NovelToon NovelToon
Ibu Susu untuk Putra CEO

Ibu Susu untuk Putra CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Pengasuh
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Di malam persalinannya, Aisha diusir oleh suami dan mertuanya yang kejam setelah bayinya dinyatakan meninggal. Luntang-lantung di tengah hujan dengan dada yang sesak karena terus memproduksi ASI, Aisha pingsan di jalanan.

Di sisi lain, Adrian—seorang CEO dingin—sedang frustrasi karena bayinya yang baru lahir kritis dan menolak semua susu formula.

Takdir mempertemukan mereka. Saat bayi Adrian didekap oleh Aisha, sang bayi langsung tenang dan mau menyusu. Adrian akhirnya mempekerjakan Aisha sebagai ibu susu rahasia lewat kontrak ketat. Namun, seiring berjalannya waktu, Aisha mulai menyadari sebuah rahasia kelam: bayi yang ia susui memiliki ikatan batin yang sangat kuat, mirip dengan darah dagingnya sendiri yang hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyerbuan di Tengah Malam (Akhir Bagian Pertama)

Malam merayap semakin pekat di pinggiran kota Bogor. Hujan rintik-rintik mulai membasahi jalanan aspal yang sepi, membuat udara malam terasa kian menggigit. Di sebuah jalan setapak yang gelap, jauh dari pemukiman warga, tiga mobil jip hitam bermesin besar berhenti dengan senyap di bawah rindangnya pepohonan.

Di dalam mobil baris pertama, Adrian duduk dengan wajah dingin yang membeku. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah sebuah bangunan tua berpagar besi tinggi yang berjarak lima puluh meter di depan mereka. Di sampingnya, Hendra sedang memeriksa kesiapan senjata kejut dan berkoordinasi dengan dua mobil polisi yang bersiaga di jalur alternatif.

"Tuan Adrian, tim pengintai memastikan target berada di dalam. Makelar yang bekerja sama dengan Taufik baru saja masuk membawa sebuah tas jinjing besar. Tampaknya transaksi dengan pembeli asing dimajukan malam ini," lapor Hendra dengan nada berbisik melalui alat komunikasi.

Rahang Adrian mengeras. Kilat kemarahan berkecamuk di matanya. "Jangan beri mereka celah untuk lolos. Bergerak sekarang."

*Brak!*

Pintu pagar besi itu dihantam keras oleh mobil jip pengawal, disusul oleh serbuan cepat belasan pria bertubuh kekar dan aparat kepolisian. Suasana yang tadinya sunyi seketika pecah oleh teriakan histeris dan kepanikan dari dalam bangunan tua tersebut. Beberapa pria penjaga panti asuhan ilegal itu mencoba melawan, namun dalam hitungan menit, mereka berhasil dilumpuhkan dan diborgol ke lantai.

Adrian melangkah masuk ke dalam bangunan yang berbau lembap itu dengan langkah tegap, mengabaikan kekacauan di sekelilingnya. Ia terus berjalan menyusuri lorong remang-remang, dipandu oleh jeritan tangis beberapa bayi yang terdengar memilukan dari sebuah ruangan di ujung lorong.

Saat pintu ruangan itu didobrak, Adrian mendapati seorang wanita paruh baya sedang bersiap memasukkan seorang bayi mungil ke dalam sebuah keranjang travel. Di sudut ruangan, sang makelar sudah gemetar ketakutan di bawah todongan senjata polisi.

Hendra segera maju dan mengamankan wanita itu, sementara Adrian melangkah mendekati keranjang tersebut. Jantung sang CEO yang biasa berdetak stabil untuk urusan bisnis bernilai triliunan, kini berdegup kencang dengan rasa haru yang tak tertahankan.

Di dalam keranjang itu, terbaring seorang bayi mungil yang tampaknya baru berusia sekitar sepuluh hari. Bayi itu menangis lirih, tubuhnya dibalut kain usang yang kasar. Namun, saat Adrian memperhatikan guratan wajah bayi tersebut—bentuk hidung dan lengkung bibirnya—ia langsung mengenali kemiripan yang mutlak dengan wajah Aisha.

Adrian mengulurkan kedua tangannya yang besar, mengangkat tubuh mungil itu dengan sangat hati-hati ke dalam pelukannya. Ajaibnya, begitu berada di dada hangat Adrian, tangisan bayi itu berangsur mereda, menyisakan isakan kecil yang memilukan.

"Tuan Adrian, berkas identitas medis yang dibawa makelar ini cocok. Ini adalah anak kandung Nona Aisha yang sah," ujar Hendra setelah memeriksa dokumen yang disita polisi.

Adrian menatap wajah bayi itu dengan tatapan yang melembut. "Bajingan-bajingan itu benar-benar menjualnya... Tapi malam ini, semuanya berakhir." Ia mendekap bayi itu lebih erat. "Kita pulang. Bawa anak ini kembali kepada ibunya."

---

Sementara itu, di paviliun belakang mansion Arkan di Jakarta, Aisha terbangun dari tidurnya dengan napas tersengal-sengal. Jantungnya berdebar sangat cepat, dan keringat dingin membasahi keningnya. Ia baru saja bermimpi mendengar suara tangisan bayinya yang begitu nyata, memanggil-manggil namanya di tengah kegelapan.

Aisha menoleh ke arah boks bayi Kael. Kael sedang tertidur pulas dengan sangat tenang. Namun, perasaan gelisah di dada Aisha tidak juga memudar. Ia memutuskan untuk berdiri, berjalan ke arah jendela kaca besar, dan menatap ke arah gerbang depan mansion yang tampak sunyi di bawah guyuran rintik hujan.

Waktu menunjukkan pukul empat pagi ketika sorot lampu mobil mewah membelah kegelapan pelataran mansion. Tiga mobil jip hitam yang pergi sejak sore kemarin akhirnya kembali.

Aisha mengernyitkan kening saat melihat Adrian turun dari mobil. Pria itu tidak langsung menuju gedung utama, melainkan berjalan cepat dengan langkah lebar menembus rintik hujan menuju ke arah paviliun belakang. Yang membuat jantung Aisha seolah berhenti berdetak adalah... Adrian tampak sedang mendekap erat sesuatu di balik jaket tebalnya.

*Tok! Tok! Tok!*

Pintu paviliun diketuk dengan tidak sabar. Aisha buru-buru berlari dan membuka pintu dengan tangan yang gemetar.

Di ambang pintu, berdiri Adrian dengan rambut dan bahu yang sedikit basah oleh air hujan. Napas pria itu tampak memburu, namun sepasang mata elangnya menatap Aisha dengan kilau emosi yang luar biasa mendalam.

"T-Tuan Adrian? Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada—" Kalimat Aisha terputus seketika.

Adrian perlahan membuka lipatan jaket tebalnya, menampilkan sosok bayi mungil yang sedang tertidur lelap dalam balutan selimut wol baru yang hangat.

"Tuan... bayi siapa ini?" tanya Aisha, suaranya mendadak bergetar hebat. Ada getaran spiritual yang sangat kuat yang mendadak menyengat seluruh tubuh dan rahimnya saat matanya menatap wajah bayi tersebut.

Adrian melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka. Ia menatap lurus ke dalam mata bulat Aisha yang mulai digenangi air mata.

"Dia bukan bayi asing, Aisha," ucap Adrian, suaranya bariton, berat, dan sarat akan ketulusan yang murni. "Mantan suamimu dan ibunya telah membohongimu. Anakmu belum meninggal. Mereka memalsukan kematiannya dan menjualnya demi uang."

Bagai dihantam petir di siang bolong, dunia Aisha serasa berputar. "A-Apa...?"

"Malam ini, aku menghancurkan tempat mereka menyembunyikannya," lanjut Adrian, mengulurkan kedua tangannya, menyerahkan bayi mungil itu ke hadapan Aisha. "Ini anakmu, Aisha. Aku mengembalikannya ke pelukanmu."

Aisha membeku selama beberapa detik, tidak berani percaya pada apa yang didengarnya. Namun, saat ia menerima bayi itu ke dalam lengannya, saat kulit mereka saling bersentuhan, dan saat aroma tubuh bayi itu meresap ke dalam inderanya, seluruh dinding pertahanan jiwanya runtuh seketika. Ikatan batin yang tak bisa dibohongi meneriakkan satu kenyataan: ini adalah darah dagingnya yang hilang.

"Anakku... Ya Tuhan... Anakku masih hidup..." jerit Aisha histeris, tangisannya pecah seketika membelah kesunyian subuh. Ia jatuh berlutut di lantai sembari memeluk erat bayi kandungnya, menumpahkan seluruh duka, kerinduan, dan rasa syukur yang membakar dadanya selama seminggu ini.

Adrian tidak pergi. Pria angkuh yang dikenal tak berhati itu perlahan ikut berlutut di atas lantai marmer yang dingin di hadapan Aisha. Tanpa memperdulikan gengsi atau kasta, Adrian mengulurkan tangannya yang kokoh, merangkul pundak rapuh Aisha yang sedang terguncang hebat oleh tangisan haru, memberikan kehangatan dan perlindungan yang selama ini tidak pernah Aisha dapatkan dari siapa pun.

Di bawah temaram lampu paviliun dan sisa rintik hujan subuh, takdir mereka berdua resmi bertautan sepenuhnya. Kontrak yang semula hanya sebatas transaksi bisnis air susu, kini telah berubah menjadi sebuah utang budi dan ikatan emosional yang teramat dalam, membuka gerbang bagi konflik dan rahasia baru yang jauh lebih besar di masa depan.

---

AKHIR DARI SEASON 1

1
Sumining 123
luar BB biasa
Aera_yong
Wah gays terimakasih udah baca karya aku yang ini ya gays udah nembus 3k hehheeh😍😍🥳🥳
Sumining 123
lanjutkan cerita nya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!