Adnan dipertemukan kembali dengan Alina, gadis yang sama 6 tahun lalu. Satu kejadian membuat Alina bernadzar sesuatu. Dan Adnan adalah saksi hidup yang mendengarnya.
Rentetan kejadian demi kejadian seolah teratur sempurna untuk mengikat keduanya. Puzzle kehidupan Alina yang kelam dan penuh air mata mulai terkuak.
Dua hati dengan watak yang berbeda kini bersatu. Saling bertabrakan dan tak jarang beradu argumen.
Bagaimana kisahnya?
Apa mereka tetap bisa berjalan bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal tak terduga
Jangan menangis. Kehidupan memang sering bercanda. Bahkan kekejamannya mampu mengobrak-abrik jiwa.
💔💔💔
Seusai mengatakan itu, keesokan harinya. Alina berusaha untuk tidak bertatap muka dengan Papanya. Rasa kecewa yang terpendam semakin menggunung. Tadi malam, ia menemukan lowongan pekerjaan. Hari ini, suka ataupun tidak. Ia harus berpakaian formal. Celana bahan katun panjang berwarna hitam dipadukan kemeja putih, lengkap dengan surat lamaran.
Wijaya Land, perusahaan besar itu tengah memerlukan sekertaris. Meski, tak lulus S1. Setidaknya D3 cukup untuk melamar pekerjaan. Terlebih, persyaratannya tak seribet perusahaan lain. Mereka hanya menuliskan mencari seorang sekertaris yang bisa bekerja dengan baik dan profesional.
Tepat pukul 07.40 WIB, Alina berangkat menggunakan taksi. Motor besarnya, tidak mungkin Alina mengendarai itu dengan pakaian formal seperti ini. Perjalanan memerlukan waktu 10 menit, Alina turun dan membayar ongkos. Jadwal interview tertulis pukul 13.00 Mungkin masih bisa dirinya mendaftar. Dan lulus seleksi. Ia lupa, bahwa saat ini bisa mengirimkan lamaran lewat email. Pikiran gadis itu terlalu ruwet. Sehingga, menyebabkan kematian kerja otaknya terganggu.
Alina masuk ke dalam gedung tinggi di hadapannya. Mengayunkan kaki menuju meja resepsionis. Dengan percaya diri, ia mengutarakan niatnya.
"Maaf, Mbak. Wanita tidak diterima. Kami hanya mencari sekertaris laki-laki. Itu permintaan Direktur," ujarnya lembut.
Alis Alina berkerut. Di pengumuman yang ia baca, tak ada persyaratan konyol itu. Mungkinkah matanya yang buram, karena terlalu banyak menangis? Perasaan tidak.
"Saya tidak melihat syarat itu ada di pengumuman kemarin, Mbak," kata Alina.
"Mungkin Mbak-nya kurang teliti." Resepsionis wanita itu mengutak-atik laptopnya, lalu memperlihatkan pada Alina. Benar saja, di sana tertulis jelas --bahwa-- dibutuhkan seorang sekertaris laki-laki.
Mata Alina membulat, tidak percaya dirinya bisa seteledor itu. Sekarang, rasa malulah yang ia tanggung.
"Apa tidak bisa satu aja wanita ikut daftar?" Alina masih berusaha.
"Apa bedanya Wanita dan laki-laki? Seharusnya yang didahulukan itu kemampuannya," lanjut Alina.
"Itu permintaan Direktur kami, Mbak. Mohon maaf." Resepsionis mencoba ramah.
"Siapa sih, Direktur perusahaan ini? Bisa-bisanya menginginkan hal konyol seperti ini!" Alina hendak berbalik. Namun, sesosok lelaki menghampiri mereka.
"Ada apa ini?" tanya Adnan yang baru saja sampai dan melihat keributan di meja resepsionis.
Alina menoleh ke arahnya. Mata mereka bertemu beberapa detik. Lelaki ini? Kenapa dia ada di sini? Apa dia bekerja di perusahaan ini?
"Maaf, Pak Direktur. Mbak ini ingin mendaftar jadi sekertaris. Padahal sudah jelas-jelas tertulis lowongan tersebut untuk laki-laki," jelas resepsionis itu.
Alina seketika membatu. Laki-laki yang sering terlibat beberapa kejadian dengannya itu seorang Direktur perusahaan. Ia tidak mengira, penampilannya yang biasa membuat Alina tidak berpikiran jauh ke sana.
"Maaf, anda bisa mencari lowongan pekerjaan yang lain. Kami hanya membutuhkan sekertaris laki-laki." Adnan seolah-olah tidak mengenal Alina. Pasalnya ini di kantor, ia harus tetap adil.
"Oh ... jadi Lo Direktur si pembuat syarat konyol itu. Apa jangan-jangan Lo itu Gay, jadi nyari sekertaris cowok!" sungut Alina
Adnan geram. Ia ingin sekali menyumpal mulut gadis keras kepala itu sekarang juga. Terlebih, Alina masih belum memenuhi janjinya. Karyawan mulai berkerumun. Mereka menutup mulut dan membuka mata menyaksikan perdebatan ini.
"Kenapa diem? Lo engga bisa jawab kan? Karena memang kenyataannya kayak gitu!" Alina kembali mengutarakan pemikirannya yang sepihak.
"Jaga mulutmu!" tegas Ardan.
Suasana seakan mencekam. Baru kali ini ada seorang wanita yang berani melawan Direktur utama Wijaya Land. Para karyawati mulai berbisik, menggosipkan Alina menurut pandangan mereka.
"Tolong panggilkan security dan bawa wanita ini keluar!" perintah Adnan pada respsionis yang dikuti anggukan pekerjanya itu.
"Engga usah! Gue bisa keluar sendiri. Dasar cowok gay!" ledek Alina sembari membawa langkahnya keluar dari gedung tersebut.
Sementara itu, Adnan beberapa kali mengucapkan kalimat istighfar dalam hati. Meredam sekuat tenaga emosi yang tiba-tiba hadir. Sepagi ini dirinya sudah disungguhi pemandangan yang tak menyenangkan.
Kabar tentang kejadian itu menyebar luas ke seluruh karyawan perusahan Wijaya Land. Sebagian dari mereka ada yang mengejek Alina. Dan sebagiannya lagi sependapat dengan gadis itu. Mereka pikir, apa pemilik perusahan tempat mereka bekerja benar-benar seorang Gay?
Waktu begitu cepat berlalu. Seusai salat Dzuhur di masjid terdekat dan makan siang. Adnan memulai acara interview. Ada 10 orang peserta yang terpilih. Namun, dari semuanya tak ada yang memenuhi keinginannya. Hal ini membuat ia bingung.
Interview selesai. Adnan kembali ke ruangan kerja. Ucapan Alina terus teringang di telinga. Gadis berhati batu itu sulit ditebak. gadis itu bahkan tidak segan-segan beradu argumen dengannya.
"Lagi-lagi aku memikirkan gadis itu," gumam Adnan.
Sugadang pekerjaan menyambut Adnan meminta untuk dijamaah. Suka tidak suka ia harus duduk di kursi dan mengerjakan semuanya. Sungguh berat hidup, akan tetapi masih ada kehidupan orang lain yang lebih berat. Diluar sana ada segelintir orang yang terbaring lemah di rumah sakit dan mendamkan bisa memiliki tubuh yang sehat dan bisa bekerja. Itu motivasi Adnan yang selalu membakar semangatnya.
Tidak terasa jam di dinding menunjukkan pukul 17.30. Langit mulai berubah orange, indah. Adnan bergegas pulang, ia berjanji untuk makan malam bersama pamannya, Egi dan kedua anak pamannya yang sedang menggemaskan.
Sebelum pulang. Ia hendak menyempatkan membeli sebuah minuman kesukaan ibunya di salah satu cafe di kota ini. Dengan menggunakan mobil, ia mengukur jalan menuju tempat tujuan.
Sesampainya di sana dan masuk, ia justru disambut sebuah pemandangan yang mencengangkan mata. Tampak gadis keras kepalanya itu tengah berdebat kembali dengan seorang lelaki dewasa. Sayup-sayup terdengar pertengkaran keduanya.
"Mana ada laki-laki yang mau menerima wanita cacat sepertimu. Kamu cukup beruntung, kalau saya mau menikahimu. Tapi, liat kelakuanmu. Membuat saya muak!" hardiknya.
Tangan Alina mengepal di bawah. Ia kesini untuk menenangkan pikiran, akan tetapi malah bertemu lelaki matre tersebut.
"Gue bakal buktiin, kalau ada pemuda yang 100% jauh lebih baik dari Lo yang bisa nerima Gue! Apa Lo pikir, perkataan Lo itu mencerminkan seseorang yang terhormat? Sangat disayangkan, demi duit. Lo rela ngelakuin apa aja! Termasuk mau dibayar sama Papa Gue!"
Malu, rasanya kata itu sudah tidak ada di kamus Alina. Tatapan pengunjung lain padanya tak ia hiraukan. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Bagas, lelaki itu merasa terhina kedua kalinya. Ia hendak melayangkan sebuah tamparan di pipi gadis tersebut. Namun, tangan seseorang segera menangkap dan mengempaskannya begitu saja.
Alina sedikit trauma melihat tangan melayang ke udara. Bayangan penyiksaan dari ibu tirinya dulu kembali berputar di memori otak.
"Jangan berani bermain tangan dengan seorang perempuan!" seru Adnan.
Bagas dan Alina menoleh ke arah sumber suara. Bagas tercengang melihat siapa orang yang di hadapannya sekarang. Seorang Direktur dari perusahan saingannya tengah berdiri dan menyorotkan tatapan tajam seolah ingin membunuh.
"Apa hubungan anda dengan wanita ini?" tanya Bagas.
Alina diam memandangi Adnan, sedangkan Adnan belum menjawab. Ia seakan sedang merangkai kata demi kata untuk diutarakan.
Dengan penuh keyakinan Adnan berkata. "Dia calon istri saya."
...****************...
BERSAMBUNG~~
Jangan lupa like, coment dan vote😘
Maaf, jika ada kesalahan atau kejanggalan🙏