Davina Clarisa tidak tahu, bagaimana hidupnya setelah memilih berpisah dengan suaminya Rio.Rio orang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri membuat Davina merasa lelah secara mental, sehingga ia memutuskan untuk berpisah adalah jalan terbaiknya.Davina merasa rio bukan tempat rumah ia pulang.
setelah berpisah Davina memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan menetap disana dengan putri kecilnya.Akankah davina bisa melupakan mantan suaminya dan bisa kembali menata hidup layak seperti perempuan lain pada umumnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiithandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu dengan anak
Pagi itu, udara Kota C terasa lebih dingin dari biasanya. Langit mendung menggantung rendah, seolah menahan hujan yang belum turun. Davina sedang berada di rumah orang tuanya, membantu Ibu Rani menyiapkan sarapan untuk Zahra.
"Mah, Zahra mau pakai pita yang merah ya hari ini!" seru Zahra dari kamar neneknya, sedang sibuk memilih aksesoris rambutnya.
"Iya, Sayang. Nanti Mamah pasangkan setelah sarapan," jawab Davina sambil tersenyum, mengoleskan selai cokelat di atas roti tawar.
Ibu Rani, wanita berusia tidak muda lagi dengan rambut yang sudah mulai beruban, tersenyum hangat dari arah dapur. "Dav, nanti siang kamu bantu Ibu ya? Ibu mau bikin kue untuk arisan."
"Siap, Bu," jawab Davina.
Pagi itu terasa normal, seperti pagi-pagi sebelumnya. Davina sudah hampir melupakan malam-malam panjangnya menangis, sudah hampir terbiasa dengan rutinitas baru mereka di rumah orang tuanya. Zahra ceria, sehat, dan bahagia. Itu sudah cukup untuk Davina.
Tiba-tiba, terdengar suara bel rumah.
Ibu Rani mengerutkan kening. "Siapa ya datang pagi-pagi begini bertamu?"
"Aku cek ya, Bu," ucap Davina, berjalan menuju pintu depan.
Davina membuka pintu, dan jantungnya berhenti berdetak.
Di balik pintu, berdiri seorang pria yang ia kenal terlalu baik. Pria yang pernah menjadi suaminya, pria yang pernah ia cintai, pria yang pernah menghancurkannya berkali-kali.
Rio.
Pria itu berdiri dengan koper kecil di tangan, wajahnya terlihat lelah, matanya cekung, dan ada bayangan gelap di bawah matanya. Ia tidak terlihat seperti Rio yang dulu, pria yang selalu rapi, yang selalu tersenyum lebar, yang selalu percaya diri.
Rio terlihat... hancur.
"Dav..." suara Rio terdengar serak. "Boleh aku masuk?"
Davina terpaku di tempatnya. Tangannya mencengkerang gagang pintu begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Davina datar, suaranya dingin seperti es.
"Aku... aku datang dari Kota A semalam. Aku naik pesawat tadi malam," Rio menelan ludah, matanya menatap Davina dengan penuh harap. "Dav, aku perlu bicara sama kamu. Penting."
"Penting?" Davina tertawa pahit. "Kamu bilang ini penting? Setelah semua yang kamu lakukan, Rio? Setelah berbulan-bulan kamu nggak pernah pulang? Setelah kamu nggak peduli sama aku dan Zahra?"
"Dav, please... aku tahu aku salah. Aku tahu aku—"
"Kamu tahu kamu salah?" potong Davina, suaranya meninggi. "Kalau kamu tahu kamu salah, kenapa kamu baru muncul sekarang? Kenapa baru sekarang kamu datang ke sini, Rio?"
Rio terdiam, kepalanya menunduk. "Aku... aku butuh waktu untuk mikirin semuanya, Dav. Aku—"
"Kamu butuh waktu?" Davina menggeleng, air matanya mulai menggenang. "Kamu tahu berapa lama aku nunggu kamu, Rio? Kamu tahu berapa kali Zahra nanya, 'Papa kapan pulang?' Kamu tahu berapa kali aku harus bohong ke anak kita sendiri, bilang 'Papa lagi sibuk, Papa sayang sama Zahra'—padahal kamu bahkan nggak pernah telepon dia!"
"Dav..." Rio mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca. "Aku datang ke sini bukan untuk berdebat. Aku datang untuk minta maaf. Untuk minta balikan. Untuk—"
"Tidak."
Satu kata itu terdengar seperti petir di udara pagi.
Davina menatap Rio dengan mata yang tajam, meskipun air matanya masih mengalir. "Aku nggak mau balikan, Rio. Aku nggak mau kamu di sini. Pergi."
"Dav, please—"
"Mamah, siapa yang datang?"
Suara kecil Zahra terdengar dari dalam rumah. Langkah kaki kecilnya terdengar mendekati pintu.
Wajah Rio langsung berubah. Matanya yang tadinya penuh kesedihan, kini berbinar penuh harapan.
"Zahra... Zahra ada di dalam?" bisiknya, suaranya bergetar. "Dav, please... biarin aku ketemu Zahra. Aku rindu sama anakku. Aku rindu putriku."
Davina langsung berdiri di depan pintu, menghalangi pandangan Rio ke dalam rumah. Tubuhnya menegang seperti tembok yang tak bisa ditembus.
"Tidak, Rio. Kamu nggak akan ketemu Zahra."
"Apa? Dav, dia anakku! Aku ayahnya! Kamu nggak boleh—"
"Ayah?" Davina tertawa getir, suaranya penuh amarah yang tertahan. "Kamu bilang kamu ayahnya? Ayah yang mana, Rio? Ayah yang nggak pernah datang di ulang tahun anaknya? Ayah yang nggak pernah nemenin Zahra waktu dia demam tinggi? Ayah yang lebih milih menghilang daripada pulang ke keluarganya?"
"Dav, aku—"
"Dengar aku baik-baik, Rio," Davina menatap Rio dengan tatapan yang belum pernah Rio lihat sebelumnya—tatapan yang penuh kebencian, rasa sakit, dan kekecewaan yang mendalam. "Kamu nggak punya hak untuk datang ke sini setelah semua yang kamu lakukan. Kamu nggak punya hak untuk minta balikan. Dan kamu... kamu sama sekali nggak punya hak untuk ketemu Zahra."
Di saat itu, Ibu Rani dan Pak Radit muncul di belakang Davina, mendengar keributan itu.
"Dav, ada apa? Siapa yang—" Ibu Rani terdiam saat melihat Rio berdiri di depan pintu. Matanya membelalak. "Rio?"
Pak Radit, pria berumur itu dengan postur tegap dan wajah tegas, mengerutkan kening. "Rio? Apa yang kamu lakukan di sini?"
Rio menunduk, tampak malu. "Pah , Mah... maaf saya datang tanpa kabar. Saya... saya ingin bertemu dengan Davina dan Zahra."
Ibu Rani menatap Rio dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ada rasa kecewa, ada rasa marah, tapi juga ada... harapan?
"Rio..." Ibu Rani melangkah maju, suaranya pelan. "Kamu datang jauh-jauh dari Kota A cuma buat ketemu Davina?"
"Iya, Bu," Rio mengangguk. "Saya ingin minta maaf. Saya ingin minta balikan sama Davina. Saya ingin... saya ingin bertemu Zahra."
Pak Radit menghela napas panjang, tangannya bersedekap di depan dada. "Rio, kamu tahu nggak apa yang kamu lakukan sama Davina selama ini?
Rio terdiam, kepalanya menunduk semakin dalam. "Saya tahu, Pak. Saya tahu saya salah. Saya sangat menyesal—"
"Menyesal?" Pak Radit tertawa pahit. "Menyesal itu gampang, Rio. Yang susah itu berubah. Dan kamu... kamu nggak pernah berubah."
"Pak, saya—"
"Cukup!" Ibu Rani memotong, suaranya tegas. Ia menatap Rio lekat-lekat. "Rio, saya tahu kamu ayah dari Zahra. Saya tahu kamu punya hak untuk bertemu dengan anakmu. Tapi kamu harus tahu... Davina sudah menderita terlalu lama karena kamu."
Rio menatap Ibu Rani dengan mata berkaca-kaca. "Bu, saya janji saya akan berubah. Saya janji saya akan jadi suami yang baik, jadi ayah yang baik untuk Zahra. Saya cuma ingin kesempatan kedua, Bu."
Ibu Rani terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah Davina. "Dav... gimana menurut kamu?"
Davina menatap ibunya dengan mata terbelalak. "Bu, maksud Ibu apa?"
"Dav, Ibu tahu Rio sudah menyakitimu. Ibu tahu dia ayah yang buruk. Tapi... Zahra butuh ayahnya, Dav. Zahra butuh keluarga yang utuh. Kamu tahu nggak berapa kali Zahra nanya tentang ayahnya? Berapa kali dia bilang ingin punya papa seperti teman-temannya?"
Davina terpukul oleh kata-kata ibunya. "Bu... Zahra nggak pernah nanya—"
"Dav," Ibu Rani menggenggam tangan Davina, "kamu mungkin nggak dengar, karena Zahra nggak mau bikin kamu sedih. Tapi Ibu dengar. Waktu Zahra main sama sepupunya, dia bilang, 'Kenapa Zahra nggak punya papa? Teman-teman Zahra punya papa semua.' Kamu tahu berapa kali Ibu dengar itu?"
Air mata Davina mengalir. Ia menoleh ke arah Zahra yang masih berdiri di belakangnya, tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Zahra... kamu pernah bilang begitu?" tanya Davina pelan.
Zahra menunduk, tampak malu. "Zahra... Zahra cuma pengen punya papa kayak Kenzo..."
Jantung Davina hancur mendengar itu. Ia berjongkok, memeluk Zahra erat.
"Sayang... Mamah minta maaf..." bisik Davina di telinga Zahra.
Di saat yang sama, Pak Radit melangkah maju, berdiri di depan Rio. "Rio, dengar saya baik-baik. Saya sebagai ayah Davina, saya ingin kamu tahu... anak saya sudah menderita terlalu lama. Tapi saya juga sebagai kakek dari Zahra, saya ingin cucu saya punya keluarga yang utuh."
Rio menatap Pak Radit dengan penuh harap. "Pak, saya—"
"Tapi," potong Pak Radit, "saya nggak akan memaksa Davina. Keputusan ada di tangan Davina. Kalau Davina bilang tidak, maka tidak. Saya dan Istri saya akan mendukung keputusan Davina, apapun itu."
Rio menelan ludah, lalu menatap Davina. "Dav... please... kasih aku kesempatan. Aku janji aku akan berubah. Aku janji aku akan jadi suami yang baik, jadi ayah yang baik untuk Zahra. Aku cinta kamu, Dav. Aku cinta Zahra."
Davina menatap Rio lekat-lekat. Hatinya bergejolak. Di satu sisi, ia melihat Rio yang tampak tulus, yang tampak benar-benar menyesal. Di sisi lain, ia teringat semua malam yang ia habiskan menangis, Bagaimana perlakuan dia ke Zahra , semua janji-janji Rio yang tidak pernah ditepati.
Ibu Rani mendekat, menggenggam tangan Davina. "Dav, Ibu tahu ini berat. Tapi... mungkin Rio sudah berubah. Mungkin dia pantas dapat kesempatan kedua. Untuk Zahra..."
" betulkan yah, semua tidak boleh dengan keras kepala tapi lihat anakmu" lanjut Ibu Rani. "Zahra butuh ayahnya. Zahra butuh keluarga yang utuh. Dan mungkin... mungkin kamu juga butuh Rio, Dav. Kamu tahu Ibu lihat kamu masih sedih, masih kesepian—"
"Bu," potong Davina, suaranya bergetar. "Aku tahu Ibu dan Ayah peduli sama aku. Aku tahu kalian ingin yang terbaik untuk Zahra. Tapi... aku sudah memutuskan."
Ibu Rani terdiam, menatap Davina dengan mata penuh pengertian.
"Aku nggak mau balikan sama Rio," lanjut Davina, suaranya tegas meski air matanya masih mengalir. "Bukan karena aku masih marah. Bukan karena aku masih sakit hati. Tapi karena... aku sudah belajar bahwa aku bisa bahagia tanpa Rio. Aku sudah belajar bahwa Zahra dan aku bisa hidup baik-baik saja tanpa dia."
Rio terpukul mendengar itu. "Dav... tapi—"
"Rio," Davina menatap Rio dengan mata yang penuh kesedihan, "kamu tahu apa yang paling menyakitkan? Bukan saat kamu nggak pulang berhari-hari. Bukan saat kamu bilang aku nggak cukup baik. Tapi saat aku sadar... aku nggak butuh kamu lagi. Aku sudah terbiasa hidup tanpa kamu. Dan Zahra juga begitu."
"Dav..." Rio terisak.
"Zahra memang bilang dia ingin punya papa," lanjut Davina, suaranya pecah. "Tapi kamu tahu apa yang dia bilang kemarin? Dia bilang, 'Kalau Zahra nggak punya papa, nggak apa-apa. Yang penting Zahra punya Mamah, Nenek, dan Kakek. Zahra sudah bahagia.' Kamu tahu, Rio? Anak kita sudah belajar untuk bahagia tanpa ayahnya. Dan itu... itu karena kamu yang tidak pernah ada disisi zahra selama ini"
Rio menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bahunya berguncang, menahan isak tangis.
Pak Radit menghela napas panjang, lalu menepuk bahu Rio. "Rio, saya tahu ini berat. Tapi kamu harus terima keputusan Davina. Kamu harus menghormati itu."
Rio menurunkan tangannya dari wajah, matanya merah dan bengkak. "Pak... saya cuma mau ketemu Zahra. Cuma mau lihat wajah dia. Itu aja."
Ibu Rani menatap Davina dengan tatapan penuh arti. "Dav... mungkin... mungkin kamu bisa biarin Rio lihat Zahra sebentar? Cuma sebentar. Untuk menutup rasa rindunya..."
Davina terdiam. Ia menatap Zahra yang masih berpelukan dengannya, tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Ia menatap Ibu Rani yang tampak iba pada Rio. Ia menatap Pak Radit yang tampak tegas tapi juga penuh pengertian.
Dan akhirnya, Davina menghela napas panjang.
"Baik," ucap Davina pelan. "Rio boleh lihat Zahra. Tapi cuma sebentar. Dan kamu nggak boleh lama - lama disini apalagi bermalam.
Rio mengangguk cepat, matanya berbinar penuh harap. "Terima kasih, Dav. Terima kasih..."
Davina berjongkok di depan Zahra. "Sayang, lihat siapa yang datang..."
Zahra menoleh, dan matanya bertemu dengan mata Rio yang berkaca-kaca.
"Zahra," ucap Rio pelan, suaranya bergetar. "Kamu... kamu cantik banget nak."
Zahra menatap Rio dengan tatapan rindu . "Papah ?" Ucap zahra sambil memeluk Rio dengan erat.
" sayang , kata mamah kamu dah sekolah ya " ucap Rio
" ya pah, zahra punya banyak teman disini , zahra punya teman namanya kenzo orang lucu pah " Ucap Zahra riang.
" oh ya, wah ternyata anak papah dah punya banyak teman, dah enggak kesepian lagi dong " ucap Rio senyum terpaksa
" ya dong pah " Ucap zahra riang.
Rio menatap putrinya yang cantik ,dia mengelus rambut putrinya sesekali dia mencium putrinya untuk menumpahkan rasa rindu.