" Ken, maaf kan aku ! " ucap Jonathan
Kendra tersenyum mencibir.
" Selama aku belum menikah, jangan mimpi kau mendapatkan maafku, dan asal kau tahu, aku tidak gampang menyukai seseorang dan selama aku belum memaafkanmu, kebahagiaan yang kau punya akan kosong dan rapuh seperti cangkang, camkan itu ! " pada kata terakhir, Kendra menunjuk dada Jonathan dengan ujung telunjuknya.
Ig.rii.ena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Ini yang terbaik
Kendra menatap cincin yang ada ditangannya, ia tidak menyalahkan Raisa, karena mereka memang tidak pacaran.
Niat hati Ken, hari ini dia pulang, ingin langsung melamar Raisa untuk menjadi istrinya, karena kakaknya Jo sudah menikah, jadi dia akan menikah juga, tetapi nasib berkata lain.
Sejak lima tahun yang lalu, diam diam Ken menyukai Raisa yang masih duduk di bangku SMP, Ken yang sudah jadi Tentara, tidak pernah memperlihatkan perasaannya karena Raisa yang masih remaja.
Mengingat itu, tangan Ken menggenggam kuat cincin yang ada dalam genggamannya, hingga urat urat di punggung tangannya terlihat menonjol keluar.
Ken tahu kalau Jonathan tidak bodoh untuk tidak mengetahui jika Ken menyukai Raisa, dia kan laki laki, serapat apa pun Ken menyembunyikan perasaannya pasti Jo harusnya tahu, atau Jo yang pura pura tidak tahu karena ia terlalu fokus pada Lisa.
Ken menatap pintu kamarnya yang tertutup, seakan pandangannya dapat menembus beberapa dinding yang memisahkan kamar Ken dan Jo, Ken seolah tahu apa yang terjadi di kamar Jo, hatinya kosong dan sakit.
Membayangkan tubuh kecil Raisa, yang Ken acap kali mengatakan anak SD, berada di bawah tubuh Jonathan, mata Ken memerah menahan marah sekaligus cemburu, ingin rasanya ia mendobrak kamar itu lalu menarik keluar Raisa agar tidak di sentuh oleh Jonathan, tetapi tidak mungkin, orang akan menganggapnya kurang waras.
Ken sudah bertekad, kelak ia bertemu dengan seorang wanita yang mau menjadi istrinya, tidak perlu melibatkan perasaan, ia akan menikahinya, lima tahun ia memendam perasaan cinta pada Raisa hanya berakhir sia sia.
Sementara Jonathan ? menjalin kasih dengan wanita lain, menikah dengan yang lain pula.
Memikirkan rasa marahnya pada Jonathan, ingin rasanya ia memukuli kepala Jonathan, karena ia tidak memakai otaknya dengan benar, tetapi akal sehat Ken masih jalan, menghindari bisikan bisikan setan yang terus berdenging di telinganya, Ken menyambar jaketnya, mencari angin yang segar di luar rumah.
*
*
Raisa hanya mematung di depan cermin, tangannya menyisir rambut tetapi pandangannya menerawang jauh, sampai Bang Jo yang sudah keluar dari kamar mandi pun, Raisa tidak menyadarinya.
" Kamu kenapa, Rai ? " tegur Bang Jo menepuk pundaknya pelan, sudah selesai memakai pakaian yang di siapkan oleh Raisa tadi.
Raisa terjengkit kaget.
" Aku malu bang " katanya menunduk.
" kenapa ? dan malu pada siapa ? " Bang Jo membungkukkan badannya menatap Raisa yang terus tertunduk.
" Leherku " ucapannya dengan wajah memerah.
Jonathan memperhatikan leher Raisa, seketika matanya membulat tidak percaya, bagaimana bisa dia melakukan itu pada Raisa, dengan kulitnya yang putih, ada banyak tanda kissmark dilehernya, berwarna merah keunguan, bukan satu atau dua tetapi ada lima dan bertebaran.
Jonathan benar-benar tidak percaya, bagaimana dia bisa seliar itu tadi malam, lihatlah wajah Raisa yang kebingungan, Jonathan berdehem salah tingkah.
" Abang minta maaf, kamu marah pada abang ? "
Raisa mendongakkan kepalanya lalu menggeleng.
" Aku cuma malu untuk turun ke bawah " jawabnya lemah lalu duduk di tepi tempat tidur.
Muncul ide di kepala Jonathan untuk membawa Raisa segera pindah dari rumah Ibunya sesuai dengan permintaan Ken.
" Rai, bagaimana kalau kita pindah ke rumah yang sudah abang beli, jadi jika terjadi seperti ini lagi, kamu tidak perlu malu dengan siapa pun, cuma kita berdua, bagaimana ? " ucapnya menunjuk leher Raisa.
" Secepat ini kita pindah ? "
" He eh, kamu mau kan ? " Jonathan mengambil tangan Raisa dan meremasnya lembut.
Karena keduanya sudah melakukan hal yang intim, Jonathan tidak sungkan lagi hanya untuk sekedar memegang tangannya, bahkan saat ini Jonathan sudah sangat ingin mengulang apa yang sudah di lakukan tadi malam, tetapi pasti Raisa akan terkejut.
Ibu dan Ken yang sedang berada dibawah, sudah bisa menduga apa yang sedang terjadi di atas, karena di jam sarapan keduanya belum turun.
Mengingat Ken, rasa bersalah itu timbul lagi, membayangkan sorot kemarahan di mata Ken, Jonathan menggelengkan kepalanya tanpa sadar.
" Bicaralah pada Ayah dan Ibumu, kita akan pindah siang nanti, bawa pakaian seperlunya saja, sisakan disini, jadi kalau kita menginap, kita tidak akan repot lagi membawa pakaian salin, yang lain lain disana semua sudah tersedia, maaf Rai itu sebenarnya...."
?
" Tidak apa-apa Bang, aku tahu "
" Tapi dia tidak tahu, percaya pada abang ! "
" Iya... kalau pun Mbak Lisa tau juga tidak apa apa, dia yang pergi bukan aku yang merebut posisinya " Raisa menyakinkan Jonathan, bagaimana pun Jonathan sudah menjadi suaminya.
" Terima kasih, Rai " ucap Jonathan mengecup dahi Raisa.
Raisa memejamkan matanya.
Melihat mata Raisa yang terpejam dan sedikit mendongak, membuat bibir Raisa menjadi terbuka, Jonathan sudah tidak tahan lagi, ia membenamkan bibir tipis Raisa ke dalam mulutnya, tidak memikirkan hari yang sudah pagi, dan Ken yang marah padanya, Jonathan sudah kembali membuat Raisa tidak berdaya dan kembali terlelap tidur.
Jonathan menutupi tubuh polos Raisa dengan selimut, ekor matanya melirik pakaian keduanya yang berserakan di lantai, Jonathan tersenyum miring lalu berjalan ke kamar mandi.
Jonathan membiarkan Raisa yang tertidur karena kelelahan, Jonathan yang terlihat pembawaan yang tenang ternyata panas di ranjang, Raisa yang masih lugu tidak berdaya menghadapi keliarannya.
Menuruni anak tangga, ekor mata Jonathan menatap meja makan yang kosong tanpa penghuninya, tangannya mengangkat tudung saji, ada nasi goreng dan telur setengah matang.
Jonathan kembali menyunggingkan senyumnya, sepertinya mbok Narti tahu apa yang dibutuhkannya, saat hendak berbalik untuk minta di buatkan secangkir kopi, Mbok Narti sudah membawa apa yang diinginkan Jonathan tanpa harus berkata.
" Terima kasih mbok " ucapnya sembari menggeser kursi.
Tanpa menjawab mbok Narti cepat kembali kedapur dengan menahan senyum, wanita paruh baya yang seumuran dengan ibunya itu pasti tahu apa yang sudah terjadi, bangun sendirian hampir jam sepuluh dengan wajah yang lebih cerah dari matahari, bukan main yang namanya pengantin baru.
Tidak ada jejak-jejak kesedihan atau frustrasi karena pengantin wanita yang berganti.
Dasar laki laki, semua sama saja, tidak perduli, siapa yang ada di hadapannya, selama bisa dimakan ya di makan, apa lagi yang memang miliknya
Mbok Narti menggerutu dalam hati.
Setelah sarapan yang kesiangan, Jonathan menemui ibunya di klinik.
" Bu, nanti siang atau sore, aku akan membawa Raisa pindah ke rumah ku " ucap Jonathan mendudukkan tubuhnya di depan Ibunya yang sedang menuliskan sesuatu di buku besar catatan kesehatan semua pasien yang melahirkan di kliniknya.
" Raisa mau kau ajak pindah ? " Ibu Lastri menatap dalam ke wajah putra sulungnya.
" Mau Bu, aku juga sudah memberitahukan sejarah rumah itu " Jonathan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kantor Ibunya.
Ibu Lastri menghembuskan napas kuat.
mungkin ini yang terbaik, agar Ken tidak terluka.
bisiknya dalam hati.
Setelah memberitahukan kepada Ibunya, Jonathan kembali ke kamarnya, mengecek apakah Raisa sudah bangun atau belum.
*
*
*
🌾🌾🌾🌾🌾
baru awal bab aja udah terasa bedanya... 👍👍👍
terimakasih ya kak ❤️❤️❤️❤️
setelah baca mengejar cinta suamiku & menikah dengan sahabat