Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).
Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.
Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 7
Alam Atas – Puncak Menara Guntur Surgawi.
Angin malam menderu kencang, membawa sisa-sisa badai petir yang mengelilingi puncak menara tertinggi di Ibukota Persatuan.
Di dalam ruangan bundar yang dindingnya dipenuhi rune komunikasi yang berkelap-kelip, Lei Shan berdiri mematung. Tubuh raksasanya bersimbah keringat, dan napasnya memburu. Ujung telapak tangannya yang sebelumnya digunakan untuk menggambar rune di Mata Air Samsara masih meneteskan darah emas.
Dia telah gagal menghubungi jiwa Bosnya. Koneksinya diputus dengan paksa.
Namun, Lei Shan adalah seorang Dewa Petir yang memiliki kepribadian sekeras batu. Dia tidak pernah menyerah. Jika ada sesuatu yang memotong jalurnya, berarti ada seseorang di ujung sana.
"Rantai Karma tidak bisa diputus oleh fenomena alam," gumam Lei Shan, matanya yang memancarkan kilat menyipit tajam. "Hanya kultivator dengan kekuatan Hukum tingkat tinggi yang bisa melakukan pemotongan bersih seperti tadi."
Lei Shan melangkah menuju sebuah altar giok di tengah ruangan. Di atas altar itu melayang sebuah Kompas Pencari Bintang, pusaka kuno yang biasanya digunakan untuk melacak koordinat planet di lautan semesta.
"Pemotongan itu cepat, tapi meninggalkan jejak balik energi si pemotong," seringai Lei Shan. "Mari kita lihat siapa yang berani menghalangi transmisi Dewa Petir."
Lei Shan menekan telapak tangannya yang berdarah ke atas kompas tersebut.
BZZZT!
Petir ungu menyambar-nyambar. Jarum kompas berputar dengan kecepatan gila, menembus lapisan-lapisan dimensi ilusi, melacak pantulan energi pemotong yang sangat halus itu.
Selama satu jam penuh Lei Shan menahan rasa sakit akibat aliran Qi yang terkuras. Tepat ketika dia hampir pingsan... jarum kompas berhenti dengan bunyi klik yang keras.
Koordinat muncul di udara dalam bentuk aksara cahaya.
[Sektor Bintang Tepi: Dunia Fana – Galaksi Debu Angin]
"Dunia Fana?" Lei Shan mengerutkan kening. Itu adalah planet dengan tingkat kultivasi sangat rendah, di mana energi spiritual hampir tidak ada.
Namun, bukan koordinatnya yang membuat Lei Shan membeku. Melainkan "Tanda Tangan Energi" yang tertinggal di titik potong karma tersebut.
Aroma bunga teratai hijau yang dingin, dan aura pembunuh yang menyayat jiwa.
Lei Shan mundur selangkah, matanya terbelalak lebar. "I-Ini... ini Qi Ilusi Teratai Hijau! Ini energi milik Qing Yi!"
Pikiran Lei Shan berputar cepat. Gu Qing Yi, Ranah Raja Dewa Pembunuh dari Alam Atas, istri sang Kaisar Asura yang legendaris, yang dikabarkan menghilang seratus tahun lalu untuk mencari reinkarnasi Shi Hao... ternyata bersembunyi di planet fana terpencil?
"Apa yang dilakukan Nyonya di planet rongsokan itu?" gumam Lei Shan kebingungan. "Mengapa dia memotong transmisiku? Dan tunggu... jika Nyonya ada di sana... apakah itu berarti..."
Jantung Lei Shan berdetak kencang. Kemungkinan itu terlalu indah untuk dipercaya.
Namun, ancaman dari Sembilan Nether tidak bisa menunggu Lei Shan bermimpi. Retakan di patung Shi Hao semakin membesar setiap harinya. Alam Atas membutuhkan Qing Yi dan mungkin, Kaisar mereka untuk kembali.
"Aku tidak bisa pergi sendiri. Jika aku turun dengan Qi Petir tingkat dewa, planet fana itu bisa meledak karena tekananku," pikir Lei Shan. "Aku harus mengutus orang yang energinya sejalan dengan Nyonya Qing Yi, agar tidak memicu permusuhannya."
Lei Shan menekan sebuah komunikasi di meja.
"Panggil Lima Penjaga Teratai. Suruh mereka menghadapku sekarang."
Satu dupa waktu kemudian, pintu ganda menara terbuka.
Lima sosok melangkah masuk. Mereka adalah kultivator elit Soul Transformation (Transformasi Jiwa), unit rahasia yang dulu dibentuk dan dilatih langsung oleh Gu Qing Yi sebelum dia menghilang.
Mereka berlima tiga pria dan dua wanita berlutut serentak di hadapan Lei Shan.
"Melapor pada Jenderal Lei!" seru mereka kompak.
Pemimpin mereka, seorang pria tampan bermata tajam dengan jubah hijau daun bernama Lu Bai (Daun Teratai), mendongak.
"Ada tugas untuk kami, Jenderal? Apakah kami akan dikirim ke perbatasan untuk menebas leher anjing-anjing Nether itu?" tanya Lu Bai semangat.
Di sebelahnya, Hong Hua (Bunga Merah), seorang wanita montok dengan kipas sutra, tertawa manja. "Aduh, Kak Lu Bai, kau ini selalu memikirkan pembunuhan. Mungkin Jenderal Lei hanya ingin kita mencari kedai teh yang baru."
"Kalian berdua, diamlah," desis Hei Gen (Akar Hitam), pria tinggi kurus berwajah muram seperti mayat hidup. "Dengarkan perintah."
"Hooaaamm..." Shui Di (Tetes Air), pemuda berambut biru yang setengah tertidur di posisinya, menguap lebar. "Apa pun itu, asalkan cepat selesai. Aku mengantuk."
Terakhir, Jin Yu (Ikan Emas), wanita mungil yang sibuk memakan manisan kacang, hanya mengangguk-angguk tanpa peduli.
Lei Shan memijat pelipisnya lagi. Pasukan pembunuh Qing Yi ini selalu punya sifat eksentrik yang membuat darahnya naik.
"Kalian berlima," kata Lei Shan, suaranya berat dan serius, membuat kelimanya langsung bungkam dan waspada.
"Aku telah menemukan koordinat Tuan Putri kalian. Gu Qing Yi."
Mendengar nama itu, mata kelima pembunuh elit itu melebar. Bahkan Shui Di langsung terbangun, dan Jin Yu berhenti mengunyah manisannya.
Nyonya mereka! Tuan yang paling mereka hormati!
"N-Nyonya ada di mana?!" Lu Bai berdiri setengah berlutut, wajahnya berbinar-binar. "Kami siap menjemputnya kembali!"
"Dia berada di sebuah Dunia Fana yang sangat jauh," Lei Shan menunjukkan koordinat kompas itu. "Tapi ada yang aneh. Dia menyembunyikan energinya dan memutus transmisiku. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan di sana."
Lei Shan menatap mereka tajam.
"Tugas kalian adalah turun ke planet fana itu. Tekan kultivasi kalian sampai batas maksimal agar tidak menghancurkan dunia mereka. Temui Qing Yi. Sampaikan pesan dariku: Langit telah retak. Pasukan Nether sudah di depan mata. Kami membutuhkannya kembali."
"Dan..." Lei Shan ragu sejenak. "Lihatlah apakah dia menemukan... 'sesuatu' atau 'seseorang' di sana."
"Siap laksanakan, Jenderal!" kelima Penjaga Teratai itu berseru semangat.
"Ingat," peringat Lei Shan keras. "Dunia fana itu miskin Qi. Jika kalian menggunakan terlalu banyak kekuatan, hukum alam akan menekan kalian. Bergeraklah dalam bayangan. Jangan buat keributan dengan penduduk lokal!"
Dua Hari Kemudian – Dunia Fana, Galaksi Debu Angin.
Di sebuah padang rumput tak berpenghuni, sekitar tiga puluh mil dari Desa Angin Lembut, sebuah portal kecil terbuka di udara.
Lima sosok terlempar keluar dari portal itu dan jatuh bergulingan di atas rumput dengan suara berdebum.
"Aduh! Pantatku!" rintih Lu Bai, mengusap bokongnya yang menabrak batu fana. "Transportasi dimensi kelas murah! Jenderal Lei pasti memotong anggaran kita!"
"Ugh, udaranya... udaranya kotor sekali!" keluh Hong Hua sambil mengibaskan kipasnya di depan hidung, ekspresinya sangat jijik. "Tidak ada Qi spiritual sedikit pun! Aku merasa seperti bernapas menghirup lumpur! Kulitku bisa keriput jika lama-lama di sini!"
"Diamlah, kalian berdua," gerutu Hei Gen, wajahnya yang pucat makin terlihat seperti mayat di bawah sinar matahari dunia fana. "Ingat perintah Jenderal. Kita harus menekan kekuatan kita hingga batas fana agar tidak dipukul petir kesengsaraan oleh kehendak dunia ini."
Shui Di menguap dan merebahkan diri di atas rumput. "Aku mau tidur sebentar. Gravitasi di sini membuatku lelah."
Jin Yu, yang mulutnya penuh manisan, mengeluarkan gulungan peta kertas (karena giok memori tidak berfungsi baik di dunia tanpa Qi).
"N-Nwamh... nwwnya..." Jin Yu mengunyah dengan susah payah sebelum menelannya. "Kordinat terakhir kompas menunjuk ke arah utara dari sini. Sebuah permukiman kecil bernama... Desa Angin Lembut."
Lu Bai berdiri, merapikan jubah hijaunya, dan mencoba memasang wajah serius layaknya pembunuh bayaran tingkat dewa.
"Baiklah, Dengarkan! Mulai sekarang, kita menyamar! Jangan ada yang menggunakan kekuatan! Kita harus berjalan kaki seperti rakyat jelata, dan saat kita masuk desa, kita akan bertindak seperti rombongan... seniman keliling!"
Hong Hua menatap Lu Bai dengan tidak percaya. "Seniman keliling? Aku? Wanita secantik dewi ini disuruh bernyanyi di depan petani bau kotoran sapi?!"
"Ini penyamaran, Hong Hua!" tegur Lu Bai.
Saat mereka berdebat, dari arah balik bukit, terdengar suara langkah kaki rombongan sapi yang digembalakan oleh seorang bocah fana yang sedang asyik bernyanyi sumbang.
Lima pembunuh elit yang biasa mencabut nyawa dewa itu panik mencari tempat sembunyi, karena takut melanggar perintah Lei Shan untuk "tidak mencolok".
Namun, karena panik, Lu Bai tak sengaja menginjak jebakan tali fana penangkap kelinci yang dipasang pemburu lokal.
TRANG!
Lu Bai terjungkal dan kakinya tergantung terbalik di dahan pohon, berayun-ayun dengan bodoh. Empat bawahannya yang lain hanya menatapnya dari semak-semak.
"Pemimpin yang hebat," gumam Hei Gen sinis.
Perjalanan Lima Bayangan Teratai untuk mencari tuan mereka di desa terpencil itu, tampaknya akan dipenuhi dengan komedi kesalahan kelas tinggi.