Dhanil anak yatim piatu yang mencoba untuk menggapai cita cita, selesai SMA bersama dengan beberapa teman akrabnya, Dhanil juga meneruskan studinya di salahsatu perguruan tinggi swasta di Ibukota Sumatera Utara. Dhanil punya pacar bernama Yani, yang sudah memiliki hubungan spesial sejak dari SMA, akan tetapi hubungan mereka ditantang oleh orang tua Yani, karena Dhanil dipandang bukan orang yang tepat karena alasan harta dan kedudukan, akan tetapi keduanya dengan segala konsekuensinya tetap menikah setelah meraih gelar Sarjana, dan memutuskan kembali ke kampung halaman mereka, Kota Sibolga.
Hubungan yang baru sebentar dirasakan manisnya akhirnya bubar, mereka kalah oleh trik yang dilakukan Ibu Yani. Disinilah kisah Dhanil bergulir dan mengalir berubah ubah, mulai dari keputusannya meninggalkan kota tempat dia dibesarkan menuju tanah peninggalan almarhum ayahnya, kehidupan berliku membuat Dhanil menemukan saudara kandung ayahnya dan kakak kandungnya yang sudah lama terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syamsuddahri Pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ramadhanil, S. Pd
Waktu memang cepat jalannya. Setelah tahun lalu Baimil yang menyelesaikan kuliahnya, kini giliran Dhanil, Fadli dan Irfan yang sedang menyusun skripsi. Karena memang sama sama sibuk, Dhanil dan Yani sudah hampir enam bulan tidak pernah ketemu, apalagi Yani mengambil lokasi penelitian di kampung halaman mereka. Untungnya bagi Dhanil dan Fadli Baimil mau meninggalkan laptop dan pinternya agar bisa dipakai oleh keduanya, sedangkan Irfan hanya pakai printer karena memang Irfan punya notebook yang memudahkannya menyusun skripsi. Yang jelas, apa yang ditinggalkan Baimil sangat membantu ketiganya menyelesaikan tugas akhir perkuliahan itu.
“Gimana Fad. Kapan sidang ?”.
Fadli hingga harus memutar kepala agar melihat wajah Irfan yang bertanya padanya. “Insya Allah minggu depan. Kau kapan Fan ?”.
“Mungkin minggu depan juga”.
“Kok pake mungkin ?”.
“Kan udah didaftar, tinggal nunggu jadwalnya aja. Tergantung nasib, bisa minggu depan sudah dapat jadwal, bisa juga belum”.
Fadli anggukkan kepala. “Aku Kamis depan”.
“Dhanil gimana ?”.
Fadli geleng kepala. “Kurang tahu. Tapi kayaknya minggu ini”.
Irfan anggukkan kepala, berdiri meninggalkan Fadli yang masih terus mengetik, Irfan menuju kamar dan merebahkan badan yang memang terasa capek. Irfan tidur disamping Dhanil yang sudah duluan lelap terlentang, skripsi miliknya menutupi wajahnya pertanda kalau tadi Dhanil tiduran sambil membaca kembali skripsinya, lantas tertidur.
“Fan... “.
Irfan terpaksa bangun lagi dan keluar. “Apa ?”.
Fadli menunjuk keluar. “Ada yang nyari tuh”.
Irfan menuju pintu dan langsung mendatangi Ibu Kost yang memanggil namanya. Fadli hanya melihat sekilas dan kembali melanjutkan pekerjaannya, cukup lama juga baru Irfan kembali masuk dan kini duduk lagi disamping Fadli yang sekarang sudah memprint.
“Ibu itu bilang apa Fan ?”.
“Uang Kost naik”.
Fadli mendelik. “Yang betul aja. Memang Ibu itu bilang itu ?”.
Irfan menahan tawa. “Iya. Kenapa memang ?”.
Fadli menoleh kearah Irfan. “Yang betul aja Fan. Lagian kalo mau ngomong itu kok harus kau yang dipanggil”.
“Mana aku tahu”.
Fadli masih geleng geleng kepala. “Nggak betul aja. Kenapa nggak ngomong sama aku saja tadi. Nggak betul itu”.
Fadli terus menggerutu, Irfan hanya senyum senyum melihat tingkah Fadli yang tampak cukup protes dengan apa yang dikatakan Irfan. Jelas Fadli sedikit tak menerima, kalo memang urusannya itu, kenapa harus mesti ke Irfan, hingga Fadli yakin kalo Irfan memang ngarang.
Irfan akhirnya tertawa. “Nanti ada acara pengajian, biasalah Fad. Kata sambutan tuan rumah, jatah”.
Fadli tampak tertawa. “Bilang dari tadi kek”.
Fadli yang kini berdiri tinggalkan Irfan yang sudah kehilangan selera untuk melanjutkan tidur yang tadi tertunda sehingga memilih duduk dikursi dekat Fadli. Keadaan itu justru kini jadi terbalik, Irfan yang menggantikan Fadli mengetik di laptop milik Baimil, gantian Fadli yang masuk kamar dan merebahkan badan disamping Dhanil yang masih terus lelap.
OO00OO
Dhanil cukup kecewa karena tak bisa hadir pada waktu Yani diwisuda, Dhanil tak bisa muncul karena pada hari yang sama Dhanil sedang menghadapi ujian meja hijau atau yang lebih sering disebut sidang. Dhanil juga harus fokus pada ujiannya hari ini dengan harus mampu melupakan keinginannya melihat Yani diwisuda. Lagipula Dhanil juga kurang yakin keluarga Yani bisa menerimanya dengan baik disana, belum tentu jika Dhanil bisa datang bisa ikut bergabung dengan keluarga besar Yani yang selama ini memang belum menunjukkan rasa sesuai dengan Dhanil.
“Selamat ya. Ramadhanil, S. Pd”.
Dhanil menerima jabat tangan Fadli dengan erat. “Trims kawan. Giliranmu Kamis depan kan ?”.
“Insya Allah. Gimana Dan, susah ?”.
Dhanil anggukkan kepala. “Agak susah juga memang. Pengujiku fokus justru pada perhitungan statisik. Disuruh ngitung ulang”.
Fadli tampak resah. “Gawat juga kalo begitu Dan”.
“Gawat gimana ?”.
“Aku agak pusing kalau ngitung ngitung”.
Dhanil dan Fadli sama tertawa. Ada titik lemah bagi keduanya jika bicara matematika dan statistik, hebatnya malah Irfan yang anak agama yang banyak memberikan bantuan kepada mereka menyelesaikan hitungan hitungan statistik pada skripsi mereka kemarin. Irfan jauh lebih lancar dan tokcer soal hitungan hitungan itu, baik yang hitungan sederhana maupun yang rumit. Dhanil dan fadli banyak belajar pada Irfan soal itu.
“Memang penguji kamu siapa Fad ?”.
“Belum tahu siapa”.
Dhanil senyum kecil. “Mudah mudahan nggak Bapak itu Fad”.
Fadli anggukkan kepala. “Mudah mudahan. Takut juga kalau nanti jadi kacau hasilnya”.
Dhanil dan Fadli kembali mengumbar tawa. Terasa lapar, Dhanil dan Fadli akhirnya meninggalkan ruang sidang, memilih pulang ke kost untuk beristrirahat. Dhanil perlu istrirahat karena siang ini dia ada privat sedang Fadli masih punya beberapa Administrasi sidang yang belum diselesaikan.
Dhanil langsung tidur begitu sampai di kost, Fadli membuka laptop dan langsung melanjutkan ketikannya. Fadli tampak serius mengerjakan lembar demi lembar yang sedang diketiknya sehingga Fadli tak tahu kalau Irfan sudah berada di belakangnya.
“Ngapaian Fad ?”.
Fadli hampir berlonjak karena terkejut. “Kirain siapa ?. masuk nggak ngomong ngomong”.
“Kupingmu yang nggak jelas kawan. Tadi aku ucap salam aja nggak berbalas. Apa yang kau kerjakan memang ?”.
“Power Point resume skripsi”.
“Kapan sidang ?”.
“Kamis depan”.
Irfan anggukkan kepala. Hanya menyentuh bahu Fadli dan beranjak menuju dapur. Karena semua telah dibuka dan hasilnya nihil, terpaksa Irfan lebih dulu memasak. Kali ini Irfan geleng kepala tampak sedikit kesal juga, mau masak Irfan juga harus terlebih dahulu membersihkan peralatan masak, tidak hanya itu, bahkan begitu lumayan banyaknya perlengkapan yang ada di dapur yang bersih saat ini hanya satu buah gelas, tak lebih. Irfan tetap kerjakan dengan baik, walau sebenarnya dalam roster mencuci piring tertera nama Fadli dan pada roster memasak hari ini tertulis nama Dhanil. Tapi mau bilang apa, yang satu nyusun bahan sidang, yang bersangkutan satunya lagi masih lelap bahkan mungkin dengan mimpi yang panjang malah.
Irfan tak tertarik menyuruh Fadli mengerjakan tugasnya atau membangunkan Dhanil untuk melaksanakan jadwanya, sehingga apa boleh buat Irfan lah yang harus menggantikan jatah jadwal Dhanil maupun Fadli, karena tampaknya memang saat ini hanya Irfan yang merasakan lapar yang mengganggu. Fadli masih asyik dengan power pointnya, dan itu tadi, Dhanil masih tidur lelap. Irfan hanya mengintip Fadli yang sama sekali tampak tak peduli, bahkan seakan tak mendengar suara belanga yang sengaja dilaga Irfan dengan sendok yang ada ditangannya.
“Masak apa Fan ?”.
Irfan menoleh. “Kalo lapar makan aja. Banyak nanya”.
Dhanil tertawa kecil tahu akan salahnya. “Aku tadi capek kali Fan habis sidang, makanya ketiduran”.
“Sidang kan Cuma duduk aja Dan”.
Dhanil anggukkan kepala. “Memang, tapi capek juga. Otak yang diperas juga mendatangkan keletihan ternyata”.
“Udah. Makan yok, Fadli masih ngetik ?”.
“Ngetik apa ?”.
‘Tadi lagi ngetik”.
“Mimpi lagi ngetik mungkin”.
Irfan agak heran, mengintip keruang tengah dan akhirnya geleng kepala berkali kali. Fadli memang sudah tak mengetik lagi, Fadli sekarang malah tidur di kursi dengan kaki parkir di meja.
“Tadi memang lagi ngetik Dan. Buat power point resume skripsinya”.
Dhanil anggukkan kepala. “Kamis depan Fadli sidang memang”.
“Tinggal dua hari lagi. pantas kalo Fadli sibuk terus”.
Dhanil mengangguk. “Tapi Fadli yang slah juga”.
“Kenapa ?”.
“Tadi pagi baru kepikir buat power point. Kalo dikerjai dari kemarin kemarin kan nggak buru buru”.
Irfan tertawa kecil. “Macam nggak tau Fadli aja. Masih untung nggak kita yang disuruh kerjain”.
Dhanil dan Irfan sama sama tertawa. Kebiasaan Fadli sejak dari semester pertama dulu. Sering memaksa Dhanil maupun Fadli mengerjakan tugas tugas kuliahnya, kadang malah sambil ngatur. Tapi baik Dhanil maupun Irfan walau ngomol dan menggerutu tetap saja mengerjakan apa yang diminta Fadli hingga selesai sesuai dengan selera Fadli. Soal ini, Irfan yang paling sering agak kesal dengan ulah Fadli. Fadli enak saja duduk disamping Irfan dengan rokok yang tak putus putus, Fadli enak saja menghabiskan puntung demi puntung rokoknya disamping Irfan yang bukan perokok. Tapi itu tadi, yang namanya Fadli tetap berhasil memaksa Irfan atau Dhanil untuk menyelesaikan tugas tuas yang seharusnya menjadi bebannya.
“Kau kapan Fan, masih lama ?”.
“Apa ?”.
“Sidang ?”.
Irfan menggeleng. “Belum dapat jadwal pasti. Belum tahu”.
“Tapi udah ada pengusulan kan ?”.
Irfan anggukkan kepala. “Sudah.. nunggu jadwal aja”.
“Basanya memang lama ?”.
“Kurang tau. Tapi mungkin tetap dalam bulan ini Dan, karena jadwal wisuda bulan depan”.
Dhanil anggukkan kepala tak lagi menjawab. Keduanya sudah fokus pada makanan yang ada di depan masing masing. Selesai makan juga begitu, tak ada lagi yang bicara. Dhanil mandi dan beranjak keluar untuk mengisi jadwal privat hari ini sedang Irfan memilih ke Masjid seperti kebiasaannya. Irfan terbiasa memilih bertahan di Masjid mulai dari waktu Ashar menjelang, biasanya Irfan baru pulang ke kost setelah selesai sholat Isya. Keduanya meninggalkan Fadli yang masih ngorok diatas kursi.
kebaikab selalu menemukan jalan untuk meraih bahagia.. syukurlah Anggi akhirnya terbuka hatinya