Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Makan Malam
Bab 8
Keesokan harinya, Karin datang ke kampus dengan perasaan yang sedikit lebih tenang.
Meski Kai belum bersedia menjadi pacar pura-puranya, setidaknya pria itu sudah mulai membuka diri. Itu jauh lebih baik daripada penolakan mentah-mentah yang ia terima sebelumnya.
Namun, di sudut hatinya, masih tersimpan kegelisahan.Karena waktu terus berjalan. Sementara masalahnya belum benar-benar selesai.
"Selamat pagi."
Suara Kai mengejutkannya saat baru saja melewati gerbang kampus.
Karin menoleh.
Kai berdiri tidak jauh darinya sambil memanggul tas hitam lusuh yang selalu dibawanya.
"Eh... pagi."
Untuk sesaat Karin bahkan lupa membalas sapaan itu.
Kai yang biasanya dingin ternyata lebih dulu menyapanya.
"Kamu kelihatan kaget."
"Iya...Soalnya aku nggak nyangka kamu nyapa duluan."
Kai mengangkat bahu.
"Memangnya kenapa?"
"Soalnya kata orang..."
"Jangan percaya kata orang."
Jawaban singkat itu membuat Karin tersenyum.
"Iya juga."
Mereka berjalan berdampingan menuju gedung fakultas.
Beberapa mahasiswa yang melihat mereka mulai berbisik-bisik.
"Itu Kai, kan?"
"Kok jalan sama Karin?"
"Bukannya mereka nggak saling kenal?"
Karin bisa merasakan tatapan-tatapan penasaran mengarah kepada mereka. Ia sempat merasa canggung. Namun Kai berjalan seolah tidak mendengar apa pun.
"Kamu nggak risih?"
Kai meliriknya.
"Risih apa?"
"Diomongin orang."
Kai tersenyum tipis.
"Kalau aku peduli omongan mereka, mungkin aku sudah stres dari semester satu."
Karin tertawa pelan. Untuk pertama kalinya, ia merasa nyaman berjalan di samping pria itu.
-
-
-
Sepulang kuliah, Kai benar-benar menepati janjinya. Ia menunggu Karin di depan gerbang kampus.
"Ayo. Kita jalan kaki sampai halte."
"Kamu nggak kerja?"
Kai melihat jam diding di dalam ruang pos satpam yang terbuka pintunya.
"Tiga jam lagi. Masih sempat."
Mereka berjalan santai menyusuri trotoar. Di sepanjang jalan, pembicaraan mereka masih terasa canggung.
Kai memang bukan orang yang banyak bicara. Sementara Karin masih belum tahu harus memulai percakapan dari mana.
"Aku dengar..." Karin akhirnya membuka suara. "Kamu kerja di bengkel?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Buat biaya kuliah."
"Kamu nggak tinggal sama orang tua?"
Kai terdiam beberapa saat.
"Mama meninggal waktu aku SMP."
Karin langsung menyesal telah bertanya.
"Maaf."
"Nggak apa-apa."
"Kalau ayah?"
Kai tersenyum hambar.
"Nggak tahu. Aku bahkan nggak pernah ketemu."
Jawaban itu membuat hati Karin terasa sesak. Ternyata kehidupan Kai juga tidak mudah. Pantas saja ia selalu bekerja keras.
"Kamu sendiri?" Kai balik bertanya.
Karin menatap lurus ke depan.
"Aku masih tinggal sama Papa dan Mama."
"Beruntung."
Satu kata itu terdengar begitu sederhana. Namun cukup membuat Karin kembali teringat alasan ia berjuang.
"Iya. Aku memang beruntung."
Dan aku tidak ingin kehilangan mereka lagi.
-
-
-
Sesampainya di halte, ponsel Karin tiba-tiba berdering. Nama "Mama" muncul di layar.
"Halo, Ma?"
"Sayang, kamu sudah pulang?"
"Belum. Masih di jalan."
"Oh begitu." Suara Hesti terdengar ragu-ragu. "Mama mau bilang sesuatu."
"Iya, Ma."
"Besok malam...Papa mengundang Gio makan malam."
Langkah Karin langsung terhenti.
"Apa?"
"Papa bilang sekalian mengajak pacarmu juga."
Dunia Karin seakan berhenti berputar.
Besok malam?!
Bukan akhir pekan?!
Melainkan besok?!
"Pa... Papa yang bilang?"
"Iya. Tadi Gio datang ke kantor Papa. Lalu mereka janjian makan malam di rumah."
Hesti terdengar serba salah.
"Mama sudah bilang supaya tidak usah buru-buru. Tapi Papa ingin mengenal pacarmu."
Karin menggenggam ponselnya erat.
"Baik, Ma. Nanti Karin usahakan."
Setelah telepon terputus, tubuhnya terasa lemas.
"Karin?" Kai memperhatikannya. "Ada masalah?"
Karin tertawa pahit.
"Batas waktuku dipercepat."
"Maksudnya?"
"Besok malam. Aku harus membawa pacarku ke rumah."
Kai terdiam.
"Kalau nggak? Papa akan tahu kalau aku bohong."
Hening.
Suara kendaraan yang berlalu-lalang terasa semakin bising.
Karin menatap Kai dengan putus asa.
"Aku tahu...Permintaanku keterlaluan. Tapi...Aku benar-benar nggak punya siapa-siapa lagi."
Tatapan mata mereka bertemu. Untuk pertama kalinya, Kai melihat air mata menggantung di pelupuk mata Karin. Namun gadis itu berusaha keras agar tidak menangis.
Kai mengembuskan napas panjang. Ia sebenarnya paling tidak suka terlibat dalam masalah orang lain. Apalagi harus berpura-pura menjadi pacar seseorang.
Tetapi...Ia juga tidak tega melihat Karin terus terpojok.
"Aku..."
Kai menggantung ucapannya.
Belum sempat ia melanjutkan ucapannya, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan halte.
Pintu mobil terbuka. Gio turun sambil tersenyum.
"Karin. Kebetulan sekali. Aku mau mengantarkanmu pulang."
Karin langsung mundur selangkah.
"Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri."
Gio baru menyadari keberadaan Kai. Tatapannya langsung berubah.
"Oh...Kalian bersama?"
Kai berdiri dengan tenang.
"Iya. Ada masalah?"
Nada suaranya datar. Namun cukup membuat suasana menjadi tegang.
Gio tetap mempertahankan senyum.
"Tidak. Aku hanya ingin mengantar Karin. Kebetulan rumah kita searah."
"Kebetulan?" Kai menatap mobil itu sebentar. "Lumayan jauh juga kalau cuma kebetulan."
Senyum Gio sedikit memudar.
"Kamu siapa?"
"Kai. Teman Karin."
Gio mengangguk pelan.
"Lalu..., apa teman punya hak melarang orang lain mengantar?"
Kai menatap Karin.
"Bukan aku yang melarang. Tapi lihat saja, Karin kelihatan nggak mau ikut."
Semua mata kini tertuju pada Karin. Ia menarik napas panjang.
"Maaf, Gio. Aku pulang naik bus."
Gio masih mencoba tersenyum.
"Kalau begitu aku ikut naik bus."
Jawaban itu membuat Karin semakin gelisah. Pria ini benar-benar tidak tahu batas.
Namun tiba-tiba..., Kai melangkah maju.
"Karin."
"Iya?"
"Ayo. Kita pulang."
Tanpa menunggu jawaban, Kai berjalan lebih dulu menuju bus yang baru saja berhenti. Karin sempat ragu beberapa detik Namun akhirnya ia mengikuti Kai.
Pintu bus tertutup. Bus perlahan meninggalkan halte. Dari balik kaca jendela, Karin melihat Gio masih berdiri di tempatnya. Tatapannya tidak lagi setenang sebelumnya. Sorot matanya berubah dingin. Seolah baru saja kehilangan sesuatu yang sudah dianggapnya sebagai miliknya.
Di dalam bus, suasana masih hening. Karin menoleh kepada Kai.
"Terima kasih."
Kai tetap memandang ke luar jendela.
"Karin."
"Iya?"
"Besok...aku akan ikut ke rumahmu."
Karin membelalak.
"Apa?"
Kai akhirnya menoleh.
"Tapi hanya sebagai teman. Kalau setelah itu keluargamu masih belum percaya...baru kita pikirkan langkah berikutnya."
Jantung Karin berdegup kencang. Meski belum menjadi pacar pura-pura, setidaknya untuk pertama kalinya, ia tidak lagi menghadapi semua ini sendirian.
Sementara itu, di belakang bus yang mulai menjauh. Mobil Gio perlahan mengikuti dari kejauhan. Pria itu menggenggam kemudi begitu erat hingga ruas jarinya memutih.
"Kita lihat saja...,seberapa lama permainan kalian akan bertahan.
-
-
-
Bersambung...