Kintan terpaksa menikah dengan Aksara, karena suatu alasan menyebabkan keputusan itu terjadi. Ketika Nila yang merupakan istri pertama Aksara mengalami kecelakaan dan dalam keadaan tidak baik-baik saja, meminta Kintan menyanggupi permintaan terakhirnya itu, sekaligus merawat putranya yang masih kecil.
Tepat dua hari setelah pernikahan Kintan dan Aksara terjadi, Nila mengembuskan napas terakhir. Saat itu pula, Kintan menjadi istri satu-satunya dari Aksara. Namun kenyataan justru membuat pernikahan mereka tidak bahagia. Aksara masih belum sanggup melupakan mendiang Nila dan menilai Kintan tak sebanding dengan istri pertamanya itu. Permintaan cerai sering terucap dari bibir Aksara agar Kintan pergi dari sisinya. Di sisi lain, Kintan justru bertekad untuk bertahan. Karena pernikahan itu adalah amanat dari istri pertama suaminya.
Lantas, apakah Kintan mampu membuat hati Aksara luluh? Serta mendapat haknya sebagai seorang istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhy'dHeavy Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8-Pernikahan Kedua Aksara
Aksara terpaksa menikahi Kintan demi memenuhi amanat dari Nila. Dan hari ini pernikahan tersebut tengah berlangsung di depan ruang rawat di mana Nila sedang dalam keadaan jatuh koma. Melalui seorang penghulu, Chandra—ayah Kintan, orang tua Nila, beserta orang tua mempelai pria turut hadir di sana.
Meski di antara mereka ada yang kurang setuju, terlebih Sari—ibunda Nila—tetapi ketika amanat menikah itu adalah dari permintaan anaknya sendiri, Sari menjadi luluh. Lebih baik memang Kintan yang bisa menggantikan Nila sebagai ibu Gibran, daripada wanita lain yang belum dikenal dengan baik. Bukan pesimis mengenai kesembuhan putrinya itu, tetapi kenyataan yang ada sekarang membuat Sari hanya bisa memasrahkan segalanya pada Sang Pemilik Hidup.
Kata 'sah' terlontar pelan yang tentu terasa hambar alih-alih membahagiakan. Ijab kabul yang berbalut kesedihan telah diselesaikan, sekaligus membuat pernikahan Kintan dan Aksara menjadi resmi secara agama. Tidak ada kata selamat, tidak ada do'a untuk kebahagiaan keduanya. Dan fakta itu membuat Kintan dan ayahnya lantas merasa miris. Chandra, selaku ayah dari Kintan, bahkan sampai menyesal, ketika menyadari bahwa menyerahkan Kintan pada Aksara mungkin saja merupakan sebuah kesalahan besar.
“Kintan, terima kasih, Nak,” ucap Sari dengan suara pelan, nyaris tidak terdengar. Kendati kurang setuju, pengorbanan Kintan demi memenuhi amanat sang putri membuat Sari tetap memberikan dukungan. Setidaknya ia sadar bahwa yang sedang di dalam kesulitan tidak hanya dirinya, melainkan juga Kintan yang akhirnya melepas masa lajang dengan suami orang.
Perlahan, Kintan menyunggingkan senyuman sembari menganggukkan kepala. “Iya, Mama Sari,” jawabnya pada wanita itu yang sudah sering ia anggap sebagai ibunya sendiri, saking dekatnya dirinya dengan Nila selama ini.
Air mata meluruh, membasahi kedua pipi Sari. Gejolak nestapa terus mengaduk-aduk hatinya, sampai membuatnya nyaris tidak bisa bernapas dengan leluasa. Kesedihannya semakin meluap, bukan hanya karena kondisi Nila, melainkan juga pada nasib putri orang lain yang sampai rela mengorbankan hidup demi memenuhi amanat dari putrinya tersebut.
Ketidaksetujuan yang Sari maksud memang karena hal itu, ia tidak bisa membebani Kintan yang selalu bersikap baik pada Nila dan bahkan dirinya. Namun, apa boleh buat, tidak ada jalan keluar lain, meski pada akhirnya ia justru terkesan memanfaatkan Kintan. Ya, siapa tahu Nila akan segera siuman setelah amanatnya dijalankan.
Lalu, Ismi merengkuh tubuh besannya itu, sementara yang lain tetap bergeming, termasuk Aksara yang sama sekali tidak mengubah sikapnya. Suara Aksara seolah sudah tercekat parah dan tidak mau keluar dari pita di dalam tenggorokannya. Hatinya hancur, dengan banyaknya nestapa yang telah menghunjam dirinya secara brutal. Menikah dua kali dan sekaligus mengkhianati kesetiaannya pada Nila tentu bukanlah sebuah impian, sekalipun jika itu adalah permintaan dari sang istri. Sayangnya, saat ini Aksara malah terjerat adegan miris ini.
“Mas ...?” lirih Kintan memberanikan diri.
Aksara masih tidak banyak berubah, selain hanya melirik sekilas sang istri kedua. “Ya.” Itu jawaban yang mampu ia berikan, bahkan tanpa segenap tenaga.
Kintan menggigit bibir bagian dalam. Canggung rasanya, oh, tidak, tetapi lebih tepatnya adalah takut. Ia khawatir Aksara akan benar-benar membencinya karena ia telah mengambil keputusan untuk menjadi istri kedua bagi pria itu. Namun, Kintan harus tetap bersikap ramah layaknya Nila pada suaminya itu.
“Mohon bantuannya,” ucap Kintan sekian detik setelah cukup ragu.
“Apa itu penting?” sahut Aksara dingin, juga ketus.
Kintan terkesiap, pun pada ayahnya yang sejak tadi memperhatikan mereka. Namun, demi menjaga situasi, Kintan mencoba tersenyum. “Tentu saja, semua ini demi Nila.” Ia mencondongkan wajah agak dekat ke telinga suaminya itu. “Sampai Nila siuman, Mas.”
Aksara menelan saliva. Sejujurnya, ia tidak mengerti apa yang Kintan katakan. Sampai istri pertamanya siuman? Lantas, apa yang hendak Kintan lakukan setelah hal itu terjadi? Dalam keheranan yang membelenggu hati sendunya itu, Aksara tetap memilih diam.
Pria itu tampak tak berselera menanggapi ucapan istri barunya itu, lebih tepatnya memang malas. Kintan bukan Nila, Kintan hanya pengganti yang tidak Aksara cintai. Bahkan, ia benar-benar tidak mengenal Kintan kecuali dari cerita Nila selama ini. Dan dengan kenyataan itu, bagaimana bisa ia menerima Kintan sebagai istri baru di dalam sisa hidupnya?
Ketika yang lain masih diam dan sesekali terisak, tiba-tiba saja Chandra bangkit dari duduknya. Tentu saja semua orang langsung refleks menatapnya dengan perasaan heran bercampur cemas. Namun pria paruh baya yang kaya raya itu tidak peduli sama sekali, ia justru menarik lengan putrinya. Detik berikutnya, tanpa peduli akan respons kaget Kintan, Chandra membawa putrinya itu keluar dari area depan ruang rawat Nila.
“Pa-papa!” tegas Kintan sembari melepaskan cengkeraman tangan ayahnya, ketika mereka telah berhasil menuju ke tempat yang lebih senyap.
Chandra memutar badan, sembari menatap putrinya dengan nanar. “Kamu harus ceraikan dia, Kintan!” titahnya tak kalah tegas.
“Haa? Kintan baru resmi menikah beberapa menit lho, Pa!” sahut Kintan ingin langsung menolak ucapan sang ayah yang cenderung plin-plan.
“Papa lihat cowok itu enggak mau menatap kamu, Nak. Ini enggak bagus, Papa menyesal, sangat menyesal karena sudah mengizinkan kamu menikah dengannya! Seharusnya enggak begini.”
“Papa ....” Kintan menggenggam jemari ayahnya. “Aksara butuh waktu, Pa, Papa tenang ya, Kintan bakal baik-baik saja kok.”
“Tenang? Menurut kamu, orang tua mana yang bakal tenang melihat anaknya diperlakukan seperti barang tak berharga? Amanat? Kamu mengorbankan dirimu demi amanat orang lain? Bukan demi Papa?”
“Pa! Nila bukan orang lain, Nila saudari aku, Pa! Pa ... please, Papa tenang saja.” Kintan terdiam sejenak. “Kintan akan menuruti yang Papa mau untuk berpisah dengannya, nanti di waktu yang tepat, dan jika Kintan memang enggak bakal bahagia.”
Chandra kehilangan kata-kata. Putrinya itu memang selalu mandiri dan mampu mengatasi segalanya sendiri. Bahkan ketika ditunjuk menjadi direktur utama saja, Kintan enggan. Wanita itu ingin berkarier dari bawah tanpa campur tangan Chandra. Kalau saja tidak Chandra paksa sampai pura-pura sakit, mungkin Kintan tidak akan pernah mau menjadi bagian dari perusahaannya.
Kintan memang kuat, lebih dari Diki—sang kakak laki-laki. Wanita itu tangguh dan saking tangguhnya, banyak pria yang minder dan justru enggan bersamanya terlalu lama. Faktor lain yang membuat para pria minder, tidak hanya ketangguhan Kintan saja, melainkan juga tentang jati diri Kintan yang merupakan anak pengusaha ternama, meski bukan nomor satu se-Indonesia, perusahaan ayahnya tetap masuk dalam jajaran tinggi di negara itu. Banyak pria yang tidak berani berurusan dengan Kintan, meski tidak sedikit yang terpesona akan kecantikan wanita itu.
“Pa, Papa harus percaya sama Kintan. Seenggaknya demi Gibran, Pa, jika Papa enggan memikirkan Nila dan Aksara. Papa juga pernah mengalami nasib yang sama, 'kan?” ucap Kintan masih mencoba menenangkan hati ayahnya.
Chandra menghela napas. “Reaksi Aksara setelah resmi menjadi suami kamu, benar-benar mempermalukan dirimu, Nak. Bukan, tapi Papa juga dan keluarga kita, perusahaan kita pun akan ikut malu. Kamu adalah seorang nona muda di rumah kita, tapi kamu hanya akan menjadi istri kedua yang enggak ada harganya bagi laki-laki itu.”
“Kintan tahu apa yang Papa khawatirkan, tapi, Kintan jauh lebih kuat dari yang Papa bayangkan.”
Kintan memeluk ayahnya, sampai membuat Chandra tidak bisa menepis keinginannya lagi. Namun, jauh di dasar hati, Chandra bersumpah akan menghancurkan hidup Aksara jika putri kesayangannya sampai berakhir hidup sengsara. Dan tanpa ia sadari, menantunya itu tengah menatapnya dari balik dinding serta mendengar semua perbincangannya dengan Kintan.
Namun, Aksara sama sekali tidak berkutik. Niat hati ingin menyusul Kintan lantaran Brugman—ayahnya—memaksa, justru mendengar perbincangan tak mengenakan. Bahkan, Aksara sendiri sudah berniat menceraikan Kintan sebelum wanita itu meminta. Ia sama sekali tidak peduli akan siapa Chandra yang bisa saja menghancurkan hidupnya.
***
aku salut dengan novel yang berani menghancurkan PEBINOR
karena faktanya kebanyak novel begitu memuja pebinor
*lelaki lain yang baik pada kintan di puja2 dan dibilang lelaki baik2 tapi wanita lain yang baik pada aksara dilaknat dan dibilang pelakor dan janda gatal lah (kalian waras)
*kintan intraksi dengan lelaki lain dan menyambut baik kebaikan pria lain dibilang dibenarkan tapi aksara hanya mendengarkan wanita lain bicara saja sudah dilaknat dibilang tidak tegas (kalian sehat)
wahai wanita (reader jablay) pakai otak kalian sikit saja biar tidak kelihatan munafiknya
Lama2 juga tenang...
❤❤❤❤
pelakor dipandang hina, menjijikan, apapun dia buat pasti salah, dipermalukan, diperlakukan kasar, dan akhirnya dibinasakn
pebinor dipandang lelaki cinta tulus, bebas menghajar suami orang dan itu tidak dipermasalahkan, bebas berbuat semaunya dan pada akhir diperlakukan lembut supaya iklas, sosok terlalu di spesial kan dan akhir bisa merasakan kebahagiaan
sudut padang wanita jablay dan egois, pelakor menjijikan sedangkan pebinor pria sejati dengan cinta tulus harus dihargai
sudut pandang wanita sejati dan setia, pelakor dan pebinor sama2 mahluk menjijikan dan harus diperlakukan sama