NovelToon NovelToon
Merebut Kembali Takdirku

Merebut Kembali Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 08

Ratna menerima laporan Dokter Hamzah pukul sepuluh pagi.

Pukul sepuluh lewat lima belas, telepon rumah Wiratama berdering.

Sinta yang mengangkatnya.

Alya tidak ada di sana, tetapi Nabila ada. Ia sedang duduk di ruang keluarga, masih memakai baju rumah mahal yang baru dikirim dari butik. Semalam ia dan Rafi menginap di apartemen Rafi, lalu pagi-pagi datang ke rumah Wiratama untuk sarapan bersama orang tuanya.

Ia ingin menunjukkan bahwa pernikahannya berjalan baik.

Ia ingin ibunya melihat Rafi memperlakukannya lembut.

Namun begitu Sinta mengangkat telepon, wajah ibunya berubah.

"Bu Ratna?"

Nabila menegakkan punggung.

Rafi yang sedang minum kopi ikut menoleh.

"Iya, Bu. Ada apa?"

Sinta mendengarkan. Makin lama wajahnya makin pucat.

"Alya melakukan apa?"

Jantung Nabila berdebar.

Alya lagi.

Kenapa selalu Alya?

Seharusnya pagi ini semua orang membicarakan dirinya dan Rafi. Seharusnya keluarga Pradipta melihat bahwa ia menantu yang lembut, tahu aturan, dan jauh lebih pantas didukung daripada Alya yang keras kepala.

Namun sejak semalam, nama Alya seperti pisau yang terus mengetuk meja.

Sinta menatap Nabila.

"Baik, Bu. Saya akan bicara dengan Nabila. Iya. Saya mengerti."

Telepon ditutup.

Rafi meletakkan cangkir. "Ada apa, Ma?"

Sinta menarik napas panjang. "Alya membuat keributan di rumah Arga."

Nabila segera bertanya, "Keributan apa?"

"Dia menghentikan obat Arga, memanggil dokter luar, mengancam Dokter Hamzah, dan tidak mengizinkan Bu Ratna ikut mengatur."

Rafi terkejut. "Dia berani begitu?"

Nabila menggenggam ujung bajunya.

Dalam kehidupan lalu, Alya tidak seperti ini.

Tidak.

Tunggu.

Sebenarnya Alya seperti ini.

Hanya saja dulu keberanian Alya diarahkan untuk Rafi. Dulu ketika orang-orang meremehkan Rafi, Alya yang bicara. Ketika pemegang saham menolak Rafi, Alya yang menyodorkan angka. Ketika Rafi gemetar sebelum rapat, Alya yang menyusun kalimatnya.

Nabila menggigit bibir.

Ia tidak menyukai ingatan itu.

Dalam mimpinya, Alya berdiri terlalu dekat dengan posisi yang ia inginkan. Karena itu ia mengambil Rafi.

Tapi mengapa setelah ditinggalkan bersama Arga, Alya masih bisa membuat semua orang gelisah?

"Nabila," kata Sinta.

Nabila tersentak. "Iya, Ma?"

"Bu Ratna ingin kamu datang ke rumah utama Pradipta siang ini."

Rafi mengerutkan kening. "Untuk apa?"

Sinta tampak tidak nyaman. "Katanya ingin bicara. Karena kamu adik Alya. Mungkin kamu bisa menasihatinya."

Nabila langsung merasa tidak enak.

Menasehati Alya?

Kemarin di hotel, Alya membuat Ratna malu di depan semua orang. Jika Ratna sekarang memanggilnya, apakah benar hanya ingin bicara?

Rafi memegang tangan Nabila. "Aku ikut."

Sinta tampak lega. "Iya, lebih baik kamu ikut."

Namun saat mereka sampai di rumah utama Pradipta, Rafi tidak diizinkan masuk ke ruang dalam.

Marni, yang entah bagaimana sudah berada di sana, berkata dengan senyum kaku, "Nyonya Ratna hanya memanggil Nyonya Nabila."

Rafi menatap Nabila. "Aku tunggu di luar."

Nabila ingin memintanya tetap bersama. Namun di depan pelayan Pradipta, ia tidak mau terlihat penakut.

"Tidak apa-apa, Mas."

Rafi meremas tangannya. "Kalau ada apa-apa, telepon aku."

Nabila mengangguk.

Ia mengikuti Marni ke ruang duduk pribadi Ratna.

Ruangan itu dingin. Terlalu dingin. AC menyala rendah, aroma bunga sedap malam memenuhi udara. Ratna duduk di sofa dengan kebaya krem, wajahnya rapi, tetapi matanya tidak tersenyum.

"Duduk."

Nabila duduk dengan hati-hati. "Bu Ratna memanggil saya?"

"Kamu adik Alya."

"Iya."

"Kamu tahu kakakmu selalu seperti itu?"

Nabila menunduk. "Mbak Alya memang... agak keras kalau merasa benar."

Ratna tertawa pelan. "Agak?"

Nabila tidak berani menjawab.

"Kemarin dia mempermalukan saya di hotel. Malamnya dia masuk rumah Arga dan mengacaukan semuanya. Pagi ini dia membawa dokter luar, seolah kami sekeluarga sengaja mencelakai anak sendiri."

Nabila segera berkata, "Saya yakin Mbak tidak bermaksud menuduh Bu Ratna."

Ratna menatapnya.

Nabila sadar jawabannya salah.

Kalau ia membela Alya, Ratna akan marah. Kalau ia menyalahkan Alya terlalu terang, ia tampak tidak tahu diri sebagai adik.

Ia memilih menangis.

Air mata mudah datang. Ia sudah terlatih.

"Maaf, Bu. Saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Sejak kemarin Mbak berubah. Saya juga sedih melihatnya seperti itu. Saya hanya ingin keluarga kita baik-baik saja."

Ratna tidak tersentuh.

"Jangan menangis di depanku."

Nabila membeku.

Ratna meletakkan cangkir teh dengan suara pelan. "Air mata berguna kalau orang yang melihatnya punya waktu merasa kasihan. Saya tidak punya."

Wajah Nabila pucat.

"Bu..."

"Kamu memilih Rafi."

Nabila menahan napas.

"Aku ingin tahu kenapa."

"Karena saya mencintainya."

Ratna tersenyum. "Baru bertemu beberapa kali sudah cinta?"

"Saya... saya merasa Mas Rafi orang baik."

"Orang baik?" Ratna mencondongkan tubuh. "Atau kamu mendengar sesuatu?"

Nabila menggenggam tasnya. "Mendengar apa, Bu?"

"Bahwa Rafi mungkin punya masa depan."

Jantung Nabila seperti berhenti.

Ratna melihat reaksi itu.

"Ternyata benar."

"Bu Ratna salah paham."

"Saya tidak suka orang yang berbohong buruk." Suara Ratna tetap lembut, tetapi matanya tajam. "Kalau kamu ingin menjadi bagian dari keluarga ini, kamu harus tahu satu hal. Di rumah Pradipta, semua orang punya tempat. Daren di depan. Arga di tempat tidurnya. Rafi di pinggir. Jangan karena kamu mendengar mimpi manis lalu mengira bisa mengubah susunan itu."

Nabila ingin membalas.

Ia ingin mengatakan bahwa Ratna salah. Bahwa kelak Daren jatuh, Arga mati, dan Rafi naik. Bahwa ia akan berdiri di posisi yang sekarang ditempati Ratna.

Namun ia tidak berani.

Ratna tidak seperti Sinta yang bisa dibujuk dengan air mata.

"Saya tidak punya maksud apa-apa, Bu."

"Bagus. Kalau begitu buktikan."

"Bagaimana?"

"Datang ke rumah Arga. Bicara dengan Alya. Cari tahu apa yang dia temukan tentang obat Arga."

Dada Nabila sesak.

"Saya?"

"Kamu adiknya."

"Mbak Alya tidak akan mudah bicara."

"Maka buat dia bicara."

Nabila menunduk. "Kalau dia menolak?"

Ratna berdiri, berjalan mendekat, lalu berhenti di depannya.

"Nabila, kamu ingin menjadi menantu yang diterima keluarga Pradipta?"

"Iya."

"Kamu ingin Rafi punya tempat?"

Nabila mengangkat wajah.

Ratna tersenyum tipis.

"Tempat diberikan oleh orang yang memegang rumah ini. Bukan oleh mimpi."

Pipi Nabila panas.

"Saya mengerti."

"Belum." Ratna mengambil sebuah amplop dari meja kecil dan melemparkannya ke pangkuan Nabila. "Itu daftar pertanyaan. Kamu tidak perlu pintar. Cukup hafalkan."

Nabila membuka amplop dengan tangan gemetar.

Pertanyaan tentang obat. Dokter luar. Sampel lab. Kondisi Arga setelah obat dihentikan. Apakah Alya menghubungi Bima. Apakah ada pengacara.

Ratna sudah menyiapkan semuanya.

"Bu Ratna," Nabila memberanikan diri, "kalau Mbak tahu saya bertanya karena Bu Ratna..."

"Jangan sebodoh itu sampai ketahuan."

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada bentakan.

Nabila menunduk dalam. "Baik."

"Dan satu lagi."

"Iya, Bu?"

"Jangan panggil dia Mbak di depan saya dengan nada seolah kalian dekat. Kalau kamu dekat dengannya, seharusnya kamu bisa mengendalikannya."

Nabila menggigit bibir. "Baik."

Saat keluar dari ruang itu, lutut Nabila terasa lemas.

Rafi segera menghampirinya. "Kamu pucat. Dia memarahimu?"

Nabila ingin menangis di pelukannya. Ingin berkata bahwa Ratna mengerikan, bahwa keluarga Pradipta tidak seperti yang ia bayangkan.

Namun ia melihat wajah Rafi.

Wajah lelaki yang ia pilih karena masa depan.

Kalau ia mengaku takut sekarang, bukankah itu sama saja mengakui pilihannya salah?

"Tidak," katanya sambil tersenyum lemah. "Bu Ratna hanya khawatir soal Mbak Alya."

Rafi menghela napas. "Alya memang berlebihan."

Nabila menatapnya.

"Mas juga merasa begitu?"

"Tentu. Baru masuk rumah Arga sudah mengatur obat. Dia pikir dirinya siapa?"

Nabila ingin lega.

Tetapi anehnya, kalimat itu tidak membuatnya tenang.

Dulu, Rafi tidak akan berkata seperti itu tentang Alya.

Dulu Rafi melihat Alya seperti melihat satu-satunya orang yang bisa menyelamatkannya.

Sekarang Rafi menggenggam tangannya.

Namun mengapa Nabila merasa genggaman itu tidak sekuat yang ia bayangkan?

Di dalam mobil, ia membuka amplop dari Ratna sekali lagi.

Daftar pertanyaan itu seperti duri.

Alya pasti tahu.

Alya selalu tahu.

Namun Nabila tidak punya pilihan.

Jika ia ingin menjadi pemenang di keluarga Pradipta, ia harus melewati Alya.

Dan kali ini, ia tidak boleh gagal.

1
Aisyah Suyuti
menarik
Rossy Annabelle
next thor 💪,alurnya menarik sih thor ada bab ambisius gitu .tentang orang² besar yah🤔tp seru sih
Irsyad layla
kapan lanjut lagi thor
Irsyad layla
tapi tadi dia bawa mobil sendiri
Rossy Annabelle
bayi tabung GX tuh yg Segede gaban/Facepalm/
Rossy Annabelle
next ,doble up-nya thor/Chuckle/
Rossy Annabelle
next💪
Rossy Annabelle
sampe sini bagus thor ceritamu ada vote buat author 😁
Rossy Annabelle
apakah Maya kartu as Ratna y thor
Dewi Sartika
lanjutt Thor
Dewi Sartika
bagus ceritanya.,ga bertele² ,gass thor
ririn nurima
cerita nya seru ...aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!