mereka, menghantam dinding batu lorong hingga hancur berkeping-keping dan menciptakan rontokan batu yang tajam. Di saat yang sama, Dion menghentakkan kaki kanannya ke atas tanah, melesat maju seperti anak panah yang terlepas dari busurnya memanfaatkan momentum kelengahan makhluk tersebut.

Kabut perak bercampur ungu melilit bilah belati peraknya saat Dion melompat ke udara, mengarahkan tusukan mautnya tepat ke arah kristal merah di kepala Golem.

TING!

Bunyi benturan keras dua benda padat menggema memekakkan telinga. Sayangnya, refleks makhluk purba itu luar biasa cepat. Golem itu berhasil mengangkat lengan kirinya yang dilapisi pelindung besi tebal untuk menangkis tikaman belati Dion. Benturan itu memercikkan bunga api magis yang terang, sekaligus melemparkan tubuh tegap Dion mundur beberapa langkah ke belakang.

Dion mendarat dengan mulus di atas kedua kakinya, namun rahangnya semakin mengeras sempurna. Lengan kanannya terasa sedikit mati rasa akibat menahan energi benturan yang teramat besar tadi. Makhluk di hadapannya memiliki ketahanan fisik yang jauh melampaui Penguasa Gorgan yang mereka tumbangkan semalam.

"Dion! Kelemahan makhluk itu bukan pada zirah besinya!" seru Mayang dari balik batu besar tempatnya berlindung. Sepasang mata indahnya dengan cepat menganalisis pergerakan sang Golem. "Lihat persendian di lutut dan siku kirinya! Ada retakan segel sihir berwarna kelabu di sana. Jika kamu bisa menghancurkan segel itu terlebih dahulu, aliran energi ke kristal kepalanya akan terputus!"

Mendengar petunjuk dari wanitanya, sebuah senyuman tipis yang sangat dingin terukir di sudut bibir tampan Dion. "Petunjuk yang sangat bagus, Tabibku."

Dion kembali memposisikan belatinya ke depan. Kali ini, ia tidak lagi membiarkan sihir naganya bergejolak liar secara acak. Ia memejamkan mata sesaat, menggunakan teknik konsentrasi tingkat tinggi klan untuk memusatkan seluruh sisa partikel kabut perak di udara masuk dan melapisi bilah senjatanya hingga berubah warna menjadi perak berkilauan yang teramat tajam.

Golem raksasa itu kembali meraung, mengangkat kapak besarnya tinggi-tinggi ke udara bersiap untuk menghantamkan pukulan vertikal yang bisa membelah tanah.

Namun, sebelum kapak itu sempat bergerak turun, Dion sudah lebih dulu melesat menyusuri lantai lorong dengan gerakan zig-zag yang membingungkan indera penglihatan magis sang makhluk. Kecepatannya kini meningkat dua kali lipat berkat dorongan sihir angin kabut.

CRASH!

Dalam satu gerakan memutar yang sangat anggun namun mematikan, Dion menebas bagian belakang lutut kiri Golem raksasa tersebut, tepat di titik retakan segel kelabu yang ditunjuk oleh Mayang. Bilah belati peraknya yang telah dilapisi sihir kabut murni menembus zirah berkarat itu seperti memotong lembaran kertas.

Cairan hitam kental berbau busuk seketika menyembur keluar dari luka tersebut, diikuti oleh raungan kesakitan dari sang Golem saat tubuh raksasanya mendadak kehilangan keseimbangan dan berlutut di atas satu lututnya di atas lantai batu.

Dion tidak memberikan kesempatan sedikit pun bagi lawannya untuk memulihkan diri. Memanfaatkan pundak besar Golem yang sedang merosot sebagai pijakan kaki, Dion melompat tinggi ke udara, membalikkan posisi belatinya ke bawah dengan genggaman dua tangan, lalu menghantamkannya dengan kekuatan penuh tepat ke tengah-tengah batu kristal merah darah di dalam rongga tengkorak makhluk tersebut.

BOOOM!

Ledakan energi hancurnya kristal inti itu memancarkan gelombang cahaya merah bercampur perak yang sangat menyilaukan mata, meretakkan dinding-dinding lorong di sekitar mereka untuk kedua kalinya. Tubuh raksasa Golem pengikat jiwa itu seketika menegang hebat, sebelum akhirnya perlahan-lahan runtuh menjadi tumpukan debu hitam dan potongan besi tua yang tidak lagi bertenaga.

Dion mendarat di tanah dengan napas yang terengah-engah lambat, membiarkan kabut perak di tangannya perlahan memudar. Ia menyeka sisa debu hitam yang menempel di pipi tegasnya, lalu buru-buru berbalik melangkah lebar mendekati Mayang.

Pria itu langsung merengkuh tubuh ramping Mayang ke dalam pelukan posesifnya yang hangat, mengusap punggung wanita itu dengan lembut untuk menenangkan debar jantung mereka yang sama-sama berpacu liar setelah pertarungan hidup dan mati yang teramat singkat namun intens tersebut. "Kamu aman sekarang, Mayang... Aku di sini."

Mayang menyandarkan kepalanya di dada bidang Dion, menghirup dalam-dalam aroma maskulin pria itu yang selalu berhasil menjadi penenang jiwanya yang lelah. "Terima kasih, Dion... Kerja sama kita selalu sempurna."

Namun, kehangatan pelukan intim di dalam lorong yang sunyi itu kembali terganggu. Tepat di tempat hancurnya kristal merah Golem tadi, debu-debu hitam di lantai batu mendadak bergerak secara tidak wajar, berputar-putar membentuk sebuah pusaran angin kecil yang melemparkan sisa energi merahnya ke udara, memproyeksikan sebuah bayangan ilusi optik setinggi manusia.

Bayangan ilusi itu menampilkan sosok seorang pria paruh baya mengenakan jubah kebesaran berwarna merah darah dengan mahkota duri hitam di kepalanya—sang Tuan Besar dari Sekte Bayangan Darah. Sepasang mata ilusi pria itu menatap lurus ke arah Dion dengan tatapan yang penuh dengan keangkuhan dan kepuasan yang mengerikan.

"Sihir naga ungu yang sangat mengagumkan, Dion sang Pemburu..." suara ilusi itu menggema berat, bergaung di sepanjang dinding terowongan. "Nikmatilah sisa napasmu bersama wanita klanmu itu di dalam perut bumi... Karena saat ini, armada perangku telah bergerak menembus gerbang perbatasan Utara Lembah Shrouded. Jika kamu tidak menyerahkan jiwamu secara sukarela sebelum fajar menyingsing... maka seluruh penduduk Klan Kabut dan adik kecilmu, Rhea, akan menjadi tumbal pertama yang darahnya akan membasahi altar baruku!"

Detik berikutnya, bayangan ilusi itu menghilang bersama tawa melengking yang menggigit malam, menyisakan keheningan baru yang jauh lebih mencekam di dalam kegelapan lorong bawah tanah yang tersekap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!