Usia 50 tahun. Menantu durhaka, anak tak tahu diuntung, dan suami yang membuang Suparti Wijaya di depan umum hanya delapan hari setelah ibu mertuanya meninggal.** Tapi Tuhan memberinya kesempatan kedua — Suparti terlahir kembali, kembali ke hari paling menghinakan dalam hidupnya. Kali ini, ia tidak menangis. Ia tidak memohon. Ia menandatangani surat cerai dengan tangan gemetar penuh dendam, lalu menampar Prof. Handoko Susanto dan simpanannya, Jenny Wongso, di depan seluruh kantor catatan sipil — membongkar rahasia kelam 34 tahun pernikahan yang selama ini ia telan sendirian: uang bulanan receh, penghinaan tanpa henti, dan pengorbanan yang dibalas pengkhianatan.
Diusir tanpa sepeser pun harta, Suparti justru bangkit dari titik paling rendah — memulung sampah, mencuci piring di warung orang, tidur beralaskan kardus. Tapi wanita yang dulu dianggap "sudah tidak berguna" ini justru membangun **Bank Sampah Hidup Baru**, dari gerobak rongsokan kecil menjadi kerajaan bisnis daur ulang yang disegani seantero kota. Setiap orang yang dulu meremehkannya kini harus menunduk memanggilnya Bos.
Dan di tengah kebangkitannya, muncul sosok yang tak pernah ia duga: **Jenderal Alexander Sena Wiranata**, pria berkuasa yang selama ini selalu "kebetulan" ada di dekatnya — melindunginya diam-diam selama tiga puluh empat tahun tanpa pernah mengaku. Semua orang mengira ini keberuntungan. Tapi benarkah semua "kebetulan" itu murni kebetulan? Ataukah ada rahasia yang jauh lebih besar, yang menyangkut nyawa Suparti di kehidupan sebelumnya — rahasia yang baru akan terungkap ketika cinta mereka sudah tak bisa lagi dipisahkan? Balas dendam sudah dimulai. Kerajaan sudah dibangun. Tapi cinta sang jenderal... baru saja akan berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
"Kau tidak akan pernah menjadi lawanku."
Jenny mengucapkan kalimat itu dengan dagu terangkat, seolah seluruh jalan sempit di depan Kedai Mama Cen adalah panggungnya. Sopir sudah membuka pintu mobil, tetapi ia tidak langsung masuk. Ia menunggu Suparti mengecil, menunggu perempuan tua itu mundur seperti orang-orang lain yang biasa ia tekan dengan air mata palsu.
Suparti tidak mundur.
Ia malah membuka payung cokelatnya.
Bunyi kain yang mengembang terdengar jelas di bawah gerimis. Ratih menahan napas. Aditya melangkah maju, tetapi Suparti mengangkat satu tangan tanpa menoleh.
"Jangan," katanya. "Dia sedang bicara padaku."
Jenny menatap payung itu, lalu mencibir. "Kau pikir benda murah itu bisa membuatmu gagah?"
"Tidak," jawab Suparti. "Benda murah ini hanya mengingatkan aku supaya tidak berdiri basah karena omongan orang."
Wajah Jenny berubah. Ia memandang Alexander, berharap laki-laki itu membela atau setidaknya bereaksi. Namun Alexander tetap diam, matanya hanya mengawasi tangan Jenny.
Diam itu rupanya lebih menyakitkan bagi Jenny daripada bantahan.
"Kau benar-benar berubah selera, Sena." Jenny tertawa tipis. "Dulu kau bahkan tidak mau melihat perempuan tua yang mengurus pasien di bangsal. Sekarang kau berdiri di sampingnya seperti..."
"Cukup." Suara Alexander memotong tajam.
Suparti menyadari sesuatu. Jenny selalu berusaha menyeret Alexander masuk ke percakapannya. Setiap kalimatnya bukan ditujukan untuk melukai Suparti saja, tetapi untuk memaksa Alexander menoleh.
Ia mengeluarkan ponsel dari tas. Layarnya gelap, tetapi ibu jarinya bergerak membuka perekam suara.
Jenny tidak memperhatikan. Ia terlalu sibuk menatap Alexander.
"Kau lupa, ya? Aku yang tahu nama itu lebih dulu. Sena. Bahkan anak si Handoko kuberi nama tengah itu. Kevin Sena Susanto. Kau tahu kenapa?" Ia tertawa, tetapi matanya basah oleh amarah. "Supaya setiap kali Handoko memanggil anaknya, aku mendengar namamu. Supaya di rumahnya pun, yang hidup tetap kamu."
Udara di teras mendadak membeku.
Suparti merasa perutnya seperti ditarik. Kevin, anak yang selama ini ia lahirkan dengan darah dan air mata, ternyata bahkan namanya pun dijadikan wadah obsesi perempuan lain.
Ia menekan tombol rekam lebih pasti.
Alexander menatap Jenny dengan wajah yang sulit dibaca. "Kau memakai anak orang untuk kegilaanmu."
"Aku memakai apa yang bisa kupakai." Jenny mendesis. "Handoko terlalu mudah. Dia ingin dipuja, aku memberinya pujian. Dia ingin terlihat menyelamatkan cinta lama, aku memberinya drama. Dia ingin uangnya terasa berguna, aku pura-pura sakit."
Ratih terkejut. "Pura-pura sakit?"
Jenny baru sadar ada orang lain yang mendengar. Matanya bergerak cepat ke Ratih, Aditya, lalu ke ponsel Suparti.
"Kau merekam?"
Suparti tidak menjawab. Ia memasukkan ponsel sedikit lebih dalam ke genggaman, layar menghadap tubuhnya.
Dalam hidup pertama, Suparti terlalu sering tidak punya bukti. Ketika Handoko memutarbalikkan ucapan, ia hanya bisa mengingat. Ketika Kevin menyangkal pernah membentaknya, ia hanya bisa menelan. Ketika Jenny menangis di depan orang lain, semua orang lebih percaya air mata yang terlihat daripada luka yang disembunyikan di dapur.
Hidup kedua mengajarinya hal sederhana: jangan hanya sakit hati, simpan bukti.
Jenny melesat maju.
Tangannya hendak meraih tas Suparti. Gerakannya cepat, liar, tidak lagi seperti perempuan lemah yang biasa menangis di depan kamera. Suparti mundur setengah langkah, lalu memutar gagang payung seperti yang diajarkan pelatih.
Ujung payung menahan pergelangan Jenny.
Tidak keras sampai mencederai. Cukup membuat Jenny menjerit karena kaget.
"Lepaskan!" Jenny mendorong bahu Suparti.
Suparti kehilangan keseimbangan sebentar, tetapi Aditya sudah menahan kursi di belakangnya agar tidak jatuh. Alexander bergerak, namun Suparti lebih dulu mengangkat payung kembali.
"Jangan sentuh saya."
Jenny makin kalap. Ia mencengkeram kain payung, menariknya sampai ujung besi menggores lantai. Suparti bertahan. Dalam tarik-menarik itu, jepit rambut Jenny terlepas, dan beberapa helai rambut jatuh di bahu gaunnya.
Wajah Jenny memerah. "Kau perempuan kampung!"
"Ya," jawab Suparti dengan napas pendek. "Perempuan kampung yang masih tahu malu untuk tidak memakai nama anak sebagai kuburan cinta."
Ratih tidak lagi tinggal diam. Ia memberi isyarat pada Aditya untuk merekam dari sisi lain. "Bu Jenny, hentikan. Semua yang Ibu lakukan sekarang tercatat."
Jenny menoleh, rambutnya berantakan, riasannya mulai luntur kena gerimis. Ia tampak baru menyadari betapa buruk wajahnya jika dilihat orang lain.
Beberapa pengunjung kedai berdiri di pintu. Pemilik kedai berbisik pada pelayan. Di pinggir jalan, dua pengendara motor melambat.
Salah satu ibu yang tadi makan bersama anaknya berbisik, "Itu perempuan yang viral sama Pak Rektor itu, kan?"
Bisikan kecil itu menyentuh telinga Jenny. Wajahnya langsung menegang. Selama ini ia paling pandai memakai penonton. Malam itu, untuk pertama kalinya, penonton tidak berdiri di sisinya.
"Jangan rekam!" bentaknya pada orang-orang di pintu.
Pemilik kedai mundur, tetapi Aditya tetap mengangkat ponselnya dengan tangan stabil. "Kami merekam untuk keamanan, Bu."
Jenny melepas payung dengan gerakan kasar. "Kalian semua akan menyesal."
Suparti menarik napas, lalu mengambil ponselnya. Rekaman masih berjalan. Di layar, garis suara bergerak tenang, merekam kebohongan yang baru saja keluar dari mulut Jenny sendiri.
"Kau boleh mengancam lagi," kata Suparti. "Lebih jelas, supaya nanti tidak perlu diterjemahkan."
Jenny mengangkat tangan.
Alexander menangkap pergelangan itu sebelum menyentuh Suparti. Kali ini ekspresinya berubah. Bukan marah yang meledak, melainkan dingin yang membuat Jenny sendiri terpaku.
"Satu kali lagi," katanya, "aku serahkan kau langsung ke polisi."
Jenny menatapnya lama. Ada sakit hati di wajahnya, tetapi sakit hati itu tidak membuatnya tampak rapuh. Ia tampak berbahaya.
Suparti melihat bahaya itu dengan jelas. Jenny tidak seperti Handoko yang membutuhkan panggung kehormatan, juga tidak seperti Kevin yang meledak karena takut kehilangan uang. Jenny bisa menunggu. Jenny bisa tersenyum sambil menaruh racun di kata-kata.
Karena itu rekaman di ponsel terasa semakin berat.
"Kau tega pada aku demi dia?"
"Aku tega pada siapa pun yang menyerang orang tidak bersalah."
Jenny menarik tangannya sekuat tenaga. Sopirnya cepat-cepat membuka pintu. Sebelum masuk, ia menunjuk Suparti.
"Kau kira rekaman itu cukup? Aku punya uang, koneksi, dan waktu."
Suparti mengusap ujung payung yang basah, lalu menutupnya pelan.
"Aku juga punya waktu," katanya. "Bedanya, waktuku kali ini tidak akan kupakai untuk diam."
Mobil Jenny melaju meninggalkan percikan air di aspal. Setelah lampu belakangnya hilang di tikungan, Suparti baru merasakan lututnya sedikit gemetar.
Alexander hendak menyentuh sikunya, tetapi berhenti sebelum meminta izin. "Bu Suparti?"
"Saya baik-baik saja."
Suaranya tidak sepenuhnya stabil, tetapi ia berdiri tegak. Ia menghentikan rekaman, menyimpannya, lalu mengirim salinannya ke Cynthia dan Ratih.
Pesan terkirim dengan tanda centang dua.
Suparti memasukkan ponselnya ke tas dan berkata pelan, "Kalimatmu tadi, kita dengarkan lagi di pengadilan."