NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / CEO / Selingkuh / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:42k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 08 - Jangan Sentuh Aku

Hendra datang ke kafe itu lebih cepat dari perkiraan.

Ratna belum sempat keluar dari area parkir ketika mobil hitam Hendra berhenti mendadak di depan lobi apartemen. Pintu dibuka kasar. Hendra turun dengan wajah merah, diikuti Clara yang berlari kecil dari dalam kafe.

"Ratna!"

Suara itu membuat beberapa orang menoleh.

Hanif langsung berdiri di sisi mobil. Ia tidak menghalangi, tapi posisinya cukup jelas untuk memberi batas.

Ratna menatap Hendra dari balik kaca mobil.

Ia bisa saja meminta sopir pergi.

Namun ia tahu, semakin ia menghindar, semakin Hendra merasa berhak mengejarnya.

Ratna membuka pintu dan turun.

"Ada apa?"

Hendra menunjuk wajahnya.

"Kamu menemui Clara? Kamu mengancam dia?"

Clara berdiri di belakang Hendra. Air matanya masih ada. Wajahnya dibuat takut, satu tangan memegang lengan Hendra seperti perempuan yang butuh perlindungan.

Ratna menatap adegan itu tanpa berkedip.

Dulu mungkin ia akan sakit melihat suaminya berdiri membela perempuan lain.

Sekarang ia hanya merasa jijik.

"Aku tidak mengancam. Aku menjawab."

"Kamu tidak punya hak datang ke sini."

"Apartemen itu dibeli dari uang usaha yang dibangun selama pernikahan kami. Aku justru punya banyak hak untuk bertanya."

Hendra melangkah maju.

"Jangan bicara sembarangan di depan umum."

"Kenapa? Takut orang tahu?"

Wajah Hendra semakin keras.

Clara bersuara pelan.

"Mas, sudah. Jangan di sini. Aku tidak mau jadi tontonan."

Ratna hampir tertawa.

Tontonan?

Mereka membuat hidupnya seperti lelucon selama bertahun-tahun, lalu takut ditonton lima menit.

Hendra mengangkat tangan, hendak menarik lengan Ratna.

Sebelum tangannya menyentuh, Hanif maju setengah langkah.

"Pak Hendra, mohon jaga jarak."

Hendra menoleh tajam.

"Kamu siapa?"

"Hanif. Saya mewakili pihak yang mendampingi Bu Ratna."

"Pendamping? Dia istri saya."

Ratna menjawab sebelum Hanif.

"Istri yang sedang mengajukan cerai."

Beberapa orang di lobi mulai berbisik. Petugas keamanan apartemen memandang ragu, seperti ingin mendekat tapi takut mengganggu penghuni.

Hendra menyadari perhatian itu. Ia menurunkan suara, tapi amarahnya makin tajam.

"Ratna, masuk mobilku. Kita bicara di rumah."

"Tidak."

"Aku bilang masuk."

"Dan aku bilang tidak."

Clara menggenggam lengan Hendra lebih erat.

"Mbak Ratna, tolong jangan buat Mas Hendra seperti ini. Dia punya tekanan pekerjaan. Kalau Mbak terus memojokkan, dia bisa sakit."

Ratna menatap Clara.

"Saat aku kerja dua tempat untuk membayar kebutuhan rumah, kamu tidak khawatir aku sakit?"

Clara terdiam.

Hendra membentak, "Jangan bawa-bawa dia!"

Ratna menatap suaminya.

"Kamu membelanya cepat sekali."

"Karena kamu menyerangnya."

"Aku istrimu."

Kalimat itu keluar pelan. Bukan permintaan. Bukan tangisan. Hanya fakta.

Hendra terdiam sekejap.

Ratna melanjutkan, "Tapi selama ini kalau ibumu menghinaku, kamu diam. Kalau Raka menyuruhku seperti pembantu, kamu diam. Kalau Maya menitipkan semua tanggung jawab anaknya padaku, kamu diam. Kalau aku kelelahan, kamu diam."

Ia melihat Clara.

"Tapi begitu perempuan ini menangis, kamu berlari."

Hendra mengepalkan tangan.

"Cukup."

"Belum."

Ratna mengeluarkan ponsel. Ia membuka video rumah sakit dan memutar sebentar. Suara Alif memanggil Hendra "Papa" terdengar jelas.

Bisikan orang-orang di sekitar makin ramai.

Clara langsung pucat.

"Mbak, matikan."

Hendra mencoba merebut ponsel itu.

Ratna mundur, tapi tangannya hampir tersentuh.

Tiba-tiba suara lain terdengar.

"Saya sarankan jangan lakukan itu."

Semua orang menoleh.

Arga Wijaya berdiri beberapa langkah dari mereka.

Entah kapan ia datang. Jasnya gelap, wajahnya datar, tapi kehadirannya membuat udara berubah. Di belakangnya ada dua pria keamanan gedung yang tampak mengenalinya.

Hendra kaku.

"Pak Arga."

Arga tidak melihat Clara. Tidak juga memberi salam pada Hendra. Ia menatap Ratna dulu.

"Ibu baik-baik saja?"

Ratna mengangguk, walau jantungnya masih berdebar.

"Iya."

Arga baru menoleh ke Hendra.

"Kalau Anda menyentuh Bu Ratna atau mencoba mengambil ponselnya, saya akan minta security menahan Anda sampai polisi datang."

Hendra tertawa kering.

"Pak Arga, sekali lagi, ini urusan keluarga saya."

"Keluarga tidak memberi izin untuk kekerasan."

"Saya tidak melakukan kekerasan."

"Tadi tangan Anda sudah bergerak."

Hendra kehilangan kata-kata.

Clara mencoba tersenyum lemah.

"Pak Arga, ini salah paham. Mbak Ratna datang menemui saya, saya hanya ingin bicara baik-baik."

Arga akhirnya melihatnya.

Tatapan itu dingin sampai Clara menutup mulut.

"Kalau ingin bicara baik-baik, bicaralah lewat pengacara."

Ratna tidak menyangka kalimat singkat itu bisa membuat Clara mundur setengah langkah.

Hendra tampak malu. Kehadiran Arga di tempat umum jelas menekan harga dirinya.

"Ratna," katanya, kali ini lebih pelan. "Jangan terlalu jauh. Kamu tidak tahu konsekuensinya."

Ratna menatap laki-laki itu.

"Aku tahu konsekuensi diam. Aku sudah menjalaninya dua belas tahun tanpa sadar."

Ia menutup video dan memasukkan ponsel.

"Mulai sekarang, semua pembicaraan soal perceraian lewat pengacara. Kalau kamu ingin melihat bukti, tunggu di persidangan."

Hendra mendekat satu langkah.

Arga juga bergerak satu langkah.

Hendra berhenti.

Clara menarik lengan Hendra.

"Mas, sudah. Semua orang lihat."

Hendra menatap sekeliling. Beberapa orang memang terang-terangan merekam. Petugas keamanan mulai mendekat.

Tidak ada lagi ruang baginya untuk berteriak.

Ia menunjuk Ratna dengan jari gemetar.

"Kamu akan menyesal."

Ratna menggeleng pelan.

"Aku sudah menyesal. Menyesal terlalu lama percaya."

Ia berbalik menuju mobil Hanif.

Arga berjalan di sampingnya, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk menghalangi jika Hendra nekat.

Sesampainya di mobil, Ratna berhenti.

"Pak Arga."

"Ya?"

"Terima kasih. Tapi lain kali, saya ingin menyelesaikan sendiri sebelum Bapak muncul."

Hanif tampak menahan napas.

Arga menatapnya.

Lalu, untuk pertama kalinya, sudut bibir pria itu bergerak sedikit.

"Tadi Ibu sudah menyelesaikan. Saya hanya berdiri agar dia tidak menyentuh."

Ratna terdiam.

Jawaban itu anehnya membuat dadanya hangat.

Arga membuka pintu mobil untuknya.

"Pulanglah ke rumah sakit. Mama menunggu."

"Bagaimana Bapak tahu saya di sini?"

"Clara mengirim lokasi ke Hendra. Hendra tidak hati-hati. Hanif lebih cepat."

Ratna menoleh pada Hanif. Pria itu hanya tersenyum sopan.

Ratna masuk ke mobil.

Dari kaca, ia melihat Hendra masih berdiri di lobi bersama Clara. Wajahnya penuh amarah, tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa.

Mobil bergerak meninggalkan apartemen.

Ratna menyandarkan kepala. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya jernih.

Ia baru saja mempermalukan Hendra di tempat yang selama ini menjadi simbol kebohongannya.

Bukan dengan teriakan.

Bukan dengan tangis.

Dengan bukti.

Dan itu jauh lebih menakutkan bagi Hendra.

Di kamar Bu Laras malam itu, Ratna memutar ulang rekaman kejadian lobi hanya sekali. Suara Hendra yang meninggi, suara Clara yang gemetar, suara Arga yang tenang. Semua masuk jelas.

"Simpan," kata Siska melalui telepon. "Ini menunjukkan Pak Hendra mencoba menekan Ibu di tempat umum."

Ratna menatap layar.

"Saya tidak ingin hidup saya jadi kumpulan rekaman buruk."

Siska melembut.

"Saya tahu, Bu. Tapi untuk sementara, bukti adalah payung. Nanti kalau hujannya selesai, Ibu tidak perlu memegangnya terus."

Setelah telepon ditutup, Ratna duduk lama di dekat jendela. Ia ingin hari-hari biasa. Ingin bangun tanpa strategi. Ingin minum teh tanpa memikirkan pengadilan.

Namun hari biasa tidak akan kembali kalau ia menyerah sekarang.

Ia mengirim satu pesan pada Maya.

"Bima baik-baik saja?"

Maya membalas dengan foto Bima tidur memeluk buku gambar.

Ratna menatap foto itu sampai dadanya hangat lagi.

Ada alasan ia harus kuat.

Tapi kali ini, kuat bukan berarti kembali ke rumah lama.

Keesokan paginya, video pendek kejadian lobi mulai beredar di satu akun gosip kecil. Wajah Ratna tidak terlalu jelas, tapi Hendra dan Clara cukup terlihat. Siska segera menghubungi Ratna.

"Bu, kami sedang minta video itu diturunkan. Ibu jangan panik."

Ratna duduk di tepi ranjang Bu Laras, membaca komentar yang mulai masuk.

"Kasihan istrinya."

"Laki-laki kalau sudah punya uang sering lupa rumah."

"Perempuan muda itu siapa?"

Tangannya dingin. Ia tidak pernah ingin menjadi tontonan internet.

Arga datang tak lama kemudian. Ia tidak banyak bicara, hanya berkata, "Tim saya sedang urus."

Ratna mengangguk.

"Saya malu."

Arga menatapnya.

"Yang seharusnya malu bukan Ibu."

Kalimat itu tidak menghapus rasa malu, tapi membantu Ratna meletakkannya di tempat yang benar.

1
adisty aulia
Karakter Ratna kuat meski telat sadarnya🙁🙁🙁
adisty aulia
🌺🌺🌺
adisty aulia
Suka alur ceritanya🌺🌺🌺
Nicky
Ratna memandang mantan suaminya? Raka? ga panggil mama lagi?
Nicky
Arga melamar Ratna lagi? mengajak menikah? bukannya di part² sebelum hamil ini sudah menikah di KUA dan pulangnya mereka yang menghadiri lanjut makan soto. Agak membingungkan ini KK author.
Nicky
ada part yg ga sinkron, mulai dr panggilan ibu yg di beberap bab sebelumnya setelah hasil tes DNA Bagas di ketahui sebagai anak Ratna, sudah panggil ibu, di bab ini malah bukan anak kandung, panggil nama saja dan baru mulai panggil ibu?
Endang Sulistia
pengen tampol keluarga hendra😤😤😤
Hertanti Mandanya Dhafin
novel yg keren saya suka sama bahasanya, authornya hebat 👍
Fia Ayu
Knpa up nya pelit banget, pertama rilis langsung banyak, lagi tegang2nya di gantung 😢
Fia Ayu
Lanjut kak,, penasaran weee
Fia Ayu
Wkwkwk
Fia Ayu
Sokor,
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃
Fia Ayu
Tuman😏
Fia Ayu
Mampir,,, baru bab pertama dah bikin nyesek 😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!