NovelToon NovelToon
JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: PERISAI SANG NAGA PURBA

Kilatan petir hitam yang merambat di sepanjang rantai besi berduri milik Tuan Besar Zarkos memotong keheningan udara pulau melayang dengan suara mendesis yang teramat mengerikan. Kecepatannya melesat melebihi lesatan anak panah tercepat klan, membelah kabut asap spiritual yang tersisa dan mengincar langsung untuk menembus tenggorokan Mayang yang saat itu masih berada di dalam dekapan dada bidang Dion.

Dalam fraksi detik yang teramat krusial antara hidup dan mati tersebut, insting predator puncak dan sifat posesif Dion bereaksi tanpa perlu diperintah oleh otaknya. Pria tegap itu tidak mencoba menghindar mundur, karena ia tahu gravitasi asing pulau ini akan memperlambat gerakannya dan membahayakan keselamatan wanitanya.

Dengan satu sentakan tangan kirinya yang kokoh, Dion memutar tubuh ramping Mayang ke arah belakang punggung besarnya, menyembunyikan gadis klan yang suci itu sepenuhnya dari jalur serangan musuh. Di saat yang sama, tangan kanan Dion yang memegang belati perak pusaka dihentakkan ke depan, melepaskan seluruh sisa energi naga ungu murni yang bergolak di dalam nadinya untuk menciptakan dinding pertahanan magis.

JJJEEDARRR!

Benturan keras antara ujung rantai kutukan Zarkos dan bilah belati perak Dion menciptakan ledakan gelombang kejut sihir yang luar biasa masif. Hantaman energi purba itu membuat tanah berumput di bawah kaki tegap Dion retak parah, dan tubuh besar sang pemburu klan terdorong mundur beberapa meter ke belakang hingga tumit sepatunya mengikis tanah dalam-dalam.

Meskipun berhasil menahan laju serangan rantai tersebut, Dion harus membayar harga yang tidak murah. Aliran petir hitam kutukan sempat merambat ke pergelangan tangan kanannya, merobek lapisan pelindung kulit jaket tenunnya dan membakar permukaan kulit lengannya yang kekar hingga menyisakan luka memar kebiruan yang mengeluarkan asap tipis. Pria itu mengerang rendah, rahang tegasnya mengeras sempurna menahan rasa sakit yang luar biasa membakar tersebut tanpa melepaskan sedikit pun cengkeraman senjatanya.

"Dion!" pekik Mayang dari balik punggung Dion, air mata kecemasan kembali merebak di sudut mata indahnya saat melihat lengan pria dominan yang teramat dicintainya itu kembali terluka demi melindunginya. Gadis itu refleks menjulurkan kedua tangan kurusnya, menempelkan telapak tangannya di atas luka bakar Dion sembari mulai merapalkan mantra air suci penyembuh untuk meredam sisa racun kutukan.

"Tetap di belakangku, Mayang! Jangan lepaskan peganganmu!" perintah Dion, suara baritonnya yang berat terdengar sangat rendah dan sarat akan otoritas mutlak yang tidak boleh didebat sedikit pun. Sepasang mata elangnya yang kini telah berpendar ungu menyala seutuhnya, menatap tajam ke arah langit di mana pilar cahaya hitam kemerahan dari pulau induk semakin membumbung tinggi menembus awan.

Rantai besi berduri itu perlahan-lahan ditarik kembali ke atas langit, melesat mundur menembus gumpalan awan abu-abu menuju arah pulau induk Elysium Timur tempat Tuan Besar Zarkos berada. Rupanya, serangan tadi hanyalah sebuah ujian jarak jauh yang dikirimkan oleh sang pemimpin sekte hitam untuk memastikan apakah sang naga purba selamat dari runtuhnya dimensi bayangan sebelumnya.

Setelah kepergian rantai tersebut, kesunyian magis kembali menyelimuti pulau melayang, diiringi oleh luluhnya akar-akar spiritual pohon raksasa di sekeliling mereka yang kini telah berubah menjadi abu hitam akibat paparan energi kutukan Zarkos.

Dion membalikkan tubuh besarnya, menatap lurus ke dalam manik mata Mayang yang masih dipenuhi sisa ketakutan. Sifat protektif dan jerat gairah di antara mereka berdua terasa semakin mengikat kuat di tengah situasi maut ini. Kedekatan fisik yang teramat intens di bawah siraman cahaya matahari senja yang mulai meredup membuat debar jantung mereka beradu ritmis, menyalurkan gelombang batin yang mengunci waras masing-masing.

"Kita tidak punya banyak waktu lagi, Mayang," ucap Dion sembari mengusap lembut helaian rambut hitam Mayang yang basah terkena sisa embun langit menggunakan ibu jarinya. "Zarkos sudah mulai menyerap kristal inti jantung dimensi. Jika kita tidak menghentikannya sebelum matahari senja ini tenggelam sepenuhnya di balik lautan awan, seluruh semesta ini akan hancur dan gerbang Lembah Shrouded akan ikut runtuh."

"Tapi bagaimana cara kita menyeberang ke pulau induk, Dion?" tanya Mayang dengan nada suara yang bergetar cemas, melirik ke arah jurang tak berdasar di tepi pulau tempat lautan awan putih membentang luas tanpa ada jembatan penghubung sedikit pun. "Wanita tua penjaga tadi bilang salah satu dari kita harus meninggalkan esensi kehidupan sebagai jaminan di gerbang penyeberangan ini."

Dion menyunggingkan senyum tipis yang teramat dingin dan penuh keangkuhan seorang dewa perang di sudut bibirnya yang tegas. "Aku tidak pernah peduli dengan aturan para penjaga tua, Mayang. Kekuatan naga di dalam darahku tidak diciptakan untuk tunduk pada persyaratan mistis semacam itu. Genggam tanganku erat-erat."

Pria dominan itu menarik tubuh ramping Mayang mendekat hingga tidak ada lagi jarak di antara dada bidangnya yang panas dan tubuh suci sang gadis klan. Lengan kiri Dion yang kekar melingkar kokoh di pinggang Mayang, mengunci posisi wanita itu dalam dekapan protektifnya yang mutlak.

Dion melangkah lebar menuju tepi jurang pulau melayang, menatap lurus ke arah pulau induk yang berjarak ratusan meter di depan mereka. Pria itu mengangkat belati perak pusakanya tinggi-tinggi ke udara, melepaskan kekangan sihir naganya hingga batas maksimal 100%.

Tato naga di sepanjang punggung bidang Dion meledak memancarkan cahaya ungu murni yang luar biasa masif, membentuk wujud imajiner sepasang sayap naga raksasa yang terbuat dari badai kabut perak bercampur lidah api ungu di sekeliling tubuh tegapnya. Arus angin magis yang luar biasa besar berputar liar, mengangkat debu-debu kristal di sekitar tempat mereka berdiri.

"Pegang aku yang erat, Mayang-ku..." bisik Dion rendah tepat di depan telinga sang gadis, sebelum akhirnya ia menyentak kakinya dengan kekuatan penuh, melompat bebas keluar dari tepi jurang, melesat membelah lautan awan angkasa menuju arah pulau induk seperti meteor ungu yang mematikan.

Mayang memejamkan matanya rapat-rapat, membenamkan wajah cantiknya di ceruk leher maskulin Dion yang hangat, mempercayakan seluruh sisa hembusan napas dan hidupnya ke dalam tangan pria dominan yang kini menjadi seluruh dunianya tersebut.

WUUUUZZZH!

Hanya butuh waktu beberapa saat bagi kepakan sayap sihir naga Dion untuk membelah jarak udara, sebelum akhirnya tubuh besar mereka mendarat dengan dentuman keras di atas hamparan lantai batu marmer putih kuno milik Altar Jantung Elysium di pulau induk.

Suasana di dalam kompleks altar raksasa itu terasa begitu megah namun dipenuhi oleh hawa kematian yang pekat. Ratusan pilar batu kuno yang mengelilingi altar tampak telah retak dan diselimuti oleh cairan hitam pekat berlambang mata satu yang menangis darah. Di tengah-tengah altar, sebuah kristal berbentuk jantung raksasa berpendar hijau redup, sedang dililit oleh puluhan rantai besi hitam milik Tuan Besar Zarkos yang terus menyedot paksa esensi sihir purba alam dari dalamnya.

Zarkos berdiri di atas podium altar dengan tongkat tengkoraknya yang kini telah berubah warna menjadi merah menyala seutuhnya. Aura sihirnya telah membumbung tinggi ke tingkat yang luar biasa gila akibat setengah dari energi jantung dimensi telah masuk ke dalam tubuh keriputnya.

"Hahaha! Luar biasa! Naga kecil kita ternyata nekat melompati langit hanya untuk mengantarkan nyawanya sendiri ke hadapanku!" tawa Zarkos menggelegar keras membelah kesunyian altar saat melihat kedatangan Dion dan Mayang.

Dion menurunkan tubuh Mayang dengan sangat lembut di balik sebuah pilar batu besar yang masih utuh di dekat pintu masuk altar, memosisikan gadis itu di tempat teraman yang bisa ia jangkau. Pria itu berbalik cepat, melangkah maju ke tengah altar dengan langkah kaki yang konstan dan sarat akan ancaman pembantaian mutlak. Separuh dari bilah belati perak Dion kini mulai memancarkan pendar sihir kombinasi ungu dan perak murni yang sangat pekat, bergetar hebat merespon kedekatan energi musuh utamanya.

"Waktu bicaramu sudah habis, Zarkos," desis Dion, suaranya terdengar sangat rendah, bariton, dan dipenuhi oleh tekanan intimidasi mutlak seorang predator tertinggi klan yang siap mencabik mangsanya hingga ke akarnya.

Pertempuran akhir tingkat tinggi di dimensi kuno itu pun pecah dalam sekejap tanpa ada peringatan kedua. Dion melesat maju dengan kecepatan berburu yang luar biasa gila, meninggalkan jejak bayangan ungu di setiap langkah kakinya saat ia menghindar dari rentetan gelombang tembakan energi hitam yang dilepaskan oleh tongkat sihir Zarkos.

SLASH! CRASH!

Dion memutar tubuh besarnya di udara, menebaskan belati peraknya dalam sebuah gerakan kombinasi tiga arah yang sangat mematikan, berhasil memotong dua buah rantai hitam besar yang sedang melilit kristal jantung dimensi hingga hancur menjadi abu spiritual.

Zarkos geram melihat gangguan tersebut. Ia menghentakkan kaki tongkatnya ke atas lantai marmer dengan kekuatan penuh, memicu getaran sihir gempa magis yang seketika meruntuhkan beberapa pilar kuno di sekeliling tempat bertarung mereka. "Jangan harap kamu bisa membalikkan takdir malam ini, Dion!"

Di tengah kepulan debu reruntuhan pilar kuno, Zarkos melepaskan sebuah mantra kutukan tertinggi yang menguras sisa darah sucinya sendiri. Dari dalam ujung tongkat tengkoraknya, melesat keluar sesosok naga bayangan hitam raksasa bermata merah satu yang langsung membuka rahangnya lebar-lebar, menerjang maju dengan kecepatan kilat untuk menelan tubuh Dion seutuhnya.

Dion tidak mundur. Sifat dominan dan keangkuhan dewa perang di dalam jiwanya menolak untuk kalah dari sihir bayangan murahan tersebut. Pria itu menyilangkan kedua lengan kekarnya di depan dada, membiarkan tubuh tegapnya dihantam telak oleh terjangan naga bayangan hitam tersebut hingga terlempar mundur menghantam dinding altar batu.

BOOOMM!

Dion terjerembab di atas lantai batu dengan darah segar berwarna merah pekat yang keluar deras dari mulut dan sela-sela hidung tampannya. Napasnya terengah-engah menyakitkan, dan pendar sihir naga ungu di tubuhnya mulai merosot turun dengan drastis akibat benturan energi kutukan tingkat tinggi tadi.

"Dion!" teriak Mayang histeris dari balik pilar perlindungan, bersiap untuk berlari maju menolong prianya tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri.

Namun, tepat di saat Zarkos melangkah mendekat dengan senyuman kemenangan yang mengembang lebar sembari mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi untuk menghujamkan pukulan eksekusi terakhir ke arah kepala Dion, dari arah retakan lantai marmer di bawah tubuh Dion yang terluka, sebuah segel sihir kuno raksasa berlambang Kutukan Penukaran Jiwa (Soul Exchange) yang ternyata sengaja dipasang tersembunyi oleh Zarkos sejak awal, mendadak aktif memancarkan pendar cahaya merah darah yang pekat.

Seketika itu juga, rantai sihir merah darah melesat keluar dari segel, langsung melilit erat leher Dion dan leher Mayang secara bersamaan di tempat terpisah, mulai memindahkan seluruh luka fatal dan sisa esensi kehidupan dari tubuh Dion masuk ke dalam tubuh Mayang, memicu gadis klan suci itu untuk langsung melolong kesakitan yang luar biasa melengking tinggi dengan darah yang mulai mengalir deras dari sepasang mata indahnya, sementara angka countdown magis kematian mereka berdua mulai menghitung mundur di atas udara: 00:05... 00:04... 00:03...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!